Mulai tahun 2009 Indonesia sudah bebas fiskal ! (Pajak Vs Palak)

37
istockphoto

istockphoto

Berita bebas fiskal dimulai awal tahun 2009 ini banyak diplesetkan dengan aturan kepemilikan NPWP. Aturan kepemilikan NPWP yang memiliki tingkat “keharusannya” diatas pembayaran fiskal menjadi lebih rendah ketimbang kenaikan biaya fiskal tanpa NPWP.

Membayar pajak itu wajib hukumnya sedangkan pergi ke luar negeri itu bebas (mubah). Namun berita kenaikan biaya fiskal yang 150% lebih njelegur, kedengaran nyaring di telinga pembaca media.

( “Ah Pakdhe, itu kan penggiringan supaya bisa dijerat pajaknya kan ? Lah aku mahasiswa bayar pakai apa, dunks? “

D “Thole, pajak itu keharusan setiap WN. Ada aturannya, ada kesepakatan dalam UU yang disahkan oleh DPR. Kamu sebagai mahasiswa kalau sudah berusia diatas 21 ya sudah harus memiliki NPWP. Nanti tiap tahun lapor pakai kartu mahasiswa yang masih berlaku dan bilang kalau masih mahasiswa dan laporkan pendapatan nil, mudah kan ?”

( “Iya sih, tapi kenapa pakdhe melesetke pajak menjadi palak ?”

Pajak Vs Palak

Tentunya kita semua sangat mengerti keperluan atau betapa pentingnya pajak dalam menjalankan tugas “pemeliharaan negara”.

Tentusaja kita juga harus mengerti bahwa dalam transaksi pajak, si petugas pajak yang baik tidak mengambil uang untuk kepentingannya pribadinya sendiri. Tetapi bisa saja persis seperti yang terjadi di pinggir jalan itu, karena mereka menjalankan tugas atas perintah “atasannya”. Ada aturannya, ada undang-undang-nya, dan ada juklaknya. They are doing their jobs !

Plesetan yang saya lakukan ini membuat gerah kawan baru saya yang menuliskannya disini :

“Nah, sayangnya dalam tulisan pak dhe ini gak jelas sehingga timbul kesan bahwa pajak itu sama dengan palak. Padahal saya yakin dengan pengetahuan yang luas pak dhe sangat faham arti pajak dan palak sangat jauh walaupun hanya dibedakan oleh sebuah huruf.”

Dalam kamus bahasa Indonesia mudah mencari makna pajak tetapi ternyata sulit diketemukan apa makna itu “palak”. Hanya dari wikitionary palak diartikan sebagai 1. memeras, meminta sesuatu (uang) dengan paksaan.

Dalam hal transaksi pajak ini si petugas pajak hanya menjalankan tugas, tetapi si pembayar pajak bisa saja merasa “terpaksa” sehingga perpindahan uang (transaksi) itu dapat dirasakan sebagai palak oleh si pembayar pajak.

Ya, perpindahan uang inilah yang mengesankan adanya “perpalakan”. karena adanya “keterpaksaan”.

Dalam setiap transaksi pajak maka negara akan diuntungkan, tetapi bagaimana persepsi si pembayar pajak ?

Pajak itu rumit makanya Einstein saja memilih menjadi ahli fisika yang lebih mudah dimengerti. Sekali lagi “kerumitan” ini bukan melulu kesalahan petugas pajak. Kita mudah dan bisa mengerti dan anda juga mudah mengerti adanya “perbedaan” interpretasi dikalangan petugas pajak itu. Dan “perbedaan” persepsi serta interpretasi perpajakan inilah yang “mengesankan” sebuah pajak terasa palak. Hanya pengetahuan dan pengertian, maka sebuah transaksi uang ini akan terasa pemalakan ataukah terasa perpajakan yang “resmi”.

Argumentasi yang tidak seimbang akibat perbedaan tingkat pemahaman dan pengetahuan yang akan menjadikan salah satu pihak tidak akan merasa puas.

Pembayar pajak  selalu “gething” kalau liat kawan ngga (belum) mau membayar pajak. Ya, tentusaja karena pelayanan umum yang diberikan sama, baik kepada pembayar pajak maupun WN yang enggan membayar pajak. Tentunya layanan umum menjadi ringan kalau dijinjing bersama. Disisi lain, ternyata juga ngga mudah untuk bisa menjelaskan, kenapa pelayanan pajak juga masih kurang. Contohnya lamban menjawab email seperti yang ditulis sebelum disini.

Kalau pelayanan umum amburadul kita mungkin sedikit maklum. Tapi kalau pelayanan di kantor pajak yg buruk ?  Baik buruknya pelayanan ini yag paling pas untuk menjawab ya kawan-kawan yang bekerja di dirjen pajak lah.

Menurut saya pelayanan pertama negara yang akan dilihat dan dinilai wajib pajak adalah pelayanan di kantor pajak. Pemalak seringkali tidak memberikan pelayanan, itu pasti. Tetapi di Kantor Pajak, disitulah seorang Wajib Pajak akan menilai pelayanan negera terhadapnya.

Sangat strategis kan ?

( Iya betul Pakdhe, kantor samsat, kantor pulisi, serta kantor kecamatan tempat membayar PBB harus bagus pelayanannya ya ?”

D “Betul thole, sekarang ini bahkan beberapa kecamatan mulai jemput bola untuk pembayaran PBB. Jadi pembayar pajak menjadi mudah. Salute !”

Aturan yang baik itu mudah dipahami dan mudah dijalankan.

Membuat aturan yang sulit itu sebenernya tidak mudah, karena kerumitan seringkali akibat terlalu lamanya kita berpikir.

Ada satu pameo yang mengatakan “don’t dig to deep, you’ll got a snake !“. Ya, jangan terlalu dalam, nanti hanya mendapatkan ular. Dalam arti lainnya jangan terlalu detail nanti malah menjadi rumit, dan sulit dimengerti.

Dalam soal pajak, kawan saya Pak Dudi mengatakan aturan yang mudah belum tentu adil dan yang adil itu rumit. Mungkin ada benarnya. Tetapi kalau kita sedikit berpikir bahwa yang menganggap rumit dan sulit biasanya masyarakat kebanyakan yang pendidikannya kurang.

Aturan dipermudah bagi yang penghasilan rendah.

Salah satu cara supaya mereka yang penghasilan rendah ini mudah mengerti dan mampu membayar pajak, maka aturan dibuat mudah bagi yang berpenghasilan rendah. Misalnya bagi yang berpenghasilan rendah (sedikit diatas PTKP) maka cukup mengisi SPT yang sederhana. Misal SPTnya satu lembar cukup ! Sedangkan bagi yang berpenghasilan tinggi, dapat diasumsikan pengetahuannya lebih tinggi, boleh dah rada rumit ngisi SPT berlembar-lembar.

Apakah peraturan mudah itu juga akan memudahkan petugas ?
Tentusaja tidak pasti.
Tetapi itulah tugas mereka, kan ?

37 COMMENTS

  1. HALAH !!!!!!
    CUMA JANJI…………..
    MANA BUKTINYA ?????
    KOK BERITA TENTANG PENGHAPUSAN PAJAK FISKAL GAK NONGOL2……..
    CKCKCKC………..
    HAPUS DONG PAJAK FISKAL !
    TAHUN DEPAN SAYA N KAWAN2 MAU KE KOREA, SAYA BAWA KAWAN CUKUP BANYAK, MASAK SAYA HARUS BAYARIN MEREKA FISKAL……..
    FISKAL TU GAK PERLU………
    DI BANDARA CHANGI OR BANDARA KL ITU GAK ADA YANG NAMANYA “BAYAR FISKAL”
    DIJAMIN DEH…………..

  2. saya mau tanya kalo misalnya ada remaja usia 22 tahun, tapi dia tidak punya NPWP dan baru saja lulus S1 tapi belum dapat kerjaan dan mau pergi ke luar negeri dengan tujuan kuliah lagi apa harus tetap bayar fiskal meski ortu sudah punya NPWP????
    Tolong beritahu jawapannya y pakdhe,,,,
    Trimakasih…

    tolong secepatnya y pakdhe,,,

  3. saya mau tanya kalo misalnya ada remaja usia 22 tahun, tapi dia tidak punya NPWP dan baru saja lulus S1 tapi belum dapat kerjaan dan mau pergi ke luar negeri dengan tujuan kuliah lagi apa harus tetap bayar fiskal meski ortu sudah punya NPWP????
    Tolong beritahu jawapannya y pakdhe,,,,
    Trimakasih…

  4. .adduhhh.. pusssing…
    terserrrah pemerintahh adjah dehh…

    gw… rieuuudt… kluu ngurussind kaiia ginni magh…
    gag kan kellar-kelllarr bwadt massalahh inii mugh…!!!

    h.heuu..

  5. pak, tlg dibales ya soalnya sy juni nanti rencana mau liburan ke malay, satu keluarga termasuk ortu sy. Suami dah punya NPWP tp ortu blm. Setahu sy ortu bisa bebas fiskal jg tp hrs pakai srt pertanggungan dr anak & melampirkan KK. Kalo ortu tdk dlm 1 KK bisa gak ya? Sy tinggal terpisah dg ortu, sy di Sby ortu di Jateng.Satu lagi Pak, kalo keponakan sy ikut pergi (umur <21 th) apakah hrs membawa FC. NPWP & KK ortu-nya?
    Semoga Bapak dapat menjawab pertanyaan2 sy & terima kasih banyak.

  6. mau bayar pajak aja, susah, dipersulit, dipalak .. apalagi mau cari pinjaman. he he he he.

    “Sudah bayar pajak, tapi dikorupsi … APA KATA DUNIA … !!!” ada yg berani buat iklan gini ndak ya ? .. he

  7. NO TAXATION WITHOUT REPRESENTATION

    ini slogan hukum di eropa dan negara2 welfare state (mengutamakan kemakmuran rakyat dan negara)

    setiap warga negara pembayar pajak harus mendapatkan hak-haknya secara proporsiona.

    Nah ‘PEMALAKAN” karena adanya rasa terpaksa oleh peserta wajib pajak. tetapi saya pikir maklum dalam kasus tertentu.
    sebut saja misalnya :

    Pajak kendaraan. Setiap tahun kita dipaksa, jika telat/tdk bayar pajak ditilang oleh DLLAJR. Tetapi apakah kita telah mendapatkan hak2 kita. Lihat saja, banyak jalanan rusak berat, hingga sering terjadi kecelakaan, bahkan sampai merenggut nyawa. Dan orang yg celaka itupun belum tentu mangkir pajak.

    salam

    sabdalangit’s web

  8. pa Dhe…
    ide mbak indahs:”Bila memang pemerintah Indonesia ingin membangun kesadaran wajib pajak bukan mau memalak warga negaranya yang sering ke luar negeri dengan fiskal, kenapa gak sekalian setiap pembuatan paspor sekaligus dibuatkan NPWP jadi otomatis gitu loh. Atau dengan nomer KTP jadi nomer pajak, kan mekanisme-nya tinggal setiapkali perpanjangan KTP setiap warga usia 21 tahun langsung otomatis dapet NPWP. Dengan mekanisme ini, penduduk Indonesia juga gak bisa se-enaknya punya KTP ganda.”, bisa diangkat jadi “proyek koordinasi antar Departemen”….

  9. Pakdhe….
    Kapan ya KPK masuk ke Kantor Pajak.
    Biar ada Tramsparansi, karena sebagian Masyarakat ( termasuk saya ), khawatir :

    1. Hasil Pajak diselewengkan.
    2. Biaya Operasional ( Gaji Pegawai Pajak ) tidak rasional/terlalu besar dibanding PNS dari Dept. lain tetapi Setingkat/Sepangkat/Sejabatan. Sehingga Nett. Pajak yang disetor ke Kas Negara jadi berkurang ( Kalau Biaya Operasional ( Gaji Pegawai Pajak ) diambil dulu dari Hasil Pajak.

    Matur nuwun.

  10. pagi bapak2 dan om om. mau tanya neh kalo saya dengar isu kalo NPWP karyawan tidak termasuk yang bebas fiskal. bagaimana tuh, secara kita kan hanya karyawan…? makasih

  11. saya warga indonesia bertempat tinggal di luar negeri Germany.mau tanya
    apa bila saya pulang ke indonesia untuk liburan dan akan balik ke german apa saya harus bayar fiskal karena saya idak puya NPWP… tahun kemarin saya bebas fiskal.. apakah di tahun 2009 harus bayar apa tidak

  12. saya setuju2 aja ada program peningkatan pembayaran pajak tapi tolong beri sanksi yang jelas & gunakan uang pajak benar2 u/ kepentingan negara bukan masuk di kantong tikus berdasi…kesadaran adalah hal yang paling penting demi kemajuan bersama bukan begitu pak dhe??????

  13. setuju aja dengan program persyaratan NPWP untuk bebas fiskal ini, jadi biar para pengemplang pajak semangkin berkurang 🙂

    btw, mumpung kayaknya ada orang pajak ikutan mantengin postingan pakdhe, bisa sekaliyan numpang nanya, kalok mbetulin alamat di NPWP gimana ya? soale saya domisili padang tapi pas terima NPWP alamat saya berubah menjadi di suatu kota kabupaten di Jateng. pas nanya2 di telpon juga dilempar-lempar, dan penjelasannya juga nggak tuntas, sampek saya bosen sendiri, ada yg bisa bantukah? ???

  14. Barusan saya dengar di radio bahwa kewajiban membayar fiskal (untuk yang tidak/belum punya NPWP) sampai akhir 2010. Mulai tanggal 1 Januari 2011, seluruh biaya fiskal dihapus.

  15. mas sampai sekarang forum tersebut masih pasif(gk ada yg online sepertinya)…

    mas tolooong bgt jawaban untuk soal2 dibawah ini
    .soal sisanya kebetulan saya sudah cari2 jawabannya di buku,dan tinggal ini saja yang belum

    trims bgt mas rovicky..
    salam fuad
    slmt tahun baru

    –> Maaf saya enggan menjawab soal-soal ujian disini. Ini adalah tugas mahasiswa untuk mencari dari literatur. Juga diskusi sesama mahasiswa.

  16. Biaya fiskal ke luar negeri yang seharusnya dihapuskan karena tidak jelas apa keuntungan bagi pembayar fiskal ketika meninggalkan Indonesia ke luar negeri. Asuransi aja mesti bayar terpisah, belum lagi pajak airport. Biaya fiskal ke LN menurut saya sih palak bukan pajak.

    NPWP memang lain persoalan. Saya rasa memang Indonesia perlu ada kesadaran wajib pajak sehingga warga pun jadi sadar akan hak yang harusnya diperoleh dari negara.

    Bila memang pemerintah Indonesia ingin membangun kesadaran wajib pajak bukan mau memalak warga negaranya yang sering ke luar negeri dengan fiskal, kenapa gak sekalian setiap pembuatan paspor sekaligus dibuatkan NPWP jadi otomatis gitu loh. Atau dengan nomer KTP jadi nomer pajak, kan mekanisme-nya tinggal setiapkali perpanjangan KTP setiap warga usia 21 tahun langsung otomatis dapet NPWP. Dengan mekanisme ini, penduduk Indonesia juga gak bisa se-enaknya punya KTP ganda.

  17. Ibarat keluarga yang sudah bankrut dan penuh dengan hutang, si kepala keluarga (pemerintah) akhirnya hanya mengandalkan penjualan harta keluarga (aset negara) dan meminta paksa uang kepada anggota-anggota keluarganya (rakyat —> bayar pajak).

    🙁

  18. Salam kenal Pak Dhe..
    saya memang belom masuk wajib pajak, maupun sunah pajak 😀 kemarin pas baca tentang pajak, jadi pusing karena banyak sekali pasal-pasal yg kurang aku mengerti
    dengan baca posting pak dhe jadi terbantu..
    Thx pak dhe, seneng baca tulisan2 pak dhe

  19. ya smoga saja, masyarakat jad lebih sadar pajak dengan ditingkatkannya pelayanan di kantor2 pajak. dihapuskannya “dosa” penunggak pajak juga merupakan sesuatu yang menarik bagi masyarakat, hanya saja mungkin masyarakat masih bingung cara membayar pajak & mendapat NPWP. mungkin dinas perpajakan bisa menjemput “bola” seperti mengadakan konsultasi pajak dengan mobil keliling di gedung-gedung perkantoran, universitas, dan tempat-tempat umum yang strategis.

  20. Wah bagus infonya Pak Dudi
    Jadi memang bisa dipermudah kaan ?

    Smoga angka 10 juta pemilik NPWP bisa berubah.
    Mas Dudi tentunya juga tahu bahwa dulu (tahun 2005) juga sudah pernah penyerahan NPWP ke 10 juta,
    http://www.indosiar.com/news/fokus/45742/presiden-serahkan-npwp-ke-10-juta
    Yang terulang kembali beberapa waktu lalu.
    http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2008/12/25/brk,20081225-152549,id.html
    mboh mana yang bener. Yang penting harusnya pemilik NPWP di Indonesia jauh diatas itu kan ?

  21. Maaf, baru bisa mampir lagi untuk melanjutkan komentar ketiga saya tentang aturan mudah bagi yang berpenghasilan rendah.
    Pak dhe, sebenarnya usaha ke arah mempermudah bagi berpenghasilan rendah itu sudah ada. Kita tahu bahwa ada formulir 1770 SS bagi Wajib Pajak yang bekerja dangan penghasilan setahun tidak lebih dari Rp48 Juta (sekitar Rp4 Juta sebulan). Dengan formulir ini, Wajib Pajak hanya mengisi satu lembar SPT saja dengan dilampiri bukti potong dari perusahaan.
    Batas penghasilan karyawan yang Rp4 Juta sebulanpun menurut saya sudah jauh di atas PTKP. Sebagaian besar karyawan/pegawai di Indonesia penghasilannya masih di bawah Rp4 Juta sebulan. Sehingga ketentuan ini menjangkau WP karyawan yang sangat banyak.
    Bagi WP yang punya usahapun yang omzetnya di bawah batas tertentu ada ketentuan penghitungan penghasilan neto dengan norma penghitungan sehingga Wajib Pajak mudah menghitung laba tanpa perlu melakukan pembukuan.
    Jadi, pemikiran pak dhe untuk menyederhanakan tatacara penghitungan dan pelaporan pajak sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelumnya.

  22. sekali lagi masalah pelayanan yang dituding agar semua Warga Negara mau dan Ikhlas membayar pajak.

    menurut saya soal pelayanan sangat relatif sekali, antara bapak A yang masuk 1000 besar orang terkaya sejawa dengan bapak B yang masuk 10 besar orang terkaya di RT saya 🙂

    Ada yang bilang bahwa pelayanan di Kantor Pajak sangat baik hanya dikarenakan mengambil formulir apapun di sana gratis plus tutorial cara mengisi.

    Ada yang bilang pelayanan di Kantor Palak juelek hanya karena konsultasi via telepon kurang memuaskan beliau.

    Saya sih pinginnya lancang masuk ke kantor walikota, bupati, DPR dan bilang kalo saya ini juga mbayar pajak lho pak, tolong sekolahan digratiskan hehehe

    btw, salut dengan pak Rovic dengan ciri khasnya yang nyerempet sana sini 🙂 bikin gerah mental juragan ….

  23. nuwunsewu…

    saya mahasiswa pak, mau studi ke luar (malaysia)
    baru pertama kali ke luar negeri, cuma ada offer letter dari perusahaannya, student card belum ada

    saya dari kantor pajak mau ngurus NPWP, kok katanya kalo belum punya penghasilan gk bisa ngurus, soalnya harus ada keterangan dari perusahaan, lah trus gimana yaa..

  24. Tau ngga, secara esensi sebenarnya pajak itu gunanya buat apa?
    Buat mengurangi angka inflasi !!!
    Ini serius loh.
    Buat mengurangi angka inflasi..

    Pada dasarnya, negara itu ngga butuh rupiah loh.
    Lah wong yang bikin rupiah itu negara.
    Kalo negara mau, dia cetak sendiri duit 5 ribu trilyun, rakyat mau apa?
    Tapi kan negara ngga boleh kayak gitu.

    Kalo uang terlalu banyak beredar di masyarakat, yang terjadi adalah inflasi tinggi.
    Harga-harga naik, kemudian rakyat demonstrasi lagi.
    Sebenarnya bukan harganya yang naik, tapi uangnya yang terlalu banyak beredar di masyarakat.
    Untuk mengurangi peredaran uang ini, negara menariknya kembali dari masyarakat.. salah satunya dengan instrumen pajak.

    Pemerintah kita sekarang saya kira ngga terlalu sontoloyo kok.
    Kalo mau lihat pemerintah yang bener-bener sontoloyo, lihat pemerintah Zimbabwe sekarang.
    Tahun 2008 ini angka inflasinya mencapai jutaan persen.

    Ini contoh gambar 3 butir telur di Zimbabwe seharga 100 Milyar uang Zimbabwe.
    http://www.newzimbabwe.com/pix/$100bneggs.jpg

  25. jadi klo g settle di LN itu tetep kena fiskal y pakdhe ? trz klo study mestinya kn termasuk settle jg kn ?

    trz NPWP itu besarnya berdasarkan apa pak dhe ? soalnya kmrn pz saya diskusi ama temen nih (habis baca artikel ini :D) , dia bilang , “wah , punya NPWP dan bebas fiskal atau g px NPWP tp kena fiskal klo d itung mah sama aja . sama bayarnya” . lha trz saya juga yang bingung mw jawab apa 🙁

    @ dudi : klo di pikir2 , palak ama pajak g beda jauh lho . seperti yang Anda contohkan pada poin kedua

    Kedua, perhitungan besarnya pajak diatur dengan ketentuan yang jelas, sementara pajak tergantung pemalaknya

    banyak kejadian klo di kantor pemerintah yang berkaitan dg administrasi , yg mudah jadi susah , yg susah di buat susah lagi . sehingga ntr orang lebih memilih jalan mudah tp bayar lebih daripada jalan susah tp bayar kurang . ada banyak pengalaman seperti ini .

  26. Komentar kedua tentang pelayanan pak dhe 🙂
    Sepertinya pak dhe menganggap pelayanan kantor pajak sangat buruk sampai-sampai disamakan dengan pemalakan. Saya tidak tahu persis alasan pak dhe mempunyai persepsi seperti itu. Mungkin pak dhe punya kasus atau pengalaman buruk khusus yang mendukung persepsi itu. Atau mungkin saja pak dhe sering mendengar cerita-cerita negatif tentang pajak. Alangkah baiknya pengalaman atau cerita itu dibuka saja demi perbaikan kantor pajak di masa depan.
    Berbicara pelayanan pajak, seperti pernah saya tulis dalam komentar terdahulu, bisa bersifat subjektif. Mengapa? Karena sifat pajak itu memang memaksa seperti pak dhe gunakan dalam menyamakan pajak dengan palak. Ya, seandainya petugas pajak sudah menjalankan tugas sesuai ketentuanpun belum tentu akan memuaskan Wajib Pajak karena walau bagaimanapun Wajib Pajak merasa “terpaksa” membayar pajak.
    Namun demikian, semenjak reformasi birokrasi dijalankan di instansi pajak beberapa tahun lalu, aspek pelayanan secara umum menjadi salah satu aspek yang diperhatikan. Sayang, tulisan pak dhe tidak menyebutkan secara spesifik pelayanan apa yang membuat citra pelayanan pajak begitu buruk. Kalau hanya sekedar email pengaduan yang tidak dijawab saya rasa bukan alasan untuk menggeneralsir pelayanan pajak.
    Kalau yang dimaksud dengan pelayanan itu seperti pelayanan di bank-bank, saya kira kantor pajak sudah melakukannya. Ruang tunggu ber AC, ada televisi, surat labar, mesin antrian, air minum dll. Kalau yang dimaksud pelayanan itu adalah pembuatan NPWP, maka proses pembuatan NPWP secara umum sehari jadi, bahkan ada yang bisa ditunggu. Bagi karyawan perusahaanpun, pembuatan NPWP bisa dilakukan secara kolektif di KPP rempat perusahaan terdaftar. Kalau yang dimaksud dengan pelayanan itu masalah restitusi perusahaan, prosesnya relatif mudah. Kepastian waktu penyelesaiannyapun ada. Tanpa biaya lagi.
    Seorang blogger yang kebetulan seorang direktur perusahaan yang dulunya sangat skeptis tentang pelayanan kantor pajak memberikan kesaksiannya di link berikut :
    http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/reformasi-di-kantor-pajak/
    Namun demikian, memang sebaiknya masalah pelayanan kantor pajak itu harus melalui survey dengan menggunakan analisis statistik yang bisa dipertanggungjawabkan. Artinya menilai tingkat kepuasan atau pelayanan tidak bisa berdasarkan satu dua kasus, baik kasus pro atau kontra, untuk menggeneralisir masalah.
    Pada tahun 2005, AC Nielsen pernah melakukan survey terhadap Wajib Pajak yang terdaftar pada KPP WP Besar yang merupakan kantor pertama dalam melakukan reformasi. Silahkan klik link berikut untuk mengetahui hasilnya.
    http://www.kapanlagi.com/h/0000084058.html atau http://www.majalah.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2005/09/27/brk,20050927-67125,id.html
    Bank Dunia juga pernah melakukan survei terhadap beberapa negara tentang pelayanan pajak. Hasilnya, pelayanan pajak di Indonesia ternyata cukup bagus.
    http://jkt6a.detiksport.com/read/2005/11/16/135730/479394/4/pelayanan-pajak-ri-terbaik-versi-bank-dunia
    Mungkin ada suvey yang menyatakan sebaliknya, silahkan bagi pak dhe atau pembaca lainnya untuk memberikan linknya agar informasinya lebih berimbang.

  27. Terima kasih pak dhe, komentar saya dibahas dalam postingan khusus.
    Mengenai pajak vs palak, saya menangkap kesan bahwa pak dhe menyamakan antara pajak dengan palak (tolong diluruskan kalau saya salah) dengan rujukan sebagaimana pak dhe sebutkan.
    Sebenarnya saya mengharapkan pemelesatan pajak dan palak ini hanya sekedar bumbu tulisan untuk mendramatisir tulisan. Ternyata saya keliru.
    Namun demikian, menurut pemahaman awam saya yang tentu saja tanpa rujukan, pajak dan palak jauh berbeda.
    1. Pertama, pajak memiliki dasar hukum yang kuat. Seingat pelajaran SD saya, dasar hukum pemungutan pajak itu adalah Pasal 23 UUD 1945. Palak tentu saja tidak punya dasar hukum, hatta dengan Perda sekalipun.
    2. Kedua, perhitungan besarnya pajak diatur dengan ketentuan yang jelas, sementara
    pajak (koreksi) “Palak” tergantung pemalaknya.
    3. Ketiga, pajak menjanjikan imbalan walaupun tidak langsung kepada pembayarnya sementara palak jelas tidak menjanjikan imbalan.
    4. Keempat, palak dilakukan bermodalkan kekuatan fisik oleh preman jalanan sementara pajak dilakukan oleh institusi formal dengan dukungan UU.
    5. Kelima, palak adalah (mungkin) tindakan kriminal tapi pemungutan pajak jelas bukan kriminal.
    6. Keenam, pajak memiliki fungsi sosial di mana pembayar pajak oleh sebagian fihak dikembalikan untuk menyediakan barang-barang publik bagi seluruh rakyat. Palak biasanya hanya untuk kepentingan pribadi atau (mungkin saja) untuk kepentingan sekelompok orang.
    Maaf kepanjangan pak dhe. Komentar lainnya saya buatkan dalam komentar terpisah saja biar mudah dibaca.

    –> Hi Pak Dudi, trims penjelasan anda.
    Walaupun panjang saya yakin pembaca disini suka sebagai bahan pembelajaran bersama. Penjelasan Pak Dudi ini memang sebuah penjelasan kondisi ideal yang seharusnya memang begitu. Sepertinya anda tahu bahwa istilah ini yang sengaja saya “plesetkan”.
    Persepsi anda tentang pajak sebagai petugas pajak ya memang seharusnya begitu. Lah wong anda abdi negara yang bertugas untuk itu. Namun kalau anda memposisikan diri bukan petugas pajak tetapi anda pembayar pajak (seperti saya) mungkin akan berpikir lain. Saya mencoba satu contoh untuk point ketiga, ketika fasum dan fasos itu buruk maka point ketiga menjadi terkesan berbeda dengan yang anda tuliskan. Memang item-item yang Pak Dudi tulis adalah kondisi ideal, kita tahu bahwa sebenernya kondisi ideal itu suulit adanya. Tetapi lebih sulit memahami rakyat yang suka mikir begitu. Sialnya rakyat ini selbih sering melihat secara parsial.

  28. Maaf OOT….

    Pak Dhe udah denger apa belom kalo di Kebomas, Gresik muncul semburan lumpur. Berikut link-nya:

    http://surabaya.detik.com/read/2008/12/28/121323/1060157/475/warga-masih-was-was-semburan-lumpur-di-gresik-membesar

    Gimana Dhe? Ulasan Pak Dhe sangat ditunggu² nih 🙂
    Terima kasih sebelomnya.

    Oh ya, sekalian mo ngucapin:

    Selamat Tahun Baru 1430 H.
    Selamat Tahun Baru 2009 M.

    Tahun baru, harapan baru, semangat baru……….. pasangan baru ops…. 😀

  29. NPWP itu Nomor Pokok Wajib Pajak. Itu hanya nomer registrasi saja. Gunanya untuk membayar pajak apabila kita memiliki penghasilan diatas PTKP – Pendapatan Tidak Kena Pajak.
    Nanti kalau lapor perpajakan (setahun sekali), kalau mahasiswa belum punya penghasilan ya tinggal lapor saja masih mahasiswa dengan melampirkan kartumahasiswa, dan menyebutkan penghasilan NOL, dan TIDAK membayar pajak sama sekali.
    Kalau Ahmad punya NPWP kalau ke LN ngga perlu membayar fiskal (gratis). Kalau ga punya NPWP harus membayar fiskal 2,5 jt.
    Tinggal 6 bulan yang bebas fiskal itu untuk mereka yang “tinggal” (domisili) di LN.

  30. jadi kita bisa bebas fiskal dengan bayar NPWP pak dhe ? trz klo g px NPWP , kita msti bayar fiskal setiap ke luar negeri kh ?

    oh iya , sharing pengalaman sekalian tanya kebenaran . waktu saya balik ke malay (saya sekolah dsini) untuk yang kedua kali (yang pertama untuk pendaftaran dsb) dan jangka waktu antara yang pertama dan kedua itu kurang dari 6 bulan . trz petugas bandara bilang ke saya , “mas , klo tinggal d luar negeri yang lama sekalian (lebih dari 6 bln) biar bebas fiskal” . yang ingin saya tanyakan , perkataan petugas itu bener g pak dhe . soalnya saya tanya temen saya yang bagian perpajakan dan jawabannya masih belum membuat saya jelas .

    pertanyaan terakhir pak dhe (untuk saat ini) , klo mahasiswa juga bayar NPWP , trz bayarnya pke apa ? asumsinya mahasiswa dengan umur 21 tahun belum bekerja .

    trz bisa jelaskan lebih lanjut tentang pajak ini g pak dhe ? atau linknya deh .

  31. pakdhe, orang memang merasa dipalak kalo merasa terpaksa harus membayar, apalagi kalo yang dibayarkan tidak masuk ke negara, melainkan masuk ke kantong pribadi, atau hasil pajak yang dikumpulkan ke negara diselewengkan oleh oknum” pengguna anggaran…

    pengalaman traumatis masa lalu dan masih adanya beberapa oknum serta berbedanya pemahaman akan menambah ‘bumbu’ rasa palak ini…

    sudah saatnya aparat perpajakan membuktikan dulu bahwa dirinya bersih, memberi contoh yang baik, insyaa Allah rakyat akan ikhlas membayar pajak untuk negara tanpa perlu merasa ‘dipalak”…

Leave a Reply