Longsoran di Bukit Antar Bangsa, Kuala Lumpur

13

Semalam (Sabtu, 6 Desember 2008, jam 4 pagi) terjadi longsoran sangat besar di Bukit Antar Bangsa. Kualalumpur. Lokasi ini sebenarnya tidak jauh dari kediaman saya. Namun alhamdulillah perumahan disekitar rumah saya sudah cukup lama dibangun, termasuk daerah tua dan bukan menjadi daerah perkembangan kota Kuala lumpur yang moderen.

Dalam gambar diatas terlihat kota Kuala Lumpur, rumah saya berada disebalik bukit ini.

Longsoran di Malaysia, Kuala Lumpur ini agak berbeda dengan di Indonesia. Batuan di perkotaan ini batuan yang sangat tua (basement) yang sangat lapuk sehingga sangat rentan. Namun daerah yang berbukit-bukit dipaksakan untuk dibangun perumahan. Di Indonesia pegunungan tentunya miliknya “orang gunung”, orang kota hidup di dataran yang landai.

Sampai saya menuliskan ini sudah tersiar kabar 3 orang meninggal dunia terkubur, 15 luka-luka. Dan lebih dari 2000 orang diungsikan. Helikopter sejak pagi masih mondar-mandir mengamati bencana ini. Berita terbaru malam ini bahkan tiga apartement berpenghuni 3000-4000 orang juga diungsikan sementara longsoran masih terus berlanjut

Salah satu kawan dari Indonesia rumahnya terkubur, alhamdulillah semua keluarganya aman. Pihak KBRI-pun telah membantu membuatkan passport dalam waktu sehari.
Salah satu kawan dari Indonesia rumahnya terkubur, alhamdulillah semua keluarganya aman. Pihak KBRI-pun telah membantu membuatkan passport dalam waktu sehari.

Coba tengok perumahan yang terkena longsoran. Kawan-kawan di Indonesia tentunya akan melihatnya seperti pemukiman mewah di Puncak bukan ?

Kalau melihat kedua gambar diatas tentunya kita tahu bahwa. Longsoran ini sangat mungkin akibat kurangnya pengaturan serta penataan bangunan di daerah yang rawan. Namun perkembangan kota Kuala Lumpur yang sangat pesat ini memang sangat-sangat memerlukan pemikiran rekayasa (civil engineering) yang sangat pelik.

Longsoran lain juga terjadi di Bukit Damansara. Sebuah daerah pemukiman baru yang cukup ternama disekitar Kuala Lumpur. Di Damansara ini sebuah dinding penahan telah runtuh dan mengubur lebih dari 15 mobil dibawahnya.

http://gallery.thestar.com.my/thumbnails/1166/firemen.jpgKalau Jakarta tentunya kita tahu bahwa topografi atau tanahnya sangat-sangat datar yang mungkin tidak akan mengalami musibah longsor. Namun tanah datar Jakarta akan sangat rentan untuk banjir.

Tentusaja dimusim penghujan ini kita harus “bersiap-siap” menghadapi banjir. Tidak berarti bahwa rumahmu akan kebanjiran, tetapi ketika banjir maka aktifitas kehidupan akan terganggu, kekantor susah, belanja makanan kepasar juga susah. Perlu persiapan menghadapi setiap perubahan musim serta perlu mengenali kejadian atau gejala alam ditempat bumi berpijak.

Harus ada pembelajaran (learning) dalam menghadapi alam.

Education can’t stop natural disasters from occurring, but it can help people prepare for the possibilities

(sumber gambar : The Star)

13 COMMENTS

  1. Ngikut koment, lha jenengan tinggal berapa jauh dari lokasi ? jangan-jangan ikut dalam zone kerentanan gerakan tanah tinggi. Kalau melihat gambar dan selintas cerita batuanya kayaknya itu masuk Zone merah (rawan tinggi), tapi bagaimana bisa peerintah Mlaysia yang dikenal lebih taat atuarn dibandig Indonesia mengmbangkan pemukiman disitu ya. Kayaknya ada muridnya Bu Rita UGM dari Malaysia program AUNSIGNET yang thesis (S-2)di bukit itu, mungkin bisa menjadi tambahan info,kalau gak salah namanya Asraf, nuwun kang… kapan balik Yojo

    –> Hi Chusni,
    Aku tinggal disebalik bukit yang longsor itu. Sebenere banyak daerah atau lokasi pemukiman di KL ini yang berada di lereng bukit. Namun ini memang daerahnya sudah begitu dari sononya. Peristiwa ini saya yakin juga akan terjadi dengan ataupun tanpa adanya intervensi manusia. Hanya saja, setiap ada longsoran sering berhubungan dengan adanya retaining wall yg tidak kuat menahan longsor.
    Lah wongi barusan sehari ke Jogja. Mampir nengok sibu 🙂 Salam buat kluarga.
    (pssst Pak Chusni ini sahabat Pakdhe sewaktu sekolah di geologi looh, beliau ahli geologi di LIPI, wuih hebat deh).

  2. Hahaha
    Mas Marufin ini bisa saja. Lah dimana-mana itu yang namanya gejala alam ya selalu ada. Hanya saja ketika menimpa manusia disebut bencana. Di jakarta ada banjir, di sini ada longsor, di LA ada gempa.
    Yang perlu dilakukan adalah belajar dari bumi yang dipijak 🙂

  3. # Amel

    Pakdhe ini kayaknya ngikutin juga jejak-jejak “Para Pengamat Bumi” dan ustadz2 gempa lainnya :). Misalnya saja pak Danny Hilman Natawidjaja, pakar gempa kesohor yang mengungkap siklus 200 tahun-an gempa2 di zona subduksi Sumatra (termasuk gempa 2004 lalu), sampe hari ini masih bahagia aman sentosa milih tinggal di Bandung, meski di utara Bandung membujur patahan Lembang. Begitu juga pak Agus Hendratno, Shalahuddin Husein dan Eko Teguh Paripurno di Ngayogyakarta, masih tinggal tenang dan aman sentosa di kota yang baru saja diterjang gempa kuat 2006 silam ini, ya juga ga jauh2 amat dari patahan Opak. Di mancanegara sana, ada nama Costas Synolakis, Plaffke dan Kerry Sieh, para peneliti gempa yang tetap saja milih tinggal di Los Angeles meski mereka tahu di dekatnya membujur patahan besar San Andreas dan hayward, sementara di Pasifik membujur zona subduksi yang udah 200-an tahun juga belum terpatahkan lagi.

    Trend-nya para ahli geologi ya pakdhe? Nopo taksih betah teng KL, dereng wayahipun kondur teng Ngampilan? hehehe

  4. Pak de Vicky, kok yo tinggal di daerah dekat rawan longsor, apa lupa resikonya atau biar dekat ngamatinya kalo sewaktu-waktu ada longsor.

  5. Alhamdulillah panjenengan ndak ikut kena longsor. Seharusnya memang ada pengaturan khusus untuk tempat2 seperti itu. Kemringan bukit itu curam ya, lagipula tanahnya juga lapuk. Cukup syaratnya untuk longsor melongsor.

  6. kita turut prihatin dengan kondisi tersebut, ini menjadi perhatian bagi saudara-saudara kita yang berada didaerah yang rawan dan berpotensi longsor

Leave a Reply