Peneliti bukan pengejar materi, Sondakh!

31

Saya rada risih dengan artikel di Republika Angelina Sondakh Sedih Peneliti Indonesia Banyak ke Malaysia yang mengatakan bahwa peneliti Indonesia “lari” karena utamanya mengejar materi. Sepertinya Angelina Sondakh  tidak bener-bener mengerti siapa itu peneliti.

Angelina menilai, aspek kesejahteraan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi eksistensi para peneliti itu, sehingga akhirnya banyak di antara mereka lebih suka bekerja di luar negeri, terutama di Malaysia. “Saya akan berjuang di dewan untuk menaikkan anggaran penelitian yang tergerus dengan anggaran rutin, terutama di Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti),” jelasnya.

Mereka mengejar aktualisasi diri.

Tidak sepenuhnya salah pernyataan diatas. Namun seorang peneliti kalau memang dia bener-bener berprofesi sebagai peneliti maka yang dikejar bukan sekedar materi. Mereka memiliki kenikmatan tersendiri dalam melakukan pekerjaannya. Mereka akan lari kencang mengejar aktualisasi diri. Materi sangat mungkin hanya sebagian kecil dari kebahagiannya. Jangan samakan peneliti dengan profesional yang mengejar materi.

Salah satu kesalahan pejabat Indonesia menganggap semua rakyatnya termasuk peneliti hanya mikirin matrek. Kenyamanan hidup Jakarta dan kota-kota tempat berkumpulnya para peneliti seperti Jogja, Bandung, dan Surabaya dibenahi donk, saya yakin banyak yang bersedia tinggal dan berkarya di dalam negeri.

Peneliti di Kuala Lumpur, Malaysia hanya memerlukan waktu tempuh 15-30 menit mencapau laboratoriumnya. Mereka hanya memerlukan waktu sekitar 1-3 jam untuk membayar listrik dan air, dan mereka mampu memperpanjang SIM di kantor pos dimana saja.

Beberapa diantara mereka memperoleh penghasilan lebih kecil dari penghasilan rekan-rekannya di tanah air. Namun begitu, mereka tetap memilih tinggal di negeri yang “nyaman” dan “mudah ini.

Karena peneliti ini utamanya mengejar aktualisasi diri, maka yang terpenting adalah peneliti ini harus dihargai karyanya. Bukan dengan materi, tapi gunakan hasil penelitiannya sebagai bagian dari pengambilan keputusan. Jangan mengundang konsultan asing yang menginjak harga dirinya sebagai peneliti yang sudah susah-susah melakukan uji di laboratoriumnya.

Barangkali akan berbeda seandainya anda berbicara tentang pekerja profesional misalnya konsultan yang memang mereka berpikir soal remunerasi atau gaji. (profesional=bayaran)

31 COMMENTS

  1. Artikelnya bagus Pakdhe. Peneliti perlu diperhatikan, penghargaan dari hasil penelitian. untuk meraih dan membuat penelitian seorang peneliti banyak yang merogoh koceknya sendiri untuk menghasilkan sebuah karya, untuk materi (tunjangan)…???? jauh dr negeri tetangga

  2. klo seorang peneliti bisa menerbitkan hasil tulisannya di sebuah publikasi/jurnal internasional pasti senang bangat. kenapa? apakah karena nanti akan dibayar mahal karena harga sebuah jurnal internasional puluhan dolar? TIDAK…
    yang ada malah si peneliti itu harus membayar biaya ganti percetakan papernya tersebut.
    setelah berbulan-bulan bahkan bisa tahunan bergelut dengan hasil perbaikan sebuah paper, maka hasil akhirnya ada 2, di tolak atau di terima untuk diterbitkan. untuk bisa diterbitkan, maka si peneliti harus membayar fee kepada penerbit. kluar duit lagi dah hehehe… tp emang tidak semua seperti itu.
    kenapa bisa senang? krn hasil penelitiannya di akui secara international. makan sekali sehari ga masalah, yg penting duitnya dipake untuk menerbitkan sebuah tulisan ke sebuah jurnal internasional.
    ada kesenangan yg ga bisa diungkapkan, ada sebuah perasaan aneh yg bisa membuat tersenyum. setelah itu dilhat lagi gimana tulisan itu kedepannya. apakah dijadikan referensi? bila ya, perasaan yg aneh itu muncul lagi. dan itu semua tidak bisa dinilai dengan uang, seberapapun uangnya… uang adalah efek samping dari apa yg dikerjakan tersebut

  3. izin berkomentar sebagai ‘penonton’, pakdhe…ulasan mbak sondakh ditutup dulu y..mengintip fenomena para peneliti yg byk ‘berenang’ di luar, mungkin faktor utamanya karena di ‘kolam sana’ mereka bisa memenuhi hasrat meneliti karena ditunjang berbagai sarana penelitian &bir okrasi serta mengalami secara langsung nilai manfaat dari penelitiannya, terutama jika hasil penelitiannya memiliki arti bagi orang2 sekitar. selain itu, peneliti jg kan manusia biasa toh, memiliki keluarga yg bth kesejahteraan. sedangkan di ‘kolam sendiri’..udh susah cari makan..mau berenang pun serba susah :[

  4. Setelah membaca 23 komentar/tanggapan,saya mendapat kesimpulan bahwa: pengomentar bukan orang sembarangan alias berisi (educated) >> pribadi dan intelektual masing-masing (seluruh yang merasa pintar cerdas,cerdik dan cekatan) merupakan vektor keberbagai arah …. nah, perlu tangan siapa? yang dapat memotivasi agar terstimulasi menjadi “resultante” yang menuju ke satu arah masuk ke pintu kesejahteraan dan kemakmuran ??? tangan “Tuhan” (melalui firmanNya sdh terjawab bahwa tergantung dari nurani dan naluri kita.) >> apa kita percaya kalau Angel Sondakh mencoba mengungkap suatu fenomena gunung es akan halnya kesulitan untuk merajut para Akhli (termasuk Peneliti) untuk bisa berada pada gugus resultante yang tepat. Apakah, artikelnya bukankah mewakili dirinya sebagai ang.DPR ? yang seharusnya mewakili kita untuk berusaha merajut dan menata mosaic menuju suatu keberhasilan bersama.

    Yang tersirat dari artikel itu mungkin penataanya kurang pas, tapi kita ambil positipnya dan kita kembangkan sebagai rumusan untuk mendasari resultante positip memecahkan fenomena gunung es tadi. Kita-kita kan katanya mo di bilang orang pintar, cerdas, cerdik, cekatan lagi >>> berarti kan “educated” juga bertitel >>> trus si Angel itu siapa >>(bukan menghina tapi dalam arti kata yang sebenarnya, mohon maaf).

    @thole gemblung,
    Membaca pengeluhan anda yang sukses tes smpi terakhir, yah,, harusnya jangan menunggu karena itu salah satu yang tidak disukai, anda dianggap tidak proaktip.
    Yang lls tes seperti anda kan msh banyak jadi masih disaring yang diambil yang proaktip kemudian perlu referensi dari orang yang dipercaya yang dapat mempertanggung jawabkan keaslian seluruh dokumen.

    Bukan nepotisme, namun kalau ada kenalan/famili di Pertamina atau di lingkungan migas lebih menguntungkan karena beguna untuk referensi tadi.

    Kecuali peserta yang dianggap luarbiasa tentunya, dalam tes menggambarkan talenta dan IQ sagat tinggi.

    Salam kenal untuk semuanya.

  5. Idealnya pengabdian peneliti adalah milik kesejahteraan seluruh umat manusia, jika hasil riset ingin digunakan hanya untuk sebagian golongan/umat dg tujuan komersialisasi dan peng-aku-an tertentu, maka mereka harus di-hire sebagai profesional. Karena itu sah-sah saja kalo peneliti bisa kerja dimana aja.
    Tapi juga ngga bisa digeneralisasi kalau semua peneliti kita di LN mengejar materi aja, barangkali ‘cuma belum ada ‘lowongan yg pas’ dan kesempatan aktualisasi diri aja di sini. Atau mungkin juga ada yg benar-benar komitmen memilih mengejar materi atau mungkin ingin dapat jodoh bule, semua bisa saja.
    Mungkin juga maksud remunerasi si Sondakh baik kok, cuma mbeleset dikit, agar kesejahteraannya tidak kalah sehingga mempersempit pilihan ke LN, tapi faktor kesempatan berkarya, kemudahan, penghargaan di DN juga penting.
    ‘Lagi pula buat apa panggil Habibie sekarang, kalo sekarang sedang ‘tidak ingin’ bikin pesawat’.

  6. Yang Penting Penghargaan dari Hasil Penelitiannya…
    Sebagai peneliti, jarang sekali ada orang yang mau menghargai hasil dari risetnya…
    orang2 cuma mau praktisnya saja…

    ingat, PENGHARGAAN….

  7. Wah berarti penelti = TKI/TKW = penghasil duwit = pahlawan devisa dong? Saya usulin perokok = pahlawan devisa juga pakdhe
    Kepuasan peneliti adalah jika hasil risetnya DIPAKE dan berguna sebagai bahan pertimbangan dari suatu keputusan, itu aja dah cukup. Penghargaan kepada peneliti adalah dengan memberikannya kemudahan aktualisasi diri. Jika mengejar materi lebih enak jadi pengusaha/pedagang aja. Pengabdian peneliti yg utama.

  8. Seorang peneliti akan merasa puas jika hasil karyanya dihargai (dapat dijadikan rujukan ataupun acuan dalam berbagai hal dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum), nah untuk mencapai itu semua peneliti pun harus konsentrasi dan fokus dengan penelitiaannya, salah satu jalannya yaitu dgn terpenuhinya kebutuhan materi dia. selama kebutuhan/materinya tdk terpenuhi ya…namanya juga manusia pasti akan mencari nya, sehingga hal ini tidak menutup kemungkinan menjadikan para peneliti tdk fokus dgn penelitiannya….Nah kalo di tempat lain ada yg bisa memenuhi segalanya, mungkin itu menjadi pilihan dia untuk pindah….

  9. Memang tidak satu faktor saja penyebab hengkangnya para peneliti. Tetapi frase “tidak dihargai di negeri sendiri” ini mewakili sebagian besar alasan para peneliti utk hengkang. Meskipun, seperti kata Pak Dhe, penghargaan bukan melulu materi. Memang harus diakui, berat bagi ilmuwan yg sudah jauh2 “ngelmu” di luar negeri, lalu pulang ke tanah air untuk mengaktualisasikan dirinya, tetapi untuk ngepulin asap dapurnya saja susah. Kita bisa melihat bagaimana para dosen di kampus kenamaan, byk yg lebih fokus mengejar proyek, ketimbang harus ngajar, meneliti lalu menulis puluhan paper atau bahkan buku teks. Bagi yg jujur mengakui, faktor materi memang pendorong yg kuat.

  10. Masa gara-gara nunggu material utk penelitian lulusnya akhirnya tertunda 1/2 tahun.

    Sebagai pecinta Indonesia, aku tetep Indonesialah.
    di sini bisa sarapan pecel seharga 3.500 perak! di sana?
    mau jalan-jalan pun masih murah.

    Bener tuh kata-kata Mbak Sondahk!

  11. mungkin si angelina ini tidak berjiwa saintist,tapi berjiwa “brosur”. beda khan,pak dhe. peneliti orang utan dengan duta orang utan. kalau duta orang utan mestinya dia pakai baju badut orang utan aja.CUKUP.dia berkoar2 ttg orang utan kan dari hasil penelitian.lha dia?hanya MENGHAFAL hasil penelitian tanpa MENGALAMI. tapi walopun di luar negeri hati kita TETAP MERAH PUTIH, pak dhe… TETAP MERAH PUTIH! [bikin emosi aja si sondakh ini] 🙁

  12. ah yang bener? di jakarta juga bisa 30 menit kemana2 asal pakai motor, kalau pakai mobil ya jelas kena macet. naik sepeda aja bisa lebih cepet. soal bayar2 pln air, sekarang udah bisa lewat atm mana aja, malah jauh lebih efisien dan efektif.mau langsung potong rekening tabungan juga bisa, jadi udah gak jamannya lagi ngantri bayar listrik. bayar listrik di kantor pos KL juga bisa ngantri 1-2 jam…

  13. betul pak….peneliti / ilmuwan sejati itu sama dgn seniman sejati… berkarya untuk eksistensi diri bukan komersialisasi…kalo toh banyak yang berkarya demi duit mak iut bukan peneliti tapi pedagang ilmu

  14. terimkasih ya pak, memberi pemikiran yang baru, saya berpikir pendapat pak rovick ada benarnya, namun pendapatnya bu sondakh juga ada benarnya, jadi keduanya sama -sama benar, ya mengejar materi, namun juga mengejar aktualiasasi diri. selain itu dengan meneliti dan kemudian hasil penelitiannya dipakai untuk merumuskan kebijakan tertentu (selain honor tentnya) pasti akan memberi kebanggaan tersendiri bagi para peneliti.

  15. Saya setuju, para ahli Indonesia lari ke segala penjuru dunia, jamannya sudah globalisasi. Setiap orang punya hak untuk cari makan dan kesejahteraan yang baik dan halal, bukan merampok kekayaan negara. Banyak kan, orang nggak pinter malah kerjaannya merampok kekayaan Republik Indonesia. Coba dech, lihat film “Alangkah Lucunya negeri ini” (Deddy Mizwar & Slamet Rahardjo), nanti tahu ironisnya negeri ini. Lihatlah India dan Cina, menyebar ke seluruh dunia. Amerika takut nge-bom Cina, begitu di-bom, orang Cina ngungsi semua ke Amerika (kaya ngobok2 rumah semut). Jadi kalo Malaysia & Singapura mau nge-bom Indonesia .. wooow .. orang Indonesia ngungsi semua saja ke sana, nanti kan jadi heboohh … Mau bicara nasionalisme? … hik..hik..hik… bapak tukang sampah dan sopir bus kota itulah yang real nasionalis.

  16. Jadi teringat kasus jaman saya SMA medio 90-an, seorang peneliti Indonesia dari LAPAN *kalau saya tidak salah ingat* di Jepang yang menjadi asisten penelitian reaktor fisi dingin dipanggil pulang. Dan di Indonesia hanya ditugaskan mengajar komputer dan bahasa Inggris & Jepang.

    Dari segi pengabdian pun kalau seperti itu rasanya ya jadi ‘njomplang’ yah …

  17. Betul mas, kawan-kawan banyak pindah riset bukan karena g ada duit di dalam negeri tapi peralatan analisis yang serba terbatas ga memungkinkan kita menghasilkan sesuatu hasil riset berkelas. kalau cuma teknologi tepat guna ok lah.

  18. Itu hanya Sondakh aja yang lain gak lah. Jangan di ambil ke hati Pakdhe. Mungkin maksudnya mau mensejahterkan peneliti kita tapi kata2nya kurang tepat.

  19. Hmm.. Menarik sekali membaca tulisan ini Pak,,, Saya jadi bisa mengetahui jalan pemikiran lain(selain materi tentang geologi tentunya) dari Pak Dhe,,,

    Salam semangat selalu Pak Dhe dari seorang yang akan menjadi Profesional ^^

  20. peneliti sekarang tidak semuanya mengejar aktualisasi diri saja. Tetapi jg mulai sadar materi, meski tidak sampai masuk kategori ‘matrek’. Peneliti yg cerdik bisa memanfaatkan hasil penelitiannya untuk dipakai oleh pihak lain/instansi yg memerlukan. Dan tak jarang sesama peneliti jg bisa bersaing dan banting harga untuk mendptkan project riset..

  21. Ikoetan nggerundel ya pakde.. Doeloe jamannya susah cari gawean, seneng bgt udah lolos psokotest, user, medical nya pertamino.. Eh tyt test terrakhir (direksi) nya ga ada kabar smp skrng.. Orkes sakit hatinya smp skrng msh berkoemandang. So niatnya ngabdi boeat bangsa n negara jd nguli buat asing dech.. Ya mkn sdh bgitu jalur dr YME.

Leave a Reply