Eksekusi dan Kontribusi, bukan sekedar Diskusi.

3

Seorang kawan di Mailing List IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) membuat aku tersengat dengan munculnya krisis moneter yang mungkin berdampak pada ketenaga kerjaan. Baik di luar negeri, maupun di dalam negeri Indonesia. Tentunya masih berbicara sektor energi minyak dan gas.

2008/10/29 Iman Argakoesoemah <[email protected]…com>:
> Mungkin PHK di bidang migas mungkin ngga lama lagi. Bagaimana
> kabar Coy2 kecil yang semula berani bayar mahal? Dua atau tiga tahun
> seperti begini itu cukup lama lho? Kapan kawan2 kita yg di LN mulai
> mudik
? Sudah kangen bisa joint kita2 lagi …… minimal bisa ketemu di
> PIT IAGI tahun depan.

Karena tulisan Mas Iman diatas aku langsung tergelitik , mak jenggirat !! “

Reaksi TKI (Tenaga Kerja Intelek) karena krisis “surat tahayul

monyet.jpgBeberapa kawan emang ada yang awalnya kaget karena adanya krisis moneter ini. Memang beberapa rekan yang di service kumpeni, mungkin akan merasakan lebih dulu. Namun toh kontrak kerja yang sudah ada ya kudu diterusin, lah wong biasanya udah masuk komitmen budget. Saat ini gejala ‘cut and reduce’ belum jelas, paling tidak masih ada masa sekitar satu tahun untuk melihat gejala ini akan nampak, kasat mata. Hanya saja persiapan harus dikerjakan siapapun baik yang permanen maupun kontrak, baik di LN maupun di LN.

Awal krisis kemarin mungkin ada yang kepingin balik, dan memang sudah ada beberapa kawan yang sudah memutuskan balik kampung sebelum krisis malah. Namun lebih bayak karena “bosen” di LN, bukan karena krisis moneter akibat ambrolnya harga “surat tahayul”.

Apakah soal gaji ?

Secara general memang masih dominan. Artinya daya tarik pekerja TKIntelek ini masih soal finansial. Ini terutama ketika tertarik untuk datang ke LN. Memang ketika berpindah kerja tidak seluruhnya soal gaji. Sejatinya embel-embel dari lika-liku swasana kerja baru akan mulai dirasakan ketika sudah disini. Dan ini sesuai dengan pengamatan, polah tingkah dari beberapa kawan yang sudah 2-5 tahun akan mulai “bekah-bekuh” (ngeluh) pingin ganti kursi. Kalau masih baru dateng ya semangat 45 !

Ketika di LN hampir semua merasakan kehidupan yang “berbeda” dan secara general lebih senang swasana baru ketimbang swasana lama. Ini jelas terlihat dari diksusi kawan-kawan di Malesa, mBrune, Tailan, Midel ist, maupun yang di yurep.

Ada duka tetapi tidak dominan. Ada yang kedinginan di yurep tapi malah seru katanya. Ada yang sebel di afrika, karena takut perang dan panas. Tapi tetp saja ada yang bangga mampu hidup di lingkungan “buas”. Jadi perubahan itu memang sudah dan sedang terjadi. Pembelajaran sedang terjadi diantara kawan-kawan ini. Ntah mau kemana arahnya, mboh, sorry aku ga tahu.

Iya mau pindah tapi kemana ?

Bagi yang tidak puas tentusaja gerah bin “bekah-bekuh”, ngeluh, tapi bertahan. Keinginan pindah beberapa kawan muncul juga akhirnya.
Perpindahan inipun bermacam macam.

Pindah kemana saja yang penting dibayar mahal !
Perpindahan ini terjadi pada kawan yang masih muda yang anaknya masih kecil bangget belum sekolah. Atau malah yang sudah hampir mendekati pensiun, karena anak-anak sudah kuliah dan menetap. Kawan-kawan ini banyak yang daerah-daerah “buas” (misal Afrika). Bahkan ada ayng anak tetep tinggal di KL tetapi kerja bisa dimana saja. Yang penting bisa menghidupi keluarga, dan masih bisa bolak balik njenguk keluarga secara rutin. Lah hiya kan ? Apa bedanya kerja di hutan Papua yang juga ketemu keluarga 3 bulan sekali ? Tempat kerja bukanlah masalah !

Apakah tetep dinegeri yg sama tetapi beda perusahaan ?
Ini pertimbangan terutama karena sekolah anak-anak. Memindahkan anak sekolah tidak mudah, selain banyak yang “kasihan” dengan si anak yg harus belajar di lingkungan baru. Memindahkan anak-anak sekolah ini sebuah kerja yang tidak mudah, repoott !!. Kalau aku sendiri sih malah sudah memindahkan anak sampai 3 kali di KL sini. Justru malah aku maunya dia harus bisa hidup dalam segala situasi, tapi ini pertimbangan personal loo.

Kawan lain justru masih ingin terus di LN, bahkan sudah banyak yang membeli property di LN. Mungkin ini gejala-gejala sudah mantebb utk tinggal 3-5 tahun lagi.

Pindah perusahaan di negeri yang sama bukannya tidak berisiko. Dengan sering loncatnya karyawan di sini juga ada persaingan antar perusahaan yang akhirnya harus “dikontrol” oleh regulator. Ada beberapa aturan yang membutuhkan jeda 3-6 bulan untuk keluar dari negeri itu sebelum boleh masuk lagi sebagai employee. Selain untuk menghindari doble majikan, hal ini mungkin juga untuk menekan harga pekerja (labour cost pressure)

Lantas kapan pulang kampung ?

Wah ini pertanyaan susyah …. kalau melihat pertimbangan-pertimbanagn kawan-kawan TKI (tenaga Kerja Intelek) ini ketika ada krisis, apalagi ditambah dengan terpuruknya nilai rupiah saat ini, aku kok malah ragu mereka kembali dengan “bedol deso“. Satu dua kawan saya yakin masih memungkinkan untuk balik kampung dengan pertimbangan yang akan sangat spesifik.

Menurut hemat saya, mengharapkan “brain gain” dengan cara konvensional (balik kampung) sangat sulit atau memiliki kemungkinan yang kecil.

Usaha mendapatkan brain gain dengan IBCN (Indonesian Brain Circulation Network) juga masih tersendat. Masalah “brain drain, brain gain ataupun brain circulation“, memerlukan banyak “keringat”. Perlu tenaga dan waktu. Tentusaja tidak bisa instant. IBCN juga memerlukan itu semua.

Optimasi

Mengoptimasikan tenaga serta resources yang sudah ada saat inipun sudah cukup, walaupun hanya untuk saat ini. Karena pertumbuhan yang sudah adapun harus dituntut berkembang eksponensial.

Ajakan kawan diatas untuk kembali harus terus dilakukan. Namun yang sangat penting saat ini adalah mengoptimumkan apa yang ada di dalam negeri. Sumbangan 12 Trilliun setahun dari TKI maupun TKIntelek mungkin tidak akan pernah cukup. Peningkatan efisiensi devisa dalam negeri pun menyisakan PeeR buat kita semua.

Semoga saja ini menjadi bahan pemikiran. Yang selama ini terjadi adalah ungkapan niat dari perusahan di Jakarta untuk mengundang balik rekan-rekan di LN. Dan seperti biasa bahwa yang terpenting adalah eksekusi dan kontribusi, bukan sekedar diskusi ! Dan kawan-kawan yang akhirnya berpindah-pindah inipun hanya karena mereka berani meng-eksekusi pemikirannya ! Ntah pindah ke LN, maupun tetap di DN.

🙁 “Hallah Pakdhe dari dulu kok ngasih wacana saja sih ?”

😀 “Tugasku ki nulis Thole. Bentuk eksekusi sebuah sumbangan ke negeri Indonesia tercinta itu salah satunya bisa dengan tulisan. Bisa tulisan apa saja !”

3 COMMENTS

  1. Tenaga kerja di bidang migas tidak banyak dipengaruhi dengan crisis Finansial
    yang melanda Dunia karena walaupun harganya turun tapi jumlah yang harus ditemukan
    harus lebih banyak lagi, karena kita kembali berpaling lagi ke Minyak Bumi(…bukan ke Blue Energi).
    Bagi anda yang bekerja di Rantau adalah menjadi Duta atau katakanlah menjadi harapan kami
    karena selain memasukan devisa bagi Negara juga menjadi pembayar pajak yang bijak.
    Jadi diharapkan anda telah mempunyai NPWP, kalau belum >>> terserah anda KTIntelek?

  2. Bung Rovicky,
    Trimakasih, wah reportasenya bagus:), tidak kalah dengan bikinnya wartawan. Cuma, kenapa kok dikasih foto ponakan dari pedalaman Kalteng?
    Dulu saya sering kerja di Papua, tapi ya tidak sampai 3 bulan; sekarang di Sumsel, dekat hutan karet. Cukup lama, malahan Lebaran yll tetap di rig. Oyha, ada kawan yang di Aberdeen barusan nulis email. Dia masih hepi-2 saja dalam cuaca yang mulai dingin, tiga putrinya pun juga senang. Kawan-2 yg di Bangkok, mBrunei dan Qatar dll juga masih tenang-2 saja.
    Maaf, di Bukit Bintang KL suasanya sperti metropolitan yha? Kok banyak warga dari Timteng?
    Salam hangat,
    Sugeng

  3. ya begitulah keadaannya Pak RDP…

    waktu di Indonesia pengen ke LN, udah di LN rindu pulang kampung…

    tapi susah juga buat pulang kampung, ga pernah ada yang respon kalo apply kerjaan di Indonesia.

Leave a Reply