Mengapa banyak gempa terlupakan ?

0
PANIK !
Munyuk panik, sumber ga tau

Tadi pagi ada email keheranan dari Komo yang isinya pendek seperti dibawah ini :

2009/10/26 Sulastama Raharja <[email protected]>

Pagi-pagi iseng googling, nemu link ini http://earthquake.usgs.gov/regional/world/historical_country.php#indonesia
Berdasarkan link itu, ada 23 gempa besar yang tercatat sejak tahun 2000 di Indonesia.. atau kira2 2 gempa/ tahun, jumlah yang relatif besar. Sering juga ternyata ya?

Si Komo sepertinya heran, mengapa gempa-gempa besar ini tidak mudah diingat ? Bahkan terkesan masyarakat itu cuek terhadap gempa-gempe ini sebelumnya. Tapi akhir-akhir ini banyak sekali yang perhatian pada gempa malah banyak yang bikin panik.

Kriteria gempa besar yang dikenal masyarakat saat ini adalah skala energi yang menggunakan skala SR (Skala Richter). Skala ini sebenernya bukan kriteria yang lebih berarti pada sistem memory di masyarakat Indonesia. Mereka (masyarakat awam) saat ini sudah mulai pandai mengamati gempa-gempa disekitarnya. Mengamati ancaman bahaya yg ada disekelilingnya, namun masih terpesona dengan angka SR atau skala Magnitude (MW) yang sering disitir oleh para ahli gempa.

Coba tengok …
gempa yang seperti apa yang mudah diingat manusia ?

GEMPA YANG MENELAN KORBAN !!!

Perlu bahasa bumi, bukan “bahasa dewa”

SR_Fatalities
Jumlah korban (meninggal) dan besar kekuatan gempa di Indonesia, (2000-2009)

Gambar diatas menunjukkan hubungan antara besarnya magnitude gempa dengan jumlah korban meninggal di Indonesia sejak tahun 2000- hingga 2009. Terlihat bahwa tidak ada korelasi antara besaran gempa dengan jumlah korban yang meninggal.

Bahasa langit dan bahasa bumi

Kelemahan scientist dalam mengungkap gempa untuk kebutuhan mitigasi dan terutama misi penyelamatan adalah pengungkapan yang terlalu ilmiah tetapi tidak membumi. Itulah sebabnya saya lebih sering melihat sakala MMI yang “dirasakan” manusia, bukan skala yang “dirasakan” alat untuk kebutuhan ilmuwan. Pemikiran ini yang saya tuliskan ketika gempa Padang terjadi pada tanggal 30 September 2009 lalu. Bahkan Mas Komo sendiri sebenernya yang memberitahukan bahwa Riau bergetar waktu gempa Padang itu. Namun pemikiran saya bukan ke Riau tentu saja. Karena setelah melihat pusat gempa justru lebih dekat dengan Padang dan skala MMI getarannya jauuh lebih besar disana.

Saintis saat ini semestinya sudah harus masuk kedalam siklus penjelasan yang lebih membumi. Dahulu kala manusia sangat mengagungkan pemikiran ilmiah dengan otak, dengan alat dan perhitungan menggunakan bahasa “dewa“.¬†Penjelasan dengan bahasa ndeso harus dimulai. Scientist dituntut mengerti bahasa gaul. Bukan menggunakan istilah tehnis yang berasal dari bahasa latin seperti nama-nama genus dan species lagi.

ūüôĀ “Pakdhe, katanya si Gembul kucing lutju itu bisa mengenali tanda-tanda gempa ya ? Atau mungkin kita harus tahu bahasa kucing ya ?”

Namun kehebatan saintist ini jugalah yang menjadikan masayarakat sangat “ngeh” dengan Skala Richter. Namun sayangnya masyarakat menjadi lupa apa bahaya yg mengancamnya. Bukan angka SR tetapi angka MMI lah yang mengancam jiwanya. Dan juga banyak yang lupa bahwa gempa itu bukan pembunuh. Bangunan buatannya lah yang lebih mengancam jiwa raga dan harta bendanya.

Dibawah ini gempa di Indonesia (sumber USGS) inipun tidak menyebutkan seberapa besar skala MMI yang dialami di permukaan.

2009 09 30 – Southern Sumatra, Indonesia – M 7.6 Fatalities 770
1917 01 20 РBali, Indonesia Fatalities 1,500
1938 02 01 – Banda Sea, Indonesia – M 8.5
1965 01 24 – Sanana, Indonesia (Ceram Sea) – M 7.6 Fatalities 71
1976 06 25 РPapua, Indonesia РM 7.1 Fatalities 5,000
1992 12 12 РFlores Region, Indonesia РM 7.8 Fatalities 2,500
2000 06 04 РSouthern Sumatera, Indonesia РM 7.9 Fatalities 103
2002 10 10 РIrian Jaya, Indonesia РM 7.6 Fatalities 8
2002 11 02 РNorthern Sumatera, Indonesia РM 7.4 Fatalities 3
2003 05 26 РHalmahera, Indonesia РM 7.0 Fatalities 1
2004 01 28 – Seram, Indonesia – M 6.7
2004 02 05 РIrian Jaya, Indonesia РM 7.0 Fatalities 37
2004 02 07 – Irian Jaya, Indonesia – M 7.3
2004 07 25 – Southern Sumatra, Indonesia – M 7.3
2004 11 11 РKepulauan Alor, Indonesia РM 7.5 Fatalities 34
2004 11 26 РPapua, Indonesia РM 7.1 Fatalities 32
2004 12 26 РSumatra-Andaman Islands РM 9.1 Fatalities 227,898
2005 01 01 – Off the West Coast of Northern Sumatra – M 6.7
2005 02 19 – Sulawesi, Indonesia – M 6.5
2005 02 26 – Simeulue, Indonesia – M 6.8
2005 03 02 – Banda Sea – M 7.1
2005 03 28 РNorthern Sumatra, Indonesia РM 8.6 Fatalities 1,313
2005 04 10 – Kepulauan Mentawai Region, Indonesia – M 6.7
2005 05 14 – Nias Region, Indonesia – M 6.7
2005 05 19 – Nias Region, Indonesia – M 6.9
2005 07 05 – Nias Region, Indonesia – M 6.7
2005 11 19 – Simeulue, Indonesia – M 6.5
2006 01 27 – Banda Sea – M 7.6
2006 03 14 РSeram, Indonesia РM 6.7 Fatalities 4
2006 05 16 – Nias Region, Indonesia – M 6.8
2006 05 26 – Java, Indonesia – M 6.3 Fatalities 5,749
2006 07 17 РSouth of Java, Indonesia РM 7.7 Fatalities 730
2007 01 21 РMolucca Sea РM 7.5 Fatalities 4
2007 03 06 РSouthern Sumatra, Indonesia РM 6.4 Fatalities 67
2007 07 26 – Molucca Sea – M 6.9
2007 08 08 – Java, Indonesia – M 7.5
2007 09 12 РSouthern Sumatra, Indonesia РM 8.5 Fatalities 25
2007 09 12 – Kepulauan Mentawai region, Indonesia – M 7.9
2007 09 20 – Southern Sumatra, Indonesia – M 6.7
2007 10 24 – Southern Sumatra, Indonesia – M 6.8
2007 11 25 – Sumbawa Region, Indonesia – M 6.5 Fatalities 3
2008 02 20 РSimeulue, Indonesia РM 7.4 Fatalities 3
2008 02 25 – Kepulauan Mentawai region, Indonesia – M 7.2
2008 11 16 РMinahasa, Sulawesi, Indonesia РM 7.4 Fatalities 6
2009 01 03 РNear the North Coast of Papua, Indonesia РM 7.6 Fatalities 5
2009 01 03 – Near the North Coast of Papua, Indonesia – M 7.4
2009 02 11 – Kepulauan Talaud, Indonesia – M 7.2
2009 09 02 РJava, Indonesia РM 7.0 Fatalities 72

Bacaan terkait

1 COMMENT

  1. Pak De, mestinya ditampilkan juga gempa2 besar sumatra dengan pasangannya yakni shakemap nya. Disana akan tampak shakemap sama tapi jumlah korbannya tidak sama. Ini yang saya maksud. Karena pembuatan shakemap dasarnya mag dan jarak.
    Salam waspadalah dan salam luar biasa.

  2. Yth. Pakde,
    Maaf lho, Pakde! Komentar saya nggak berhubungan langsung dengan gempa tapi dengan lempeng bumi.
    Saya tidak belajar geologi tapi cuma baca “Krakatau”-nya Simon Winchester (terjemahannya). Yang menarik, adanya perbedaan yang sangat mencolok antara Bali vs Lombok (bahkan hingga pada biota hidup diatasnya) akibat perbedaan ‘sejarah’ lempeng pembentuk kedua pulau tersebut. Kalo saja lempeng tersebut asalnya berjauhan (dibuktikan dengan perbedaan biota) kemudian mendekat, apakah berarti akan semakin mendekat dan tabrakan? Kenapa, rasanya tidak pernah dengar/lihat, tidak masuk peta zona tabrakan (subduksi) plate yang dapat mengakibatkan gempa? (yang pasti bukan mengharapkan adanya gempa besar lho!)
    Makasih, Pakde!

  3. Dengan frekuensi gempa seperti saat ini, sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih terhadap masalah kegempaan ini, bukan hanya tergopoh-gopoh setelah gempa terjadi, namun tak kalah penting untuk melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan menghadapi gempa. Mengedukasi masyarakat, mendokumentasikan sejarah kegempaan, membuat standart dan contoh bangunan tahan gempa dsbnya….

    http://jogjaquake.wordpress.com

  4. Salam geologi…
    Historia panta rei… sejarah akan selalu berulang. Mungkin itu jugalah yang mendasari bahwa gempa pun bisa DIPREDIKSI seakurat mungkin. Sesuatu yang selalu `ditakuti` para ahli geologi untuk membuktikannya. Dan, akhirnya korban pun terus berjatuhan…..

  5. pak dhe, kok pertanyaane ndak dijawab. itu lho, apa bener si gembul bisa mengenali tanda2 gempa ? saya pny 2 kucing imut. yang satu hiperaktif, yang satu autis. nha… mengingat 2 kapasitas mereka, sy kok ragu mrk bakal bisa mengenali tanda2 kalo mau ada gempa. hawong kmrn waktu hjn deres dan tiba2 ada bledheg buantur we, yg agak atis cuek2 saja. masi meneruskan makan malamnya dengan nikmat, sementara juragane dan si hipeeraktif njondil ra keruan ūüôā

    Memang bener binatang (termasuk kucing dan anjing) dapat mengetahui eh merasakan tanda-tanda akan terjadinya gempa atau bencana. Namun menurut penelitian yang saya baca, ini biasanya tidak hanya satu kucing saja, tetapi dirasakan oleh komunitas kucing. Barangkali saja mereka saling memberitahu ūüôā Hanya saja pengamatan ini seringkali meleset karena kita juga ngga tahu “bahasa” kucing. Wektu gempa kemarin, gembul dirumah malah tertidur ūüôā

    Jadikan aku temenmu ! http://www.facebook.com/gembul.mukiyo

  6. lha itu salahnya, kalau ahli ngomong pakai bahasa ndeso sering gak diakui kepakarannya kok. Coba yang sedang ribut para guru, mau dapat kenaikan pendapatan harus sertifikasi dengan ngupulkan macem-mecem piagam yang memperolehnya harus dengan bahasa hali to pakde.

Leave a Reply