Animasi Tsunami Chile Menyeberangi Samodera Pasific

0

Masih ingat animasi-animasi tsunami ketika terjadi di Aceh dan juga di Pangandaran ? Kali ini tsunami Chile juga dibuat simulasinya oleh dua orang ahli dari Jepang. Sangat beruntung ternyata tsunami yang dihasilkan oleh gempa Chile ini tidak merusak pantai-pantai yang bersebelahan samodera.

🙁 “Jadi tidak ada tsunami yang dihasilkan ya Pakdhe ?”

😀 “Tsunami tetap terjadi, Thole. Karena semua syarat terbentuknya tsunami memang terpenuhi. Tentunya harus bersyukur, tsunami ini tidak menimbulkan kerusakan karena relatif kecil setibanya diseberang samodera”

Yushiro Fujii (IISEE, BRI) dan Kenji Satake  dari ERI, Univ. of Tokyo membuat simulasi tsunami yang dihasilkan dari gempa Chili (35,846 ° S, 72,719 ° W, Mw = 8,8 pada 06:34:14 UTC menurut USGS) pada tanggal 27 Februari 2010. Sumber tsunami yang diasumsikan berada dalam wilayah gempa susulan selama satu hari setelah mainshock.

Data dan asumsi

Seperti dalam modeling tsunami yang sering dibuat selama ini, ada beberapa asumsi yang dipakai sebagai acuan.

Bidang rekahan/patahan 400 km × 100 km. Perhatikan yang merah badan patahan naik, yang biru bagian turun. Jadi seperti jungkat-jungkit.

Patahan yang menimbulkan pergerakan atau displacement ini memiliki panjang dan lebar 400 km × 100 km. Bidang patahan ini memiliki strike: 16 º, dip: 14 º, slip: 104 º dari USGS’s Wphase  (solusi tensor). Bagian atas patahan ini memiliki kedalaman (diasumsikan) hingga 4 km. Slip atau pergeseran rata-rata pada patahan ini adalah 10 m.

Sebagai kondisi awal untuk tsunami, deformasi statis dari dasar laut dihitung untuk patahan model persegi panjang [Okada, 1985] menggunakan model sumber. Data kedalaman laut atau batimetri yang digunakan adalah 2 menit busur resampled data grid dari GEBCO 1 arc-menit data grid. Untuk menghitung propagasi tsunami, linear air dangkal, atau panjang gelombang, persamaan itu secara numerik diselesaikan dengan menggunakan metode beda berhingga-[Satake, 1995].

🙁 “Whaduh Pakdhe bahasanya tehnis banget”

😀 “Ya wis, kalau bikin pusing langsung saja lihat gambarnya thole”

Ketinggian maksimum simulasi tsunami menunjukkan bahwa energi tsunami berkonsentrasi ke arah tegak lurus terhadap pemogokan kesalahan (Gambar 2). Kami telah men-download dan pasang alat pengukur DART data dari NOAA dan UHSLC situs web dan membandingkan simulasi bentuk gelombang tsunami dan yang diamati (Gambar 2). Kita bisa melihat propagasi tsunami di Samudera Pasifik.

Pengukuran sebagai refrensi kalibrasi dari model.

Hasil pengukuran dititik-titik lokasi pengamatan gelombang Tsunami

Hasil pengukuran dari gelombang tsunami yang melewati stasiun-stasiun alat pengukur gelombang ini digambarkan dibawah ini

Dari hasil pengukuran dan pemodelan kemudian dibuat animasi tsunami ini seperti dibawah ini. Terlihat gelombang tsunami ini menyebar dari Chile menyeberangi Samodera Pasific hingga ke pantai timur Asia. Termasuk Jepang, Indonesia dan Pantai Timur Australia.

Penjalaran gelombang Tsunami Chile (Feb 2010)

Sekali lagi patut disyukuri tidak ada korban akibat tsunami di belahan barat Pasific. Ketinggian Tsunami Chile ini tidak memiliki potensial merusak. Namun seperti yang sudah di jelaskan ditulisan sebelumnya, walaupun hanya pendek gelombang ini mampu menjalar melintasi Samodera Pasific.

Pembelajaran yang terambil dan yang terlewat.

Walaupun tidak terjadi tsunami yang mematikan di pantai-pantai Timur Asia, Hawai, maupun Pantai Timur Australia. Banyak pembelajaran yang diambil terutama uji kesigapan petugas menghadapi tsunami. Jepang sudah mampu mengevakuasi lebih dari 50 000 penduduknya dengan aman dan selamat. Hawai juga berhasil menutup pantainya dalam beberapa jam dengan aman. Walaupun setelah itu kembali pantai Hawai diramaikan dengan turis menikmati Indhnya pantai Hawai.

Tsunami ini “mungil” setelah sampai di Pantai Timur Asia ini telah memberikan pelajaran pada negara-negara yang telah mengantisipasi. Dan tentusaja mereka akhirnya mampu (karena memiliki catatan) untuk  memperbaiki prosedur-prosedur yang lemah layaknya barusaja menjalani sebuah tsunami drill.

Sangat disayangkan BMKG sepertinya terburu-buru mengabarkan di detik.com bahwa tsunami ini tidak menghawatirkan. Walaupun pada kenyataannya memang sesuai yang dikatakan, namun Indonesia kehilangan momentum besar untuk menguji kesiapan dan kesigapan petugas serta masyarakat Indonesia dalam menghadapi tsunami besar.

Pelajaran berat sudah kita alami ketika terjadinya tsunami di Pangandaran tahun 2006. Saat kejadian di Pangandaran itu tidak ada amaran (Tsunami Warning), bahkan beberapa bulan sebelumnya para ahli kebumian yakin bahwa pantai selatan Jawa aman. Namun dugaan itu ternyata keliru ketika terjadi Tsunami di Pangandaran.

Semoga kita mampu memetik pelajaran dari kejadian-kejadian alam selama ini.

Sumber : Fuji’s Page.

Tulisan terkait :

1 COMMENT

  1. A pretty good article, could provide a new information to me. Glad to find a blog like this. Thank You
    btw, i hope, all disaster is all gone from Indonesia

  2. hmmm…. kalo tsunami melanda Indonesia lagi,, kasin deh tempat2 wisata kita…. apalagi yang akan jadi daya tarik negeri ini kalau tempat2 wisata nya hancur lembur….. oleh tsunami….

  3. Mungkin kita belum ada perangkat pembelajarannya pak….
    jadi mau simulasi juga bingung…. nggak ada prosedurnya….
    sedih ya… bangsa ini masih sulit untuk belajar……

  4. Indonesia belum mempunyai Prosedur Standar untuk langkah2 antiispasi seperti Jepang Hawaii dan lainnya jadi apanya yang mau di uji ? Sarana & Prasarana Pengurangan Risiko Bencana belum memadai bahkan Pemahaman ttg Pengurangan risiko Bencana baru sampai pada saat terjadi bencana ( paradigma lama ; menejemen krisis) tidak pada saat pra bencana ( manajemen risiko ) yg melibatkan partisipasi semua unsur dari masyarkat hingga pihak terkait lainnya yang saling terkoordinasi ( sinergitas yang baik )

Leave a Reply