Jangan tergantung pada alat

0
Peta Rawan Gempa Tidak Berubah
Jakarta | Fri 29 Oct 2010 by : Rihad Wiranto 

Gempa bumi yang disertai tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dan meletusnya gunung Merapi di Jawa Tengah/ Yogyakarta tak banyak mengubah peta rawan gempa Indonesia. Hal itu dikatakan pengamat kebencanaan Rovicky Dwi Putrohari kepada Jurnal Nasional di Jakarta, Kamis (28/10).

sumber : Jurnal Nasional

“Jalur gempa dan lokasi rawan gempa tak banyak berubah, sama seperti jalur rawan bencana selama ini,” kata Rovicky Dwi Putrohari, yang meraih master Geofisika dari Fakultas MIPA, Universitas Indonesia tersebut.

Peta Zonasi Gempa, bukan peta rawan gempa
Peta Zonasi Gempa 2010

Rovicky mengatakan yang perlu dilakukan ke depan adalah mengawasi patahan-patahan lempeng bumi yang selama ini belum terdeteksi. Patahan yang belum terdeteksi atau yang belum melakukan pergerakan berpotensi menimbulkan guncangan lebih besar ke depan karena tertahan selama ini. “Patahan-patahan itu banyak di Indonesia, misalnya di Jawa, kalau di Sumatera Barat di sekitar kepulauan Mentawai itu,” kata Rovicky yang meraih S1 di Universitas Gajah Mada itu.

Pergerakan patahan di satu titik, kata Rovicky, berpotensi menimbulkan guncangan atau gempa bumi di titik lain. Setidaknya, hal ini dapat terlihat dari adanya gempa bumi di Bantul Yogyakarta, Kamis (28/10), tepat dua hari pascameletusnya Gunung Merapi. Pasalnya, di sekitar Gunung Merapi juga terdapat patahan lempeng bumi.

Patahan merupakan data dasar untuk mengetahui kerawanan terhadap gempa. Perlu diingat bahwa gempa itu bermacam-macam genesa pembentukannya. Ada gempa dalam tektonik akibat tubrukan lempeng.

Ada gempa dangkal akibat pergeseran patahan-patahan permukaan seperti gempa di sepanjang Patahan Semangko Sumatra, Gempa Yogya akibat patahan Opak. Juga ada gempa akibat letusan gunung-api.

Salah satu kompenen dalam peta Rawan Bencana (gempa) adalah peta patahan aktif dan nonaktif. Peta-peta patahan memang sudah banyak dipetakan. Namun tidak mudah mengenali patahan aktif dan patahan nonaktif. Patahan ini mirip gunung api, ada yang menyebutkan gunung api “doorman” (tidur) di mana bisa saja suatu saat aktif lagi.

Mirip patahan Opak di Yogya yang sebelumnya tidak dikenali sebagai peta aktif namun tiba-tiba menggoyang dan memporak-porandakan Kota Yogyakarta beberapa tahun lalu.

Para ahli kebumian (geosains) tidak mudah mengenali patahan ini. Patahan bisa tiba-tiba bergerak lagi, walaupun sudah dicurigai. Tetapi tidak ada atau sangat minim sekali penelitian khusus mengenai keaktifan patahan-patahan ini.

Beberapa patahan memang dikenali sebagai patahan aktif karena gerakannya termonitor dalam 50-100 tahun lalu dari gempa-gempa yang terekam. Patahan yang pasti diketahui aktif misalnya Patahan Semangko (Sumatera), Patahan Palu Koro (Sulawesi), Patahan Sorong. Namun patahan-patahan besar lainnya di Jawa ini tidak secara pasti diketahui bahwa masih aktif. Misalnya Patahan Lembang, Patahan Grindulu (Pacitan) dll.
Dengan demikian masih diperlukan penelitian khusus mengenai keaktifan patahan-patahan yang diduga aktif ini. Bahaya gempa tidak pernah sendiri. Kita tahu gempa menyebabkan retakan-retakan yang mungkin akan longsor akibat dipicu hujan.

Antisipsi Bencana

Rovicky mengatakan dalam mengantisipasi munculnya korban jiwa dalam bencana gempa bumi maupun letusan gunung, sebaiknya yang dilakukan adalah membudayakan sikap awas bencana di masyarakat yang tinggal di lokasi-lokasi rawan bencana.

Artinya, masyarakat harus diberdayakan agar dapat menciptakan sistem peringatan dini bencana oleh masyarakat sendiri dan tidak tergantung pada sistem elektronik early warning system yang menjadi acuan selama ini.

Pasalnya, operasionalisasi early warning system membutuhkan waktu sekian menit hingga munculnya sebuah peringatan atau pengumuman yang disebar kepada masyarakat yang tentu sangat berguna bagi masyarakat dalam melakukan evakuasi jika bencana itu benar-benar terjadi.

“Saat ini kan masyarakat yang tinggal di wilayah potensi gempa atau bencana mindsetnya menjadi tergantung pada system elektronik itu, lebih baik sosialisasikan kepada penduduk agar mereka bisa menciptakan early warning system sendiri,” kata Rovicky.

Debu Vulkanik

Abu Volkanik

Pasca meletusnya Gunung Merapi, masyarakat diharapkan tetap waspada akan bahaya debu merapi. Pasalnya, debu vulkanik yang dikeluarkan merapi jika dilihat melalui mikroskop berbentuk material yang berujung runcing. Debu ini berbeda dengan debu yang biasa ditemui di udara atau jalanan yang berbentuk lempung. “Debu ini tentu dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan perih pada mata,” kata Rovicky.

Debu Merapi sendiri, tambah Rovicky Dwi Putrohari, merupakan pecahan mikroskopik dari material awan panas (wedus gembel) yang meluncur dari gunung api bersamaan dengan keluarnya lava. Dan, awan panas yang dikeluarkan merapi tidaklah sama dengan awan biasa.

Pasalnya, awan panas merapi berisi material panas dan bebatuan yang keluar bersama lava dan mengecil menjadi debu setelah mengalami gesekan yang cepat dengan permukaan tanah. “Debu Merapi ini karena bentuknya yang runcing tentu dapat merusak pernapasan dan mata,” ujarnya. Arjuna Al Ichsan

1 COMMENT

  1. yup, namanya juga alat itu ya alat bantu hehe
    jadi sepenuhnya ada di manusia untuk analisa ulang apakah alat ini akurat atau tidak, jangan terlalu percaya namun alat itu hanya sebagai patokan saja. sisanya manusia yg ambil kesimpulan 🙂

  2. Ya, sy setuju TEWS yg ada tidak untuk tsunami lokal, makanya sy merangkai TEWS untuk tsunami lokal. Pernah saya kirimkan ke Pak De via e-mail. Cuma belum dapat penilaian juga dari Pak De. Alatnya terdiri dari radar pompa, sirine dan UPS.

    –> Hust .. aku bukan ahli gempa-tsunami. Aku kan cuman pendongeng. Aku ga ngerti soal penilaian alat. Tapi setahuku tsunami itu low amplitude tapi sangat panjang gelombangnya. Ngukur tinggi ampkitudonya bisa … Nah ngukur panjang gelombangnya piye ?

  3. Dari mana orang yang nun jauh di sana tau kalau telah terjadi gempa kalau bukan dari alat. Dari mana kita bisa komunikasi jarak jauh juga karrena alat. Jadi alat itu bener2 perlu dan penting untuk membantu kita dalam memenuhi keperluan hidupnya. Ya toh pak De. Jad jangan disalahkan alatnya. Kalau alatnya masih belum canggih…. ya dicanggihkan lagi.
    Gemes aku.

    — > Mas Bowo, yang salah memang bukan alatnya. Tetapi sikap kita terhadap alat karena sering terlalu percaya alat ini yg mungkin kurang pas. Kalau alat masih baru belom ada 5 tahun memakainya tentunya pengalamanpun belum ada. Nah, untuk tujuan safety gunakan dulu cara konvensional. Ditinjau langsung ke lokasi khsusunya utk tsunami. Sedangkan gempa darat, ya kalau jelas perkiraan skala MMInya hampir 6 ya mesti dilihat juga. Provokasi TEWS terlalu banyak dibandingkan sosialisasinya, sehingga semua mengandalkan alat. Intinya mesti proaktif ‘Jangan Tunggu Laporan‘.

  4. Pak De, dari jaman purba manusia sudah pakai alat untuk keperluan hidupnya. Dan alat2 itu terus dikembangkan dan disempurnakan agar dapat digunakan untuk keperluan hidupnya. Jadi alat itu ya penting dan perlu.

    • Betul peradaban manusia itu ditengok dari peralatan yg dimilikinya. Tetapi ketergantungan pada alat itu dalam bberapa hal sering tidak menguntungkan. Karena banyak yg dimanjakan alat dan melupakan tujuan awalnya. Khususnya TEWS ini lebih bemakna buat orang yg jauuuh dari lokasi tebentuknya tsunami. TEWS di sumatera lebih berguna utk mereka di Afrika dan Thailand. Menurut saya alat ini belom 100% proven utk Indonesia. Budaya tehno org Indonesia utk TEWS belom seperti budaya sms handphone.

  5. sangat bguz pakde informasinya….
    Mau tanya pak de,saya pernah baca sebuah berita di situ tertulis, bahwa Bencana yg terjadi di Indonesia saat ini Smua berawal Dari Tektonik, yg meninmbulkan Tsunami dan meningkatkan sejumlah Gunung api di indonesia.
    kemudian salah satu peniliti yg terdapat dlm berita tersebut mengatakan ” bahwa tektonik yg terjadi sngat intens itu ada pengaruhnya dari pemanasan Global dimna es yg mencair di wilayah kutup menyebabkan naik nya muka air laut yg kemudian berpengaruh terhadap peningkatan gerakan lempeng2 di dunia ”

    apa bener pak de karna naiknya muka air laut td itu berpengaruh terhadap pergerakan lempeng yg smkin intensif dan apa benar paparan sunda yg mempengaruhi tektonik dan aktifnya aktifitas anak gunung krakatau????
    mohon pendapatnya pak de….maaf komntarnya terll panjang….

Leave a Reply