Evolusi : Bukan sekedar masalah percaya dan tidak percaya

0
Prof. Dr RP Koesoemadinata
"Jangan cuman ngikut-ngikut !"

Seorang ilmuwan sering dihadapkan pada keyakinan (keimanan) dengan keyakinannya tentang gejala alam yang diamatinya. Salah satu yang sering menjadi pertanyaan adalah apakah Geologist yang percaya teori evolusi juga percaya bahwa manusia merupakan hasil evolusi juga ?

Pak Koesoemadinata (RPK), seorang professor Geologi dari ITB memberikan sedikit perenungannya dibawah ini. Apakah geologist yg percaya teori evolusi berarti tidak percaya tuhan ?

Evolusi : Masalah percaya dan tidak percaya
(Prof Koesoemadinata)

dituliskan dari obrolan di Mailist IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia)

Masalah percaya dan tidak percayanya mengenai  Theori  Evolusi saya ingin mencuplik dari Pendahuluan kuliah yang saya berikan untuk mahasiswa S3, yaitu “Falsafah Ilmu Kebumian

Masalah ini sangat mengusik pada geoscientist kita yang juga taat beragama, mana yang benar, dan bagaimana seorang yang berkeyakinan beragama menghadapi theori ini. Pengertian kebenaran sendiri adalah merupakan masalah falsafah tersendiri, apa sebenarnya yang disebut ‘kebenaran’ itu?

Dalam agama Islam (sebagaimana tertera dalam Al Quar’an) kita mengenal sebagai 3 tingkatan kebenaran: Ainal Yaqin (keyakinan benar karena kita dapat melihatnya, atau mengamati-nya /secara empiris), Ilmal Yaqin keyakinan (benar)  karena didasarkan ilmu yang kita geluti, yaitu berdasarkan pengamatan dan penalaran logika,  ‘akal’), dan Haqqul Yaqin, kebeneran haqiqi, atau kebenaran absolut atau ‘the ultimate truth’ Ini adalah penafsiran saya atas ayat Alqur’an , mungkin ulama yang lain menafsirkannya lain.

Prof. Dr RP Koesoemadinata

Dalam science yang bersifat empiris yang kita geluti, masalahnya bukan kita itu percaya atau tidak pada suatu teori, termasuk teori evolusi, tetapi apakah kita itu bisa menerima (accept) tidak suatu teori itu sebagai sesuatu yang logis/ masuk akal dan sesuai dengan apa yang kita amati (fosil2, batuan dsb). Dalam science sesuatu itu dianggap ada kalau sesuatu itu dapat kita amati dengan 5 pancaindera kita ini, tidak termasuk indra ke-6. Dengan demikian ruh, jin, bahkan Tuhan pun di ‘anggap’ tidak ada karena tidak dapat diamati dengan ke-5 panca indera kita (bukan berari seorang scientist tidak boleh percaya Tuhan, boleh saja, tetapi itulah salah satu rule of the game-nya, kita tidak bisa menjelaskan terjadinya gejala alam dengan keberadaan kekuatan supernatural misalnya yang tidak bisa kita amati). Tujuan science adalah menjelaskan suatu gejala alam secara logis berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan manusia. Misalnya apakah teori evolusi itu dapat menjelaskan keanekaragaman machluk hidup dan adanya deretan fosil-fosil yang diketemukan dalam urut2an lapisan batuan di kerak bumi kita ini secara logika, atau masuk akalkah teori ini.

Science tidak mengharuskan kita untuk mempercayainya, tetapi dapat menerimanya sebagai sesuatu yang logis. Selain itu tujuan science itu adalah melakukan prediksi (atau untuk geologi: post diction), atau bermaanfaat atau dapat digunakan.  Misalnya saya kira evolusi itu sesuatu yang masuk akal dan dapat digunakan untuk penentuan umur, korelasi dengan menggunakan fosil foram, misalnya. Para scientist juga sadar bahwa ‘kebenaran’ dalam science itu bersifat sesaat atau relative, karena science itu maju terus, berkembang terus. Hal ini terutama sangat kentara dalam geosciences, khususnya paleontologi. Di ketemukannya saja 1 butir fossil saja dapat menumbangkan suatu teori, dan muncul teori baru. Hal ini juga sama dalam ilmu fisika, maupun kimia, apalagi astrofisika dan astronomi. Bahkan seorang ahli science philosophy Karl Popper mengatakan semua teori apapun akhirnya akan tumbang, dan diganti dengan teori yang lain, yang lebih maju.

Jadi dalam hal science, teori evolusi, yang penting adalah bukan soal percaya atau tidak, tetapi apakah kita dapat menerimanya sebagai penjelasan yang logis dan masuk akal dan sesuai dengan pengamatan kita. ”Geloven doe je in de kerk” orang Belanda bilang (masalah percaya adalah masalah dalam gereja). Agama itu didasarkan atas kepercayaan atau lebih tepat lagi iman atas wahyu illahi yang diturunkan pada para nabi dan dituliskan pada kitab suci, mengenai keberadaan malaikat, ruh, setan dan tentunya Tuhan tidak perlu logis atau keberadaannya didasarkan atas pengamatan ke-5 pancaindera kita ini. Kebenaran agama kita yakini karena iman, dan kita tidak bisa menilainya secara scientific. Science itu berdasarkan pengamatan dan pemikiran manusia, dan tidak perlu dinilai secara religious/spiritual.

Apakah ini dualisme/ kontrakdiksi dalam alam pikiran? Saya  tidak merasa demikian.  Kita bekerja dalam science sesuai dengan kaidah dan aturannya dan menerima kesimpulannya sesuai dengan logika dan pengamatan. Sama saja kalau dengan kita main sepak bola, kalau terjadi goal yang kontroversial, kita kan tidak menunggu adanya fatwa MUI yang mencari ayat Alquar’an dan Haditz yang  mengharamkan atau mensyahkan goal tersebut, tetapi kita menilainya keputusan wasit sesuai dengan peraturan sepakbola yang dikeluarkan FIFA. Sekularisme? Mungkin. Tetapi saya hidup cukup tenang dan tenteram  dan hidup dalam keseimbangan sebagai seorang geoscientist yang beragama.

Wassalam mu’alaikum

RPK

Dongengan terkait evolusi :

1 COMMENT

  1. disatu sisi kita punya keyakinan yang tidak boleh terbantahkan dan disatu sisi kita harus berpikir objektif tanpa melibatkan keyakinan.

    Kalau kita berpikir objektif… Maka kita menyadari :
    Tidak ada proses evolusi yang terjadi di alam ini !

    Sebuah sel zigot menjadi bayi manusia yang sempurna HANYA butuh waktu 9 bulan lebih… tidak perlu jutaan tahun…

    Tidak ada Bukti Fosil Makhluk-makhluk Perantara yang seharusnya ada sangat banyak, Bila Teori Evolusi Benar…

    Semua makhluk hidup yang pernah ada di muka bumi, yang sekarang punah… Semuanya adalah Makhluk sempurna yang bisa hidup nyaman di habitat nya…
    Ketika Habitat nya berubah drastis, lambat laun makhluk tersebut akan punah…

    Bila benar Lingkungan yang berubah perlahan bisa merubah makhluk hidup yang mendiami nya… Buktikan saja dengan bukti-bukti fosil perantara !… Dan buktikan fosil-fosil tersebut, yang lebih muda nya adalah anak cucu (keturunan) dari fosil yang lebih tua…

    Kalau masalah kemiripan bentuk fosil dijadikan Argumen bahwa fosil-fosil tersebut satu keturunan…
    Tengkorak Hitler dengan Tengkorak Westerling adalah akan mirip bentuknya… Lalu apakah ini bisa menjadi bukti bahwa Westerling anak dari Hitler ?…

  2. Memang sulit menghadapi dualisme pemikiran, disatu sisi kita punya keyakinan yang tidak boleh terbantahkan dan disatu sisi kita harus berpikir objektif tanpa melibatkan keyakinan.

    Tapi jika kita bisa memisahkan antara keyakinan dalam agama dan konsep kebenaran dalam ilmu pengetahuan, mudah-mudahan keyakinan kita kepada agama masing-masing tidak akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan karena subjektifitas pemikiran.

  3. Ilmu manusia dibanding dengan Ilmu Allah swt Tuhan Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta, bandingan nya adalah seperti setetes air di ujung jari dengan air laut seluruh samudera…

    Bila DIA sudah “turun tangan” dan “bekerja” pada “tempat penciptaan” nya, tidak perlu evolusi jutaan atau milyaran tahun untuk merubah 1 sel menjadi 1 makhluk hidup yang sempurna…

    Mau buktinya ?…
    Buka Mata Lebar-lebar pada setiap kejadian di sekeliling kita !…

    Coba tanyalah ke Dokter… atau bidan sajalah… atau kalau tidak ada ke dukun beranak (yang sudah dapat pelatihan dari puskesmas) saja lah… 🙂

    Tanyain butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan dari sebuat sel zigot menjadi bayi manusia yang sempurna ?…

    Coba tanyain juga kepada peternak ayam petelur, butuh berapa untuk menetaskan telur ayam…
    Apakah butuh waktu jutaan tahun ?… 🙁

    Sekarang itu Ilmuwan Islam kebanyakan “latah”…
    Ilmuwan Atheis “ribut” teori evolusi… Ilmuwan Islam latah mengiyakan…

    Ada seorang Adnan Oktar (Harun Yahya) yang giat mengkritisi teori evolusi… malah dicibirkan oleh Ilmuwan Islam sendiri…

    Menyedihkan… mental Ilmuwan Islam sekarang, mental Ilmuwan Inlander… 🙁

  4. Manusia peradaban Nabi Adam kita, bukanlah penghuni pertama di muka bumi. sebelum “dituruni” Nabi Adam, ternyata telah ada peradaban2 sebelumnya.. buktinya ditemukannya fosil yg diperkirakan berusia jutaan tahun. padahal Nabi Adam belum ada segitu usianya jika dihitung dari sekarang.. cmiiw. 🙂

  5. masalahnya, seluruh tengkorak yg diaku-aku evolusionis itu palsu semua! gmn dong??

    adakah bagian al-qur’an yg menyatakan manusia dari monyet??

    kenapa seluruh ulama (non-liberal) menolak teori evolusi??

    kenapa yg mengjarkan teori evolusi diberikan kucuran dana dr u.s/inggris??

  6. mantaaaffff…….agama dan ilmu pengetahuan akan selaras bila agama atau ajaran itu bener-bener dengan kebenaran(sesuatu yang benar-benar terjadi),,evolusi itu bukan hanya teori tapi kebenaran bung,bukti nya uda banyak,,kenapa diragukan,..sebagai ilmuan itu adalah data yang valid..
    percayalah kepada ajaran jika ajaran itu membawa kebaikan,kebaikan untuk semua orang bahkan semua mahluk…thx

  7. Selama ini al-Qur’an difahami sebagai petunjuk, tetapi petunjuk tersebut harus ditafsirkan oleh orang-orang yang dikalim/mengklaim sebagai ulama. Karena katanya untuk memahami al-Qur’an diperlukan ilmu lugoth, nahu, shorof, asbabun nuzul dlsb. Sehingga ketika ada informasi/petunjuk yang tidak bisa difahami oleh akal fikiran ya harus ditelan bulat-bulat dengan landasan iman. Padahal dari surat 25/73 menyebutkan bahwa terhadap ayat al-Quran saja tidak boleh buta dan tuli (taklid) / harus kritis. Dan beberapa keterangan/pemahaman lain mengkerdilkan al-Quran. Seperti al-Quran itu sebagai petunjuk yang global padahal Allah menyebutkan al-Quran itu petunjuk yang ayatnya tersusun rapi dan terperinci (11/1). Apa yang dimaksud terperinci ini, dari analisa al-Quran (dilakukan oleh suatu kelompok kajian) diperoleh kesimpulan terperinci itu benar-benar terperinci secara detail, tetapi bagi orang-orang yang berfikir. Siapakah orang yang berfikir tersebut ternyata adalah ‘ulul albab’, siapakah ulu albab, orang yang mau menghabiskan waktunya untuk memahami petunjuk dan mengadakan penelitian untuk membuktikan keterangan-keterangan al-Quran, siapakah itu ya para ilmuwan yang mukmin. Siapakah yang dimaksud mukmin …

    Dari suatu analisa al-Quran tentang asal usul manusia diperoleh informasi yang mengejutkan bahwa:
    1. Manusia yang pertama di dunia bukanlah Adam (dunia tidak sebatas bumi/earth di tata surya kita). Manusia yang pertama adalah seorang wanita.
    2. Adam dilahirkan dari seorang ibu seperti halnya Isa. Adam bukan dijadikan dari tiin tetapi dari turob.
    3. Adam tidak diturunkan dari surga (surga dan neraka belum ada) tetapi dari planet Muntaha, planet X (menurut NASA)
    4. Adam manusia pertama di bumi.
    5. al-Quran tidak pernah menyebutkan nama Hawa/Eva sebagai istri Adam
    6. Kehidupan tidak hanya di bumi tetapi juga di planet-planet lain dalam tata surya kita, juga tentunya dalam tata surya yang lain yang jumlahnya milyaran.

    Untuk membuktikan kebenaran itu barangkali nanti sang waktu akan mendorong ilmuwan-ilmuwan mukmin untuk melakukan penelitian, menciptakan pesawat untuk penerbangan antar planet. Bukankah janji Allah akan membukakan ilmu pengetahuan … 110/1

    Salam,

  8. adalah hal yang sama dalam memahami agama pun ada “rule of the game”-nya. begitupun dalam mengkorelasikan science dan agama. science bisa saja diyakini dan agama pun bisa juga dilogikakan.

  9. Kalau Prof.Dr. Maurice Bucaille. Seorang peneliti Perancis non Muslim, dengan ilmunya beliau menjadi seorang Muslim, mengapa kita yang sudah Muslim menjadi bimbang setelah berilmu, Kalau untuk orang yang tidak beragama dalam melakukan penelitian berpijak pada skeptisme lebih dahulu bisa dimaklumi, tapi kita yang sudah beragama, kenapa harus mengikutinya. Apakah ilmu yang kita miliki dan penelitian yang kita lakukan sudah sepadan dengan ilmu dan penelitiannya Maurice Bucaille? sehingga kita berani mengucapkan science dan agama tidak ada hubungannya. Bahkan secara sombong melontarkan science adalah hal yang masuk akal sedang agama tidak masuk akal. Semoga ilmu yang kita miliki menjadikan kita lebih dekat kepada Allah, Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

  10. Apa yang ditulis oleh Bung Rovicky yang notabene orang sains dan juga pendapat para ilmuwan lainnya sepertinya sudah sangat jelas. Semuanya ada Role of the Game-nya. Emang sih, bagi sebagian orang mungkin tidak akan nyambung dengan ajaran agama (Samawi) tapi ya mau apa lagi. Role of the game-nya sudah berbeda. peace

  11. science adalah sesuatu hal yang dapat diterima karena masuk akal, sedang agama adalah sesuatu yang dipercayai tapi tidak masuk akal, karena Tuhan, malaikat, jin, setan tidak bisa diamati oleh 5 pancaindera, kira-kira begitulah yang dimaksud pak Prof RPK.
    Dan pak Prof RPK merasa nyaman dan seimbang hidup sebagai geoscientist yang beragama.
    Mungkin yang dimaksud Prof RPK disaat sebagai geoscientist, beliau adalah manusia berakal, dan saat sedang menjalankan kewajiban agamanya maka beliau adalah manusia yang tidak berakal, Disitulah letak keseimbangannya.
    Semoga ilmu dunia yang kudapat, menjadikan aku lebih dekat kepadaMU ya …Allah.

  12. apakah evolusi harus dipahami dengan perlu adanya bukti makluk2 peralihan? wong arah evolusi aja ilmuwan belum bisa memastikan, konsep evolusi adalah adanya fakta bahwa ada kesamaan gen, minta bukti makluk peralihan, ya ga bakal nemu , bikin ngakak saja

  13. Evolusi memang ada dan berlaku untuk semua. Kera bukan manusia dan Manusia bukan berasal dari kera. Mengapa tidak semua kera jadi manusia apa mungkin masih ada kera yang akan berubah jadi manusia??
    Salam

  14. mantabs mantabs… keren teorinya… baru sependapat……… klo teory evolusi itu…. percaya dan gak percaya…………..menurut saya… bila memeang evolusi itu terjadi.. suatu saat manusia pasti salah satunya akan melahirkan kera…… kenapa tidak…. bisa2 saja…….. jika evolusi masnusia terdiri dari satu kera.. pasti keturunan di bumi ini kira2 dari 1000 orang akan lahir 100 orang kera<< percaya gak????? karna kita masih memiliki Gen kera<<< benggabungan gen tidak akan pernah sempurna.. karna maih mempunyai ifat pembawa……(masih ingat toeri mendel? dominan dan resesif??) segitu saja teori dari saya.. intinya manusia ya manusia.. hewan ya hewan…..apa hubunganya sama tuhan??? (nah itu….cobalah kamu bersendirian di tempat terpencil… dan menemukan sesuatu yang kamu cari… kira2 kamu akan berterimakasih sama siapa… kan gak ada orang lain)<< sedikit tentang teori tuhan… tuhan adalah tempat untuk berterimakasih… percaya ada ato enggak tergantung siapa yang memiliki hati…. segitu dari saya

  15. jadi apakah sains memang harus terpisah dari “agama”..??

    –> Science tidak mengharuskan atau melarang pikiran manusia. Itu tergantung manusianya. Bagi penganut mengharuskan ya akan mendapat konsekuensi sendiri karena kemungkinan akan terbentur-bentur, demikian juga yang memisahkan akan mendapatkan konsekuensi sendiri karena akan dianggap sekuler oleh yang lain. Jadinya ya terserah saja. Hanya saja seperti yg dituliskan Pak Koesoemadinata ada “rule of the game” dalam mempelajari setiap ilmu pengetahuan.
    Salam,

Leave a Reply