Gempa di selatan Jogja adakah hubungan dengan Merapi ?

0
sumber usgs

Di Jogjakarta telah terjadi Gempa pada hari Selasa (9/11/2010), gempa yang terjadi sekitar pukul 14.03 WIB dirasakan berdurasi waktu guncangan berkisar 3-5 detik. Kekuatan gempa ini menurut USGS sebesar 5.4M, sedangkan menurut BMKG gempa ini berkekuatan 5.6SR dengan kedalaman 10 Km di laut.

sumber usgs
Pusat gempa ini berlokasi di 125 Km barat daya Bantul, kedalaman gempa 10 Km.  Secara sepintas kemungkinan  ndak ada hubungan langsung dengan aktifitas Merapi. Tapi yang penting jangan lengah dan tetap waspada.

 

🙁 “Pakdhe, gempa ini menyambut kedatangan “tamu” ya ?”

😀 “Hust !”

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar. juga mengatakan, “Pertanyaan ini memang banyak ditanyakan orang, apakah ada hubungannya gempa dengan aktivitas gunung berapi? Secara teori aktivitas volcano dan gempa bumi bagaimana hubungannya, sulit diterangkan,”

Memang sulit dijelaskan makanya dibawah ini dongengannya panjang.

Tektonik, gempa dan vulkanisme

Walaupun kita tahu bahwa lempeng samodera bergerak menunjam menubruk lempeng benua. Ketika menubruk tentusaja terjadi gesekan-gesekan. Akibat gesekan inilah yang diperkirakan oleh ahli geologi-vulkanologi sebagai penyebab melelehnya batuan. Batuan yang meleleh inilah yang akhirnya berusaha menerobos keatas menembus lempeng benua.

Ketika lelehan batuan ini keluar dipermukaan setelah menembus kerak (lempeng) benua, disitulah munculnya gunung api.

Secara mudah digambarkan seperti dibawah ini.

Keterangan

  • 1. Ada dua tipe dasar litosfer: kontinental dan samudera . litosfer CONTINENTAL memiliki kerapatan yang rendah karena terbuat dari mineral yang relatif ringan. Litosfer samudera lebih padat daripada litosfer kontinen karena terdiri dari mineral berat. Lempengan bumi mungkin tersusun atas sepenuhnya dari litosfer samudera atau kontinental, tetapi kebanyakan sebagian laut dan sebagian benua.

🙁 “Pakdhe, jadi kerak samudera ini menunjam kebawah karena beratjenisnya lebih besar ya ? Kok mirip hukum Archimides saja ya ?”

😀 “Wah lama-lama pinter juga Thole ini”

  • 2. Di bawah pelat litosfer terletak astenosfer, lapisan mantel yang terdiri dari batuan semi-padat lebih padat. Karena pelat ini kurang padat dari astenosfer di bawah mereka, mereka mengapung di atas astenosfer.
  • 3. Jauh di dalam astenosfer tekanan dan temperaturnya sangat tinggi sehingga dapat melunakkan batu dan bahkan sebagian meleleh. Batuan yang melunak tapi padat dapat mengalir sangat lambat (secepat gerakan pertumbuhan kuku) dari waktu ke waktu geologi. Ketika terdapat ketidakstabilan suhu yang ada ada di dekat inti / batas mantel maka pelat ini akan bergerak perlahan-lahan mengikuti arus konveksi bisa terbentuk dalam astenosfer yang semi-padat.
  • 4. Setelah terbentuk, arus konveksi membawa material panas dari lebih dalam mantel ke arah permukaan. Ini prosesnya mirip proses menjerang air. Air ketika dimasak maka yang dibawah akan naik keatas, sedangkan yang diatas akan turun kebawah.
  • 5. Ketika mereka mengapung dan mendekati permukaan, arus konveksi menyimpang di dasar lithosfer. Arus menyimpang mengerahkan ketegangan lemah atau “tarik” pada pelat padat di atasnya. Ketegangan dan aliran panas tinggi melemahkan pelat, akhirnya mengambang, dan kadangkala menyebabkan plat ini pecah. Kedua sisi pelat sekarang-terpisah kemudian pindah dari satu sama lain, membentuk BATAS PELAT berbeda.
  • Nah disinilah penjelasan mengapa plat atau kerak-kerak ini dapat terapung-apung diatas “cecair” mantel atas.
  • 6. Ruang antara pelat menyimpang diisi dengan batu cair (magma) dari bawah. Kontak dengan air laut mendinginkan magma, yang cepat membeku, membentuk litosfer samudera baru. Proses ini terus menerus, operasi selama jutaan tahun, membangun rantai gunung berapi bawah laut dan lembah celah disebut MID-OCEAN RIDGE atau Pemerkaran samudera.
  • 7. Sebagian batuan cair baru terus menerus disundul dari bawah dan berkembang menyamping pada mid-ocean ridge dan terus material dari bawah ini ditambahkan ke dalam lempeng samudera (6), bagian yang lebih tua (awal terbentuk) dari plat bergerak menjauh dari punggungan dima awalnya diciptakan. Itulah sebabnya plat yang memiliki densitas tinggi ini menunjam masuk ke dalam ketika bertemu dengan kerak (plat) benua.
  • 8. Sebagian lempeng samudera bergerak lebih jauh dan jauh dari punggunan tengah samudera, aktif menyebarkan panas, secara bertahap mendingin.  Akhirnya, tepi pelat yang terjauh dari punggung penyebaran mendingin begitu banyak sehingga menjadi lebih padat daripada astenosfer di bawahnya.
  • 9. Seperti yang Anda tahu, bahan padat akan tenggelam, dan itulah apa yang terjadi pada kerak atau plat samudera. Akhirnya ketika bertubrukan mulai tenggelam masuk dibawah astenosfer! Dimana tunjaman pelat ini membentuk sebuah zona subduksi.
  • Zona subduksi ini ketika bergesekan menyebabkan gempa. Terutama gempa-gempa laut.
  • 10. Karena tenggelam dibagian tepi lempeng samudera akhirnya seolah-olah  “menarik” sisa dari pelat belakangnya ini juga akibat adanya diringan dari pemekaran samodera yang berujung pada daerah subduksi. Hingga saat ini Geolog masih belum tahu dan tidak yakin seberapa dalam tunjaman lempeng samudera sebelum mulai mencair dan kehilangan identitasnya sebagai pelat, tetapi geolog tahu bahwa plat tetap solid jauh melebihi kedalaman 100 km di bawah permukaan bumi.

🙁 “Pakdhe, kok tahu masih ada sampai 100Km darimana ? Jangan ngarang looh !”

😀 “Wah kowe iki. Ya tahu karena kita masih mendapatkan gempa-gempa yang sangat dalam lebih dari 100 Km yang diperkirakan adanya pelat yang masih kaku yang menyebabkan gempa sangat dalam dibawah 100 Km.”

Ini versi DongengGeologidotCom

  • 11. Zona subduksi adalah salah satu jenis konvergen BATAS PELAT, jenis batas lempeng yang membentuk di mana dua lempeng bergerak menuju satu sama lain. Perhatikan bahwa meskipun lempeng samudera dingin yang tenggelam, lempeng kontinental tapi kurang padat mengapung seperti gabus di atas astenosfer lebih padat. (lihat ilustrasi disamping kanan atas itu)
  • 12. Ketika tenggelam subduksi lempeng samudera jauh di bawah permukaan bumi, suhu besar dan tekanan pada kedalaman menyebabkan cairan untuk “keringat” dari piring tenggelam. Cairan berkeringat keluar meresap ke atas, membantu mencairkan lokal solid mantel atasnya di atas plat mensubduksi untuk membentuk kantong batuan cair (magma).
  • 13. Nah batuan cair baru dihasilkan mantel (magma) adalah batuan kurang padat (densitasnya atau berat jenisnya lebih kecil) dari batuan sekitarnya, sehingga naik ke permukaan. Sebagian besar magma mendingin dan mengeras sebagai badan besar plutonik (intrusif) batuan jauh di bawah permukaan bumi. Material cair magma yang cukup besar,  akan membentuk dapur magma yang menyebabkan terbentuknya gunungapi.
  • gempapemicu.jpg14. Beberapa batuan cair dapat mencapai permukaan bumi meletus sebagai tekanan gas terpendam di magma tiba-tiba dilepaskan, membentuk vulkanik (ekstrusif) batuan. Seiring waktu, lava dan abu meletus setiap kali magma mencapai permukaan akan terakumulasi-berlapis-lapis-untuk membangun pegunungan berapi dan dataran tinggi, seperti pegunungan di busur vulkanik jawa hingga sumatera.

Gempa tektonik dan gunungapi genesa penyebabnya sama

Jadi kita lihat bahwa gempa dan gunungapi itu sama-sama disebabkan oleh aktifitas tektonik. Tetapi jelas tidak mudah mengatakan bahwa kalau ada gempa akan ada aktifitas gunungapi. Keduanya memang sama-sama disebebkan oleh satu hal yang sama, tetapi keduanya tidak selalu saling mempengaruhi secara langsung.

Apakah selalu aktifitas core sebagai penyebabnya, sebenarnya kita juga sama-sama berspekulasi dan tidak tahu. Yang bisa tahu adalah adanya aktifitas dibawah sana yg menyebabkan dua hal yang berbeda.

😀 “Secara intuitif sakjane geologist tahu bahwa gempa tektonik dan gunung api disebabkan oleh pergerakan plate. Artinya keduanya memiliki ibu yang sama. Hanya saja yang satu anaknya jadi insinyur yang satu anaknya jadi dokter.
Lah kalao dokternya sedang bersin apa ya si insinyurnya terus jadi batuk-batuk ? …

🙁 “Bisa saja kalau sedang musim flu, Pakdhe ?”

😀 “Selama ini geosaintis belum menemukan ilmu musim gempa atau musim gunung batuk thole. Kalau dugaanmu itu bener berarti kebetulan, kalau salah gimana ?”

Adakah artikel ilmiah khusus membicarakan hal itu. Jawabnya “ADA !. Tunggu dongengan selanjutnya. disini : Hubungan gempa dengan erupsi emang ADA, tapi apa artinya ?

Sumber : USGS

1 COMMENT

  1. “Hingga saat ini Geolog masih belum tahu dan tidak yakin seberapa dalam tunjaman lempeng samudera sebelum mulai mencair dan kehilangan identitasnya sebagai pelat”

    Ini sudah bisa dilihat dari seismic tomography Pak. Bapak bisa melihat-lihat tulisannya Prof. Sri Widiyantoro (ITB). Dan untuk tambahan informasi saja, gempa dalam di subuduksi Jawa bisa mencapai 200-an km, dan di subduksi Sumatra bisa 600-an km.

    –> Wah wah kalau yang mengungkapkan ini dari LIPI saya manggut-manggut. 😀 Sangat menarik kalau ternyata subduksi ini masih sampai 400 bahkan 600 Km dalamnya.

  2. Merapi sudah lerem to? Kalau memang aktivitas sudah menurun, mbok dikabar-kabari supaya masyarakat tidak cemas dan khawatir terus menerus. Paling tidak pengungsi sudah bisa mulai balik membangun kembali, atau direlokasi ke tempat yang lebih aman.

  3. nyayogyakarto pancen istimewa…leres njih. Monggo-monggo dados lab ipun poro ahli geologis geofisis.

    korrelasi yakin ada, tapi ilmiahnya belum terkaji atau teruji ?

  4. Pakdhe, kalau lihat gambar itu, berarti pulau jawa semakin lama semakin tinggi ya? Kalau sumatra katanya akan tenggelam ya ? mana yang benar pakdhe?

  5. wah, kebetulan banget saya juga bertanya-tanya soal ini Pakde. Saya tinggal di Jogja dan punya dugaan… menurut ilmu “titen” orang Jawa, kemungkinan aktivitas vulkanik dan gempa bumi ada korelasinya.

    Khusus masalah Merapi, sya menduga kalo’ garis spiritual Merapi-Kraton-LautKidul itu menurut saya ada aspek sains-nya juga. Konon katanya, raja kraton jogja bisa lihat merapi dari singgasananya. Lha, dugaan saya begini: kalo’ aktifitas Merapi meningkat, maka sang raja bisa kasi early warning buat rakyatnya yang berada di Selatan untuk siap-siap bakal ada lindu, entah gede entah kecil.

    Yang saya titeni, erupsi signifikan tahun ini (26 oktober dan 5 november) sama-sama diikuti sama gempa dari laut kidul. meskipun memang magnitude-nya rendah.

    Yang lebih menarik. Gempa Jogja 2006, juga diawali oleh heboh aktifitas vulkanik Merapi.

    Jadi… ya itu tadi… tebak-tebak buah manggis, mungkin memang Tuhan menciptakan gunung-gunung sebagai salah satu instrumen early warning system akan datangnya gempa. IMHO.

  6. Ada beberapa research yang membuktikan kalo earthquake berhubungan dengan volcanism, diantaranya adalah dr Pinatubo eruption (1991) dan Karymsky (1996).

    Secara garis besar gempa biasa nya either squeeze basaltic magma didalam yang pada akhirnya membuat basaltic magma underly magma chamber dan menambah volatile sampai akhirnya volatile build up dan terjadi erupsi, reaktivasi fault di crust yg bisa jadi pathway baru untuk magma keluar or gempa shake the magma reservoir yg pada akhirnya ada magma reservoir convection and volatile accumulation (kalo ada volatile accumulation dan terus build up pressure maka akan memicu magma naik dan erupt).

  7. Kasian teman” kitaa yang adda d mentawaii …..

    Nphaa koq bisaa sampe kyaa gini akk kecwaa ,,,,,,

    Pdhl akk mw jln” k snaa Malahh gag jjdiiiii ..,.,.,.,.

  8. Makasih atas infonya…sangat bermanfaat, meski saya lumayan serasa njlimet saat membacanya…hehehe…ternyata masih sedikit ilmuku tentang ibu pertiwi tercinta…

  9. Terimakasih atas informasinya yang sangat detail, agak “lost” di tengah-tengah karena background saya berbeda hehe….:)
    BTW, saya juga ingin menanyakan mengenai berita di Detik sore ini pukul 17:46 9-Nov-2010 dengan judul : “BPPTK: Merapi Telah Lewati Fase Berbahaya”. Apakah artinya tidak akan ada lagi letusan besar setelah tanggal 5 Nov 2010 itu? Terimakasih….

Leave a Reply