Pak Boediono diperlukan dimana ?

0

raport_merah2Mungkin kita perlu tahu syapa dan bagaimana keahlian, paham serta pemikiran Budiono. Ini pemikiran pribadi dari tulisan lama (feb 2007) Tulisan disini http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=16091 ini menjadi bahan pergunjingan di beberapa mailist yang aku ikuti. Di tulisan itu menyebutkan Pak Boed ini berpaham NeoLiberal.

🙁 “Pakdhe, Neoliberal itu nama kue pa ?”
😀 “NeoLiberal, itu paham ekonomi yang menyerahkan menkanisme pasar sebagai penggerak roda ekonomi” 

Semua paham dan pola pemikiran diperlukan.

Pemikiran NeoLiberalisme ini barangkali yang bisa menjadi sumber dispute dalam perebutan koali dan kursi. Sangat perlu juga diketahui bahwa kita perlu pemikirannya. Dunia saat ini sangat kompleks dan kompliated. Segala ilmu dan paham diperlukan dan dipakai, setiap ekspertis harus dimiliki. Supaya kita tahu bagaimana musuh bergerak dan bermanuver.

Mungkin yang dipertanyakan apakah sesorang dengan keahlian seperti itu perlu duduk disitu untuk lima tahun kedepan? Ini jelas sumber dispute, bisa menjadi petaka ataupun berkah, kita ndak pernah tahu. Tinggal sekarang berani coba atau tidak ?

Kebetulan saja aku ini bawaan sejak lahir saya cenderung lebih sosialis (dari uji psikotest :). Distribusi lebih mendominasi pemikiranku ketimbang besar kecilnya kue yang akan dibagi. Nah kita tengok seperti apa yang Indonesia perlukan dalam 5 tahun kedepan.

Beberapa bulan lalu Indonesia telah diundang masuk G20 artinya memiliki pendapatan negara yang sahohah. Guedhe !! Kue Indonesia itu buesaaarrr banggget ! Semua juga tahu. Sumberdaya serta kerja kerasnya orang Indonesia tidak diragukan. Tetapi distribusinya amburadul. Kesenjangannya “nggilani”, perbedaaanya “ngaudibilah” ….yang lebih parah cara atau metode pembagiannya dengan cara yang kurang “etis”. Kuenya terbagi bukan karena kerja dan keringat. Tetapi kue gedhe itu terbagi dan terdistribusi dengan sogok sana sini, nyolong sana sini dsb. Corrupt rewarding (distribution) system !

Masalah pembagian kue.

Bukan soal ketersediaan barang tetapi bagaimana pemerataan pemanfaatan barang itu juga diperlukan. Pak Boed ini kelihatannya ahli membikin kue, tetapi beliau mungkin tidak ahli membagi kue. Setahuku kue di Indonesia ini saat ini sudah guedhe, sumberdaya alamnya sahohah. Yang menjadi permasalahan dalam negeri itu kan pembagiannya. Tugas Pak Boed di BI selama ini sudah bagus, Kue yang dibuatnya cukup lumayan. Nah, sekarang mari kita bagi kue ini dengan cara yang benar.

Yang saya ragu (khawatir) karena pak Boed mungkin akan membagi dengan cara neoliberal juga. Tulisan pak Faisal Basri tidak menyangsikan pribadinya. Clean. Tetapi pendapat Pak Revrisond Baswir tentang pemahaman NeoLib yang dianut Pak Boed ini yang lebih mengkhawatirkanku.

Perjalanan kedepan bisa-bisa rada riweh !

Kalau pendapat pribadi saya. Kalau emang nantinya SBY-Bud emang “JADI” tanpa dukungan koalisi partai yang erat, maka pergerakan pemerintahan didalam negeri mungkin akan terseok-seok dengan kemungkinan munculnya kontra oposisi yang terlalu kuat. Pengusaha mungkin tidak suka dengan kondisi amburadul, tetapi paham Pak Boed yang lebih cenderung membela pengusaha mungkin bisa meredam.

Pada saat pemilu mungkin rakyat akan tetap memilih SBY. Saya yakin elektabilitas SBY masih terlalu kuat dibanding calon lain. Tetapi ketika sudah duduk di singgasana, maka DPR dan politisilah yang akan menganggu jalannya pemerintahan. Dan disaat sulit itu nanti, rakyat sudah harus kembali ke meja kerjanya lagi. Swaranya akan tenggelam lagi. Swara oposisi dari DPR dan media menjadi lebih dominan. Padahal Wapres tidak seperti “sparepart” yang bisa dibongkar pasang dengan “resuffle”.

Tetapi dengan maju berpasangan dengan Pak Boed ini, SBY akan tampil all-out bahwa, “Ini lah aku yang aslinya“. Toh di tahun 2014 nanti sudah tidak nyalon lagi. Indonesia perlu perubahan !

Gut lak, Pak !

 

🙁 ” Pak Dhe,  Komentarnya menjadi lutju-lutju trutama argumentasinya. Mirip beli jam tangan. “Ini jam paling mutakhir, sangat bagus. Tahan kedalaman hingga 40 meter”.  Tapekno nek gak pernah nyelem ngge opo tuku jam kayak gitu. Yang penting nunjukin wektunya mblandang opo enggak, rak gitu.

😀 “Pak Budiyono ini orangnya baik hati, santun dan tidak nyolongan. Tapi sebagai wapres ya semua sifat itu mah kudu. yang perlu dipertanyakan benerkah pemikirannya liberal dan apakah memang itu yang paling diperlukan ?”

😀 “Thole, kalau terpaksa menjawab “iya” diantara calon lain “yang tidak-tidak”, ya piye maneh?”

1 COMMENT

  1. saya rasa Pak SBY memilih Pak Boediyono (ahli ekonomi yang diakui keberhasilannya) sebagai bentuk yang lebih spesifik bahwa dia akan lebih memperhatikan ekonomi rakyat 5 tahun ke depan daripada pasangan lain yang masih berupa janji dan konsep…

    salam kenal, kapan2 mampir y…:-)

  2. Yen ga seneng sm pak Boed yo ra usah milih,gampang to,ra usah ndadak menilai hal yg blm tentu benar,neng aku tetep milih pak Boed,ra urusan liyane he he..

  3. Sebagaimana diketahui, di depan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (19/6), Boediono menegaskan bahwa dirinya akan meneruskan kebijakan privatisasi aset-aset negara ke pihak asing. Alasannya, karena birokrasi kita tidak mampu mengelola aset negara secara efisien dan transparan.

    kalo pemerintahannya nggak efisien?… jual skalian aja…

  4. Pakdhe, semua rebutan “ekonomi kerakyatan” tapi mbuh nanti bagaimana hasilnya. Yang jelas saya mau nyontreng Oom saya, Prabowo, biar Malaysia gak berani macem2…(hiks 2x gak ada hubungannya!!!)

  5. saya mantap dengan SBY, yang dibutuhkan Indonesia adalah keberlanjutan. biarlah dia untuk terakhir kali, toh ada kontrol kuat dari DPR, mahasiswa, dan masyarakat….tidak ada yang menjamin bahwa ganti Presiden akan lebih baik. daripada membeli kucing dalam karung.suaranya kaya kucing, tapi isinya cuma tape recorder…
    tapi satu yang saya sangat kecewa, SEKOLAH MAHAL…semoga ada kebijakan yang lebih bijaksana.

  6. Pak Dhe Rovicky kebelet ndongeng politik juga rupanya. Ning nggih nuwun sewu Pak Dhe, saya tidak akan menjawab iya. Buat saya calon yang lain merupakan calon yang iya-iya kok, bukannya calon yang bukan-bukan.

    Rasio liberal – sosialis Pak Dhe 40 – 60 tapi Pak Dhe nampaknya bisa menerima stimulus ekonomi yang lebih dari 90% ternyata buat kapitalis, bukan buat rakyat kecil.

  7. klo di lihat dari job sebelumnya budiono,

    dy itu khan pimpinan BI,

    otomatis pimpinan BI itu benar2 paham tentang masalah ekonomi negara ini,
    tp dalam beberapa minggu ini bnyk yg menentang SBY krna telah memilih budi,

    d balik pemilihan budiono itu pasti SBY pnya alasan yg kuat,

    salah satu yg saya denger itu, alasan kenapa dy memilih budiono krna budi bkn salh satu dari pencalonan partai politik lain

  8. Agak sulit memang mencerna hal ini.. tapi bagaimanapun aku kurang setuju dengan neo-liberal.. setahuku Indonesia masih penuh dengan wong cilek dengan posisi pas-pasan.. dengan pasar terbatas dan segmen pas-pasan pula.. orang-orang pada posisi seperti ini yg akan tergerus pertama kali.. (eh udah tau ya?)

  9. Pak de, kadang dan sering diriku bingung tentang cara berfikir para politikus negeri ini… ah mboh lah ….

    Tapi pak de,… yang menarik dari tulisan ini adalah… ” …sakhoha…” diriku jadi teringat masa kecilku saat mendengar almarhum si Mbah ku kalo menyebut kata itu dengan semangat …. mmm….

  10. Saya kok menginginkan capres/wacapres yang mau membayar hutang bukan dari APBN tapi dari pajak judi(casino) dengan kata lain bersedia mengijinkan casino di Indonesia. Pajaknya (uang haram) untuk membayar hutang.>>> kalau anda ada pendapat tolong komentarnya, T.K.

  11. Saya kok lebih senang memilih “capres/cawapres” yang mau membayar hutang bukan dari APBN tapi dari pajak judi (casino) dengan kata lain bersedia mengijinkan casino dan pajaknya (uang haram) untuk membayar hutang L.N.
    Saya dengar Indonesia sudah mulai terlilit hutang jadi saya menyumbang salah satu jalan keluar.

  12. kok yang dikomentari pak SBY milih pak Budiono. pak JK milih wiranto dan bu mega milih prabowo apa udah cocok….. sepertinya pak SBY mau jadi lagi… kok protes pak SBY milih pak BUDIONO…. protes dong ma pak JK dan bu MEGA…..

  13. Untuk Bp/Mas Riwan,

    (saya copy-paste yang berikut ini)
    UGM dari dulu sampai sekarang selalu berpijak pada Ekonomi Kerakyatan. dibanding perguruan tinggi lain.

    Itu harus ada datanya juga lho, Mas. Mana tau ada yang kurang sepaham. Lagi pula, kalo emang UGM yang (paling – misalnya) berpijak pada ekonomi karakyatan, apa ya mesti seluruh warga (civitasnya) juga dijamin begitu pula adanya? Lha ini saya bukan sedang meragukan Bapak Boed, ya. Wong memang saya tu ndak kenal secara pribadi dengan belau. Begitu.

    Maturnuwun.

  14. nek aku, Pak Boediono ini tipikal orang yg bekerja dg hati dan tanpa pamrih (kata tanpa disini bila kita bandingkan dg mental pejabat2 sekarang, yg fully loaded dg pamrih).

    cerdas, hati-hati, lurus, bersih, dan sederhana.

    kapan lagi kita punya pemimpin seperti ini ?

    badingkan dg pilihan yg ada………

    atau ente2 nunggu ahmadinejad jadi WNI, bikin partai, di pemilu dapet 20% dan nyalon presiden RI ? 😀

  15. Kurang yakin kalau yang diamakan “Ekonomi Kerakyatan” an sich per definisi bisa dilakukan di Indonesia yang secara Moneter dan Ekonomi terimabs oleh Globalisasi. Wong kurang modal buat investatsi. Yang dibanggakan oleh orang2 itu adalah resources Negara yang belum menjadi reserves, untuk menjadikan Reserves pan perlu Investment. katanya nggak boleh pinjam…padahal selama 20 tauhun RAPBN selalu defisit…Tarohlah Geologist nemukan Resources 100 TCF gas di laut kedalaan 1000 meter misalnya. Biaya development dihitung 25 Milyard Dollar…mana duite ….Irak saja benci Amerika..untuk ngembangin lapangan baru sekitar Basra..ngundang jugas perusahaan Amerika…juga Iran sami mawon..Lybia…

  16. Emang lutju-lutju argumentasinya. Mirip beli jam tangan.

    “Ini jam paling mutakhir, sangat bagus. Tahan kedalaman hingga 40 meter”.
    Tapekno nek gak pernah nyelem ngge opo tuku jam kayak gitu. Yang penting nunjukin wektunya mblandang opo enggak, rak gitu.

    Pak Budiyono ini orangnya baik hati, santun dan tidak nyolongan. Tapi sebagai wapres ya semua sifat itu mah kudu. yang perlu dipertanyakan benerkah pemikirannya liberal dan apakah memang itu yang paling diperlukan ?

    Kalau terpaksa menjawab “iya” diantara calon “yang tidak-tidak”, ya piye maneh ….

  17. abis liat wawancaranya Rizal Ramli sdi Metro TV..
    agak terperangah dengan kata2nya..
    “Pemerintah kita mau ambil mudahnya saja. Main jual dan ngutang!!”

    apa memang selama ini kita membiayai negara dengan cara ini y? jual aset atau utang sana-sini. 🙁

  18. Setuju dengan saudara/i pia, sejak jaman kerajaan para pemimpin (raja) selalu minta upeti/pajak kepada rakyatnya. Penggungaan pungutan terserah pemimpin, rakyat hanya dapat melihat bahwa raja dan punggawanya hidup enak, kepenak, dan dikepenake. Masalah liberal atau sosialis bagi rakyat jelata gak penting. Aku sih mau pilih presiden yang benar-benar pro rakyat, semisal mau menuntaskan masalah rakyat korban Lapindo dengan sungguh2, sudah bertahun-tahun lebih mereka kapiran, kok ya pemimpinnya gak punya krentek menuntaskan, piye jal…….Siapa capres-cawapres yang katanya pro rakyat harus mau kontrak untuk menuntaskan kasus Lapindo dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bersama kemauan kita bisa!!!!

  19. Sebaik kita harus tahu ketokohan seseorang dulu sebelum memberi penilain. Reflesi juga perlu apakah kita juga sudah benar sehingga kita bisa memberi komentar kepada orang lain. Setahu saya Pak Boediono adalah orang yang berkompeten di bidangnya, Pribadi santun tidak pernah menjelekan orang lain. Selalu memberi teladan daripada memberi nasehat. Beliu berasal dari Universitas Gajah Mada pengajar fakultas ekonomi. UGM dari dulu sampai sekarang selalu berpijak pada Ekonomi Kerakyatan. dibanding perguruan tinggi lain.

  20. Yang saya yakin, wacana paham liberal ini akan menjadi issue paling hangat dalam sesi kampanye mendatang. Saya kira akan menjadi sebuah perdebatan bagus yang mendewasakan. Dan semoga akhirnya menjadi pertimbangan dalam kebijakan selanjutnya.

    Btw, karena saya juga bukan ekstrimist liberal maupun ekstrimist sosialis karena hanya 40-60. Dimata ekstrimis sosialis-pun saya termasuk liberal 🙁 Howgh !

  21. masalah neolib atau bukan, sebenarnya sadar g sadar kita para pemimpin2 dulu udah jadi “penjajah” bagi bangsanya sendiri…hanya ingin menyenangkan dan menguntungkan kelompoknya sndiri…:(

  22. Pakde Vicky, saya suka cara jenengan mancing emosi orang yang tertuang dalam berbagai pendapatnya. Ternyata seru juga kok, lebih seru dan kompleks ketimbang kondisi geologi karang sambung he..he..he…

  23. Masyarakat perlu diberitahu informasi yg seimbang,that’s all…Next,biarkan mrk memilih 🙂

    ———————————-
    Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal
    oleh Faisal Basri
    14 Mei 2009

    Saya pertama kali mengenal Pak Boed (Boediono) pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu diawali dengan kata “sinopsis”, ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

    Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan Ibu Megawati.

    Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjorodjati, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

    Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

    Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

    Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet”, jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

    Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah.” Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

    Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

    Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

    Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

    Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di Bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

    Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah”. Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebih mewah dari mobil dinas gubernur.

    Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

    Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neo-Liberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

    Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan bangsa.

  24. Mas Rovicky,
    Sebenarnya yg menolak hanya elemen PKS, PAN yg kecewa krn HNW & Hatta tdk jd Cawapres SBY. Tp mhsw yg bergerak hnya onderbouw PKS, KAMMI. Msl tuduhan neolib, sbenarnya hanya pelabelan dr elemen2 PKS sj, krn praktis semua ekonom didikan Barat menganut Neoklasik. Tp Neoklasik punya gradasi pemikiran yg berbeda2, meski premis utamanya tetap less govt intervention. Boediono sbg Menkeu kedepankan kebijakan fiskal, artinya peranan pemerintah besar. Kl mau dicari, banyak program pemerintah, dr model IDT sampai BPR & bank syariah yg turut dibantu Boediono, tp krn pinternya pihak2 yg mau jd Cawapres SBY, shg smua itu diabaikan.

    Ttg biaya pendidikan smakin mahal, ini yg sy sesalkan, krn Mendiknasnya adl dosen sy dl di Akuntansi FE UGM, yg sy sempat kagumi krn kepandaiannya berfilsafat (Bb Sudibyo do S3 UGM duku ngajar Filsafat Ilmu, bersama Profesor Filsafat lainnya).

    Tp dr sejarahnya Bapak Ekonomi Pancasila ada 2: Mubyarto & Boediono, mrk penggagasnya di UGM sjk akhir 70-an, yg dipuncaki dg buku ‘Ekonomi Pancasila’ editan mrk berdua. Hny sj Boediono lbh cpt msk birokrasi, di Bappenas, smntr Mubyarto msh aktif menulis, shg yg dianggap Bpk Ek Pancasila adl dia. Premis utama Ek Pancasila dr mrk berdua adl ‘pembangunan ekonomi yg didorong rangsangan sosial, moral & ekonomi’. Awal 80-an itu dianggap utopis, smntr akhir 80-an, konsep ‘Sustainable Development’ mulai digagas & diterima akhir 90-an, dmn premis utamanya adl pembangunan yg tdk korbankan kemampuan ms dpn utk memenuhi kebutuhannya, dg keseimbangan ekonomi, sosial & lingkungan.
    Jd, tuduhan Neolib itu tdk berdasar.

    management style dia mmg bkn buat ‘gebrakan’, tp perubahan yg terukur & terarah. Ini kata2nya swaktu jd Menkeu dulu. Dia jg tdk sk bicara didepan pers, shg tdk dikait2kan dg kebijakan2 yg populis: PNPM, BLT, dsb, yg dilakukan ktk jd Menko Ekonomi. Beda dg Sri Mulyani yg sk bicara dg pers, Boed lbh sk dibelakang meja mengonsep.

    BI jaman Syahril Sabirin & Burhanuddin menentang ide pemisahan fungsi pengawasan industri keuangan dr fungsi moneter BI. Ktk itu Menkeunya Boediono yg dukung pemisahan fungsi spt di UK: ada Financial Services Authority yg supervisi bank, bursa & industri keuangan lainnya. Bank sentral hanya urusan moneter. Akibat ide ini BI melawan UU BI yg berujung pada suap Rp 32 M ke DPR.

    Kata teman sy di BI, Boediono mmg sangat hati2 skali ambil keputusan, krn tdk mau ulang pengalaman BI yg main suap sana sini.

    Jd Boediono mmg bkn tipe org yg bikin gebrakan & berbicara dimana2 ttg gebrakan itu, spt Anwar Nasution yg bicara BI sarang penyamun tp meloloskan 100 M & br marah2 ktk mlh dijadikan ketua BPK, tp org yg rendah hati, profesional, berpihak pd kebersahajaan & kejujuran. Tdk pernah ada gosip apapun mengenai dia.

    Kapan lg kita punya wapres org yg lurus spt Bung Hatta. Apa org spt ini patut dinistakan oleh org2 yg kecewa tdk jd Cawapres SBY?

  25. Akur Pak Suharto…. masalah BHMN ini benar-benar mengganggu saya

    Sekarang saya yang kerja di swasta saja, walau belum punya anak, tapi udah pusing lihat SPP mahasiswa PTN sekarang. Dulu bokap nyokap guru SMA bisa nyekolahin tiga anaknya kuliah. Lha sekarang, mungkin bokap nyokap harus korupsi dulu agar anak2nya bisa masuk PTN unggulan seperti UGM dan ITB

    As of Boediono……. speechless lah
    Mending Budi Anduk…

  26. Saya ragu dengan pilihan Pak SBY, tetapi bagi SBY sendiri mungkin pak BOEDIONO “tidak membahayakan” posisinya seandainya kelak terpilih lagi jadi presiden….? apalagi ini adalah periode terakhir beliau seandainya terpilih lagi. Saya lebih melihat pemilihan BOEDIONO lebih karena “posisi” pak SBY.

  27. bagaimana nanti kalau kaum non partai menjadi wapres? jangan-jangan nanti seperti pak habibie yang memang lebih baik jadi menristek aja…

  28. Malah jadi berkah kalau SBY berpasangan dengan Boediono. Berkah buat keluarga kami. kami jadi kompak menolak SBY. Berhubung partai yg kami dukung berkoalisi dengan SBY, kami terbelah, yg satu mau ikut partai kami ikut SBY, karena partai kami terbukti orangnya putih bersih anti sogok, sederhana, profesional, maka kami harus ikut partai.Sementara yg lain tidak sreg dengan SBY, karena kalau liat pemerintahan SBY ini di mata kami kok kurang pro rakyat. Hutang kepada IMF lunas/ berkurang, tetapi hutang kepada pihak asing lain malah meningkat. Ini sama aja lolos dari mulut buaya, masuk mulut harimau. Terus tentang BHP. Kita ini yg tua2 usia 40 tahunan ini sarjana semua. Dulu ortu kami meskipun PNS masih sanggup membiayai kuliah kami di PTN. Selama sekolah di SMA kita rajin belajar agar bisa diterima di Sipenmaru. terus alhamdulillah diterima, ortu sanggup membiayai, meskipun hanya PNS golongan III. Sekarang anak kami sudah belajar keras secara rata2 jaman dulu lolos PTN lah. Tetapi karena menulis sumbangannya hanya 15 juta maka tidak dapat diterima di PTN. Orang miskin masih bisa diterima di PTN tapi jumlahnya hanya 20% saja. Yang 80% kuat-kuatan menulis sumbangannya semakin besar nyumbangnya semakin besar diterima.Padahal jumlah orang miskin itu banyak , apalagi yang menengah, PNS golongan III lah, tidak miskin memang, tapi ya mana sanggup menyediakan uang sampai puluhan juta untuk nyumbang PTN. jadi sederhananya pendidikan tinggi meskipun di PTN hanya untuk orang kaya saja. Bahkan ironisnya banyak anak2 dosennya sendiri terpaksa tersingkir. ini semua karena negara lepas tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsanya. Ya inilah yang disebut paham kapitalistik. Mengabdi pada pasar bebas. Boediono menurut kami orang neolib. jadi kini kami sepakat tidak akan mendukung presiden yang wapresnya berpaham kapitalistik, anti ekonomi rakyat, pro asing ( dalam arti kurang membela kepentingan nasional ).

Leave a Reply