Kesamaan LuSi yang bandel dan Si Gintung ketika marah

0

geologistMasih ingat Lusi alias LuLa (Lumpur Sidoarjo atau Lumpur Lapindo) ? Tentunya masih ingat donk. Dari pengamatan selintas serta belajar dari kejadian tanggul jebol Si Gintung dan Lusi keduanya memiliki kesamaan sifat yang sebenernya mudah dipakai sebagai pembelajaran tentang tanggul.

Ingat juga kan kalau Lusi pernah jebol tanggulnya sehingga menyebabkan Jalan Tol di dekatnya dianjiri air dan tertutup. Nah kedua kasus Lusi dan Gintung memiliki kesamaan. Keduanya ambrol karena awalnya dinding tanggul yang tidak kuat menahan tekanan kolom air.

🙁 “Wah Pakdhe, pelajaran baru tentang tanggul ya ? Atau mau jadi detektif batu ?”

😀 “Bukan thole ini justru pelajaran lama di Lusi yang tidak diperhatikan pada si Gintung. Aku bukan ahli tanggul tetapi mengajak belajar dari kejadian yang kita alami supaya tidak terulang lagi”

Keduanya tidak mampu menahan kebocoran.

Penyebab gagalnya konstruksi bendung atau tanggul seringkali akibat tekanan air yang berlebihan. Dalam ilmu fisika kita mengenal dan menghitung tekanan air ini dengan rumus tekanan hidrostatis. Yaitu rumus yang mengatakan bahwa tekanan fluida merupakan fungsi dari ketinggian dan berat jenis fluida.

Kalau kata Pak Guru Fisika di SMP Negeri 5 Jogja dulu katanya gini :

P = ρ x g x h

567073-tn_headache_012.gifP adalah tekanan hidrostatis
ρ adalah berat jenis fluida (air+lumpur)
g = gaya gravitasi
h = Ketinggian kolom air

Rumus yang dipakai satu ini saja.

🙁 “Hiya lah Pakdhe, jangan kebanyakan rumus. Jadi pusiiing ! Wong mendongeng kok pake rumus”

Yang terjadi pada tanggul Lusi adalah seperti dibawah ini :

http://hotmudflow.files.wordpress.com/2006/08/dari-atas-2.jpg
Kisah Lusi yang mirip Gintung

Tanggul darurat yang dibuat di Lusi adalah tumpukan tanah yang dipadatkan.  Ya mesti saja tidak dengan desain konstruksi beton permanen, karena pada saat itu serba darurat. Cara ini tepat sasaran saat itu, tetapi perlu dikaji seterusnya.

Pada saat sebelum kelahiran Lusi, tanah disekitar Renokenongo adalah perumahan dengan tanah yang sudah diperkeras dan impermeable, sehingga tanah ini merupakan tanah keras. Dibeberapa tempat terdapat selokan ataupun gorong-gorong.

http://rovicky.files.wordpress.com/2006/08/tanggul.jpg
Ketinggian tanggul darurat memiliki angka maksimum sebelum air bocor karena tekanan kolom air.

Gorong-gorong serta selokan berada dibawah tanggul ini sering menyebabkan kebocoran. Detailnya baca lagi tulisan lama tentang bocornya tanggul lusi disini Lumpur panas : Pandangan dari atas. Dalam dongengan Lusi disitu dijelaskan bagaimana bocornya tanggul karena adanya gorong-gorong yang dibuat manusia.

Dengan menggunakan rumus sederhana diatas kita bisa memperkirakan tekanan yang dialami oleh dasar tanggul. Untuk perhitungan atau analisa detail tentunya harus mempertimbangkan konstruksi bendung atau tanggul itu. Namun secara mudah bendung akan dibedakan antara bendungan kecil dibawah 15 meter dan diatas 15 meter.

Bendungan besar dengan ketinggian diatas 15 meter harus memiliki prosedur khusus.  Namun secara umum bentuk bendungan akan mirip limas, karena bagian bawah yang akan menahan tekanan hidrostatis air sekaligus menahan bebannya sendiri. Bendungan-bendungan tinggi di Indonesia misalnya :

  • Cirata 125.0 meter
  • Wadas Lintang 122.0 meter
  • Batu Tegi 120.0 meter
  • Jatiluhur 105.0 meter

Bendungan-bendungan diatas tentunya dibuat dengan konstruksi khusus tidak seperti Si Gintung maupun LuSi. Jadi jangan terlalu takut karena tingginya bendungan ini. Bendungan ini dibuat dengan selisih tinggi yang besar, karena tenaganya dimanfaatkan menggerakkan turbin listrik.

Kembali ke gorong-gorong, maka adanya lubang-lubang gorong-gorong menyebabkan titik ini menjadi titik yang mengalami tekana paling besar. Kebocoran dinding tanggul Lusi ini terjadi pada saat awal-awal bencana semburan lumpur panas terjadi. Terutama beberapa bulan setelah munculnya semburan lumpur panas.

Bagaimana dengan Gintung ?

Dibawah ini profil dari bendungan Gintung. Situ gintung dibuat dengan memotong atau memutus saluran air alami yang sebelumnya sudah ada. Tindakan ini bukan tindakan aneh atau salah, karena yang namanya bendungan dimana-mana ya seperti itu.Bendungan dengan konstruksi tertentu akan memiliki kapasitas tinggi kolom air yang berbeda.

Kalau dilihat dari profil sepanjang bendungan maka dapat dengan mudah kita tahu bahwa pada bagian terdalam sangat mungkin merupakan batuan atau endapan alirang “sungai”. Endapan ini tentusaja berupa endapan yang bukan berupa batu cadas seperti batuan dasar di Situ Gintung yang dari peta Geologi sebelumnya menunjukkan endapan vulkanik. Di alur yang terdalam ini lah seringkali merupakan titik terlemah dalam konstruksi bendungan. Seperti yang terjadi di tanggul Lusi diatas, maka gorong-gorong dibawah merupakan titik terlemahnya.

bendung_gintung1
Prakiraan konstruksi tanggul si Gintung. (perlu verifikasi dari yang berwenang)

Ketinggian bendung atau tanggul ini akan sanat menentukan kekuatan bendung/tanggul ini.

Overtopping, apakah mungkin mengerosi permukaan tanggul ?

http://oneunitedearth.com/about/
Perhatikan saluran pelimpah (spill way) Si Gintung sebulan sebelum jebol. Batu-batu ini saya yakin kuat menahan limpahan air cukup besar.

Banjir yang konon diawali limpahan air dari saluran Si Gintung dicurigai telah menyebabkan erosi tanggul. Pada hari terjadinya banjir Si Gintung memang terjadi hujan lebat. Namun saya sangat yakin jumlah air limpahan dari daerah tangkapan air seluas 3 Km ini akan mampu dialirkan oleh saluran pelimpah diatas. Namun melihat foto diatas, kecurigaan “overtopping erosion” penyebab hancurnya Si Gintung itu rasanya meragukan. Walaupun sudah dibuat lebih dari setengah abad, batu-batu konstruksi itu tidak akan tererosi oleh derasnya air yang melewatinya.

Menurut Fadli dari BPPT di Kompas :

Muka air naik

Apabila dihitung volume air hujan yang jatuh khusus di lokasi Situ Gintung dan memakai asumsi luasan situ saat ini 21,4 hektar (Kompas, 28 Maret 2009), perkiraan jumlah air yang masuk ke situ adalah 0,107 juta meter kubik. Dengan kapasitas situ sebesar 2,1 juta m3 dan kedalaman 10 meter, dapat diketahui suplai air hujan yang langsung masuk situ akan menaikkan muka air situ sebesar 51 sentimeter.

Kalau memang disebabkan oleh curah hujan tinggi semestinya saluran pelimpah mampu mengalirkan debit air yang cukup tinggi. Lebar spillway yang kira-kira 10 meter sepertinya mampu melalukan air walau dalam curah hujan tinggi.

Kondisi spillway diatas menurut Odith pemilik foto diatas diambil hanya sebulan sebelum kejadian. Terlihat kosntruksinya masih kokok kalau hanya menahan erosi overtopping akibat hujan deras. Dan curah hujan bukan sekali “mak byuk”, tetapi hujan terjadi dalam beberapa jam (~5 jam), sehingga saluran spillway (pelimpah) ini akan masih mampu melalukan air dalam masa hujan deras.

🙁 “Pakdhe emangnya hujan yg konon penuh rahmat kok disalahin ya, dhe”

Dengan dua argumen bahwa tanggul pelimpah masih sanggup mengalirkan air hujan maka kemungkinan yang terjadi adalah :

  • Terjadi erosi bawah permukaan akibat tingginya air. (ada laporan keretakan sebelumnya)
  • Kedalaman bendungan yang konon lebih dari 15 meter ini menyebabkan erosi dari bawah tanggul melalui titik titik lemah. Bahkan menurut Tempointeraktif sudah dilaporkan dua tahun sebelumnya.
  • Curah hujan hanya sebagai pemicu atau kebetulan saja.

Pelajaran yang perlu dipetik kali ini adalah :

  • Memper dalam kolom air belum tentu menyeleseikan permasalahan situ. Bahkan mungkin akan membahayakan kondisi bendung (tanggul) yang rapuh karena konstruksi timbunan tanah.

🙁 “Looh Pakdhe, jadi pendangkalan situ bukan masalah ya ?

😀 “Pendangkalan ini mengurangi kapasitas tampungan, tapi yang lebih penting mempertahankan luas dari situ”

[NEW] Tanggapa Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang tersirat dari hasil “Diskusi Terbatas IAGI tentang Keruntuhan Tanggul Situ Gintung” ada disini

Bacaan terkait :

1 COMMENT

  1. sy bukan ahli geologi tp sy emg dr dunia ilmu eksak jd lbh mengedepankan logika. dari bacaan di atas sy ambil kesimpulan filosofi sifat air adalah bila ia (air) terhalang oleh sesuatu (tembok bendung) maka ada 2 pilihan yg akan ditempuhnya….. ia mencari jalan kluar yg lain ato ia dobrak penghalang itu. dr kasus Lusi & si gintung.. sptnya air memilih opsi ke 2. sbtulnya antisipasi opsi ke 2 sy yakin sdh diperhitungkan dgn masak dr segala penjuru dan fungsi tp (mungkin) fungsi inspeksi dan maintenance tdk dilakukan dgn baik. terlepas dr rumus2 ilmu pasti yg bersifat dunia/nyata ada 1 ilmu pasti yg bersifat maya tp eksis yaitu hukum alam dan hukum sebab-akibat. manusia bekerja pake akal dan hati tp YMK bekerja dgn Misteri dan hukum alamNya. Yg perlu dicari adalah ada apa di balik MisteriNya.

  2. Taken from IAGI-net :

    “Diskusi Terbatas IAGI tentang Keruntuhan Tanggul Situ Gintung”
    Diskusi diselenggarakan di Bandung :

    Imam A. Sadisun [www.sadisun.enggeol.org]
    Ketua Divisi Geologi Rekayasa – IAGI 2009-2011

    Rekan-Rekan IAGI ysh.

    Acara “Diskusi Terbatas IAGI tentang Keruntuhan Tanggul Situ Gintung”
    telah terlaksana dengan baik dan lancar (di Auditorium Museum Geologi,
    Badan Geologi, Bandung, 7 April 2009). Acara ini ternyata cukup banyak
    mendapat perhatian dari para anggota IAGI, bukan hanya yang berada di
    Bandung, tercatat beberapa Rekan dari Jakarta dan Semarang juga hadir.
    Acara didahului oleh sambutan Sekretaris Badan Geologi dan Sekjen
    IAGI. Antusiasme peserta untuk berdiskusi sangat tinggi, sehingga
    acara yang semula direncanakan berakhir jam 5 sore, “terpaksa”
    diperpanjang sampai jam 6 sore. Sebagai pembicara dalam acara ini
    adalah :

    – Aldrin Tohari (Geoteknologi – LIPI), yang telah menyampaikan data
    dan informasi lapangan setelah keruntuhan tanggul Situ Gintung, serta
    menjelaskan mekanisme runtuhnya tanggul tersebut.
    – Adisuryo Abdillah (Balai Bendungan – PU), yang menjelaskan hasil
    kajian awal gelogi teknik terhadap keruntuhan tanggul Situ Gintung
    – Alwin Darmawan (Pusat Lingkungan Geologi – Badan Geologi), yang
    mengulas aspek tata ruang atas kejadian bencana Situ Gintung
    – Herry Purnomo (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi –
    Badan Geologi) yang memaparkan hasil penyelidikan dan evaluasi
    kejadian bencana Situ Gintung
    – Imam A. Sadisun (Teknik Geologi FITB – ITB), yang menjelaskan
    berbagai dugaan penyebab keruntuhan tanggul Situ Gintung

    Sayang sekali Sotopo Purwo Nugroho (Mitigasi Bencana – BPPT) tidak
    dapat hadir dalam acara diskusi ini, yang semula diharapkan bisa
    membahas faktor-faktor penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung,
    terutama berdasarkan dokumentasi sebelum kejadian bencana.

    Beberapa hal penting dari hasil diskusi ini antara lain :

    – Tanggul Situ Gintung merupakan pada mulanya merupakan salah satu
    jenis situ yang terbentuk secara alamiah. Tanggul dibuat dengan tujuan
    untuk meningkatkan volume genangan, berupa urugan tanah laterit
    lempung lanauan yang dipadatkan (earth dam), berwarna coklat
    kemerahan, plastisitas sedang – tinggi, konsistensi kaku-sangat kaku,
    dengan jejak lapisan pemadatan yang masih dapat diamati di lapangan
    (meskipun tidak begitu jelas).

    – Batuan dasar tanggul Situ Gintung berupa endapan aluvial volkanik
    Kuarter, terutama terdiri dari batupasir kerikilan, berwarna coklat –
    coklat keabuan, berlapis baik, dengan arah perlapisan yang cukup
    bervareasi dan beberapa indikasi adanya struktur cross bedding
    diantara perlapisan tersebut.

    – Berbagai data dan informasi telah mengindikasikan faktor-faktor
    penyebab keruntuhan tanggul (dam failure) Situ Gintung, yaitu :
    ** Erosi di kaki tanggul bagian hilir (downstream), baik oleh rembesan
    air yang keluar dari badan tanggul maupun oleh limpahan air dalam
    kondisi genangan air melebihi level maksimumnya (overtopping).
    ** Overtopping akibat kenaikan air yang relatif cepat dan dalam volume
    air cukup besar menyebabkan erosi di kaki tanggul semakin parah,
    terutama oleh adanya proses bottom scouring pada bagian tersebut.
    ** Adanya erosi buluh (piping erosion) di kaki tanggul perlu dikaji
    lebih lanjut, karena adanya endapat situ yang cukup tebal (mencapai >
    0,5 m) di bagian paling hulu kemungkinan dapat menjadi penghalang
    alamiah (natural clay blanket) terbentuknya erosi ini, meskipun batuan
    dasar tanggul tersusun atas pasir yang relatif tidak kompak
    (kekompakan buruk) dan rentan terhadap erosi.

    – Faktor-faktor di atas diperparah oleh :
    ** Curah hujan yang sangat tinggi sebelum terjadinya keruntuhan
    tanggul, mengakibatkan proses overtopping yang tidak hanya melewati
    saluran pelimpah (spillway), namun juga melewati mercu tanggul,
    sementara pintu air pembuang (outlet) tidak berfungsi sama sekali.
    ** Level maksimum genangan akan lebih mudah tercapai karena oleh
    adanya pendangkalan situ yang berakibat pada berkurangnya
    kemampuan/daya tampungnya.
    ** Badan tanggul telah mengalami kerusakan karena sebagian lereng
    hilir digali (di sebelah kiri spillway)
    dan selanjutnya dibangun
    rumah. Galian tersebut bahkan membentuk lereng tegak (vertikal) dengan
    ketinggian bervariasi mulai 1 m – 2 m.

    – Mekanisme keruntuhan tanggul berupa retrogressive failure, diawali
    oleh adanya keruntuhan (failure) di kaki tanggul bagian hilir
    (downstream), yang terus berkembang ke atas sepanjang spillway dan
    menyebabkan adanya longsoran yang lebih besar lagi hingga pada
    akhirnya keseluruhan badan tanggul di sekitar konstruksi spillway
    tersebut runtuh.

    Adanya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan
    permukiman, terutama di bagian hilir (tanggul) situ, mengakibatkan
    bencana yang sangat dasyat. Alih fungsi lahan melanggar ketentuan
    kawasan perlindungan setempat untuk kawasan sekitar danau atau waduk,
    yaitu daratan berkisar antara 50-100 m dari titik pasang air
    tertinggi.

    Hasil-hasil ini akan terus dikembangkan dan dirumuskan secara lebih
    baik lagi (termasuk rekomendasi) menjadi suatu “Kontribusi IAGI
    terhadap Peristiwa Keruntuhan Tanggul Situ Gintung” dan segera akan
    disampaikan kepada pihak-pihak terkait. Terima kasih atas atensi dan
    kepedualian Rekan-Rekan IAGI atas peristiwa keruntuhan tanggul Situ
    Gintung ini. Tambahan masukan, pemikiran dan ide-ide lain masih terus
    dinanti.

    Salam,
    Imam A. Sadisun [www.sadisun.enggeol.org]
    Ketua Divisi Geologi Rekayasa – IAGI 2009-2011

  3. kemaren (7/4/1009) ada diskusi oleh IAGI di Museum Geologi membahas situ runtuhnya situ gintung dari perspektif ahli geologi, pembicara yang mempresentasikan a.l : Bapak Imam A Sadisun(ITB),Bapak Aldrin (LIPI), Bapak Adisuryo (Komisi Bendungan DPU),Bapak Alwin Darmawan (Badan Geologi),Bapak Herry Purnomo (Badan Geologi)dengan Moderator Bapak Budi Brahmantyo
    Bisa diambil sedikit kesimpulan :
    1. Runtuhnya situ gintung disebabkan erosi pada spill way (krn batu2 di spillway byk diambil untuk pondasi oleh penduduk)dicurigai adanya erosi buluh (piping) karena kebcoran muncul mulai dari bawah (24.00) terus keatas sampai jebol (04.00) dari kesaksian bpk Bongas penduduk setempat.Bukan karena over topping
    2. Peningkatan volume air karena disebabkan karena alih fungsi lahan di bagian hulu situ (pembangunan tanggul yg membatasi limpahan air ke “pulau” di tengah situ, pembangunan/pengurukan oleh kampus UIN)
    3. Alih fungsi lahan di bagian hilir (daerah yg terkena banjir) dari persawahan menjadi pemukiman menjadikan banyak korban
    4. Perusakan/pengikisan tanggul yang dilakukan penduduk dibawah tanggul sebagai untuk keperluan pembangunan rumah
    5. Kurangnya pengawasan dan perawatan tanggul.
    Mungkin ini bisa dijadikan bahan evaluasi dan intropeksi termasuk para penduduk di sekitar situ2 di seluruh indonesia

  4. Terima kasih… Dapat ilmu banyak nih. Selama ini cuma belajar ilmu sosial, sudah lupa dengan IPA dan Fisika yang diajarkan di SMP dan SMA dulu…

  5. Kang Nugi.
    Yg anda hadapi itu tekanan hidrostatis rumusnya spt diatas dengan berat jenis air 1 gr/cc.
    Sedangkan Lusi tekanannya tekanan lithostatis dengan rumus spt diatas tapi BJnya 2.7 gr/cc (estimasi BJ batuan).
    Lebih komplikated lagi Lusi ini batuannya menjadi dinamik dalam beberapa kali menunjukkan amblesan dan terpatahkan.

  6. oya pakdhe saya lupa, tempat yang saya maksud tadi berada dibawah kaki gunung tertinggi di garut….papandayan. posisi lahannya datar. dipinggir lahan tersebut ada bukit kecil yang penuh dengan bebatuan.itu sekedar infonya Pakdhe…

  7. saya dulu eprnah jadi pembuat sumur bor pakdhe, suatu waktu saya pernah membuat sumur bor di daerah garut jawa barat. ketika itu sumur yang saya buat ternyata artetis (mengeluarkan air sendiri). karena sedang rame-ramenya si LUSI, yang punya lahan merasa ketakutan, dan minta sumur tersebut ditutup kembali. diameter sumur tersebut sebesar 8 inch dengan memakai chasing bawah 4 inch, saya menutup aliran air tersebut dengan memakai batu koral ukuran sedang beberapa karung kemudian ditimpa lagi dengan beberapa karung sirtu (Pasir Batu) yang berukuran lebih kecil dari koral. setelah itu saya masukan lagi sirtu yang berukuran sangat kecil (Yang biasa dipakai untuk pasir aspal hot-mix). ternyata air berhenti mengalir dan hanya keluar sedikit saja. kemudian saya mengambil gorong-gorong dengan diameter 90cm,selanjutnya permukaan tanah itu saya gali sesuai dengan lingkaran gorong-gorong tersebut sedalam 20cm. lalu saya masukkan aduk kering ke dalamnya,walhasil air berhenti mengalir dan sampe sekarang aman tuh Pakdhe, apa mungkin sistem atau cara seperti itu bisa di lakukan di Sidoarjo? mohon tanggapannya Pakdhe.

  8. Syapa yang bertanggung jawab ?
    Waddduh mesti tahu sistem admin kepemilikan dsb. Dan itu jauh diluar bidangku. Yang pasti aku tahu yang menanggung akibat ya korban 🙁

  9. jadi, lagi-lagi ini bencana karena faktor human error ya Pak Dhe? Error dalam merawat para situ.
    Njenengan bisa tuliskan analisis siapa yang paling bertanggung jawab nggak ‘Dhe? Jika skenarionya seperti yang njenegan tuliskan dalam edisi ini, maka siapa diantara instansi terkait yang mestinya mempertanggung awabkan ini smua?
    Nuwun infonya…

Leave a Reply