Kegiatan Upstream/Eksplorasi Itu, Semestinya Tidak Tergantung Harga Minyak.

0

Harga minyak tahun 2018 ini diperkirakan naik. Hal ini diperkirakan tertutama karena Iran yang bergejolak, antisipasi Aramco yang akan menjual sahamnya dan kebutuhan energi semakin meningkat. Bahkan harga batubara sudah menyentuh 106$/ton yang tahun lalu hanya sekitar 50$/ton. Awal tahun harga minyak sudah bertengger di 60. Bahkan CNBC memperkirakan harga minyak akan meningkat hingga 80$/bbl.

Sebagai eksplorationist saya pernah menuliskan caption yang diatas itu di halaman facebook, ketika harga jatuh terrendah, tahun 2016. Saat itu banyak perusahaan yang memotong kegiatan eksplorasinya karena eksplorasi “dianggap” tidak menarik. Namun kalau kita menghadapi masa seperti sekarang ini, maka hanya mereka yang tetap melakukan kegiatan eksplorasilah yang dapat menganstisipasi dan memanfaatkan tingginya harga minyak.

Baca : Prediksi harga minyak tahun depan ? – Perlu tahu walaupun selalu salah !

Siklus 2- 3 tahunan

Siklus naik turun harga sekitar 3-5 tahunan

Fluktuasi harga minyak itu seringkali berkisar 2-3 tahun, maksimum 5 tahun saja. Frekuensi naik-turunnya ini jauh lebih pendek ketimbang masa kegiatan eksplorasi yang 5-6 tahun. Artinya kalau kita melakukan kegiatan eksplorasi yang pada dasarnya lebih banyak studi, penelitian, labs, perhitungan, interpretasi dan sebagainya merupakan kegiatan yang “low cost”, murah, namun kalau tidak dilakukan dengan benar maka perusahaan upstream ini akan kehilangan momentum saat harga bagus. seperti sekarang ini.

🙁 “Pakde mau ngebor ya ?”
😀 :”Ya begitulah Thole, kalau saat harga bagus biasanya relatif mudah untuk minta budget untuk ngebor eksplorasi”

Tantangannya sekarang bukan pada sisi komersial karena migas itu sendiri, tapi karena minyak sedang menghadapi “serangan” oleh saingan beratnya, energi hijau, green energy. Dunia saat ini sedang melirik energi alternatif.

 

 

Leave a Reply