Grafik monitor harian seismik G Merapi (status 6 Nov 2010)

0

Selain monitor visual dengan menggunakan kamera dan teropong, G Merapi juga dimonitor guguran lavanya, getaran atau tremor, dan tentusaja terjadinya awan panas.

Banyak alat yang sebenarnya telah dipasang di dekat puncak merapi yang mengirimkan data secara otomatis. Namun alat-alat ini beberapa sudah rusak diterjang erupsi. Termasuk diantaranya WebCam yg berada di Plawangan ditinggalkan dan karena listrik dimatikan maka WebCam ini tidak dapat diakses. Dengan demikian mungkin saat ini BPPTK menggunakan pengamatan jarak jauh untuk. Petugas di beberapa Pos pengamatan sudah ditarik demi keselalamatan.

🙁 “Iya pakdhe, kalau sudah membahayakan siapapun tidak dapat mencegahnya, kan ?”

Hingga saat ini Sabtu 6 November 2010 masih terus terjadi awan panas. Dan ini yang menjadi dasar PVMBG untuk tetap menyatakan status awas (status 4) dan masih menyatakan zona aman diluar radius 20 Km dari puncak Merapi.

Kepala Badan Geologi R Sukhyar mengungkapkan bahwa pemantauan aktivitas Merapi masih terus dilakukan secara intensif. Tiga buah alat seismograf segara di pasang di pos Jrakah, Ketep dan Selo guna mendukung satu alat seiemograf yang masih bekerja saat ini yaitu di Plawangan.

Tremor
Guguran
Awanpanas

Warna kuning kejadian secara berrentetan, Sumber : PVMBG

Berdasarkan laporan status Laporan Aktivitas G. Merapi 6 November 2010 pukul 12:00 WIB dilaporkan oleh Pak Surono diantaranya :

Laporan pengamat dari pos pengamatan G. Merapi, melaporkan bahwa mulai pukul 10:00 WIB, terjadi hujan pasir di Selo (Kab. Boyolali), sedangkan di lereng G. Merapi terjadi hujan abu intensitas tinggi. Pada pukul 11:51 WIB dilaporkan pula, asap awanpanas yang diikuti kilatan api setinggi 3000 m ke arah Barat, Utara, hingga Timur

Semakin bertambahnya material erupsi di sepanjang alur sungai yang berhulu dari puncak G. Merapi dan tingginya intensitas hujan di sekitar G. Merapi, maka berpotensi terjadi banjir lahar.

Karena masih tingginya aktifitas ini maka masih tetap dihimbau untuk tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di G. Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.

Laporan lengkap Laporan PVMBG 6 Nov 2010, jam 12:00

1 COMMENT

  1. Pak Dhe, Gunung Merapi sekarang mempunyai kawah diameter 400 meter. Kalau kawah tersebut menampung air hujan, katanya pak Suruno erupsinya akan berbahaya, seperti Gunung Sinabung waktu erupsi bersamaan hujan. menjadi eksplosif, seperti Gunung Krakatau pada tahun 1883. Berarti airnya harus dialirkan ya?

  2. wah apik tenan pakde dongeng2e, menggugah kesadaran, bahawa saya bukanlah siapa2, dan bodoh sekali( banget, tenan) terutama dalam hal ilmu2 alam. subhanallah ilmu Allah begitu luas tak terhingga,

  3. Pakdhe, bisa gak yah, besuk klo merapi dah adem dipasang alat untuk monitor pergerakan awan panas dengan memasang seperti remote heat tracing yang bisa dibaca dari jarak jauh… Sehingga walaupun kejadian malam hari tetep bisa dimonitor supaya kejadian di kec cangkringan tidak terjadi lagi…

  4. pak Rovicky,

    tadi saya lihat n dengar di Tv 1 one, terjadi pembukaan n rekahan baru di puncak gunung merapi …yang mengarah ke mana ya.. barat ? timur? atau gimana?

    pak Dhe tolong deh, bisa dibuatkan skesta rekahan tersebut buat kita .. dari sebelum 30 Okt 2010 … to sekarang … dan kemungkinan akan terjadi rekahan-rekahan berikutnya kemana?

  5. thank very much pak Rovicky..

    semoga semua masyarakat .. any where dapat menggunakan data itu .. n tentu dapat mereka-reka or predik …. trennya ..

    than y

Leave a Reply