Hingga kini, energi setara 600 bom nuklir keluar dari Merapi

0
Kolom letusan Merapi. Sumber Detik.com

Pengamat G. Merapi melaporkan, teramati asap awanpanas tinggi (tidak terukur) yang arahnya condong ke Utara (dari Sawangan Magelang). Malam ini, Desa Banyurata, Magelang terjadi hujan abu lebat. Nampak kilatan api menyamabar di puncak G. Merapi dan suara gemuruh masih terdengar hingga jarak 30 km dari puncak G. Merapi. Lava pijar mengalir ke kali Gendol, Senowo, Lamat, dan Sat dengan jarak luncur 2 km.

PakLik Marufin kembali ikutan mendongeng dibawah ini.

Sumber: AntaraBPPTK Yogyakarta melalui pak Surono (kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) melansir data terbaru letusan Merapi. Hingga Jumat siang (5 November 2010), Merapi sudah memuntahkan sedikitnya 100 juta meter kubik magma. Karena pada letusan-letusan sebelumnya suhu magma Merapi (yang kemudian menjadi lava dan awan panas) memiliki suhu di sekitar 600 derajat Celcius, maka dengan asumsi suhu yang sama, kini energi termal yang dilepaskan Merapi sudah mencapai 12 megaton TNT. Sebagai gambaran betapa besarnya tingkat energi ini, bayangkan ledakan 600 bom nuklir yang setara dengan yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Total ledakan itu sama dengan energi letusan Merapi, hingga Jumat ini.

Kecepatan pelepasan (discharge) magma Merapi diperkirakan cukup besar sehingga membuat kerapatan debu vulkanik per satuan luas yang menyembur dari kawah sangat tinggi. Akibatnya peluang gesekan antar debu cukup besar sehingga menghasilkan arus listrik statis yang nampak sebagai sambaran petir vertikal dari bawah ke atas.

Dengan volume magma sedemikian besar, maka letusan Merapi kini telah memasuki skala VEI 4, yang secara kualitatif diklasifikasikan sebagai letusan kataklismik alias letusan yang menghasilkan perubahan besar bagi lingkungannya. Secara global rata-rata letusan skala ini terjadi tiap 10 tahun sekali. Sementara dalam konteks Indonesia, letusan Merapi 2010 adalah yang terparah sepanjang 30 tahun terakhir pasca letusan Galunggung 1982-1983. Status skala VEI 4 membuat Merapi 2010 kini berdiri sejajar dengan letusan Galunggung 1982-1983, letusan gunung Agung 1963 dan pula letusan Vesuvius yang legendaris itu di tahun 79 M.

Lagi lagi menurut Pak Lik Marufin, yang membedakan, gunung-gunung tersebut rata-rata memiliki periode letusan yang besar sehingga masa istirahatnya cukup lama. Letusan Galunggung misalnya, yang merontokkan kubah lava setinggi 80 m bernama Bukit Jadi di dalam kawah, terjadi setelah masa istirahat 80 tahun. Sementara letusan gunung Agung terjadi 120 tahun setelah gunung ini beristirahat. Sebaliknya, Merapi kerapkali meletus, rata-rata 3-5 tahun sekali. Sehingga agak aneh memang mengapa gunung teraktif di dunia itu, yang paling sering meletus sehingga memiliki masa istirahat amat pendek, kini menampilkan letusan kataklismik-nya yang sebenarnya merupakan ciri khas gunung api dengan masa istirahat panjang.

🙁 “Pakdhe, memang kita sedang mengamati perubahan Merapi. Merapi sudah semakin dewasa. Masa pancaroba memang sering diikuti perilaku yang aneh ya, Pakdhe?.

Kolom letusan Merapi. Sumber Detik.com
Letusan Rabu hingga Minggu ini (atau sejak tanggal 3 hingga 7 November ini) telah merenggut korban jiwa setidaknya 116 orang. Jenazah-jenazah yang hangus tersebut pada umumnya ditemukan di daerah aliran sungai Gendol, yang memang merupakan jalan tol bagi material awan panas untuk mengendap ke bawah. Perluasan zona bahaya Merapi, yang kini ditetapkan menjadi minimal 20 km dari puncak, sebenarnya lebih difokuskan kepada penduduk yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Merapi. Namun karena arah dan karakter letusan kini tak lagi bisa diprediksi, maka peringatan dalam zona bahaya tersebut diberlakukan secara umum. Memang sulit untuk menduga apa yang akan terjadi bilamana (misalnya) awan panas memilih turun lewat Sungai Boyong, yang bersambung dengan Sungai Code dan membelah pusat kota Yogyakarta.

 

Jumat malam, dilaporkan suara gemuruh kembali terdengar dari arah Merapi. Hujan abu pun kembali mulai menyirami Sleman dan sekitarnya. Sehingga belum jelas benar apakah fase puncak letusan (climactic) sudah terlewati ataukah tidak. Namun perkenankan untuk mengutip kata-kata indah yang terpatri dalam buku Encyclopaedia Volcanica: “..sangat berbahaya menganggap yang terburuk telah lewat setelah melewati fase letusan awal, karena meramalkan akhir letusan bahkan lebih sulit ketimbang memprediksi awalnya…”

Duh Gusti, mugo-mugo kami sabar menerima ujian ini.

🙁 “Inggih Pakdhe, Pak Lik, sepertinya ini belum menunjukkan tanda berakhir, ya?”.

1 COMMENT

  1. @hery : itu cuma hoax, jangan percaya kabar burung yg disebarin org ga bertanggung jawab.
    Sampe saat ini belum ada ilmuwan yang bisa memprediksi kapan & berapa besar letusan gunung berapi selanjutnya yg akan terjadi.

  2. Mhn info, apa benar Merapi tercinta akan meletus n memuntahkan awan panas dg radius 600km ketinggian 3000m dan seluruh P. Jawa tertutup abu, sdngkan DIY dan Jateng lenyap ? Mdh2an Hoax aja, bukan beneran ? Pls info nya, apa ada penjelasan resmi dr ahli volkanik, bgm Merapi slnjtnya ?

Leave a Reply