Aliran Jamaah Haji di Mina

0
  Masjidil Haram Tower

Sebelumnya kita belajar dua hal, yang pertama melihat aliran lalulintas dalam bentuk animasi gelombang lalulintas dan juga belajar bahwa terjadinya kemacetan bisa saja hanya karena gangguan kecil. Setelah itu kita juga sudah melanjutkan melihat aliran lalulintas seperti aliran fluida yang konon katanya simbah-simbah dewa ilmunya bernama “fluid dyamics“.

🙁 “Wah Pakdhe, lagi seneng-senengnya sama mBak Polwan ya ? Kok mendongeng lalulintas terus”

Kali ini kita lihat kalau yang mengalir itu semuanya manusia ? Ya, manusia yang mengalir juga bisa diibaratkan sebuah aliran dan mestinya bisa dipakai sebagai contoh untuk melihat lalulintas manusia. Contoh yang paling menarik dalam aliran manusia ini adalah saat jamaah haji melempar Jumrah di Mina. Tentunya rame, penuh sesak dan pernah (beberapakali) menelan korban.

Crowd Dynamics

Crowd Dynamics (CD) adalah sebuah perusahaan *consultant) yang secara khusus menjadi konsultan dalam mengelola ‘aliran manusia’ yang berduyun-duyun pada satu tempat. Menurut CD ini kejadian “stampede” sudah seringkali terjadi. Salahsatu yang sering terulang adalah kejadian keryuyukan saat melempar jumrah/ Jamarat di Mina.

jamarat-2004
Swasana Jamarat Feb 2004

Di sebelah kiri ini kondisi atau suasana saat melempar Jamarat pada tahun 2004. Foto ini saya ambil pada malam hari setelah kejadian kerumunan yang menewaskan lebih dari 250 orang. Pada tahun 2006 juga terjadi korban bahkan konon menurut CD mencapai lebih dari 360 orang meninggal.

Bentuk jumrah pada saat itu (2004) masih berupa tiang. Namun ketika terjadi tahun 2006 tentunya sudah berubah. Dan masih juga menelan korban.

🙁 “Wah Pakdhe kudu bersyukur tuh !”

😀 “Iya mesti saja Thole, tetapi hari itu aku justru tidak mendengar kabar apapun soal musibah ini, walaupun dengar selentingan saja”.

Setelah kejadian Februari 2004 itu kemudian ada sebuah grand design dari pemerintah Saudi sebagai usaha untuk merubah konstruksi serta penataan ulang pelemparan jumrah.

Gambar diatas memperlihatkan perubahan yang sangat mendasar yaitu merubah tiang menjadi sebuah tembok. Secara masih banyak yang berpikiran bahwa melempar jumrah ini HARUS KENA, maka dengan menggunakan akal-lah jumrah ini diubah menjadi tembok. Coba tengok gambar diatas sebelum dan sesudah konstruksi jumrah diubah.

Perubahan bentuk ini tidak hanya didasarkan pada prinsip “lalulintas” dengan teori gelombang maupun mutiphase flow sebelumnya. Tetapi kali ini dibuat dan di disain dengan menggunakan “simulasi”. Ya, menggunakan simulasi seperti simulasi tsunami. Masih ingat nggak ? Kalau lupa simulasi tsunami baca lagi disini. Simulasi komputer : gempa dan tsunami di Padang

Simulasi ini melihat bagaimana kerumunan jamaah yang terjadi saat mendekati jumrah. Waktu-demi waktu disimulasikan bagaimana kejadian ini berlangsung. Sepengetahuan saya sewaktu disana, ada sebuah kamera yang mengungkap bagaimana kejadian musibah ini terjadi. Model kejadian asli itulah yang dipakai sebagai basis data perilaku jamaah. Mirip seperti dalam animasi lalulintas sebelumnya bahwa satu individu memiliki perilaku yang dapat dimodelkan.

Hasil simulasi di Jamarat, Mina

Nah, jadilah model kerapatan manusia seperti dibawah ini:

Hasil simulasi ketika jamaah mendekati Jumrah

Dari hasil kajian simulai itu, tentunya dikaji juga bagaimana perilaku jamaah yang “mengejar waktu afdol” dan juga cara mendekati jamarat.

Desain akhir dari Jamarat ini akhirnya dibuat seperti dibawah ini :

Ilmu untuk ibadah

Nah kita tahu bahwa yang namanya ilmu tidak hanya untuk hidup mencari nafkah tetapi ilmu sangat diperlukan dalam ibadah. Janganlah beribadah tanpa ilmu dan jangan berilmu tanpa manfaat.

Bacaan terkait :

Sumber gambar : http://www.crowddynamics.com


1 COMMENT

  1. Pak Dhe,

    Adanya kejadian manusia terinjak-injak, apa bukan peringatan dari Tuhan bahwa di tempat yang kecil tsb tidak muat untuk ratusan ribu orang?

    Seharusnya Haji diartikan sebagai kewajiban “politik” komunal (fardlu kifayah) saja, bukan kewajiban individu….

    Jaman Nabi Muhammad, perkiraan saya, paling banyak jemaah sekitar 50,000 orang.

  2. –> Wah hiya, diganti deh judulnya. Udah tiga kali kesana kok ya masih lupa !
    itu tandanya nggak mabrur 😉 hayo herr………

    –> Itu artinya disayang gusti Allah. Masih diminta kesana lagi. Artinya ada rejeki baru kan ? 🙂

  3. Pak Dhe Jumrah itu ada di Mina bukan di Arafah

    –> Wah hiya, diganti deh judulnya. Udah tiga kali kesana kok ya masih lupa !

  4. Mantabzz pak dhe. selalu ada yg baru ditiap dongengnya. bisa jadi ada juga ya simulasi disaat thowaf keliling ka’bah…..

  5. Assalamualaykum

    “Janganlah beribadah tanpa ilmu dan jangan berilmu tanpa manfaat.”
    –>oke nih…

    mw tanya, simulasi di atas pake program apa pak de? makasi

    –> Wah aku ga tahu yang diatas pakai program apa. Tetapi banyak simulator2 berbasis java yang ada di internet. tengok sini : http://www.traffic-simulation.de/

  6. wah, setuju pakdhe…

    ibadah juga kalo cuma sekedar ritual sehari-hari tanpa penerapan dalam kehidupan nyata serasa sayur bening yang nggak pake bumbu sama sekali…

    terima kasih atas pencerahannya..

  7. Great posting, Pak De. Semestinya, pengembangan ilmu pengetahuan yg model begini jadi bahan kajian di masjid-masjid di forum ta’lim. Jadi, ndak membahas yang itu-itu saja.

    Mohon bisa dilanjutkan, posting-posting yang sangat bermanfaat utk pencerahan ummat.

    Matur sembah nuwun. Syukria.

Leave a Reply