Harga Minyak Turun, Kenapa Sebagai Net-importir Indonesia Keuntungannya Tidak Optimal ?

0

1195433841573371478jerrican__tienne_bersac_01.svg.med[1]Berita lesunya bisnis travel agent (transportasi) di Indonesia banyak mengundang pertanyaan. Sungguh aneh negara yang net-importer minya kok melesu saat harga komoditas minyak ini turun.

Banyak faktor yang berpengaruh, karena industri minyak sebagai bagian dari industri penyedia energi ini tidak hanya menyediakan tetapi juga memanfaatkan sendiri hasilnya. Ternyata selama ini yg menjadi BIG SPENDER (“si tukang belanja”) adalah pekerja dan operasi bisnis migas.

Saat harga minyak turun, operasi migas turun, pekerja migas berkurang, “spending” berkurang. Makanya semua bisnis support primernya dan bahkan bisnis penunjang sekunder dan tersier menjadi lesu. Ketika semua bisnis melesu, maka krisis ekonomi menjadi ancaman utamanya.

Ternyata industri migas bukan hanya digunakan produknya tetapi juga industri itu sendiri yang menggunakan komoditasnya. Dampaknya bukan hanya karena gaji karyawan. Tapi bisnis migas itu membutuhkan support bisnis lain, transportasinya saja banyak.

Jadi “BIG spender” ini tidak hanya konsumsi. Bahan-bahan utk kebutuhan konstruksi migas itu selalu “highgrade”. Bayangkan drilling rig yang sewa perharinya saja ratusan juga dolar. Tentunya support utk pegawainya, prosesnya, materialnya juga harus “high grade”.
Nah tanggung rentengnya jadi kemana-mana.

Bagaimana dengan Indonesia ?

Kuncinya ada pada HILIRISASI. Ntah mengapa, spesifik untuk Indonesia memang akan terasa selalu salah pada saat harga tinggi maupun rendah. Lebih-lebih saat tidak stabil. Semua mencoba spekulasi dan saling menakuti. Ini menyebabkan pengambil kebijakan juga ngga PeDe, apalagi keekonomian minyak masuk dalam APBN sebagai penerimaan, walau sebenernya akan habis untuk subsidi nantinya.“Kok bisa ?”

“Seandainya” Indonesia sudah maju dalam industri hilir, maka harga SDA murah akan bermanfaat. Tetapi karena Indonesia masih belum maju dalam industri hilir, maka Indonesia tidak dapat mengoptimumkan manfaat dari SDA.

Itulah pentingnya mengapa Indonesia harus kekeuh mewajibkan memasak (smelter) bahan SDA di dalam negeri. Kebijakan hilirisasi inilah yang harus didukung penuh dan dijalankan secara optimal.

🙁 ” Lho, Pakde kok dulu bilang enggak setuju punya kilang sendiri, itu kan hilirisasi minyak?”

😀 “Hilirisasi khususnya pada SDA hilir, mineral mining. “Energi”, tidak hanya minyak, itu termasuk industri hulu dalam proses industrialisasi secara keseluruhan. Ketidak setujuan saya pada kilang minyak, karena bukan faktor tehnis transaksi materialnya, tetapi administrasi. Indonesia ini lemah dalam sistem poerdagangan. Transaski minyak yang berupa pasar spot akan lebih susah dibrantas “mafia”nya ketimbang mengggunakan gas (LNG) yang jualannya dalam sistem kontrak jangka panjang”.

Mineral Policy (Mining Policy)

InPengKon

Memanfaatkan SDA demi kemakmuran bangsa sesuai UUD’45 itu adalah idealisme yg memang tidak mudah dicapai, namun harus selalu diusahakan untuk dituju. Saat ini memanfaatkan SDA tidak hanya menjualnya mentah-mentah, tetapi memanfaatkan bahan untuk modal bekerja, mengisi aktifitas kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan.

Jadi jalan masih cukup panjang untuk mendesain “Mineral policy” di Indonesia. Bagaimana memanfaatkan semua SDA (Migas, Mineral, Metal dan Air) dalam sebuah bisnis proses industrialisasi SDA yang holistik.

🙁 “Hallah pakai istilah aja kok susah, industialisasi SDA yang holistik itu kayak apa sih, Pakde ?”

Tidak ada satupun cara terbaik untuk menyelesaikan masalah bangsa. Tapi pasti ada satu langkah kemajuan bila anda ikut serta memperbaikinya

Bacaan terkait :

1 COMMENT

  1. Kayaknya asumsi deh Pakde untuk pernyataan ini : Ternyata selama ini yg menjadi BIG SPENDER (“si tukang belanja”) adalah pekerja dan operasi bisnis migas.
    Emang berapa perkiraan porsi Industri migas dan turunannya terhadap ekonomi nasional ? Menurut pemahaman saya tidak besar2 amat kecuali penurunan ini juga karena industri lain berbasis mineral juga lagi surut (pertambangan). Daerah yang penunjang utamanya migas dan pertambangan mungkin secara gamblang keliatan berdampak lesunya perekonomian seperti Kaltim&Riau.

Leave a Reply