Semburan Gas-Lumpur di Serang

0
Sumber Gambar Okezone
Sumber Gambar Okezone

Barangkali ada yang mendengar ada berita semburan lumpur dengan gas di Serang, Banten. Memang tidak terlalu merisaukan dibanding Lusi, tetapi kita perlu tahu apa yang terjadi, kan ?

šŸ™ “Lah hiya Pakdhe. Kalau ndak cepet tanggap nanti dipolitisir jadi bahan kampanye malah runyem”

Dibawah ini uraianĀ Pak Andang Bachtiar (mantanĀ ketua IAGI) yang memberikan uraiannya lewat mailing list kepada kawan-kawanĀ Geologi.

Ā Begini kata Pak Andang … Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi yang membaca. Saya coba tampilkan 3 gambar yang menjelaskan apa yang kemungkinan terjadi dengan pemboran air di Walikukun, Carenang, Serang Banten yg akhirnya hari Sabtu yg lalu mengeluarkan gas dan lumpur sampai sekarang (lihat berita terlampir).

Serang_1_fbLokasi Kampung Astana Anyar tersebut di peta geologi terletak di daerah dataran alluvial Sungai Ciujung – Cidurian, yaitu sungai2 Holocene yang mengalir selatan utara dr daerah tinggian gunung api Jawa Barat ke arah pantai utara Jawa. Selain itu dari setting tektoniknya, dia juga berada di daerah Tinggian Tangerang yang di beberapa literatur juga disebut menerus dengan Platform Seribu di utaranya. Di bagian timurnya kita dapati Ciputat Low dan di Selatannya kita dapati Rangkas Low. Sungai Ciujung sendiri kemungkinan dikontrol oleh pola bidang lemah kelurusan patahan utara-selatan yang menjadi ciri khas pola cekungan di daerah tersebut.

Sumur2 yang pernah dibor di sekitar daerah ini adalah Cileles-1, Rangkasbitung-1, dan Tangerang-1 di selatan dan tenggara daerah “rembesan” gas-lumpur Serang ini. Cileles punya oil/gas show, sementara Rangkasbitung-1 dan Tangerang-1 laporannya dry hole saja. Tangerang-1 (dan Rangkasbitung-1 juga) dibor di daerah yang dianggap tinggian, walaupun delineasinya masih masuk di dalam bagian tepi dari cekungan NWJava Basin. Di sebelah barat dari lokasi Gas-Mudflow Serang juga didapatkan data rembesan minyak dari data Belanda (didaptkan waktu survey permukaan Pertamina-Repsol tahun 90-an). Meskipun di daerah tinggian, besar kemungkinan rembesan2 minyak (seperti yang dilaporkan oleh Belanda tersebut) juga menggejala di sekitar daerah Tangerang High- Seribu Platform ini. Artinya, komponen petroleum system: SR, maturity, migrasi ===> semuanya sudah terpenuhi. Tinggal dicari reservoir, seal dan trapping nya yang suitable, apakah ada di daerah tersebut?

Ā 

Serang_2_fb

Pemboran air yang akhirnya mengeluarkan gas dan lumpur di Serang ini nampaknya kemungkinan bisa berasal dari dua sumber: 1) dari lapisan alluvial Ciujung Holocene yang kemungkinan merupakan gas rawa biogenic yang diakibatkan oleh proses fermentasi suhu rendah tapi kaya organik dan kondisi reduksi,.. dan kemungkinan no 2) dari lapisan Parigi Limestone yang mengandung isi BIOGENIC GAS seperti yang didapatkan di lapangan2 BP di offshore. Di daerah tinggian Tanggerang – Seribu Platform ini begitu anda mengebor permukaannya maka dibawah alluvial akan anda temukan lempung tebal Formasi Cisubuh yang merupakan batuan penutup yang ideal. Masalahnya adalah: seberapa tebal alluvial recent-nya? Apakah 30-40 meter sudah habis alluvial Ciujungnya, kemudian langsung masuk ke lempung Cisubuh s/d 70 meter kemudian di 70 meter menembus Gamping Parigi yang berisi Gas Biogenic? Kalau memang begitu kasusnya maka gas yang sekarang keluar akan terus menerus keluar karena resourcesnya akan jauh lebih besar dari sekedar gas rawa endapan alluvial biasa yang dalam 1-2 minggupun kemungkinan akan depleted. Apalagi kemungkinan adanya tekanan yang direpresentasikan dengan tingginya semburan s/d 15 meter kemudian terjadi intermittent variation dari tinggi semburan, kesemuanya mengindikasikan adanya sistim tekanan yang kemungkinan lebih besar daripada sekedar tekanan fasa gas di sistim terbuka gas rawa alluvial,… itu lebih mengindikasikan sisstim tekanan tertutup dari reservoir Parigi.

Serang_3_fb

Ā 

Dua-dua alternatif interpretasi sama-sama mengindikasikan biogenic gas, bedanya adalah: kalau berasal dari alluvial, maka sistem tekanannya akan ringan (terbuka, cepat habis),…sementara kalau berasal dari Parigi, maka sistim tekanannya tinggi, tertutup dan akan long-lasting. Bisa jadi lubang akan bertambah besar untuk mengkompensasi sistim tekanan yang besar tersebut.

Apakah kasus bawah permukaannya sama dengan Lumpur Sidoardjo? Less likely. Kalau di luSi, kita berhadapan dengan mud-diapir,… ada lapisan lempung/lumpur tekanan tinggi Kalibeng Atas yang terus menerus aktif mengeluarkan lumpur ke permukaan. Sementara itu di Serang sini, tidak pernah tercatat analogi Cisubuh sebagai overpressure shale yang significant apalagi mud-diapir. Jadi,.. kemungkinan lumpur yang keluar merupakan hasil penggerusan dari lempung Cisubuh oleh gas dan air yang berasal dari Parigi Formation. Skenario hipotesis ini semua masih perlu dibuktikan dengan analisis lumpur (umur, kematangan, komposisi dsb), analisis air (asin tidaknya, dsb), dan tentunya analisis gas dan batuan lain yg keluar dr semburan (kalau2 memang ada bongkah gamping di dalamnya kemungkinan Parigi terlibat).

Apapun penyebabnya, semburan tersebut harus ditutup untuk menyelmatkan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Memang masih belum terbayang efeknya akan sebesar daerah Banjar Panji, akrena tipenya juga berbeda dan kedalamannya berbeda, tetapi bukan berarti kita bisa santai2 saja. TUTUP segera!!! Tentunya dengan menggunakan metodologi dan peralatan yang sesuai kaedah2 keteknikan di Oil&Gas. Pertamina punya operasi di daerah Bekasi. CNOOC dan BP juga punya daerah operasi berdekatan di offshore daerah tersebut. Mudah2an lewat BPMigas – ESDM Pusat dan ESDM Provinsi bisa diusahakan untuk membantu masyarakat disana segera menangani semburan tersebut dengan menutupnya. Mumpung baru 3 hari.

Lebih cepat ditangani lebih baik. Jangan hanya dijadikan komoditi perdebatan politik dan unjuk janji. Yang urusan di Porong saja belum selesai-selesai,…. jangan lagilah di Serang ini dijadikan ajang pertunjukan semata. Kasusnya mungkin ada kemiripan dengan yang di KalSel 2 tahun yg lalu. Yang jelas, dalam hal ini tidak ada E&P Company yang terlibat seperti di Lengowangi (Petrochina), SumSel (Pertamina) == yang keduanya berhasil dijinakkan, dan di Porong (Lapindo) == yang masih berlangsung ….. Dan yang jelas, gak mungkinlah selesai hanya dengan ngejar2 kumpeni yang ngebor air untuk bertanggung-jawab. Semua pihak yang concern harus terlibat.

Salam

ADB

1 COMMENT

  1. pakde, untuk kedepan sepertinya perlu dicari metode geofisika yang murah dan praktis untuk mendeteksi shallow deep gas kayak gini, agar pmboran air bisa lebih aman…
    kira2 metode apa ya pakdhe?
    matur nuwun….

  2. Bos,udah dapat dokumen rahasia Medco soal Lapindo belum? Tolong deh dianalisa.Beritanya ada di bawah ini.

    Aljazeera Publikasikan Dokumen Rahasia PT. Medco Soal Lapindo

    SatuDunia, Jakarta. Dokumen soal Lapindo yang yang pernah dinyatakan rahasia kini muncul di website Aljazeera. Dokumen itu ditujukan untuk kepentingan PT.Medco Energi sebagai salah satu pihak yang pernah terkait dengan pengeboran di Banjar Panji-1. Akankah dokumen ini akan memukul PT. Lapindo Brantas?

    Sumber: http://satudunia.net/?q=content/aljazeera-publikasikan-dokumen-rahasia-pt-medco-soal-lapindo

  3. Permasalahannya semoga cepat teratasi. Kejadian ini untuk menambah pengalaman para ahli geologi dan ahli lainnya yang berkaitan.
    Saya mengimbau para ahli jangan menganalisa sesudah kejadian tetapi lakukan penelitian terlebih dahulu (geofisika) dilanjutkan dengan menganalisa, jangan dibalik !!! apajadinya dunia ini bila diputar balik.
    Gituh ajah repot

  4. Permasalahannya semoga cepat teratasi. Kejadian ini untuk menambah pengalaman para ahli geologi dan ahli lainnya yang berkaitan.
    Saya mengimbau para ahli jangan menganalisa sesudah kejadian tetapi lakukan penelitian terlebih dahulu dilanjutkan dengan menganalisa, jangan dibalik !!! apajadinya dunia ini bila diputar balik.
    Gituh ajah repot

  5. Dari Diskusi Ilmiah Pengda IAGI JABAR Banten

    Dihadiri 108 orang, dibuka oleh ketua IAGI Pengda Jabar-Banten pak Ade Jumarma dengan disaksikan oleh ketua dan Sekjen IAGI, sesepuh IAGI dan wakil-wakil dari berbagai institusi. Diskusi ini berlangsung meriah dan sangat menarik.

    Diawali oleh Pak Budi Priyatna, seorang geologis yang dipercaya menjadi ketua Bapeda Banten, Tim Badan Geologi (Pak Zaenudin, Pak Rum Budi dan Pak Indra Badri) yang dipresentasikan oleh pak Zaenudin dan diakhiri oleh presentasi dari Pak Hendarmawan (UNPAD) serta Pak Lambok Hutasoit (ITB)

    Beberapa masalah yang menjadi bahan diskusi :

    1. Penyebab semburan : semua pembicara setuju bahwa adanya kandungan gas merupakan penyebab utama tingginya semburan.

    2. Asal air semburan : Ini terbagi menjadi beberapa pendapat; air meteorit, air konat atau campuran dari keduanya, perdebatan berlangsung menarik dengan menggunakan data kimia airtanah sebagai bahan diskusi.

    3. Asal gas semburan : Kesimpulan dari tim Badan geologi yang mengindikasikan bahwa gas ini berasal dari aktifitas vulkanik menjadi bahan diskusi yang menarik dikarenakan adanya perbedaan kompisisi gas dengan kondisi sumur-sumur sejenis di daerah sekitar (yang juga mengeluarkan semburan gas dan air pada saat pengeborannya, sebagian baru berhenti setelah > 9 bulan dan ada juga yang masih aktif hingga saat ini). Permasalahan yang lain adalah jenis gas pada lokasi yang baru ini, karena bertemperatur rendah dan periode semburan yang tidak konstan.

    4. Asal lumpur semburan: Inipun terbagi menjadi beberapa pendapat, data yang digunakan sebagai bahan diskusi adalah data fosil pada lumpur semburan.

    5. Upaya saat ini : Berbagai kemungkinan untuk pencegahan dan pengelolaan semburan air mengemuka dalam diskusi ini. Banyak yang berpendapat agar sumur ini tidak ditutup dan dimonitor sebagai bahan kajian ilmiah pola hidrogeologi daerah ini serta upaya menjadikannya sebagai salahsatu daya tarik geowisata. Dalam hal pemanfaatan, diperlukan pengamatan mengenai kualitas airtanah secara menerus terlebih dahulu.

    Untuk pencegahan, perlunya suatu kajian mengenai standarisasi SOP pemboran airtanah serta mulai dikenalkannya model blow out preventer (BOP) dalam pemboran airtanah di wilayah yang memiliki resiko kandungan gas seperti wilayah ini

    Sebagai penutup yang disarikan oleh ketua Pengda adalah sebagai berikut:


    Perlunya mengetahui sumber dari gas tersebut, hal ini merupakan suatu bahan yang menarik untuk dikaji

    Perlu monitoring untuk mengkaji apa
    yang harus dilakukan serta perlunya sosialisasi antara para ahli kebumian dengan Pemda dan pengusaha pemboran airtanah.

    Perlu
    pemahaman menyeluruh mengenai perundangan dan peraturan teknis dalam pengelolaan airtanah.

    Demikian sekilas pandangan mata dari Auditorium Museum Geologi Bandung pada hari Jumat, 10 April 2009 jam 14.30 – 17.30 WIB.

    Salam,
    Fajar (2448)

  6. Untuk menutup semburan di Serang cukup di dinamit di kedalaman tertentu sehingga lubangnya tertutup dengan sendirinya baru cari jalan untuk memblok saluran utamanya. Atau buat beton berbentuk gasing raksasa diangkat pake heli untuk membuntu semburan kemudian cari sumbernya. Kan gampang … jangan pake tenaga asing ,,, pake tenaga Indonesia kalau bisa !!!!.. bukannya segera mobilisasi untuk menyelesaikan tapi menyalahkan ?? apa mau tunggu seperti Lumpur di Sidoardjo. Rakyat harus selalu dilindungi maaaas..

  7. Makanya sekarang kalo mau ngebor tanah harus hati2, ngebor yg paling aman emang ngebor bareng istri di rumah,………pasti paling aman dech….heheheh

    salam

  8. emang yang ngebor nyari air udah berapa dalem? 3km ato 4km?(LuSi)
    300mtr aja udah dalem banget tuh bikin sumur air bor… apa nyampe segitu…

  9. sama seperti LuSi dulu, pas baru nyembur berbondong2 orang ingin liat keanehan semburan lumpur, kini setelah LuSi kian menggila orang kembali berbondong2, tpi dgn niat mengungsi šŸ™‚ lebih cepat lebih baik, kita menangani lumpur di Serang ataukah kita ingin menghadirkan LuSi Part 2 di Serang dgn tetap me-lanjut-kan semburan lumpur ini!

  10. Kalau ini ya lebih cepat lebih baik, setelah itu lanjutkan ! supaya tidak mengkhawatirkan demi rakyat banyak šŸ™‚

  11. Saya belum mendengar sudah sampai berapa kedalaman pengeborannya. Kalo memang hanya nyari “banyu” dan sudah ada data geofisikanya (geolistriknya), harusnya ini cuman sampe kedalaman aluvium saja (akuifer yang dituju). Jadi kayaknya saya setuju sama skenario pakdhe yang pertama (sistem tekanannya akan ringan, terbuka dan akan cepat habis).
    Klo memang itu shallow gas (biogenic gas), berarti bisa dimanfaatkan..

    Suwun pakdhe

Leave a Reply