Negeri reptil bikin episode

0

Wah episode lanjutan lebih seru …. semalem mengikuti RDP antara Kapolri dengan Komisi 3 … sampai jam 3 pagi ! Pak Pulisi yang dengan tenang penuh kedewasaan secara politis dan prosedur serta aturan tatakrama penyidikan telah dipuji-puji oleh anggota DPR.

Kalau masih mau “open mind” kita akan tahu siapa itu KADAL yang mengaku cicak ! Sehingga akan tahu bahwa cicak-cicak yang asli justru dikadalin !

🙁 “Eh penontoon … Maaf, Pakdhe lagi kepingin nggrundel soal negeri ini. Harap maklum bentaar aja”

Doh … “Negeri reptil” ini selalu membuat episode aneh ..

Emang perlu disadari bahwa Polisi itu bukan badan adhoc, kita harus sadar KPK suatu saat harus bubar. Lembaga KPK, dan juga ICW dll itu lembaga adhoc yang dibuat sementara kalau lembaga yang seharusnya ndak mampu kerja. Aturan-aturan kenegaraan di negeri manapun membuat lembaga seperti KPK sebagai adhoc (sementara). Jangan kaget kalau suatu saat dibubarkan.

Ketika tulang kaki patah, kita perlu penyangga. Tetapi kalau sudah mampu berdiri tegak, ya jangan pakai penyangga lagi doonk.

Lutju !

Nah yang banyak ngga disadari juga adalah adanya 128 reserse didalam KPK. Mereka ya tetep saja polisi … d’corps mereka ya tetep saja polisi. Polisi-pun sudah mengulang-ulang statement ini. Cukup menarik ketika Kapolri mengatakan siap ditelanjangi didepan DPRsebagai mitra kenegaraannya. Nah, apakah KPK harus brani juga bertelanjang diri ?

Kurasa ada sebuah kesadaran baru di DPR, Polisi serta masyarakat yang melihat RDP semalam.

Aku yang berwenang !

Di Indonesia ini banyak yang menganggap dirinyalah yang paling berwenang, walaupun akhirnya yang terjadi tindakan sewenang-wenang. Si “BUAYA” menganggap dirinyalah yang diakui berwenang, lah wong di negeri mana saja ya buaya pegang peranan soal ketertiban (walau dirinya juga belum tentu tertib).

KADAL yang tadinya ngaku cicak, tampil kedepan karena merasa mendapat mandat menjadi juru bersih-bersih.
Lagi-lagi menggunakan kewenanagan tanpa aturan jelas. Surat pencekalan bisa mbolak-balik cabut lagi, tanem lagi … eh ini surat cekal … emange po’on ?

Tokek-tokek berkeliaran membawa kamera dan alat perekam swara. Sambil membingungkan opini penonton !

Tokek …!”… kamu bener

Tokek …!” … kamu salah

Tokek … ! “… ah kamu juga

Tok …!

kek …. k

kek … !..”

Tokek keselek, lidahya kegigit !

(cicak-cicak yang asli kebingungan)

Nyamuk-nyamuk menjadi leluasa kesana kemari karena cicak yang dikadalin lupa akan tugasnya …

“Kebenaran tidak pernah memihak … walaupun kadang kala kebenaran tidak bisa menang !”

Jadi tulisan ini perlu dibaca kalau ingin tahu korupsi http://tempe.wordpress.com/2007/08/01/korupsi-itu-sampah/

1 COMMENT

  1. mungkin diantara kita selalu ada dusta..
    dusta satu ditutupi dengan dusta yang lain….
    negeri pesona …..terbalik menjadi negeri dusta
    tidak ada lagi orang saling percaya
    curiga….curiga…..dan curiga……

    tiada acara tanpa do’a
    setiap upacara selalu berdo’a tuk pemimpin kita
    lha kalau yang dido’akan juga pendusta ?
    piye… jal

    puuuusiiiiiing…
    eh… pusingnya karena unas maju jadi maret nih pakde

  2. yg penting rakyat indonesia pada pinter semua.biarin aja yg diatas pada rebutan kebenaran tapi bukan buat rakyat buat kepentingan mereka sendiri,ngapain diikutin matikan tipi atau ganti cenel tipi aja,sekarang mendingan nonton sinet dari pada mbahas kpk bosen,kpk bukan dewa,apalagi orang2nya juga bukan dewa,biarkan yg berwenang bekerja dulu jangan rebutan suruh mundur,wong belum bertanggung jawab kok suruh mundur piye to aku kok liatnya jadi salah kaprah,dan lagi yg dibela kok kayak tebar pesona ya………sampun pak dhe ndak malah semrawut leh ku ngomong.

  3. Habis teroris, KPKPolriJaksaan, century, apalagi menu demokrasi Indonesia. Pastikan saja “safety valve” berfungsi. Bermain air, kebanjiran, bermain api, kebakaran. Berharap saja, rakyat tidak menjadi boneka, dari puppet master, karena dari sejak jauh sebelum kemerdekaan hingga reformasi, pernahkah ada keceriaan bagi rakyat indonesia, selain tawa-bahak elit dan negara lain melihat keterpurukan indonesia.

    Pak Dhe, nulis tentang Montara aja. Mungkin ada pengetahuan yang bisa disharing. Terima kasih.

Leave a Reply