Banjir dan Munculnya Mataair di Dataran Tinggi dan Pegunungan Karst

0

Kejadian banjir di Pegunungan Selatan Jawa tengah, yang diakibatan cuaca ekstrim ini mengingatkan banjir di Bandung yang juga merupakan daerah berelevasi tinggi dan berbukit. Dongeng untuk banjir di Bandung sudah pernah di dongengkan disini : Kenapa Bandung Banjir ?

Banjir didaerah karst ini cukup unik, berbeda dengan banjir didataran tinggi yang bukan berupa perbukitan kapur atau perbukitan gamping.

Morfologi Karst, memiliki beberapa bentukan unik yang masing-masing memiliki nama-nama. Uniknya morfologi ini juga memiliki keunikan dalam perilaku alamiahnya.

Ciri khas karst morfologi ini adalah banyaknya gua, sungai bawah tanah, serta ratusan atau ribuan bukit yg berbentuk kerucut.

Cuaca Ekstrim !

Banjir di Pegunungan Selatan pada bulan November 2017 ini mamang disebabkan terutama akibat curah hujan ekstrim. Sistem drainasi yang ada di wilayah pemukiman, walau sudah didesain seorang ahli tata wilayah, seringkali desainnya bukan untuk drainasi air hujan ekstra tinggi. Tetapi hanya didesain mengalirkan air hujan deras normal, sesuai kebutuhan.

Namun kali ini, hujan abnormal extra tinggi sangat mungkin terjadi karena cuaca ekstrim. Sehingga mengharapkan pengaliran air hujan dari sistem drainasi yang ada saat inipun juga mungkin kewalahan.

Artinya, bukan untuk menyalahkan alam, tetapi kita harus bersiap-siap menghadapi hal buruk karena memang cuaca ekstrim. Apalagi kalau drainasinya tidak kita bersihkan !

banyak ini menggambarkan daerah dengan topografi perbukitan bergelombang mengalami banjir air deras. Mungkin saja bukan karena drainasinya saja yang buruk. Tetapi bisa jadi hujan ekstra tinggi ini yang harus kita perhatikan.

Jadi walaupun daerah kita tidak pernah mengalami banjirpun tetap harus ekstra WASPADA !

🙁 “Jadi bukan salah saya kan Pakde?”
😀 “Kalau kamu buang sampah sembarangan menutup aliran air di got ya kamu tetep salah !

Pembentukan Karst Morphologi

Topografi karst terbentuk pada batuan yang banyak mengandung karbonat atau batu gamping. Topografinya sangat unik akibat proses pelarutan yang sangat dominan. Proses erosinya tidak seperti proses erosi pada batuan sedimen lainnya.

Keunikandaerah topografi ini tidak hanya dalam morfologi dipermukaannya saja, namun juga hidrologi dibawah permukaan. Keunikan inilah yang perlu dimengerti.

Topografi karst terbentuk bersamaan dengan sistem “hidrogeologi”nya, sistem tata air bawah tanahnya.

Proses ini tentunya dibantu oleh adanya kekar-kekar atau rekahan-rekahan yang banyak dijumpai pada batugamping yang sangat rigid (“getas” dalam bahasa jawa), dibandingkan batu lempung yang plastis.

Perubahan-perubahan ketinggian muka air tanah (water table) seringkali menjadi pengontrol lapisan-lapisan kedap air. Itulah sebabnya bagi yang suka menelusuri gua akan menjumpai gua yang beringkat-tingkat. Masing-masing memiliki dasar batuan kedap air.

🙁 “Pakde, jadi yang unik itu apanya ?”
😀 “Hampir semua kondisinya unik, Thole. Tidak hanya permukaan yang unik dan hidrologinya yang unik bahkan flora fauna di daerah gamping ini tidak sama dengan keanekaragaman hayati di daerah yang bukan karst”.

Hukum Bejana Berhubungan.

Dalam topografi yang unik ini, sering dijumpai munculnya tubuh-tubuh air. Munculnya matair baru di daerah karst ini perlu dimengerti bukan hanya karena keunikannya, namun datangnya juga seringkali sangat cepat. Tiba-tiba saja muncul air dari sebuah lembah, atau dari sebuah danau yang sudah lama kering.

Sebelum terjadi hujan ekstrim, ledokan, lembah atau cekungan-cekungan ini seringkali lembah kering tak berair. Namun ketika ada hujan, walau jauh dari tempat itu, dapat saja memunculkan air sehingga membentuk kolam atau danau-danau kecil yang dalam, menjadi lembah yang basah.

Karena munculnya air ini tidak seperti pada batuan sedimen yang pengalirannya melalui pori-pori, proses pengaliran pada batugamping ini melalui sungai bawah tanah. Itulah sebabnya selama melakukan penjelajahan gua-gua karst ini harus ada yang berjaga-jaga diatas, serta mengetahui kondisi cuaca diseluruh area.

🙁 “Wah Pakde, kalau menjelajah gua ngga bisa sendirian doonk ?”

😀 “Ya harus ada team di permukaan, atau juga bahkan ada team yang melihat cuaca, terutama hujan disekitar lokasi penjelajahan. Karena air akan sangat mungkin datang tiba-tiba didalam gua”.

Munculnya mataair baru ini sebenernya adalah munculnya air dari sungai bawah tanah yang melimpah. Air tidak lagi tertampung dalam sungai bawah tanah, sehingga muncul ke permukaan. Seperti bejana berhubungan, lekukan atau ledokan ini akan menjadi bejana-bejana yang saling berhubungan. Tidak harus ditempat yang sebelumnya terkena hujan deras, asalkan ada ledokan yang berhubungan dengan gua atau sungai bawah tanah akan memunculkan semacam kolam-kolam baru. Dan kolam ini seringkali JERNIH airnya.

SHARE
Previous article“Ngentho-entho” Gunung Agung, Bali

Leave a Reply