Belajar dari bencana alam

0

Wedus Gembelnya G Merapi
Setelah menuliskan gunung Tambora sebelumnya disini. Ternyata menjadi diskusi menarik tentang runtuhnya kerajaan-kerajan akibat Tambora. Siapa saja yang runtuh, siapa yang bertahan dan siapa yang tak terkena imbasnya.

Ada yang mengatakan bahwa letusan Tambora 1815 telah memusnahkan peradaban atau budaya (Discovery Channel, BBC dll). Namun juga ada yang mengatakan tidak memusnahkan keseluruhan budaya menurut penelitian Dinas Pertambangan dan Energi beserta IAGI Sumbawa, juga termasuk dongengan ini.

🙁 “Pakdhe, yang nemanya belajar itu kan bisa dari mana saja ta ?”

Mengapa kesimpulan bisa berbeda-beda ?

Barangkali dalam penelitian dan pengungkapan hasil sebuah pengamatan diikuti sesuatu tujuan yang akan dicapai. Bisa saja tujuannya sebagai pengungkapan fakta, pembelajaran, atau bahkan kadang untuk provokasi. Namun juga tidak jarang penelitian atau riset yang sekedar meneliti dan menemukan apa adanya, seadanya.

🙁 “Hadduh, mosok meneliti sesuatu cuman untuk nakut-nakuti ta, Pakdhe ?”

Yang hilang, yang tersisa, dan yang utuh.

Secara mudah kalau mempelajari akibat bencana (gunung meletus) pada manusia atau peradaban akan ada tiga zona. Dari setiap kejadian bencana, ketiga zona ini dapat dipakai sebagai bahan belajar dan bahan penelitian. Gambar dibawah ini memperlihatkan seperti apa “peninggalan” sebuah bencana alam.

Untuk ahli geologi dan volkanologi batuan akan menjadi objek utama. Mereka akan sangat tertarik pada batu-batuannya yang hilang dan yang menjadi produk baru. Mereka akan menghitung volume batuan yang hilang terlempar dan yang terendapkan kembali. Dengan mempelajari dan meneliti jenis, ukuran dan jumlah serta komponen batu-batuan inilah mereka akan memperkirakan sebesar mana letusannya. Dan memperkirakan sejauh mana pengaruhnya.

Sedangkan antropologi dan juga volkanologi yang ingin mengetahui dampak sebuah letusan gunungapi mungkin secara mudah dapat membaginya menjadi tiga zona. Yuk kita coba peri satu-satu :

Zona 1. Punah/Hilang

Zona 1 ini berada paling dekat dengan pusat bencana. Dalam hal ini paling dekat dengan pusat letusan. Ketika terjadi bencana bisa dipastikan hampir tidak ada berita dari zona ini, tidak ada sisa yang utuh dalam radius zona ini. Semua lenyap terkubur. Tentusaja sangat sulit mempelajari dari sesuatu yang ngga ada. Lah hiya lah, mau belajar apa kita dari sesuatu yang sudah tidak ada.

Masih ingat cerita gempa padang disini. Ya, ketika gempa padang terjadi, kita tidak mendengar kabar dari saudara-saudara kita di Padang. Karena kota padang sedang luluh lantak. Itulah sebabnya pada saat gempa Padang (Sumbar) di dongengkan ini Gempa Padang  Jangan tunggu laporan !

Di zona ini ahli geologi dan juga antropologi dapat melakukan penggalian dan penelitian pada barang mati. Hasilnya tentusaja sebuah kajian ilmiah tentang proses letusan, besarnya letusan serta kemungkinan dampak dari letusannya. Penelitian ini diperlukan dan sering dilakukan oleh ahli-ahli geologi-volkanologi dalam memerikan sebuah letusan gunung api.

Pada saat letusan Tambora terjadi konon ada sebuah kerajaan yang berada di lereng gunung ini. Karena berada pada daerah yang punah atau hilang, tentusaja yang bisa dikuak dari “kerajaan” ini tidak sebanyak daerah yang masih menyisakan kebudayaannya. Penelitian yang dilakukan dengan penggalian akan mencoba “menemukan” kembali puing-puing ini.

Dari puing-puing serta runtuhan tanpa sisa kehidupan ini kita dapat mengerti bagaimana kejadiannya, dapat memperkirakan seberapa hebat peristiwa terjadinya bencananya. Tentunya dalam hal ini kita harus mampu mengerti dari semua benda mati. Para ahli ini akan “bertanya” kepada arang untuk mengerti seberapa panasnya. Juga “bertanya” pada tanah liat serta mineral-minreal batuan untuk bertanya seberapa besar tekanannya, dan sebagainya.

Zona 2. Tersisa

Dalam zona ini tidak seluruhnya terlenyapkan oleh letusan gunungapi. Masih ada sisa-sisa yang utuh. Masih ada berita yang didengar keluar dari daerah ini. Masih ada yang selamat.

Dari lokasi zona ini kita masih memungkinkan untuk bertanya kepada korban yang selamat. Kita bisa bertanya apa yang terjadi. Kita bisa juga bertanya bagaimana kejadiannya, dan kita juga dapat mengerti kejadian ini lebih detail dari si pelaku atau korban yang selamat.

Pada saat kejadian bencana dari zona ini kita mendapatkan informasi bencana, sehingga informasi dari mereka akan sangat bermanfaat dalam proses pencarian dan penyelamatan (SAR, Search and Resque).

Karena ada survivor (mereka yang selamat) dari bencana ini, mungkin kita dapat bertanya langsung seperti apa kejadiannya. Bagaimana jalan ceritanya, dan tidak kalah penting bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri. Kalau kejadiannya sudah sangat lama, kita dapat melihat catatan-catatan yang pernah dibuatnya. Lukisan yang digambarnya. Dan juga perubahan budaya atau carahidupnya.

🙁 “Wah Pakdhe, ini ya pentingnya ngBlog?”

😀 “Ya, Thole. Buatlah catatan-catatan kejadian disekitarmu. Dan buatlah dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti supaya menjadi bahan belajar generasi mendatang. Yang terpenting buatlah catatanmu se-akurat mungkin. Tulislah seadanya dan apa adanya”.

Zona 3. Aman dan utuh.

Zona ini mungkin hanya mendapatkan berita, atau mendapatkan dampak yang tidak berarti. Goyangan gempa hanya terasa sangat ringan. Efek letusan gunungapi hanya terlihat dari hujan abu yg tidak menganggu. Namun mereka tahu bahwa ada kejadian ini.

Walaupun tidak menjadi korban langsung dari bencana, namun potensi bencana ikutan masih memungkinkan. Baik bencana alam, maupun bencana sosial. Contoh terjadinya penjarahan di Amerika setelah badai dilakukan para korban yang merasa tidak diperhatikan atau bahkan karena untuk mempertahankan hidup.

Sekalilagi adanya catatan kejadian serta penelitian dan pertolongan akan sangat diharapkan bagi mereka yang berada pada zona ini. Sekalilagi pertolongan sangat diharapkan dari mereka yang tinggal di zopna3 ini. Itulah sebabnya yang disini disebut waspada bencana, tidak hanya ditujukan pada mereka yang saat ini di daerah yang berpotensi menjadi zona 1 saja.

Tentusaja belajar dari mereka yang berada di zona ini juga akan sangat berguna, tetapi kita harus tahu bahwa catatan yang mereka buat adalah catatan dari mereka yang tidak merasakan langsung.

Bacaan terkait :

1 COMMENT

  1. Wah mantep Bos penjelasannya… memang kita yg stay di daerah rawan gempa dan gunung berapi perlu mencermati tanda2 yg mungkin muncul sebelum terjadinya musibah tersebut

    Salam Kenal Arya

  2. Pakdhe, sabtu kemaren ditemukan struktur candi di kampus UII.. di Jalan Kaliurang, kalo dari lokasinya. apa mungkin masuk ke zona hilang /punah alias terkubur…

Leave a Reply