Ketertinggalan negeri-negeri yang terpinggirkan

0

Mengutip George Orwell, “in the time of universal deceit, telling the truth is a revolutionary act” (ketika kebohongan sudah universal, maka membicarakan fakta menjadi tindakan yang revolusioner)

Kalau dilihat dari perjalanan sejarahnya, jaman dahulu manusia yang hidup di Eropa dan Amerika belum mengindahkan lingkungan mereka telah membangun negerinya dengan “merusak” tatanan alam. Membabat hutannya untuk bangunan rumah, memperkosa alamnya menyedot tambang dengan tidak mereklamasi ulang, dan menyedot segala sumberdaya alamnya demi kenikmatan hidupnya. Hingga tindakan ini mengantarkan mereka pada posisi negara moderen.

Itulah saatnya teknologi yang dikembangkan generasi “babby boomer” meledak memperdaya bumi sekitar tahun 1950-1980. Itulah revolusi industri yang mengantarkan mereka pada posisi negeri makmur ! Salah satu revolusi industri telah terjadi sebelum revolusi lain yang disebutkan oleh George Orwel diatas.

Setelah itu manusia sadar akan lingkungannya, sadar akan bahayanya, serta kesehatannya. Itulah saat HSE (health, safety and environment) menjadi tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan. Kata mereka yang sudah maju adalah “Kalau proyekmu belum mengikuti standar pemeliharaan lingkungan maka kamu belum layak untuk membuat proyek. Kalau proyekmu belum mengikuti standart safety, berarti proyekmu buruk. Aku lah yang harus menanganinya !! Karena kalau bukan aku, kamu akan mengalami seperti aku. Hutanmu akan rusak“.

Ya mereka yang sudah masuk negeri maju mengatakan fakta atau the truth ! soal kerusakan alam. Inilah salah satu yang disebut revolutionary act oleh George Orwell diatas.

Akhirnya saat ini negeri-negeri yg terpinggirkan di Asia dan Afrika, yang sering disebut sebagai negara berkembang, lebih banyak berkutet pada issue lingkungan, permasalahan safety serta pemenuhan standart-standart baku yang menjadi tolok ukur “kesuksesan” sebuah proyek. Padahal negeri-negeri terpinggirkan ini belum pernah merasakan indahnya teknologi. Boro-boro mencicipi PLTN, baru membuat uji tapak saja sudah dihajar dengan standart lingkungan yang rumit mengundang polemik. Belum lagi menikmati nikmatnya gas tanpa asap sudah dihajar soal standart safety. Fakta lain adalah penggunaan gas untuk LNG yang dikatakan salah satu bentuk aplikasi teknologi di dalam negeri, padahal manfaat gasnya lari ke luar. Lah wong di Indonesia malah ngga ada terminal utk menerima LNG (LNG reciever).

Itulah fakta ketertinggalan yang menyebabkan kenikmatan teknologi itu tak pernah dirasakan. Tanpa evolusi berpikir dan revolusi bertindak negeri terpinggirkan ini akan terus tertinggal, abadi.

…. Kasihaaan deh loe !

1 COMMENT

  1. Fakta juga, dengan efisiensi tak lebih dari 30%, nuklir menghasilkan panas yang lebih banyak daripada bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi listrik yang setara. Jadi, siapa penyumbang panas terbesar di muka bumi?

    sepertinya geothermal jadi solusi….

    –> Rata-rata thermal engine (menggunakan boiler) memiliki efisiensi kurang dari 30%. Karena panasnya banyak yang terbuang. Kecuali energi panasnya dipakai utk kebutuhan lain (mengeringkan bahan makan dll). Gas boiler maupun batubara juga memiliki efisiensi ndak lebih dari 30%. Gas engine (motor bakar) justru lebih tinggi bahkan hingga 40%. Kalau Geothermal akan mengeluarkan panas (dalam bentuk steam) dari dalam bumi ke permukaan.

Leave a Reply