Gempa retakan kerak bumi membentuk Danau Malawi

0

Gempa kuat telah terjadi di dekat Danau Malawi, Afrika. Memang goyangan gempa ini tidak terasa di Indonesia tetapi barangkali ada yang membaca beritanya di internet. Gempa ini cukup kuat ini berkekuatan  M6.0 dengan kedalaman hanya 10 Km. Merupakan cirikhas gempa akibat patahan di darat.

Apa istimewanya ?

Patahan yang mengakibatkan gempa ini merupakan sebuah patahan yang membentuk Danau Malawi di Afrika ini disebabkan oleh “terpecahnya” kerak Afrika sehingga membantuk sebuah danau yang sangat dalam hingga 700 meter ini berada pada ketinggian 500 m diatas permukaan air laut. Artinya dasar danaunya nya berada 200 meter dibawah muka air laut. Bayangkan kedalaman laut Jawa saja hanya sekitar 50 meter !

🙁 “Lah kenapa istimewa, Pakdhe ?”

😀 “Di Indonesia kita juga punya dananu yang terbentuk dengan mekanisme yang hampir sama. Dan juga menyebabkan gempa, Thole”

Danau Malawi, Afrika.

Danau Malawi ini berada pada daerah retakan kerak benua Afrika. lihat peta tektonik dunia dibawah ini.

Danau Malawi merupakan salah satu danau di Afrika yang disebut The East African Rift System (EARS) adalah salah satu keajaiban geologi dunia, tempat di mana sekumpulan lempeng tektonik bumi sekarang ini mencoba untuk membuat lempeng-lempeng baru dengan memisahkan diri.

Dalam terminologi sederhana, sebuah keretakan lempeng tektonik ini dapat dianggap sebagai patah tulang di permukaan bumi yang melebar dari waktu ke waktu, atau lebih secara teknis, sebagai pembentukan sebuah cekungan geologi memanjang dibatasi oleh tebing yang sangat curam disebelah patahan normal. Ahli geologi masih memperdebatkan persis bagaimana tentang rifting datang, namun proses ini sangat baik ditampilkan di Afrika Timur (Ethiopia-Kenya-Uganda-Tanzania).

Ahli-ahli geologi memberikan nama ke pelat baru ini Lempeng Nubia membentuk paling Afrika, sementara lempengan yang lebih kecil menjauh disebut Somalia Plate (Gambar 1). Kedua kerak (pelat) ini terbentuk dan saling menjauh satu sama lain dan juga menjauh dari piring Arab disebelah utara. Titik di mana ketiga piring bertemu di wilayah Afar di Ethiopia bentuk apa yang disebut Triple-junction.

East African Rift System, Danau akibat perpecahan kerak benua

Beberapa danau telah terbentuk di Afrika Timur akibat perpecahan lempeng tektonik. Perhatikan bentuknya, dan bandingkan dengan yang di Sumatera, Indonesia.

Dimana ada proses yang mirip di Indonesia ?

Di Indonesia kita memiliki Danau Singkarak di Sumatera. Danau ini juga memiliki karakteristik hampir sama dengan Danau di Afrika ini. Namun terbentuk oleh sebuah patahan yang dikenal dengan mana Patahan Sumatera atau Patahan Semangko. Sesar Semangko ini selain membentuk Danau Singkarak, juga membentuk Dananu Ranau disebelah selatannya. Mirip dengan di Afrika dimana sepanjang patahannya terdapat beberapa danau.

Perhatikan gempa Solok (Maret 2007) disepanjang patahan Semangko, Sumatera.

Perhatikan lokasi-lokasi gempa di sebelah utara Danau Singkarak ini. Gempa-gempa yang telah dirasakan terjadi sekitar bulan Maret 2007 ini merupakan bagian dari gerakan patahan Semangko. Patahan ini menyebabkan gempa yang walaupun kekuatannya relatif kecil namun karena poisis hipocenternya dangkal, akan memiliki daya getar yang sangat merusak. Patahan ini disebut Patahan Semangko ini telah membentuk Danau Singkarak.

Danau Singkarak juga memiliki morfologi yang mirip dengan Danau Malawi yang terbentuk oleh patahan atau retakan bumi. Dindingnya curam. Dan sangat rentan longsoran. Kalau terjadi longsoran tentusaja dapat menyebabkan gelombang tsunami juga.

Jadi yg seperti apa patahan yang membentuk danau ?

Patahan geser membentuk lubang dalam.

Patahan yg membentuk danau di Sumatra berupa patahan geser (strike slip). Patahan geser ini tentusaja tidak lurus seperti garis. Patahan ini dapat berbelok-belok. Apabila belokannya stepping atau loncatannya ke kanan seperti yang terlihat di gambar samping, maka ada bagian-bagian tertentu, di tempat belokan itu, akan membentuk graben atau cekungan. Graben atau cekungan inilah yg kalau terisi air maka akan membentuk danau.

Retakan patahan yang membentuk amblesan membentuk danau

Disebelah atas ini kalau kita potong penampang diatas sesuai garis A-B. Maka terlihat profil dari danau yg terbentuk akibat patahan geser. Danau di Sumatra yg terbentuk akibat patahan geser Sumatra ini yg terkenal adalah Danau Singkarak dan danau Ranau. Wah bagus dan indah looh kedua danau ini. Dan jangan kaget, danau Singkarak ini memiliki kedalaman hingga 270 meter !!. Bayangkan kedalaman laut jawa itu maksimum mungkin 30-50 meter saja.

Danau Singkarak ini merupakan objek wisata yang menarik namun harus diingat juga menyimpan potensi bahaya bencana alam termasuk gempa, juga tsunami kalau terjadi longsoran di dinding curamnya.

Marufin pernah menuliskan tentang potensi tsunami dalam celah sempit :

Gempa Solok  disebabkan oleh patahnya segmen Sianok, dengan panjang sekitar 25 km dan lebar 12 km (secara kasar, mengacu pada gempa Yogya dan rasio panjang/lebar patahan sebesar 2 : 1 untuk gempa-gempa menengah mengacu pada Rivera dkk, 2002). Dengan moment magnitude 6,4 skala Magnitudo segmen yang patah ini telah bergeser 60 cm dari posisinya semula. Ini juga angka yang sangat kasar, mengingat menurut Dr. Irwan Meilano, gempa-gempa di patahan besar Sumatra rata-rata menghasilkan pergeseran 1 – 2 m. Dan dengan moment magnitude sebesar ini (juga surface magnitude 6,4 skala Richter), gempa Solok melepaskan energi 60 kiloton TNT atau tiga kali lipat energi bom yang diledakkan di Hiroshima.

Tsunami Danau Singkarak merupakan jendela baru yang membuka pengetahuan kita bahwa tsunami – yang harfiahnya adalah gelombang permukaan, dimana panjang gelombangnya jauh melebihi kedalaman perairan setempat sehingga susut energinya sangat kecil selama penjalarannya – teryata tidak hanya terjadi pada badan air sangat luas macam lautan seperti yang selama ini kita kenal, namun juga bisa terjadi pada perairan-perairan sangat sempit.

Tsunami Danau Singkarak adalah kejadian tsunami di perairan sempit yang kedua di Indonesia (yang terdokumentasikan) selama 2007 setelah 17 Februari silam kejadian sejenis juga terjadi pada sebuah danau tak bernama di lokasi penambangan pasir Kampung Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Bahkan tsunami Nyalindung memiliki run-up 15 meter – setinggi tsunami dahsyat yang meleburkan Banda Aceh – yang dipicu oleh masuknya massa yang massif (dalam bentuk longsoran) secara tiba-tiba ke dalam badan air setempat, dan menewaskan 4 orang.

Selanjutnya memang klise, namun inilah yang memang harus diperhatikan, bagaimana meningkatkan kewaspadaan pada perairan-perairan sempit ini, baik yang berdiri di atas patahan (seperti danau-danau di pesisir barat Sumatra) ataupun yang berbatasan dengan tebing curam.

Perhatian lebih memang harus diarahkan pada perairan bertebing curam dan memetakan titik-titik rawan longsornya, sekaligus mengidentifikasi kembali jejak-jejak kejadian longsoran yang pernah ada di masa silam, mengingat tsunami yang ditimbulkan longsoran bisa sangat massif. Semua demi kepentingan bersama.

Tentunya kita tak ingin kejadian mengenaskan di bendungan Vajont, dekat Venesia (Italia), kembali terulang. Bendungan Vajont – kini menjadi monumen kegagalan bagi para insinyur dan geolog dalam memahami dinamika Bumi – selesai dibangun tahun 1961 pada lembah Vajont yang sempit, curam dan memiliki sejarah longsor di masa silam. Bendung utama didirikan menjulang hingga ketinggian 265 meter – bendung tertinggi di dunia, bandingkan dengan Monas yang ‘hanya’ 115 m – dan mampu menampung 115 juta meter kubik air guna pembangkitan listrik. Bendungan dikatakan aman oleh para perancangnya, karena kalaupun ada kejadian longsor lagi, itu akan berskala kecil dengan kecepatan gerak yang pelan. Tak dinyana, menjelang tengah malam 9 Oktober 1963, hujan lebat merontokkan 260 juta meter kubik tanah dan batuan – beserta hutan diatasnya – dan bergerak sebagai longsoran berkecepatan 110 km/jam hingga jatuh tercebur ke dalam bendungan. Akibatnya 115 juta meter kubik air terdesak hebat hingga membentuk tsunami spektakuler yang luar biasa dahsyatnya dengan run-up sampai 260 meter (!), yang menjebol bendungan dan mengalir deras ke desa-desa nan permai dibawahnya hingga 2.500 orang penduduknya meregang nyawa.

Jadi kita mesti melihat segala bentuk potensi bencana yangada disekeliling kita. Salam Waspada !

Sumber Gambar : USGS, http://geology.com; http://geologisumbar.wordpress.com/

1 COMMENT

  1. bisa jadikah jutaan tahun yang akan datang pulau sumatera akan terbelah menjadi dua?

    –> Bisa saja, tapi kita tidak akan mengalaminya. Usia manusia hanya tujuhpuluhan puluhan tahun saja.

  2. thanks atas sgala ulasanx pak dhe ttg geologi bumi, moga wahana ini bisa mnjadi referensi kita dalam mngambil hikmah dari setiap gejala alam dan mewaspadainya sedini mungkin.

  3. Usul, mbok Pak Dhe ndongeng tentang sistem danau Malili (Matano, Mahalona, Towuti) yang berada di jalur patahan/sesar Matano. Kalau bisa lengkap dalam beberapa seri, mulai dari sejarah terbentuknya sampai potensi hazardnya juga, dan juga saran untuk pemerintah maupun masyarakat di area tersebut.
    Di daerah tersebut terdapat pertambangan nikel dan 2 buah dam (waduk) yaitu dam Larona (168 MW) dan dam Balambano (96 MW), sedangkan yang ketiga (dam Karebe) sedang dalam pembangunan. Sejak terjadinya gempa Poso-Soroako tgl 15 Feb 2011 yang lalu, banyak rumor yang tidak jelas sumbernya beredar di masyarakat yang menimbulkan keresahan dan ketakutan berlebihan yang tidak logis. Contohnya, isu air danau naik seperti tsunami sehingga orang-orang lari ke bukit. Aja juga rumor bahwa kota Soroako menggantung di atas air. Dengan dongengan dari Pad Dhe, masyarakat akan tenang karena tahu keadaan yang sesungguhnya. Kalau memang ada hal dikawatirkan, memang bahaya yang nyata bukan karena rumor yang tidak berdasar ilmiah. Kami tunggu dongengan Pak Dhe.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  4. Pakdhe,
    saya pikir analogi Danau Malawi ke Danau Singkarak agak kurang pas. Danau Malawi itu domain utamanya Rifting, yg cocoknya sama terbelahnya Kalimantan-Sulawesi. Kalau Danau Singkarak itu domain utamanya sesar geser.

    Tulisan di bagian bawah ttg wacana tsunami di perairan sempit, sungguh sangat menggugah. Mohon ditambah lagi artikel ttg hal itu karena banyak yang tidak (belum) mengetahuinya.

    Salam kenal ya, pakde.

  5. knp di jakarta slalu terjadi banjir
    tp katany indonesia adalh pru-paru dunia kok banjir??????????
    braati indonesia biang banjir dong(banjir uang,banjir teroris,banjir kejahatan,banjir hukum yang lemah,banjir kekerasan dan tawuran)jdi percma indonesia bnyak hutan

  6. artikelnya ilmiah pakdhe.
    apakah danau toba prosesnya kayak gitu?

    –> Kalau Danau Toba itu Kaldera Gunungapi. Prosesnya berbeda. Yang seperti ini Danau Singkarak.

  7. Bagaimana dengan Danau Matano, Pakdhe?
    Bila dilihat dari proses pembentukan dan kedalamannya, sepertinya mirip dengan yg dijelaskan di atas. Entah mengenai gempanya.

  8. mengingat lapisan bumi terus bergerak menajuh dan semakin dalam, mungkin nggak ya, jika cekungan itu sangat dalam dan menembus lapisan magma, lantas jadi gunung berapi. Ini lebih diwaspadai lagi bagi orang sekitar danau dalam.

    –> Magma itu batuan yang cair yang mencoba menerobos ke bumi. Memang ada teori salah satu “jalan” keluarnya magma ini melalui retakan (zona) lemah.

Leave a Reply