Geothermal murah untuk skala kecil di Mataloko

0
Geotherm-1
Pemanfaatan geothermal sebagai pembangkit listrik yang pertama di Italia tahun 1904

Berbicara soal energi tentunya tidak lepas dari energi yang melimpah di Indonesia. Ya. Energi geothermal atau panas bumi.

Namun dibenak ini seringkali terbentur bahwa pengembangan energi geothermal merupakan “makanannya” pengusaha bermodal besar. Modal besar ini hanya menarik buat perusahaan raksasa saja.

Kebetulan seorang sahabat saya Birean Sagala, yang bekerja di Chevron, bercerita pengalamannya ketika jalan-jalan melihat Geothermal skala kecil.

Nah, apa dongengan Om Birean kali ini ?

Jalan-jalan di Mataloko

Sebagai pendukung geothermal, sebenarnya Birean sangat mendambakan ada kebijakan dari Pemerintah untuk membuat regulasi khusus yang bisa merangsang investor mendevelop geothermal skala kecil di kepulauan Indonesia yang sangat remote, khususnya di Kepulauan Indonesia Bagian Timur. Kecil maksudnya adalah mungkin dibawah 10 MW.

🙁 “Pakdhe 10 MW itu kira-kira seberapa besar sih ?”

😀 “Ya mudahnya bisa untuk satu kecamatan di Jawa ini, Thole”

Om Birean ini pernah berkujung ke P-Flores disana ada project PLN Mataloko (ada beberapa wells sudah di bore) power plant dengan capacity 5 MW? Sudah di installed.

Tapi menurut Om Birean  sampai sekarang kelihatannya belum jalan mungkin ada problem teknis, yang mau saya ceriterakan disini bukan masalah jalan atau tidak jalannya project ini, tapi kreatifnya mereka yang ada di project menggunakan steam yang ada untuk generate listrik utk keperluan di camp. Mereka membuat turbine generator (katanya di buat di Bandung) dan generator diputar dengan mengunakan steam dari well head (back pressure) dan bisa menghasilkan 80KW. Lihat gambar.

Konon katanya mereka ingin mendesign utk yang 0.5 MW dan 1-MW?. Kalau kita lihat gambar tersebut di bawah, kotak merah mungkin adalah dynamo?, bisa di beli murah di Glodok, warna perak (bentuk spiral) adalah tempat blade/kipas yang di dorong oleh steam shg terjadi putaran.

mataloko80MW
Pembangkit listrik dengan uap panas bumi yang sederhana di Mataloko.

Untuk pengembangan geothermal (skala industry) memang mahal di awalnya, component cost yang paling besar adalah di sector Power Plant dan Pemboran well, konon katanya :

  • Power Plant harganya = USD 1-1.5MM/MW (buatan luar),
  • 1 wellbore (standard big hole Pertamina = production casing mulai dengan 10-3/4” sampai ke 7” perforated liner) costnya berkisar USD 5 sampai 7 MM/well.
  • Infra structure ya mungkin USD 1- 0.75 MM/MW?.

Tapi dalam kasus ini kita coba berandai-andai dengan menggunakan barang local. Misal kita order generator buatan local, infrastruktur bisa ngirit, hanya mungkin problem di cost utk well??.

Pengalaman negeri lain

😀 “Thole, sekarang kita dengar dongengan Om Birean melanjutkan ceritanya”.

Saya pernah diskusi dengan geologist Canada yang pernah mendevelop Geothermal di Afrika (Kenya) ketika itu mereka membuat well completion relative slim, well designya mungkin bisa dicari di om Google. Big hole memang di design untuk field besar. dan bisa memproduksi 40 MW/well. Di Kenya mereka bisa drill 1- well bore dengan kedalaman 1800-m dengan biaya USD 2MM. Sebenarnya secara small scale technology ini bisa kita realisasikan di lapangan asalkan pemerintah men-support.

Sebagai illustrasi, Sokoria prospect di Ende, telah di tenderkan (kalau tidak salah pemenangnya group Bakrie) dengan harga USD135/MWh estimasi resource 30MW.

Mari kita bikin scenario dengan PPlant buatan local dengan harga listrik USD 135/MW, untuk produksi 2-MW. Simple model ekonominya= Gross Cash Flow = (135x2x24x30)/month = 194.4k/month.= 2.3 MM/year(roughly), mungkin dalam 1 thn tidak full bekerja bisa di kali fasktor mis 0.75 atau 0.90 terserah.

Capex (capital expenditure).

  • Explorasi =USD 0.7MM
  • 2-wells =USD 4 MM
  • PP(2 MW-lokal) =USD 1.0 MM (no idea berapa?, mis 0.5 MM/MW)
  • Infrastruktur =USD 0.3 MM
  • Grid line?? =USD 2.0 MM (no idea berapa)
  • Total Capex =USD 8.0 MM

Gross Cash Flow =USD 2.3 MM/years,

Apakah ini menarik?? Kita tanya sama ahli ekonomi, kalau tidak menarik kita cari components mana yang bisa di utak atik supaya menarik??

Dari pengalaman explorasi di Indonesia untuk mendapatkan 2 sampai 4 MW/ well itu tidak terlalu sulit, di Coy besar well dgn produksi dibawah 5MW sudah tidak menarik.

Ini adalah scenario yang sangat kasar, tapi dengan model ekonomi yang simple ini kita bisa membuka mata untuk melihat lebih jeli potensi small scale ini. Kontrak Geothermal biasanya 30 thn diluar masa explorasi dan Development. Kalau pemerintah bisa bantu di penyediaan grid-line dan perpajakan akan lebih menarik lagi angka-angkanya tsb diatas.

Impian investor

Sebagai praktisi sebenarnya kita pingin untuk mendapatkan block/ground geothermal di remote area yang tidak terlalu complicated persyaratan utk mendapatkannya, tdk banyak pungutan dll. Sederhananya begini, katakan satu Kabupaten, Bupatinya mengundang investor (melalui media), ini saya punya daerah, punya potensi geothermal, saya butuh 10MW dengan harga USD140/MW, yang berniat serious, stor duit USD 10MM (kira-kira 30% dari total investment) di Bank daerah kami sebagai tanda keseriusan, (duit tsb nantinya akan dipakai untuk explorasi, pemboran dll). Dengan model ini mungkin investor langsung ambil kalkulator untuk hitung-hitung ekonominya. Naluri Investor akan mengatakan kalau ada margin dan aman bussinesnya kenapa tidak.

Nah, kalau saja yang diuraikan Om Birean yang sudah berpengalaman di dunia geothermal ini dipalikasikan, tentusaja geothermal tidak harus dengan skala besar. Tidak harus perusahaan besar yang menimbulkan konflik terlalu rumit.

Apakah Pak Menteri ESDM yang baru bisa mengakomodir pemikiran paraktis seperti ini ?

1 COMMENT

  1. Pakde,,,, di PLTP Mataloko Ada Blow Out lho,,,,,, Lumpur Alterasi Kalau Gak salah,ikutan keluar … volumenya banyak,,,,,,,,,, bukan dikit, dan kayaknya blowoutnya udah masuk ke sesar2 kecil sekitarnya, akibatnya terjadi luapan lumpur di perumahan warga, ladang2 milik warga,,,, menurut Pakde Gimana Tuh,,, pah itu normal? atau tidaknormal akibatkesalahan pemboran? Saya orang Mataloko Pake, mohon pencerahannya….

  2. saya yakin suatu saat nanti bahwa energi manas bumi akan menjadi sumber energi besar di masa masa yang akan datang ,

  3. Assalamualaikum,

    saya mahasiswa Geofisika Unhas nama saya Dermi Rahma Ayu,saya sangat interest untuk melakasnakan kerja peraktek mengenai geothermal di chevron geothermal Indonesia sangat berharap bimbingan dari bapak . mohon pencerahanya .

    sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas perhatian dan bantuanya,

    salam
    Dermi Rahma Ayu

  4. Ini kami sampaikan tulisan sedikit, mungkin bisa menambah wawasan.
    PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANASBUMI (PLTP) MIKRO INDONESIA

    PLTP di Indonesia hingga akhir tahun 2008 sudah dibangun tersebar dibeberapa lokasi dengan variasi daya antara 1 x 2 MW, 1 x 2,5 MW, 2 x 5 MW, 3 x 20 MW, 1 x 30 MW, 9 x 55 MW, 2 x 60 MW, 2 x 70 MW dan 1 x 110 MW, sehingga total PLTP yang sudah beroperasi mencapai sekitar 1.000 MW, dimana semua turbin yang terpasang berasal dari produk luar negeri yaitu dari Itali, Jepang, Perancis, Amerika dan China.
    Dari rencana pengembangan di tahun 2025 Pemerintah Indonesia sudah mentargetkan pemanfaatan panasbumi menjadi tenaga listrik bisa mencapai 9.500 MW. Target tersebut cukup realistik karena Wilayah Republik Indonesia yang dilalui oleh 3 jalur vulkanik, kaya akan potensi sumber panasbuminya. Hasil survai yang telah dilakukan menyebutkan bahwa daerah panasbumi yang proven untuk bisa dikembangkan tidak kurang dari 20.000 MW, dan nampaknya potensi panasbumi tersebut merupakan potensi terbesar di dunia.
    Pada tahun 2004 di Dieng telah berhasil melakukan uji coba pembuatan turbin PLTP Mikro dengan ukuran daya 10 KW dengan menggunakan uap dari sumur panasbumi yang tidak diproduksikan karena tekanan dan flow nya rendah (tekanan <1 barg dan flownya < 0.5 kg/dt). Turbin tersebut didesain dengan tipe “hero” (bladeless), dibuat di workshop Dieng, dengan bahan stainless steel, sehingga sesuai dengan sifat uap yang korosif. Turbin tersebut mampu diuji selama 2 tahun nonstop tanpa berhenti untuk menerangi lokasi disekitar sumur tersebut, sekaligus berfungsi sebagai model yang bisa ditonton oleh pengunjung yang datang berrekreasi dan nonton sejarah panasbumi Dieng di Vulcano Theater yang dibangun sebagai sarana wisata oleh Pemkab Wonosobo.
    Turbin kedua juga telah dibangun dengan ukuran dan kapasitasnya lebih besar dengan daya teoritis sekitar 174 HP telah dicoba dan mampu memutarkan pompa injeksi “brine”. (brine adalah air panas yang dipisahkan dari fluida panasbumi yang keluar dari sumur panasbumi). Uniknya, uap pemutar turbine tersebut berasal dari ekstraksi panas dari brine menjadi uap (proses second flash), sehingga tidak menggunakan uap primer dari sumur. Dengan cara ini maka untuk mereinjeksi brine tidak harus menggunakan pompa diesel, yang membutuhkan bahan bakar solar yang harganya cukup tinggi karena menggunakan tarif industri.
    Uji operasional dari turbin ini hanya beberapa bulan saja karena barang tersebut tidak bisa masuk dalam asset yang bisa dibiayai pemeliharaannya dengan dana rutin operasional. Memang hal tersebut menjadi ironis, sepihak peralatan tersebut sangat bisa menghemat pengeluaran perusahaan, dan merupakan karya inovasi yang sangat baik, namun dilain pihak menjadi rancu bagaimana mempertahankan keberadaan karya inovasi tersebut.
    Kondisi – kondisi tersebut tidak membuat surutnya semangat si perancang & pembuat turbin tersebut, walau sudah menjalani masa pensiun, semangat mengembangkan produk dalam negeri untuk pemberdayaan panasbumi terus menggelora, satu Unit Turbin dengan daya 10 KW dibuatnya lagi, kali ini bukan tipe Hero, tapi tipe “Lugjstroom – radial inflow”. Pemilihan tipe tersebut diperoleh dari data uji yang menunjukkan bahwa tipe ini lebih efisien dan lebih handal dibanding dengan tipe hero, si perancang tidak membuat desain dan fabrikasi dengan tipe turbin aksial karena untuk ukuran kecil dinilai lebih mahal, namun untuk turbin dengan daya diatas 200 KW sebaiknya menggunakan tipe aksial.
    Kali ini turbin tersebut “disumbangkan” ke lapangan panasbumi Mataloko, untuk memanfaatkan sumur Mataloko 2 (MT2) dimana sumur tersebut adalah sumur eksplorasi yang dangkal (hanya memiliki kedalaman sekitar 162 meter) dengan tekanan kepala sumur saat tertutup sekitar 5 barg. Untuk memutarkan turbin 10 KW uapnya memang masih berlebih, namun iktikad menyumbangkan turbin tersebut semata – mata karena ada 3 tujuan yakni :
    • Memanfaatkan uap dari sumur eksplorasi
    • Menerangi sekitar lapangan uap dan daerah sekitar
    • Menguji kehandalan turbin buatan lokal.

    Dengan berhasilnya pemasangan turbin uap PLTP Mikro tersebut maka dilanjutkan dengan pembuatan unit yang lebih besar dengan kapasitas 100 kW dengan maksud untuk memaksimalkan uap yang ada. Walaupun uap yang berasal dari MT2 kurang mencukupi untuk memutar turbin 100 kW tersebut, namun hasil uji beban pada turbin tersebut telah dilakukan dan mampu beroperasi lebih dari 100 kW dengan beban sinkron ke jaringan PLN.
    Saat ini PLTP Mikro 100 kW dioperasikan secara off grid untuk menerangi Kampung Mana, penerangan komplek dan kantor PLN PLTP Mataloko, dan saat ini sedang dikaji untuk disambung langsung ke Gardu Golewa 2, agar bisa dibebani sekitar 100 kW.
    Turbin 100 KW tersebut didesain dengan sistem radial inflow back pressure, diputar oleh uap panasbumi dengan tekanan masuk hanya 2.5 barg atau sekitar 3.4 barabs dengan jumlah uap sekitar 2.5 ton/jam, dengan putaran 5.000 rpm. Bisa disinkrone ke jaringan PLN secara otomatik, atau manual, pengendali beban adalah menggunakan sistem dummy load. Putaran generator 1500 rpm dengan tegangan 380 volt dan frekuensi 50 Hertz. Pada sistem proteksi dilengkapi dengan overspeed trip, emergency trip button dan proteksi – proteksi lain yang ditujukan untuk pengamanan peralatan mekanik maupun elektrik.
    Semua peralatan turbine buatan lokal dengan material yang sesuai untuk fluida panasbumi, demikian pula sistem kontrolnya, sedangkan untuk generator menggunakan produk Stamford yang sudah di assembiling di Indonesia. Kalau pekerjaan sipil sudah bisa dilakukan secara lokal sebesar 100 %.
    Saat ini sedang melakukan rancang bangun bersama sama para ahli dari UGM, berupa 1 Unit PLTP dengan kapasitas 1 MW dengan tipe aksial, Condensing. Turbin ini sebenarnya sangat cocok untuk sumur eksplorasi yang memiliki tekanan 4 barg dengan flow sekitar 9 ton/jam seperti yang dimiliki oleh sumur eksplorasi Ulubelu di Lampung yang telah di bor oleh Pertamina. Namun bila tidak ada akses untuk membangun kesana, maka desain ini hanya bersifat paperwork saja. Dari pengamatan fasilitas workshop yang ada di Indonesia maka rancangan tersebut nantinya bisa seluruhnya di fabrikasi di dalam negeri.

    Pengembangan PLTP Mikro sangat prospek karena :

     Dapat memanfaatkan uap dari sumur eksplorasi dan atau sumur pengembangan pra produksi atau sumur yang belum termanfaatkan, dan memanfaatkan ekstraksi buangan panas dari brine dll.
     Produksi listriknya bisa digunakan untuk pemakaian sendiri (own use) baik untuk perkantoran, power construction, community development atau industri kecil disekitarnya.
     Bisa di salurkan ke jaringan PLN untuk meningkatkan kehandalan listrik PLN atau beroperasi secara off grid.
     Sebagai sarana pengujian kehandalan sumur – sumur produksi, sambil menunggu persiapan pembangunan PLTP skala besar.
     Sebagai lapangan studi untuk kemajuan industri dalam negeri dan memajukan kemampuan bangsa Indonesia.
     Bisa dibangun pada workshop kelas menengah keatas.
    Potensi kendala yang ada untuk pengembangan PLTP Mikro :
    • Birokrasi : kendala ini menyangkut perijinan lokasi, karena pada umumnya untuk pengembangan PLTP skala kecil hanya bisa melalui Lapangan panasbumi yang sudah dikembangkan, artinya tidak bisa mengebor sendiri. Untuk masuk ke lokasi yang sudah dikembangkan apalagi telah ada PTLP skala besar, maka pengembangan skala kecil tidak menarik lagi, dan akan muncul alasan bahwa skala kecil kurang profit bahkan bisa mengganggu operasional yang skala besar.
    • Kepercayaan : Pemakaian produk dalam negeri, sebagian besar pengguna di negeri sendiri masih belum percaya sepenuhnya pada produk dalam negeri, walaupun sudah ada Kepmen yang mensyaratkan jumlah kandungan lokal, namun pada umumnya hingga saat ini masih percaya dengan produk import (seperti yang tersurat pada alinea pembuka)
    • Permodalan : faktor modal menjadi salah satu bentuk kendala yang lain, sehingga eksperimen untuk meningkatkan inovasi akan terhambat.
    • Fasilitas : fasilitas workshop, khususnya sarana pengecoran casing dari steel casting di Indonesia sangat langka khususnya untuk casing turbine 2.5 MW keatas.

    Dengan berhasilnya uji operasional beberapa turbin PLTP Mikro 10 dan 100 KW yang 100% buatan dalam negeri, harapannya adalah bahwa Pemerintah dapat terus mendukung dalam mengembangkan produk lokal, dan turbin–turbin tersebut bisa dijadikan embrio untuk terus dikembangkan menjadi produk turbin yang lebih besar, dimana di Indonesia banyak sekali turbin-turbin uap baik uap dari panasbumi atau uap yang dihasilkan dari ketel (boiler) yang semakin kedepan akan semakin bertambah kebutuhannya.

    PLTP MIKRO 100 KW DI MATALOKO

    Disusun oleh Masjhuri – Jl. Karawitan 28 Bandung – 0811203044

  5. Kangmas, maaf ini pendatang baru, jadi agak banyak komentar. Mau tanya kenapa cerita yang sudah sudah, adakah cerita yang baru? bukan kempa tapi askes? gimana ya, bagus ditunggu tanggapannya

  6. Kang. Panas bumi kita yang di Kamojang, Dieng (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat) apa sudah Operasi menghasil kan tenaga listrik? Mungkin PLN tidak mengetahui panas bumi kapan habisnya, takut investasi mahal kena lahar dan biaya perawatan mahal karena uapnya mengandung belerang, kalau pakai minyak kan dapat diminum ramai-ramia? Ini bukan nuduh tapi sudah kejadian minyak nya diminum.

Leave a Reply