Batu raksasa aliran lahar dingin

0
Gambar diambil 7 Nov jam 16.00 saat banjir lahar dingin sudah mereda. oleh Pak J Sudarsono

Setelah ancaman awanpanas yang merupakan bagian dari aliran piroklastik, hasil endapan piroklastik ini akan sangat mudah tererosi dan bahkan longsor membantuk aliran lahar. Lahar berbeda dengan aliran piroklastik. Piroklastik langsung dari puncak kepundan dan meluncur kebawah karena gravitasinya sendiri.

๐Ÿ™ “Pakdhe, kenapa sih lahar dingin kok berbahaya ?”

๐Ÿ˜€ “Ndak usah pakai cerita lihat sendiri fotonya temen Pakde ini. Coba saja dibayangkan kalau batu sebesar ini nggelundung ke halaman rumah”

Gambar diambil 7 Nov jam 16.00 saat banjir lahar dingin sudah mereda. Lokasi Jembatan Kali Blongkeng, oleh Pak J Sudarsono

Bagaimana terjadinya lahar dingin ?

Secara grafis digambarkan dibawah ini :

Aliran Piroklastik dari satelit NASA

Aliran piroklastik atau lahar panas merupakan aliran luncuran langsung dari kepundan ke lereng curam diatas. Di lereng bagian atas tentusaja akan terlewati, karena terlalu curam untuk batuan ini duduk diatas. Itulah sebabnya dalam gambar setelit dari NASA yang menggambarkan sebaran panas ini hanya terlihat di lerengnya dan tidak dipuncaknya.

Luncuran piroklastik atau lahar panas di gambar ini dapat mencapai 7.5 Km dari puncak Merapi. Tentusaja awan panas yang menyertainya akan meluncur lebih jauh kebawah.

Secara tehnis aliran Piroklastik disebut “Nuee Ardente”, merupakan luncuran blok-blok lava bersuhu tinggi, kecepatan 10 โ€“ 300 km/jam. Secara teoritis jarak luncur dapat mencapai beberapa puluh km. Tergantung bentuk morfologi serta banyaknya material.

Perhatikan luncuran piroklastik telah mengikuti jalur lembah yang sudah ada sebelumnya. Artinya aliran lahar dinginnya juga akan mengikuti aliran yang sudah ada.

Terbentuknya aliran lahar. Sumber : Dept PU.

Setelah aliran piroklastik ini terendapkan terhenti di lereng yang mulai landai, maka akan mendingin. Tentusaja panasnya masih akan ada sampai beberapa hari. Bahkan konon tahun 2006 ketika piroklastik penutup bunker dibongkar tiga hari setelah kejadian suhu tanah/batu dipermukaannya masih diatas 80 bahkan hingga 120 derajat Celcius. Jadi yang disebut lahar dinginpun diatas sana masih cukup panas.

Ketika turun hujan, batuan piroklastik yang belum terbatukan dan belum mengalami pembatuan, masih berupa material lepas-lepas. Sehingga mudah tererosi akibat hujan deras.

Material ini ini yang meluncur kebawah bercampur air. Lahar dingin ini terdiri dari bongkahan sebesar diatas, hingga kerakal, kerikil, pasir bercampur lempung dan air tentusaja.

๐Ÿ™ ” Bedanya kalau piroklastik ngga ada airnya ya Pakdhe ?”

๐Ÿ˜€ “Wah pinter kamu, Thole. Keduanya memiliki energi asalnya ya gravitasi. Makanya dia akan mengalir mengikuti proses gravitasi seperti air, mengikuti alur-alur lembah dan sungai”

Air yang terkandung ini menjadikan jarak jangkauan aliran semakin jauh. Itulah sebabnya daerah bahaya banjir lahar dingin akan sepanjang sungai yang berhulu di Puncak Merapi.

Apakah bisa ditanggulangi ?

Teknologi saat ini masih belum memungkinkan untuk mengatur atau mengontrol aliran piroklastik, tentusaja tidak bisa karena energi serta suhunya sangat besar. Namun lahar dingin ini masih mungkin untuk dikontrol arah alirannya, serta penyebarannya supaya tidak menganggu aktifitas manusia.

Dibawah ini gambaran secara grafis bagaimana mengontrol aliran sedimen banjir lahar dingin yang ada di Gunung Merapi.

Teknologi pengontrol aliran lahar dingin ini disebut Sabo: Suatu terminologi teknik dari bahasa Jepang untuk mengartikan pengendalian erosi dan pergerakan sedimen (erosion and sediment movement control). Jadi Sabo merupakan satu suatu sistem atau teknik untuk pengendalian erosi dan pergerakan sedimen (control the production and move of sand and gravel with a nature of disaster).

Ahli Jepang bernama Tomoaki YOKOTA membuat buku terkenal “What is Sabo”. Katanya, Sabo sendiri berasal dari bahasa Jepang, sa yang berarti pasir dan bo yang berarti pengendalian.

Teknologi Sabo, salah satu teknologi terapan untuk pengedalian aliran sedimen, pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970. Pada tahun 1982, Direktorat Pengairan Departemen Pekerjaan Umum dengan Pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency) memulai kerjasama perdananya di bidang Sabo.

๐Ÿ™ “Wah Pakdhe, kalau begitu pengendalian sedimen ini dapat dipakai untuk mengontrol sedimentasi waduk juga doonk ?”

๐Ÿ˜€ “Lah kok kowe wis pinter ? OK nanti dilanjutkan dongengannya “

Kalau tahun 1970 tenik ini masih dipergunakan sebagai pengendalian lahar dingin Merapi, tentusaja ini berkembang menjadi sebuah teknologi pengendalian sedimen pada umumnya.

Silahkan simak selanjutnya blog ini nantinya tentang pemanfaatan tehnologi yang dikembangkan karena aktifitas Merapi. Supaya kita tahu bahwa aktifitas gunungapi manfaatnya juga segunung.

Sumber gambar-gambar : Dept PU

Dongengan terkait :

1 COMMENT

  1. Ngingatin aja pal dhe, aliran piroklastik maupun luncuran piroklastik itu gak sama dengan lahar panas,
    Katanya Van Bemmelen sih: lahar itu adalah aliran lumpur yang mengandung bahan rombakan vulkanik ……
    Intinya Lahar = air + material vulkanik, bila materialnya panas maka disebut lahar panas, bila materialnya dingin disebut lahar dingin, bila airnya berasal dari hujan disebut lahar hujan.
    Lahar panas itu terjadi bila material piroklastik / letusan/ vulkanik yang masih panas ketemu sama air, contohnya Gunung Kelud, kawahnya berupa danau, bila meletus akan menghasilkan lahar panas.

  2. seperti di kampung halaman. Banyak batu seukuran pos kamling “ditanam” di tengah sawah. Muntahan dari semeru….wow….

  3. Pak numpang tanya OOT ya, Kalau ahli Indonesia menyebut volume tephra letusan Merapi tahun 1872 itu 0,1 km3 sedangkan ahli AS menyebutnya 0,33km3 terus mana yang benar? Kan katanya letusan tahun ini lebih hebat daripada 1872.
    http://www.volcano.si.edu/world/volcano.cfm?vnum=0603-25=&volpage=erupt

    Mohon penjelasan singkat atau link. Terima kasih

    –> Hebat tidaknya letusan itu ukurannya macam-macam. kalau menggunakan VEI salah satunya banyaknya material. Lah kalau kecil-kecil tapi lama, dan satu kali saja mana yang yg lebih hebat ?. Juga mungkin keduanya menggunakan data serta teori berbeda dalam analisa.

  4. Pakdhe,

    Jadi, lahar dingin Merapi pulakah kiranya yang telah membawa berkah bagi Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya, yang telah “menghadiahkan” batu-batu super besar bahan pembuat patung-patung megah sebesar Ganesha, Shiva, Nandi Buddha yang kini menghiasi candi-candi di seputarnya? Lahar dingin pula yang telah menjadikan rakyat Muntilan menjadi pengrajin patung terbaik di dunia…..?

  5. watune gede sak sapi2, lumayan ge tambah ngokohin rumah. seng tak takuti nek nibani menungso la trus dadi opo pakde.. weslah infone sampean emang sangat membantu. tnks pak dhe..

  6. Kata seorang Dosen Geologi UGM, Teknologi SABO itu hasil dari implementasi di Gunung UNZEN, Kyushu, yang letusannya mirip merapi (dengan wedhus Gembelnya, kemudian dg di danai pemerintah Jpg/JICA di terapkan di Merapi ya Om?

    btw:
    Selama perjalanan di pegunungan Kyushu seperti di Gunung UNZEN dan Gunung ASO banyak saya lihat SABO Dam seperti di merapi.
    wedhus gembel di UNZEN bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=vPRoTQYXwuY&NR=1
    bisa dibandingkan dengan Wedhus Gembel Merapi.

  7. batu-batu itu kalo dah mendingin kayak yang sekarang berada di sekitar lereng kelud yang segede gaban itu ya pak??? dari leleran dan posisi batu yang sepertinya berterbangan di tempat yang berjauhan itu bisa terlihat riwayat dari lahar dingin yang mengalir pada letusan sebelumnya… begitukah pak? atau bagaiamana? terimakasih penjelasannya.

  8. Kalau batunya nggelundung ke rumah, rumahnya jadi kokoh kayak tank, Pak. Hehe. Pak Rovicky teman kuliah bos saya sepertinya.

    –> Syapa-syapa … yang temen say akuliah ? di BPPT ya ?

Leave a Reply