Alhamdulillah ya, sudah bulan Maret (Perhatian tahun 2013 !)

14

Beberapa bulan lalu kita ditakutkan dengan ancaman banjir yang dipekirakan akan terjadi pada bulan Februari 2012. Ramalan ini didasarkan pada perkiraan banjir lima tahunan dan dimasukkan faktor angka keramat 2012. Secara teoritis setahu saya banjir lima tahunan itu tidak ada. Periodisasi banjir bisa saja disebut lima tahunan atau malah 7 tahunan (wah ini memicu angka 7), bisa juga disebut banjr 10 tahunan dsb. Periodisasi banjir menjadi tidak penting lagi.

🙁 “Memang Alhamdulillah ya, Pakdhe!”

😀 “Kalau memang tidak terjadi ya harus bersyukur, Thole. Tapi bagusnya kan sudah ada persiapan yang dilakukan tahun dan ini ada yang lebih penting lagi. Karena ramalan ahli cuaca dan iklim sebenernya justru tahun 2013 yang harus diperhatikan” 

Perhatikan 2013 !

Laporan Tempo (Edisi. 13/XXXIIIIII/21 – 27 Mei 2007) soal rumah-rumah pejabat di Puncak mungkin banyak makna non teknisnya tetapi akhir dari ulasan Tempo ini yang lebih menarik perhatian. Dongengan ini ditulis tahun 2007, lima tahun lalu menyitir  kalimat dibawah ini:

Jakarta 2013. Profesor The Houw Liong, ahli cuaca pada Departemen Fisika ITB, menengarai pada tahun itu Jakarta bisa direndam bah hebat. Saat itu panas matahari berada pada puncaknya, mengikuti siklus 11 tahunan. Jadi, matahari akan mengantarkan lebih banyak air laut ke atas kawasan Puncak

Jadi kalau ramalan banjir terjadi pada bulan Februari 2012 meleset,  barangkali akan muncul di 2013. Prof The How Liong barangkali lebih tepat meramalkannya. Saat ini kita semua sering mendengar bahwa ramalan cuaca ini juga sering meleset  karena adanya perubahan iklim menjadikan peramalan musim menjadi semakin sulit.

🙁 “Whadduh,  Pakdhe. Kita perlu bikin persiapan lagi dong untuk tahun 2013 ?”

😀 “Bukan hanya untuk persiapan 2013 Thole. Siapa tahu hanya meleset menjadi bulan Maret 2012”

Walaupun kita tahu bahwa ramalan menjadikan kita membuat persiapan lebih matang, namun serigkali pula ramalan menjadikan turunnya kewaspadaan pada saat tidak diramalkan terjadi. Melesetnya ramalan juga menurunkan kepercayaan pada sebuah amaran dan peringatan. Cuaca ekstrim akibat perubahan iklim global menjadikan perkiraan menjadi tambah sulit, mestinya memberikan pelajaran bahwa ramalan buruk tidak perlu ditakutkan tetapi dipakai sebagai amaran untuk selalu lebih waspada.

WASPADA lebih penting daripada sekedar percaya ramalan !

14 COMMENTS

  1. apapun ramalannya, jika pola kehidupan msh seperti sekarang, maka semua tinggal tunggu waktu terjadinya. Wallahu’alam

  2. Yang saya takutkan bukan hanya banjir, tapi penguasa negeri kita di ubah ujudnya jadi kera dan babi, mungkin di tahun 2013

  3. ramalanya ngeri pakdhe, walaupun bukan warga jakarta tapi saya lumayan takut, apalagi ramalanya didasari oleh ilmu pengetahuan, siapa tau memang benar terjadi.

  4. Sebaiknya kita berbuat, agar segala ramalan tentang akan adanya banjir itu tidak terjadi, atau setidaknya banjir itu tidak memakan korban. Caranya, kita budayakan menanam pohon, tidak buang sampah sembarangan, dan perbuatan lain yang bisa mencegah banjir. Kalau sikap itu sudah tertanam pada setiap individu, Insya ALLAH !!!

  5. Februari tho pakde? Ingat saya kok Desember 2012 yang diramalkan bakal ada banjir besar-besaran sampe mengakibatkan dunia kiamat. Brarti saya kliru 🙂

  6. “ramalan buruk tidak perlu ditakutkan tetapi diapakai sebagai amaran untuk selalu lebih waspada” quote for this day 🙂 dan, yg perlu kita ngeh juga, ada orang2 tawadhu yg selalu berdo’a sehingga ramalan buruk tidak jadi kenyataan…yg harusnya hujan lebat disertai petir kilat angin kencang puting beliung di suatu wilayah berpenduduk, di pindah kejadiannya di laut lepas yg tdk ada manusia disana…

Leave a Reply