Longsor lebih berbahaya ketimbang gempa

0

Gempa Jogja menjelang taraweh kemarin cukup mengagetkan. Sebenarnya juga gempa-gempa lain selalu mengagetkan. Dan seperti biasa, selalu “membangunkan” pikiran utk melakukan sesuatu.

Berita gempa jogja masih terus bergoyang. Alhamdulillah tidak ada korban meninggal. Sedangkan berita longsoran di Bogor ini telah menewaskan 3 orang dalam satu keluarga, namun sayangnya hal ini sepertinya kurang mendapat bagian perhatian yang proporsinal dalam benak kita (termasuk saya). 🙁
http://berita.liputan6.com/daerah/201008/293177/Takut.Longsor.Susulan.Warga.Mengungsi

Beberapa hari lalu saya ngobrol soal bencana ini utk segera ditangani. Namun saya tepikir mana yg mestinya diprioritaskan ?. Yang lebih mengagetkan atau yang lebih membayakan ?

🙁 “Pakdhe, lah kalau sakit jantungan, kan kaget saja sudah berbahaya to Pakdhe ?”

Banjir lebih sering terjadi dan menelan korban serta kerugian. Sedangkan gempa ini terutama data sewaktu tsunami Aceh tahun 2004.

Tinjauan Statistik

Secara statistik bencana di Indonesia yg banyak menelan korban dan merugikan adalah banjir dan longsor. Kebencanaan tidak pernah sendirian. Tanah longsor dan banjir sering bersamaan dan dipicu oleh hujan. Sedangkan gempa tsunami merupakan bencana yg selalu akan “mengagetkan” karena tidak dapat (lebih susah) diramalkan.

Banjir (dan longsor) sebenernya lebih mudah diramalkan dan dihindari namun kenyataannya paling banyak menelan korban dan kerugian di Jawa Barat.

Ini hanya melihat statistiknya BNPB. Kalau statistik utk seluruh Indonesia hampir selalu terdistorsi data gempa 2004 merusak statistik karena adanya “spike” anomali data.

Statistik dunia jug amengatakan hydro-meteorologis paling banyak terjadi.

Saya sendiri lebih cenderung utk memprioritakan riset mencegah banjir-longsor. Ketimbang studi riset kegempaan yg memiliki karakteristik “lower predictability“, lebih susah diprediksi.

Ini hanya melihat statistik BNPB sepintas dan perlu dikaji ulang data statistik kebencanaan. Sebelum mempioritaskan riset apa yg diperlukan. Supaya tidak memutuskan riset gempa sekedar “kaget” karena digoyang gempa yg selalu mendadak.

Jadi semestinya penyebaran informasi, berita, serta perhatian longsoran serta banjir harusnya lebih banyak lagi supaya mendapatkan perhatian dan mengurangi korban dan kerugian.

1 COMMENT

  1. sudah diriset kok… lha wong perangkat untuk peringatan dini longsor saya sudah bisa mbuat. dari sensornya, komunikasi datanya, sampai softwer pemantaunya. tapi gimana caranipun nggugah pemerintah nggih pakde?
    padahal murah meriah… dibanding kerugian jiwa dan harta benda.

    • Kenapa harus menggugah pemerintah ? Kan bisa ijual bebas bagi siapa saja yg menginginkan perlindungan. Tidak harus pemerintah yg membeli kan ? Coba saja ipasakan ke swasta yg memerlukan. Misal pemilik hotel dan villa di pegunungan.

Leave a Reply