Si Pro dan Si Kontra

13

Ada diskusi menarik yang lagi-lagi nguprek-nguprek PLTN. Seorang kawan di mailist IndoEnergy bergumam begini :

> Bapak pendukung PLTN pasti akan cari terus kebaikan PLTN. Saya tidak setuju
> PLTN dibangun di Indonesia, apapun yang negatif tentang PLTN akan saya
> sosialisasikan kepada masyarakat. Hak kita sama sebagai warganegara.
> Pro PLTN dan pemerintah sosialisasi kebaikan PLTN, anti PLTN sosialisasikan
> keburukan PLTN. Nanti rakyat yang putuskan bangun atau tolak PLTN.

Pro kontra itu wajar dalam setiap rencana program ataupun menilai sesuatu. Perilaku anti atau pro bukan aneh pada manusia. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana manusia mampu memanfaatkan kedua kubu ini menjadi sebuah hasil yang positip, atau kata simbah itu “Win-Win”.

Win-win

“Ah teori !

Hasil dan bentuk dari interaksi pro-kontra itu dipelajari dalam cabang ilmu matematika yang dikenal dengan nama game theory. Tipe permainan dalam “game theory” ini bisa berbagai jenis. Apakah Cooperative atau non-cooperative. Mau bermain symetry atau un-simetry. Apakah akan “zero sum” ataukah “non zero-sum”.

Hasilnya bisa “win-win“, “win-lose“, atau “lose-lose“. Nah siapa yang menentukan hasil ini ? Ya tentusaja mereka-mereka yang berinteraksi didalamnya.

Alam mengajarkan apa ?

Alam mengajarkannya bermacam-macam, namun dalam perjalanan sejarah manusia, yang cukup sering terjadi adalah lose-lose atau win lose. Seringkali yang Lose-Lose atau Win Lose dilakukan dengan “kontradiksi” dan untuk manusia bentuk interaksinya “argumentasi“.

Kontradiksi adalah memperlawankan adanya perbedaan pendapat. Dalam permainan ini yang dicari adalah kelemahan dari masing-masing lawan untuk ‘melemahkan lawan”. Dalam komunikasinya berbentuk argumentasi akalau kita ya ‘eyel-eyelan’. Dalam interaksi terburuknya adalah perang. Wuik !!

Mungkinkah win-win ?

Ya jelas mungkin lah. Saat ini tentunya sudah lebih banyak manusia yang ingin rukun dibandingkan yang yang ingin hancur. Bagaimana menjadikannya positive sum (win-win), salah satu caranya “negosiasi“, metodenya dengan”komunikasi” dalam bentuk diskusi.

Anehnya alam ini secara keseluruhan (mungkin) tidak zero sum. Lah wong lebih banyak kita melihat adanya kemajuan peradaban manusia ketimbang kemunduran. memang ada daerah-daerah yang mundur, tetapi secara keseluruhan manusia semakin pinter, semakin maju, semakin beradab. Bandingkan saja manusia seribu tahun lalu dengan sekarang.

Mekanisme keputusan

Bagaimana kalau kembali ke LapTop, soal PLTN ini saja …
Saya agak sedikit berbeda dengan kawan diatas tentang siapa yang pro dan siapa yang kontra. Saya tidak melihat bahwa pemerintah termasuk yang pro, sedang rakyat lebih cenderung kontra. Keduanya memiliki sisi yang sama. Demikian juga pengusaha dan wakil rakyat serta akademisi. Jadi bukan rakyat yang memutuskan bangun atau tolak PLTN. Juga PLTN bukan sekedar “maunya” pemerintah atau pengusaha begitu saja.

Dalam ranah politis rakyat sudah memberikan kepercayaannya pada DPR, dan juga sudah secara legal mempercayakan jalannya negara ke pemerintah.

Apakah rakyat tidak bisa menolak ?
Wooo, jelas ngga sesederhana begitu … dalam model pengambilan keputusan disini, kalau semua berbicara semua nanti akan mengatas namakan dirinya wakil rakyat,
ini pasti runyem ! dan akhirnya paling akan menjadi Zero Sum Hasilnya nol atau minur (Win-Lose atau Lose-Lose)

Yang lebih penting untuk dimengerti dan dipahami adalah :
Apapun keputusannya ….. “mekanisme pengambilan keputusannya” jelas harus kita hargai bersama.

Kita sudah sering berhadapan dengan kasus-kasus multi dimensi dalam soal energi. Contoh kongkrit itu Lusi dan juga kasus Cepu.

  • Ada dimensi science. Dalam hal ini science akan mengkaji sisi ilmiah, apakah kita perlu PLTN atau tidak. Dasarnya bisa macam-macam termasuk diantaranya supply-demand, apakah kita akan tercukupi kebutuhan energinya tanpa PLTN. Kalau iya apakah siap penggantinya ?
  • Ada dimensi Tehnis operasi, Misal keselamatan. Apakah kajian keselamatan mengatakan kita OK dengan membangun PLTN  “disitu”. Variabelnya adalah Tipe PLTN, dimana dibangunnya, Hazard zone serta mitigasi  lingkungan/ pemukiman, sistem pengawasan dll.
  • Ada dimensi ekonomis. Dalam soal ekonomi akan dibahas beberapa pertanyaan. Berapa biaya konstruksinya, berapa harga jualnya dan masihkah memerlukan subsidi ?
  • Dimensi hukum. Aturan hukum dll
  • Dimensi Politis dan strategis … ini ranahnya pengambil keputusan di DPR dan pemerintah.

Yang ideal memang seluruh evaluasi dan diskusi serta udreg-udregan diatas akan menghasilkan satu keputusan yang kongruent. Dan akan bagus kalau semua setuju. Namun hal ideal ini sangat jarang.
Dan saya sendiri yakin bahwa keputusan ini saat ini sudah dalam keputusan politis ! Sebuah dimensi yang paling kompleks dalam peradaban manusia.

🙁 “Lah trus bagusnya bagaimana Pakdhe ?”

😀 “aku lebih cenderung menggunakan negosiasi dan komunikasi, ketimbang kontradiksi dan argumentasi”

🙁 “Tapi negosiasi rawan korupsi Pakdhe “

😀 “Nah itulah dimensi hukum yang perlu dipikirkan. Ini tugas KPK”.

Bacaan ang terkait :

13 COMMENTS

  1. Ya benar aja Mas Karin….. masa pemerintah masalah energi listrik masih dalam wacana……………………………………………………..
    Kenapa sih kok kurang tegas masalah energi yang satu ini?

  2. Dengan maraknya gelombang protes masyarakat Balong awal bulan ini Desember 2009 dengan jalan mengirim ribuan surat ke SBY yang ditandatangani oleh masyarakat Balong dan sekitarnya, maka pemerintah tidak akan ambil resiko energi nuklir masih dalam taraf wacana untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut.

  3. Rasa emosional sekali waktu memang perlu ditunjukan menyimak mailist Mas John “masalahannya bukan sekedar sience tapi perlu diperhatikan moral para komprador propltn yang suka korup dan boong”……….
    Sehingga bila dilanjutkan mega proyek ini sangatlah dikuatirkan oleh sebagian masyarakat Jepara dan sekitarnya bila terjadi pengurangan2 bahan baku yang akan mempengaruhi sistem keamanan dari pltn itu sendiri.
    Terlebil pabrik semen diprotes banyak warga dari wilayah Pati Jepara, dengan kata lain perjalanan semen…..akan lebih jauh dan kemungkinanan terceran di jalan lebih banyak.

  4. Sudah yakinkah kita menjaga sebuah tanggung jawab dan bahaya besar bila terjadi kebocoran Reaktor Nuklir yang dampak dan area terkontamonasi radiasi cukup luas dan lama. Siapkah saudara-saudaraku sebangsa dan tanah air akan bahaya radiasi, setahu saya bahwa radioaktif itu nenpunyai umur yang sangat panjang sehingga bila berada di lingkungan kita dan liar maka sepanjang umur sumber itulah memancarkan radioaktif yang dapat merusak jaringan tubuh kita.
    Dengan kata lain 2 sampai 3 generasi terkena dampaknya terlebih organisasi yang menangai tidak sehat maka kecenderungan human error besar sekali…

    Ketidakpercayaan masyarakat beralasan, karena bahaya yang akan ditimbulkan bila terjadi benar-benar ada kebocoran dan kebocoran itu tidak bisa dideteksi dengan mata telanjang kecuali dengan menggunakan alat proteksi radiasi.

    Pada akhirnya masyarakat yang menentukan dengan segala resikonya.

  5. pak dhe……..
    masalahnya bukan sekedar sience, tetapi perlu diperhatikan moral etik para komprador propltn
    suka korup, suka boong, dll yang dibangun dulu baru ke yang laen-laen ini fakta pejabat indonesia.
    fakta lain bahwa pasca tragedi chernobyl belum ada lagi instalasi PLTN yang selesai dibangun dan operasi malah cenderung beralir ke EBT

    kesimpulannya kenapa ngebet bangun PLTN ? kecuali ada motivasi 8%-10% komisi proyek yang “wajar” berlaku dalam setiap proyek. (bahkan beli tanah untuk BAPETEN pun begitu toh?)

  6. Sebuah terobosan yang menarik kalau pada suatu saat (saya harap dalam waktu dekat ini) Indonesia dapat membangun sebuah revolusi pengganti energi baru disamping BBM. Namun, sudah yakinkah kita menjaga sebuah tanggung jawab besar untuk menjaga agar pembangkit ini tidak menimbulkan kepanikan dikarenakan human error…

    Kita perlu perhitungkan lebih lanjut, karena dampak yang dihasilkan tidak kecil… Bayangkan apa yang terjadi bila ada kebocoran atau kerusakan sistem. Ketidakpercayaan masyarakat beralasan,, karena masyarakat kita masih menganggap kita tak mampu menghadapi masalah yang akan terjadi bila nanti benar-benar ada kebocoran atau hal semacam itu.

    Penanganan lumpur lapindo saja belum tuntas dan penanganannya kurang efisien. Bagaimana dengan ledakan yang dihasilkan PLTN bila ada human error?? Mampukah kita menanggulanginya?? Atau barangkali cara menghindari human error sampai setidaknya 90%??

  7. Sumber energi banyak sekali, terutama untuk kebutuhan listrik yang massal. Semuanya juga ada pro dan kontranya, ada postif dan negatifnya, sekalipun hidropower dan geothermal ataupun batubara atau diesel BBM. Kalau dicari-cari pasti ada negatifnya juga. lalu apakah kita juga akan sosialisasikan yang negatif ? yang nggegirisi dan menyeramkan bagi rakyat ? Katakanlah Dam buat hidropower, gimana jika dam itu jebol ? gimana kalau sumur geothermal itu blow out ? Gimana kalau abu batubara ( fly ash) membuat polusi ? mengakibatkan kanker ? dsb, dsb. Yang Kontra akan berusaha sekuat tenaga akan menolaknya. Jadi jika dicari-cari, maka ya akan gak ada listrik ! Ilmu pengetahuan ditemukan untuk kemaslahatan orang banyak dan mempermudah hidup, bukan mempersulit. Semakin bertambahnya penduduk dan kebutuhan listrik, maka energi alternatif segera dicari agar BOMB WAKTU akan krisis energi tidak meledak. Minyak kita sudah import, batubara semakin sedikit, bendungan terbatas capacity nya, jadi yang murah dan besar ya PLTN, namun safety dan lingkungannya harus benar2 terjaga.

  8. pro dan kontra itu dah biasa pak dhe… tapi daripada banyak diskusi tentang PLTN kenapa kita tidak mengembangkan geothermal aja…, oh iya pak dhe saya tunggu kedatangannya di Semarang ya… pak dhe

  9. satu lagi pakde, dimensi sosial-budaya. Rasanya sulit setiap komponen masyarakat segera dapat melakukan negoisasi / komukasi dengan baik, la masing-masing punya pemahaman dan persepsi sendiri-sendiri kok. Di sisi lain terdapat kecenderungan beda pendapat dihahami sebagai dua kutub yang satu salah dan yang satu benar, dengan dua-duanya menganggap dirinya yang benar….runyam gak kalau gitu ?

  10. Menarik sekali pak de,

    Kayaknya aku termasuk dalam orang yang bertipe “kontradiksi” nih hehe.. To the point, maunya sebenarnya yang Pro dan Kontra itu duduk bersama (yang bahasa Pak De disebut negosiasi), membicarakan akan kebutuhan energi tersebut. Mungkin selama ini pelibatan yang kontra terhadap pembahasan PLTN ini kurang, sehingga mungkin saja pemahamannya tidak sama. Atau, mungkin juga mereka sudah pasang sikap tidak mau terlibat, salah satunya seperti pernyataan sikap MANUSIA yang menolak ajakan berkunjung ke PLTN tempo lalu (baca :Pernyataan MANUSIA).

    Kalau dari awal sudah pasang muka “emoh” mau gimana lagi coba pak de? Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah? Dan apa yang harusnya dilakukan oleh pihak yang Pro, sementara mereka juga menggalang opini massa?

    Saya pribadi insyaAllah jika ada kesempatan ingin sekali datang ke Muria melihat penerimaan local society setempat akan PLTN secara langsung, karena selama ini hanya baca dari koran atau lihat di TV saja. Dari berita tersebut, ternyata selain banyaknya penolak PLTN, ada juga masyarakat sekitar yang mulai sadar akan pentingnya PLTN bagi penyediaan listrik dimasa yang akan datang.

    PS : comment yang diatas di hapus aja pak de 🙂

Leave a Reply