Foto-foto piroklastik Merapi – Batu Gajah Bengkak

0
Batugajah ketika datang dan akhirnya tersingkap

Dibawah ini beberapa foto lapangan dari hasil survey lapangan dengan Pak Gatot (PVMBG), Geologi UGM , berserta Direktur SAMAPTA (POLDA DIY), serta kawan-kawan dari Sekber Pecinta Alam Jogja termasuk Mermounc. Diantar oleh kawan-kawan IOF Jogja.

šŸ™ “Wah Pakdhe penjelasannya yang mudah ya, mau menyimak ilmu baru tentang gunungapi nih”

šŸ˜€ “Lah kalau ndak jelas ya kan tinggal koment trus tanya, gitu”

Diambil tanggal 20-21 November 2010Ā Ā Ā 

Batu Gajah Bengkak ini berukuran 4x7 meter ini dijumpai di desa Pagerjurang Cangkringan. Jarak dari Puncak sekitar 10 Km. Terbawa oleh aliran piroklastik (nuee ardentees). Lihat puncak yang jauhnya sekitar 10 Km.

 

Batugajah ketika datang dan akhirnya tersingkap

Si Gajah Bengkak ini ketika terbawa tidak mungkin hanya sekedar nggelundung saja. Melihat ukuran serta beratjenis batunya tentu sewaktu terbawa disekitarnya dikelilingi oleh material-material lain beruba kerakal, kerikil, pasir serta batuan-batuan lain yang berukuran lebih kecil.

Telalu sulit seandainya batu ini menggelundung saja tanpa adanya media yang membawanya. Gravitasi serta angin jelas tidak mungkin. Awalnya kemungkinan Watu Gajah ini terkubur sebagian, namun karena erosi menyebabkan batu ini akhirnya muncul dan terlihat dipermukaan.

Kalau memang bener terjadinya seperti yang disebelah kiri ini, tentusaja ini artinya proses erosinya sangat cepat. Perubahan morfologi topografi ini memang merupakan salah satu fenomena unik saat ini yang dapat disaksikan di sekitar hasil endapan prioklastik Merapi. Proses yang berkembang sangat cepat ini dapat menjadi pelajaran bagaimana morfologi itu berubah.

Tempat yang dahulunya lembah menjadi bukit dan yang dahulunya bukit menjadi dataran. Ini harus dipahami betul perilaku serta kemungkinannya.

Memang proses perubahan morfologi dan topografi ini dapat pula terjadi secara perlahan karena erosi hujan pada batuan yang keras, hal ini yang sering kita saksikan selama ini, dimana proses ini tidak teramati dalam masa hidup individu manusia yang kira-kira 60 tahun saja, Tetapi dalam proses di endapan Merapi ini dapat teramati dalam skala mingguan bahkan harian karena endapannya belum terlitifikasi, atau belum terbatukan, secara sempurna.

Batu besar bermunculan setelah permukaan penutupnya tererosi

Kalau kita lihat gambar diatas, tentusaja belum tentu batu yang “mecungul” (tersembul) ini hanya berukuran kecil. Siapa tahu yang terkubur dibawahnya masih sangat besar.


Di banyak tempat dijumpai rembesan seperti minyak, ini diperkirakan dibawahnya binatang atau korban yg terkubur. Artinya dibawah ini adalah dusun (perumahan). Perhatikan luasnya daerah terkena dampak sejauh mata memandang.

Dibawah rembesan hitam barangkali binatang atau korban yang terkubur
Alur sungai baru Sungai Gendol. Terlihat endapan piroklastika dengan ketebalan tersingkap lebih dari 8 meter. Bahkan dibeberapa tempat memiliki ketebalan hingga puluhan meter.

Perhatikan ketinggian bendungan pengendali pasir (Sabo) dan bandingkan dengan ketebalan piroklastik yang tingginya 3-4 kali lipat dari ketinggian Sabo.

Diperkirakan Sabo ini terisi penuh dengan sedimen hanya dalam waktu kurang dari 9 detik ketika dilalui aliran piroklastik (nuees ardentes)

Tinggi batuan yang tersembul ini hanya sekitar 1.5 meter. Namun tidak diketahui berapa diameter yang sebenarnya.

Tentunya pada saat diendapkan piroklastik ini batuan-batuan bongkah raksasa ini terkubur atau paling tidak sepertiga atau setengahnya supaya mampu terangut. Ini memperlihatkan sudah terjadinya erosi permukaan. Material yang tererosi inilah yang menjadi material penyusun lahar hujan.

Bersama Pak Wartono Raharjo (Dosen Geologi UGM) sebagai narasumber.
Jarak lokasi tempat pemotretan ini lebih dari 10 Km dari puncak Merapi dikejauhan.
Ini bukan permukaan bulan. Ini padang pasir batu di Cangkringan.
Apa kira-kira dibawah endapan piroklastik yang melampar datar selebar lebih dari 2 Km ini ? Sungai atau dusun ?
Ketika batu-batu besar mulai nongol barulah terlihat apa saja dan seberapa besar bongkahan material yang terangkut.
Siapa yang menyangka bahwa material puncak gunung Merapi sejauh 10 Km ini akan sampai ditempat ini secara cepat dan panasnya mematikan.

Sebelum erupsi 2010 ini, dari selatan (Cangkringan) puncak Merapi tidak terlihat adanya lubang yang menganga seperti diatas. Puncak Merapi bagian selatan ini runtuh pada tanggal 26 Oktober 2010. Lubang yang menganga ini menjadikan pintu baru dari Merapi yang menyebabkan luncuran awanpanas sejauh 15 Km dari puncak pada awal November 2010.

Endapan yang dapat dilihat diatas merupakan material yang kalau tererosi akan menjadi material lahar hujan. Material lahar hujan terdiri atas batu bongkahan, kerakal, kerikil, hingga pasir dan juga abu. Komposisi ini bila mengering akan dengan cepat berubah menjadi batuan keras karena proses litifikasi (pembatuan).

Bacaan terkait :

1 COMMENT

  1. Sekarang peralatan untuk mendeteksi kapan gunung berapi akan meletus sudah semakin canggih. Demikian juga teknologi komunikasi semakin memudahkan orang untuk saling tukar menukar informasi. Sehingga akan memudahkan orang untuk menghindar dari bahaya letusan gunung berapi. Hanya orang-orang yang tidak percaya pada kemajuan teknologi telah menjadi korban letusan gunung berapi tersebut. Di balik bahaya letusan yang dasyat, dari sisi lain material letusan Gunung Merapi yang dimuntahkan di Kali Boyong, Kali Krasak dan Kali Gendol mempunyai arti ekonomi, karena merupakan bahan galian golongan C yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Pembangunan gedung-gedung dan jalan-jalan di Kota Jakarta beberapa dasa warsa yang lalu, menggunakan pasir yang berasal dari letusan Gunujng Galunggung, sekarang pasir Gunung Galunggung sudah habis menjadi bangunan di Jakarta. Karena saya tidak pernah mengunjungi dari dekat muntahan material di Kali Booyng, Kali Krasak dan Kali Gendol maka saya tidak dapat memperkirakan kualitasnya. Tapi yang jelas bahwa material muntahan Gunung Meraoi tersebut akan bermanfaat bagi pembangunan. Jadi kita perlu melihat dari aspek positif letusan dasyat gunung berapi

  2. Sekarang teknologi untuk mendeteksi kapan gunung berapi itu akan meletus sudah canggih, komunikasi sudah sangat lancar, sehingga untuk menghindar terjadinya korban jiwa lebih mudah dari pada zaman dulu. Hanya orang-orang yang tidak mau memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut akan menjadi korban, jiwanya melayang. Di balik kedasyatan letusan Gunung Merapi, ternyata material yang dimuntahkan ke Kali Boyong, Kali Krasak dan Kali Gendol mempunyai nilai ekonomi sebagai bahan galian golongan C. Jadi semua bencana yang terjadi perlu dipandang dari sisi positifnya jangan hanya negatifnya saja

  3. Pak Rovicky, saya Yan Restu mhs JTGL UGM 2010,
    pak, saya mohon ijin untuk menggunakan foto2 yang ada di web ini terkait merapi ya Pak. Untuk buletin Geomapping Competition di Bayat…

    Nuwun Pak, oh iya, tentu nanti kami cantumkan, courtesy by Rovicky.wordpress.com..

    terimakasih Pak..

  4. semua kejadian alam itu tidak lepas dari ulah kita sendiri ibarat alam itu buku putih tergantung kita mau tulis apa itulah yang nanti kita baca hasilnya marilah sama menjaga alam jangan saling menyalahkan koreksi diri sendiri itu yang terbaik di era pemerintahan SBY

  5. semua kejadian alam itu tidak lepas dari ulah kita sendiri ibarat alam itu buku putih tergantung kita mau tulis apa itulah yang nanti kita baca hasilnya

  6. wew… kerenzzz beud dech!!! aku pingin banget ksn!!! tp g bs coalnya aku pny penyakit asma… huhuhu… aku sdh swekwalwe!!!

  7. batu sebesar dan seberat itu terlontar sejauh lebih dari 10 km?lha berarti tenaga yang melontarkan sebesar apa ya?Teknologi manusia yang paling canggih apa sudah ada ya yang bisa menyamai mesin pelontar batu itu?Mungkin nunggu 1000 tahun lagi ya baru ada alat buatan manusia yang dianggap bisa menyamai, padahal di saat itu mungkin terlontar lagi batu yang lebih besar dan lebih berat dan lebih jauh lagi jaraknya, nah terus…….?

  8. ngomong-ngomong soal perubahan morfologi, punika wonten berita yg menurut kawulo agak diheboh-hebohkan: http://id.news.yahoo.com/viva/20101213/ttc-bagaimana-benua-afrika-terbelah-078ed6a.html. apa bener bisa terbelah begitu Pakdhe?

    –> Betul benua bisa terbelah tapi jangan lupa kalimat terakhirnya ” Menurut geofisikawan, dalam 10 juta tahun ke depan, … ” Ingat pembelahan itu dalam jutaan tahun !!
    Silahkan baca dongengan ini ditahun 2009 http://rovicky.wordpress.com/2009/12/20/gempa-retakan-kerak-bumi-membentuk-danau-malawi/ juga disini http://rovicky.wordpress.com/2009/11/29/wajah-bumi-250-juta-tahun-lagi/ dan link-linknya

  9. Anu lagi, Pakdhe….
    “Sebelum erupsi 2010 ini, dari selatan (Cangkringan) puncak Merapi tidak terlihat adanya lubang yang menganga seperti diatas. Puncak Merapi bagian selatan ini runtuh pada tanggal 26 Oktober 2010. Lubang yang menganga ini menjadikan pintu baru dari Merapi yang menyebabkan luncuran awanpanas sejauh 15 Km dari puncak pada awal Desember 2010.”
    Awal November kan Pakdhe…
    Nuwun pangapunten sakdherengipun.

  10. ini lokasi batu di google earth pakdhe, gambarnya nanti saya tag di fb.
    7Ā°41’24.34″S 110Ā°26’32.12″T
    kalau dari atas tertutup pepohonan dan letaknya di samping sungai yang kedalamannya 4 meter, batu itu masih terpendam padahal ketinggian dari tanah sekitarnya 2 meter, jadi kalau dilihat dari dalam sungai jadi 6 meter tingginya.
    Dan itu salah satu alasan mengapa tanggal 5 Nopember kemarin kami sekeluarga lari terbirit-birit sampai sragen. Bayangkan kalau ada batu segedhe itu bisa terbang sampai dekat rumah, apalagi batu kecil, kerikil dan lain-lain.

  11. Pakde…sampai hari ini 13 Des 2010…saya tidak melihat aliran air di kali gendol (di cek dam Morangan)…lha trus…air yang selama ini turun melalui hujan sampai hari ini…TERSIMPAN DIMANA?…. kalau dibandingakan dengan Boyong,Kuning dan Opak..kan trus mengalir??? Tolong info ya pakde.

    –> Yang pasti jumlah air tergantung dari curah hujan. Saya ngga ngerti apakah curah hujan di Gendol dan krasak sama banyaknya. Kalau ngeliat tebalnya endapan piroklastik ini, air bisa saja masih tersimpan, terjebak dalam pori-pori endapan piroklastik ini. Atau menguap karena masih panas. kalau dilihat disana endapan piroklastik ini “sangat kering”. Air langsung diserap. Ketika permukaannya membatu barulah air hujan akan menjadi air permukaan.

  12. pakdhe, kalau mau lihat yang lebih besar monggo ke tempat saya pakdhe Dusun Ngemplak Asem Umbulmartani Ngemplak Sleman 17 km selatan merapi, tapi batu lava bukan dari letusan 2010, mungkin dari letusan 1006, tingginya lebih dari 4 meter, berarti sebesar rumah. Betul-betul saya tunggu kedatangannya, selama ini belum ada ahli geologi menjelaskan asal batu besar itu ini cp saya 081328711156

  13. pakdhe, kalau mau lihat yang lebih besar monggo ke tempat saya pakdhe Dusun Ngemplak Asem Umbulmartani Ngemplak Sleman 17 km selatan merapi, tapi batu lava bukan dari letusan 2010, mungkin dari letusan 1006, tingginya lebih dari 4 meter, berarti sebesar rumah. Betul-betul saya tunggu kedatangannya, selama ini belum ada ahli geologi menjelaskan asal batu besar itu ini cp saya 08132871156

    –> Coba di plot di peta Google Map (tepatnya dimana) trus kalau bisa di foto. Nanti aku lihat2 dari jauh :). Thanks

Leave a Reply