Berapa Jumlah Cekungan Geologi di Indonesia ?

0

Memetakan atau memberikan garis batas cekungan (Basin Outline) sepertinya pekerjaan mudah karena cekungan-cekungan seringkali dikenali dari kedalaman basement atau batuan dasarnya. Namun ketika mencoba membuat klasifikasi cekungan-cekungan ini untuk keperluan studi ilmiah maupun eksplorasi seringkali mbundet. Apalagi ketika ingin dipakai untuk membuat database. Salah satunya untuk keperluan GIS (Geographic Information system).

🙁 “Wuiih Pakdhe serius lagi. Batupetirnya donk Pakdhe !”Click Me

Batas cekungan (Basin Outline)

Dibawah ini peta sebuah cekungan antah berantah yang kalau dilihat dari peta maupun penampangnya (cross-section) akan memperlihatkan bahwa adanya penumpukan yang tidak sederhana lagi.

cekungan
Mana Batas Cekungan itu ?

Permasalahan tidak hanya untuk batas saja, tetapi juga untuk memasukkan data-data lain misalnya data pemboran sumur dalam database .Termasuk juga untuk memasukkan klasifikasi. Bagaimana dengan sumur A, B dan C. Sumur yg ini tergabung dalam kategori yang mana nantinya?.

Persoalan diatas tidak hanya imaginasi saja. Dibawah ini contoh riil di Australia. Di Indonesiapun banyak sekali permasalahan yang sama seperti dibawah ini.

contoh_cekungan
Cekungan dengan sejarah berbeda-beda (multistories basins)

Jadi kalau ada yang menyebutkan bahwa di Indonesia ada 50 cekungan, ada yang mengatakan 60 cekungan. Jangan heran ! Mereka memiliki cara pandang masing-masing ketika memetakan apa yang disebut Cekungan.

Tidak hanya karena lokasinya berbeda, masing-masing yang disebut cekungan ini memiliki ciri geologi yang unik. Setiap cekungan memilki karakteristik dalam proses terbentuknya, isinya, serta proses-proses lanjutan setelah terisi oleh batuan sedimen.

Dibawah ini peta cekungan yang dibuat oleh Harry Doust.

fig01_indonesianbasins1
Peta Cekungan untuk kebutuhan perminyakan yang dibuat oleh Prof. Dr. Harry Doust

🙁 “Hallah Pakdhe. Biasanya di Indonesia itu lebih banyak lebih baik. Pulau Seribu juga ngga nyampai seratus pulau kok :)”

Berapapun jumlah cekungannya tetapi jumlah minyak yang sudah diketemukan tetap saja segitu. Namun seringkali dijumpainya cekungan-cekungan baru akan menambah potensi dan seandainya digali (dibor) akan menambah jumlah cadangan. Perhatikan peta diatas tidak memperlihatkan kerumitan

Jadi jangan terpaku jumlah basin atau cekungan dalam angka saja, ya !

1 COMMENT

  1. saya u nnyak ne…. pak dhe…..
    apa sich yang memyebabkan adanya cekungan u, saya heran kenp ada cekungan dan dengan adanya cekungan katanya minyak ada juga disana apa iya pak dhe….. trim”s

  2. for all,
    saya mau nanya mengenai formasi-formasi yang ada di indonesia.
    berapa jumlah formasi gmna cara pembagiannya dan penyebarannya?
    mksh,

  3. Pak Rovick, ceritain dong tentang berita teerbaru bahwa telah ditemukan gunung raksasa bawah laut sebelah barat sumatera dg diameter 50 km dan ketinggian 4600 meter…..?

  4. betul om saya setuju dengan om awang dan apa mungkin juga ya.. yang katanya telah ditemui beberapa cekungan baru yang dibuat oleh om ben dkk apa itu termasuk sub cekungann..? atau memang benar2 cekungan baru yang berdiri sendiri..

  5. Pak de, bagaimana kalau pembagian cekungan dibagi ke dalam sub cekungan yang lebih kecil. Jadi apabila contoh kasusnya seperti penampang yang pak de buat maka keseluruhan cekungan (yang dibatasi oleh perpotongan garis permukaan laut dan garis merah) disebut cekungan A sedangkan sub cekungannya yaitu sub cekungan A1 yang dibatasi oleh listric fault turun di sebelah kanan dan cekungan A2 yang dibatasi oleh Listric fault turun di sebelah kiri.Jadi well B dapat dikatakan terletak
    di formasi A1 dan endapan yang di lalui yaitu formasi hijau dan formasi merah yang sourcenya bisa saja berbeda sehingga terlihat seperti overlap sedimen suatu cekungan ke cekungan lain.Karena menurut saya definisi cekungan adalah suatu daerah yang dikelilingi oleh tinggian dan dengan adanya tinggian dan daerah rendah maka akan tercipta gradien kemiringan dimana interaksi antara delta elevasi, gradien kemiringan, densitas massa(batuan tanah) dan grafity force maka akan tercipta gaya potensial yang mentriger proses destruktif eksogen/erosi (proses disintegrasi akibat proses mekanik, kimia, biologi), transportasi (mekanisme grafity mass flow/turbidit massa dan media yg bergerak ataupun traksi-media transportasi yang bergerak (bed load, suspended load), sedimentasi (bar system, channel system)/ proses pengisian cekungan.
    Misalnya contoh lain pada cekungan yang secara regiona merupakan extensional setting dan terdadapat horst dia antara 2 graben maka sub cekungan merupakan di sebelah kiri dan kanan horst.

    Singkatnya, menurut saya pada dasarnya pengklasifikasian spasial (secara konvensi/kesepakatan orang yang berkaitan dengan bidang geologi)
    dalam hal ini cekungan, adalah untuk memudahkan kita dalam positioning baik itu well, fitur geologi(data geokimia, struktur,formasi, dll) guna kepentingan manajemen informasi jadi semakin detil pengklasifikasian dan semakin bagus sosialisasi hasil konvensi (pengklasifikasian tersebut) maka akan semakin memudahkan pekerjaan dan komunikasi anatar orang2 yang berkaitan dengan dunia tersebut(perminyakan, pertambangan, geoscientist dll).

  6. ada yang bilang cekungan di indonesia bagian timur lebih dominan banyak gasnya daripada minyaknya, bener ga’ pak dhe?? kalo bener, kenapa kok beda ya sama yang dibagian barat indonesia?? thanks pak dhe….

  7. kalo diliat cekungan nya masih banyak yah pakde, dari sebanyak itu yang sudah di explorasi berapa banyak yah pakde ? sayang kebanyakan sekarang kegiatan explorasi lagi di hold, karena pengaruh harga minyak kali yah. padahal kalo ekplotasi terus tanpa eksplorasi, ludes dah minyak kita, kapan mau jadi net exported country lagi yah..

  8. Plato pernah cerita ttg Atlanta yg tenggelam di laut, dan pulau-pulau yg menghubungkan dengan dunia luar. diteliti ada yang bilang pulau-pulau itu yang dimaksud adalah Indonesia. Bener g? menurut sejarah geologi, dulu Indonesia gunung2nya gabung dengan gunung2 lain ya?

Leave a Reply