Penjelasan Ustad Gempa, Danny Hilman Tentang Gempa Selat Sunda

0
Ustad Gempa Danny Hilman
Ustad Gempa, Dr Danny Hilman

Sebagai ahli gempa, Danny Hilman yang memperoleh gelar Doktor di bidang kegempaan dai Caltech University, memberikan penjelasan seputar berita ancaman Gempa Selat Sunda.

🙁 “Nah kalau yang berbicara Ustadz Gempa, mestinya lebih pas ya Pakdhe?”

Penjelasan beliau dituangkan dalam diskusi diantara ahli kebumian di IAGI-net (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) sebagai berikut:

http://rovicky.files.wordpress.com/2010/07/rovicky_gempa.jpgRekan-rekan ysh,

Perihal isyu potensi gempa 8.7 SR yang mengancam Jakarta kok tafsiran-nya kesana-kemari yah?

Siapapun dan ngomong apapun kalau dilhat dengan kacamata minus dan tebal prasangka pasti terlihat buruk.

Mari kita lebih positif menanggapinya. Saya akan bahas substansi issue-nya saja ( ilmiah-teknis) sesuai dengan bidang saya, seperti di bawah ini:

1. Apakah benar wilayah Selat Sunda punya potensi gempa di atas magnitude 8 (atau 8 SR-lah istilah populernya)?

http://www.rms.com/publicationsJawaban: Tentu saja! Silahkan tanya ke para ahli gempa (yang sungguhan) siapa saja di seluruh dunia. Kita memang tidak tahu berapa besar gempa yang akan terjadi di “megathrust” Sunda, tapi tidak sulit kalo hanya menghitung potensi maksimumnya (= MCE Maximum Credible Earthquake). Potensi gempa sebanding dengan dimensi sumber gempa. Ukur saja panjang zona subduksi (megathrust) dari P. Enggano – Selat Sunda – Pangandaran) = 450 km (tidak salah juga kalau diukur sampai JaTim). Lebar sumber gempa megathrust (bidang batas lempeng yang biasa lengket/locked) bisa sampai 150 km. Kecepatan relatif lempeng Hindia-Australia menunjam di zona subduksi Selat Sunda – Jawa Selatan = 6 cm/tahun. Apakah gerak lempeng 6 cm/tahun ini semuanya diakumulasikan menjadi regangan tektonik (stress), artinya batas lempeng terkunci 100%, atau tidak, kita belum tahu karena belum ada penelitian/data-analisa-nya yang bagus untuk segmen Sunda. “Ellapsed time” bisa 300 tahun,bahkan 1000 tahun atau lebih (karena selama 300 tahun terakhir tidak ada catatan ada gempa besar dalam sejarah — selebihnya tidak ada data— karena belum ada penelitiannya.

Besar “moment magnitude” (Mw) maximum di Selat Sunda = (Log Mo-16)/1.5 ( Hanks and Kanamori, 1971), Mo = u*(LengthxWidth)xDisplacement ; dimana u = 3*10^11 dyne/cm^2, Length=450*10^5 cm, Width = 150*10^5 cm, Displacement (asumsi elapsed time = 500 tahun)= 500*6=3000 cm. Kalo dihitung maka hasilnya : Mw = 9.15 (=setara dengan gempa Aceh 2004).

Apabila kita asumsikan “locking” selat Sunda hanya 50 %, maka akumulasi slipna hanya= 500*6*0.5 = 1500 cm, dan hitungan Mw = 9.0. Apabila locking-nya 25%, Mw-nya = 8.7 (atau populer disebut 8.7 SR).

Catatan: HERAN JUGA kalau ada instansi terkait atau “ahli kebumian kita” yang katanya meragukan potensi gempa Mw 8.7 ini. Masa iya engga ngerti materi kuliah “earthquake geology 101”

🙁 “Pakdhe MCE itu kan kalau maksimum semua keluar bareng-bareng kan ?”

😀 “Ya mirip seperti dongengan isue gempa skala 9 di Sumatera itu. Paling tidak penjelasan Pak Danny menunjukkan POTENSI sebesar itu”

2. Pernah terjadi gempa besar megathrust > 8SR di wilayah Jakarta di masa lalu?

Jawaban: TIDAK TAHU. Kita hanya tahu pernah terjadi gempa besar yang kerusakannya serius, yaitu tahun 1699 (tidak tahu sumbernya di mana dan berapa magnitudenya), 1852 (intensitas gempa mencapai MMI 8-9 di wilayah Selat Sunda), 1908 ( besarnya ~8SR tapi tidak diketahui apakah megathrust, Patahan Sumatra, atau patahan lainnya yang belum diketahui). Data pre-historis gempa (paleoseismologi) tidak ada karena belum ada penelitiannya.

3. Apakah isyu gempa 8.7SR yang dilontarkan Pak Andi Arief itu isyu baru?

Jawaban: Sama sekali tidak. Sering saya lemparkan di berbagai seminar sejak 5 tahun terakhir. Bahkan sebulan lalu hal ini pernah saya presentasikan pada seminar jembatan Selat Sunda di PU. Pihak PU merespon bahwa hal ini sangat perlu diteliti lebih lanjut dan berjanji akan menghubungi saya untuk mendiskusikan follow-upnya, tapi belum ada kabar sampai sekarang. Baru-baru ini ada juga mahasiswa Indonesia program S3 Tektonik Geodesi di Jepang yang coba-coba menghitung Moment Magnitude Segmen Sunda ini berdasarkan data pengukuran GPS yang ada, dan hasilnya sekitar 8.5 SR. Analisa ini tentu masih sangat prelimineray karena data yang tersedia masih terlalu sedikit sehingga ibaratnya dia mencoba menerka-nerka “binatang apa” dengan hanya meraba-raba pantatnya J

4. Apakah benar sudah banyak pemetaan dan penelitian sumber dan potensi gempa di Indonesia (termasuk di Selat Sunda)?

Jawaban: Saya kira rekan-rekan IAGI-net sudah sangat mahfum bahwa penelitian ini masih sangat sedikit. Ahli/penelitinya-pun sangat langka. Silahkan sebut siapa saja ahli geologi/seismologi atau instansi yang benar-benar meneliti dengan serius sumber-sumber gempa dan efeknya dan mempublikasikan hasilnya, khususnya untuk Selat Sunda.

5. Apakah Jakarta siap apabila ada goncangan gempa besar? Apa yang akan terjadi kalau benar-benar terjadi?

Jawabannya: Nah, itu dia masalahnya. Respon dari isyu gempa 8.7 SR dan Kepanikan masyarakat serta “penyangkalan” dari beberapa instansi terkait mengindikasikan TIDAK SIAP. Orang belum banyak yang ‘ngeh’ tentang potensi ini. Kalau masyarakat sudah siap seharusnya menanggapi dengan biasa-biasa saja, seperti halnya masyarakat Jepang menghadapi potensi Gempa besar TOKAI atau masyarakat Los Angeles yang sudah lebih dari 15 tahun ‘menunggu-nunggu’ gempa skala 8 SR di the big-bend San Andreas fault. Instansi terkait kalau misalnya sudah (menjalankan tugasnya) meneliti potensi ini seharusnya merespon isyu tersebut dengan bilang: “ooo itu sudah/sedang diteliti, kami tahu dan hal ini memang penting sekali untuk diantisipasi dengan serius”. Kalau belum dikaji, ya bilang saja belum tapi akan segera di-follow-up, tidak perlu diffensif atau kebakaran jenggot. Kalau belum yakin mengerti masalahnya dan apa yang harus dilakukan, ya engga usah malu tanya jangan sok pintar (mohon maaf kalo ada yang tersinggung) J

Jakarta adalah wilayah yang sangat padat populasi dan sangat padat investasi. Selain itu juga punya banyak instalasi vital. Contoh, misalnya saja apabila terjadi gempa besar kemudian Pusat Cyber Nasional di Jakarta tiba-tiba mati sistemnya selama beberapa jam saja…. silahkan analisa apa yang terjadi. Ini masalah “national survival

🙁 “Pakdhe, Jepang saja kecolongan ya.”

😀 “Iya tapi kecolongannya jangan dipakai untuk beralasan bahwa kita boleh kecolongan juga. Itu pesan Pak Ustadz Danny”

6. Berapa sih besar goncangan di jakarta kalo ada gempa megathrust 8.7 SR di Selat Sunda?

Bagaimana kalau dibandingkan dengan Peta Zonasi Gempa baru yang dibuat oleh Tim 9 dan dirilis resmi oleh pemerintah (khususnya Dept PU) pada bulan Agustus 2010?

Jawabannya: Jarak dari sumber k Jakarta adalah sekitar 170 km. Dengan memakai rumus empiris “attenuation gempa” untuk zona subduksi (Young et al 1997) maka besar peak ground acceleration (PGA) adalah 0.16g, Menurut peta zonasi gempa Indonesia yang baru (memakai metoda Probabilistic Seismic Analysis) besar potensi goncangan gempa di Jakarta adalah sebesar 0.15 – 0.25g (untuk return period 500 tahun) atau sebesar 0.3-0.4 g (untuk return period 2500 tahunan). Nilai percepatan gempa ini masih untuk di “batuan dasar”, jadi belum dikalikan faktor amplifikasi karena kondisi geologi dekat permukaan (bisa berlipat nilainya). Sebagai gambaran 0.25-0.3g adalah kira-kira setara dengan MMI VIII (kurang lebih seperti goncangan gempa September 2009 di padang lah).

JADI, sebenarnya PETA ZONASI GEMPA INONESIA yang resmi sebenarnya LEBIH SERAM dari isyu 8.7 SR di Selat Sunda.

Apakah Peta Zonasi Gempa ini sudah cukup dimengerti masyarakat dan mendapat perhatian? ….

7. Apakah gempa bisa diprediksi?

Jawaban: Hal ini selalu saja dikacaukan, baik oleh media bahkan juga oleh teman-teman ahli kebumian/geologi sekalipun. Seperti yang diuraikan di atas, lokasi dan potensi (besar), juga status serta efeknya dapat diprediksi oleh ahli gempa (apabila sudah dilakukan penelitian yang cukup). Perihal kapan terjadinya, umumnya hanya bisa dikatakan “seberapa besar probabilitas kemungkinan terjadinya di masa datang”. Sebagai ilustrasi, apabila gempa dianalogikan sebagai penyakit tumor ganas, maka sudah seharusnya para dokter ahli bisa mendeteksi apakah ada tumor di tubuh pasien-nya, dimana, berapa besar, dan sudah stadium berapa. Demikian halnya dengan gempa, ahli gempa harus bisa memperkirakan dimana, berapa besar, dan statusnya pada siklus gempanya di mana (di awal, tengah, akhir). Tapi apakah para dokter itu bisa menjawab pertanyaan berapa bulan lagi atau hari lagi pasien itu akan mati? (kalau dianggap tidak bisa sembuh). Hal ini sama saja dengan bertanya pada ahli gempa “kapan gempa akan terjadi”? Pertanyaan tentang potensi sumber gempa dan kapan gempa datang adalah dua hal yang berbeda (metoda dan teknik penelitiannya berbeda).

Catatan pinggir: Mitigasi bencana gempa kira-kira sama dengan mitigasi kematian…Makanya saya suka diledek sebagai Ustad Gempa oleh teman-teman J

Demikian, mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan yang bermanfaat, sehingga kita sebagai ahli geologi bisa lebih menyikapi isyu gempa dengan lebih arif tidak malah kena terpancing berita-berita burung yang seringkali menambah-nambahkan isyu potensi gempa menjadi ramalan gempa yang akan terjadi (misalnya tgl sekian) sehingga bukannya ikut meluruskan berita tapi malah ikut-ikutan panik atau berang-berang …. alamak J

Salam, Danny

Catatan Pendongeng : Wah kalau yang menjelaskan seorang Ustad Gempa memang berbeda dengan celetukan di mailist ahli kebumian sekalipun. Dan sebagai catatan kita bersama bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan PersiapanPersiapan serta Persiapan lah yang perlu dilakukan. Lah apa lagi ?

1 COMMENT

  1. Pak de … yang saya tangkap dari perkataan Mbah Rono, katanya potensi gempa selat sunda ini sedikit demi sedikit dilepaskan melalui letusan2 anak krakatau … apa bisa benar begitu pak de?

    • Energi tidak hilang tapi dikonversi menjadi energi lain. Bisa saja berubah menjdi energi panas vulkanis, atau energi getar gempa yg dilepaskan sekaligus, bisa juga dilepaskan pelan-pelan menjadi slow quake dsb.

  2. yah bagi yang udah baca dongeng tadi dan paham jadi bisa melihat permasalahan dengan jernih,jadi baiknya ga usah komentar kalo belum tahu benar-benar.tahu daripada salah,kaya dokter salah kasih advis malah jadi malpraktek.

  3. Ok itu berarti semua ilmiah dan alamiah dari Sana-Nya, kalau ada peringatan tinggal mau ingat atau tidak?? Kalau ummat dulu diingatkannya pada konsep keTuhanan, tentang way of life yang harus benar. Sekarang kita diingatkan intuk konsep yang bersifat empiris logis, intinya semua diingatkan muaranya mau dikembalikan ke mana ??? salaam

  4. wah mirip dengan penerawangan saya soal kisruh gosip gempa besar jakarta.

    intinya ada potensi bencana yang perlu diwaspadai dan dipersiapkan.

    minimal persiapan tahlilan dulu pakde.

Leave a Reply