NgomPoli-in Capres – Pilihan untuk Memilih Pemimpin

0

Memilih itu adalah pekerjaan kita sehari-hari,memilih baju yang akan dipakai, memilih buku bacaan, memilih kanal TV, atau memilih mendengarkan radio. Jadi memilih itu sudah kita kerjakan setiap hari.

Namun tidak jarang kita lupa memilih untuk apanya, dengan kriteria yang sering kali mleset tidak sesuai dengan apa yang kita pilih. Contoh memilih jam tangan. Seringkali kita memilih bukan untuk fungsi utamanya. Misal, memilih jam yang keren, jam yang mahal, jam yang terkenal dsb. Padahal fungsi jam awalnya untuk mengetahui waktu. Ini disebabkan fungsi jam sudah berubah menjadi pajangan dan tanda status. Karena kita memilih untuk fungsi yang bukan fungsi awalnya.

🙁 “Iya Pakde, kemarin Lik Rin beli mobil milih yang nilai jualnya tinggi, Itu sakjane mau beli mobil apa mau jual mobil sih ?”
😀 “Ya itulah pergerseran fungsi dan tujuan. Bahkan banyak ibu-ibu membeli kue karena ‘bungkusnya’ bagus. Padahal bungkusnya tidak dimakan”

Pilihan dalam menentukan pilihan.

Memilih presiden Indonesia akan dilakukan dalam waktu dekat. Presiden adalah mandataris rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat. Presiden nantinya akan memilih menteri-menteri yang harus NURUT dengan perintahnya. GO or STOP. Secara mudah, pada prinsipnya peminpin adalah leader yang harus diikuti perintahnya untuk maju atau berhenti.

Pilpres
Yang akan kita pilih itu nanti adalah seorang presiden yang harus dituruti perintahnya oleh menteri-menteri. Bukan yang kita takuti dan bukan yang kita turuti.

🙁 “Pakdhe lah emangnya presiden boleh tidak dituruti ?”
🙁 “Lah emangnya kalau kamu melanggar lampu merah dimarahi presiden ?”

Ketidak mampuan presiden

Span of control atau jangkauan kemampuan mengontrol seorang presidedn itu sejatinya TERBATAS. Presiden memang memilik kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan tetapi presiden tidak bakalan mampu mengontol seluruh jajaran pemerintahnya. Bahkan pegawai pemerintahan daerah yang jauh dibawahnyapun Presiden mungkin tidak tahu apa yang dilakukan, bahkan presiden tidak akan langsung tahu tahu dan mampu mengontrol siapa yang mengatur jalan Sudirman supaya tidak macet.

Menteri bisa saja tidak nurut preisden, apalagi menterinya berasal dari partai lain yang mendapatkan kursi karena koalisi, sebuah hutang politik presiden saat pemilihan presiden. Presiden bahkan perlu melakukan reshufle kabinet, ini disebabkan para menterinya tidak perform (kinerja buruk), ataupun tidak menuruti perintahnya.

Ketika presiden tidak dituruti oleh anak-buah yang dipilihnya maka kedudukan presiden itu lemah dan akan mudah digulingkan. Ntah, bisa oleh siapa saja dan kapan saja. Sehingga presiden itu HARUS KUAT !. Posisi presiden adalah posisi politis, kritis dalam satu negara itu sangat strategis.

Jujur, amanah, mau bekerja keras dan tidak korupsi itu bukan syarat presiden !

🙁 “Looh Pakde itu gimana sih ? Mosok presiden tidak jujur dan tidak amanah, kok dipilih?”

😀 “Thole, sesorang yang jujur, amanah, dan tidak korupsi itu syarat untuk menjadi orang Indonesia. TIDAK HANYA syarat seorang presiden. Kita juga harus jujur dalam bekerja !”

Seperti dalam memilih kue di pasar, bungkusnya memang menarik. Tetapi rasanya mungkin biasa. Dan kita mungkin memilihnya. Obat itu dikemas dan ditawarkan dengan iklan yang menarik, walaupun belum tentu manjur dan cocok untuk kita.

🙁 “Kalau gitu gagah, bagus, dan terlihat berwibawa tidak cukup ya Pakdhe ?”
😀 “Sudahlah, itu masa lalu. Kita harus lebih pandai memilih pemimpin yang nantinya memimpin seluruh bangsa ini. Kita bukan memilih Indonesia Idol yang akan meghibur kita secara langsung. Tetapi memilih pemimpin yang memimpin jajarannya”.

Jadi, ini hanyalah salah satu pilihan untuk memilih presiden. Yaitu memilih seseorang yang nantinya dituruti anak-buahnya atau menteri-menteri dan jajaran dalam ruang jangkauan kontrolnya.

🙁 ” Psst pakde, tentunya kalau ada pilihan. Memilih untuk tidak memilih adalah pilihan kita yang kita diciptakan sendiri karena tidak ada pilihan.”
😀 “Hust ! Jangan golput !”

 

 

1 COMMENT

Leave a Reply