Bikin njenggirat kedua di hari ini –> STOP PRESS!! Hasil (Voting) Seminar AAPG di Cape Town —

20
monyet.jpg
Hah ! AAPG Pakai Voting ?

Berita ini aku terima dari Mailist IAGI-Net (Ikatan Ahli Geologi Indonesia). Konn dari sebuah seminar ilmiah yg diselenggarakan oleh AAPG (American Assoc of Petroleum Geology). Kebetulan saya juga active member di organisasi itu lebih dari 15 tahun.

> – Yang setuju LUSI akibat bencana alam (mud volcano) –> 3 orang.
> – Yang setuju LUSI akibat kesalahan pemboran –> 42 orang.
> – Yang campuran antara 2 opini di atas –> 13 orang.
> – Yang masih merasa belum tuntas diskusinya –> 16 orang.

Yang bikin aku njenggirat (Kagettt) kedua hari ini adalah sebuah diskusi ilmiah yang memutuskan fenomena alam dengan cara VOTING !!!

Howgh !!

Sains itu bukan sebuah keputusan.
Science itu sebuah pendapat atau opini.
Yang sifatnya dinamis bisa berubah-ubah. Ini kan mirip pertanyaan apakah cahaya itu materi atau gelombang ? Sampai kapanpun keduanya akan solid dan valid, karena bersifat situasional.

Ini yang saya sayangkan, sebuah organisasi ilmuwan mendunia AAPG mengintervensi sebuah keputusan ilmiah, lak jadi aneh. Apalagi dengan VOTING !

Apakah GW akibat manusia ataukah akibat proses alami. Itu saja dibiarkan berjalan sendiri. Masing-masing secara ilmiah boleh saja menganggap pendapatnya benar.

Kalau saja AAPG ini badan hukum dunia, okey lah.
Kalau saja AAPG ini lembaga arbritase, boleh lah.
But, AAPG ini sebuah organisasi ilmiah !

Kalau keputusan yang diambil oleh DPR ataupun oleh lembaga pemerintahan ya silahkan pakai voting. Semoga saja ini hanya iseng-isengnya moderator. Kalau sampai hal ini menjadi kesimpulan dari sebuah pertemuan ilmiah AAPG tentusaja saya akan mengajukan keberatan.

Tulisan terkait :

20 COMMENTS

  1. kemarin pak rudi rubiandini dateng ke kampus geologi ugm,dan pak rudi mengisi acara pada kuliah tamu mengenai LUSI;penyebabnya,siapa yang bertanggung jawab dan cara mengatasinya. Kalo menurut Pak Rudi seminar AAPG yang di cape town itu yang membahas LUSI,sebelumnya sudah dilakukan perdebatan selama lebih dari 2jam.karena ga ditemukan kata sepakat maka diadakan voting karena kalo tidak ga bakal selesai2.Yang setuju LUSI karena bencana alam ( 3orang ) itu dari geolog indonesia yang merupakan utusannya lapindo brantas..

  2. kalau gak tau masalahnya jangan mencoba menganalisa….geologist memang suka memudahkan pemecahan dengan berfikir kualitatif spt ini. akhirnya terjebaklah, voting2an….

  3. kalo saya pikir orang2 sidoarjo pengennya uang ganti rugi segera beres…
    mreka g mikirin voting ato ilmiah,
    yang penting duit udah lunas dibayarkan dan mereka dapat menjalani hidup dengan damai seperti dulu…

  4. kalo saya pernah dengar, voting itu dilakukan hanya untuk “memetakan” opini yang ada dalam forum tsb, karena perdebatan waktu itu ga selese sampe waktu yang tersedia habis

  5. Komentar dari Mas “Conrad” -30 Okt- diatas sedikit janggal, katanya nggak ngerti “indonesian”…mungkin maksudnya Bahasa Indonesia tapi saya yakin dia bisa baca opini/kolom Pak Dhe yang bahasanya gaya rakyat jelata ini, buktinya bisa ngasih komentar dalam bahasa English yang tepat pada persoalan voting plus nge”blaim” AAPG…Mas Conrad pasti orang Indonesia khan ???? hehehehe. Dan saya yakin Mas conrad lah satu-satunya scientist itu yang gak ikut voting, ya nggak ? Jangan marah lho,…geologi khan cuma tebak-tebakan interpretasi gak ada salah tepat dan gak ada benar tepat. begitu juga saya…..hanya nebak doang.

  6. Wakil IAGI ( atau Lapindo, sama aja ) sewot dengan kekalahan voting tsb dan protes keras sistem voting digunakan dalam AAPG seminar itu, namun ikutan menghitung jumlah suara dengan mempersoalkan jumlah pemenang ( pro Drilling cause MV ) voting 42 atau 30 vs pro gempa cause MV yang cuma 3 orang. Voting emang aneh, tapi perlu tahu kenapa dan apa sebab AAPG sampai begitu dan diterima oleh floor di seminar tersebut ? Karena kedua kubu sudah nggak mungkin ketemu. Maka cara politikpun dipakai agar ada yang mengaku kalah ?? Untung cuma voting, lha Galileo Galilei sampai dihukum mati oleh gereja karena mempertahankan teori Heliocentris yang mana kebalikannya gereja meyakini Geocentris kala itu. Seandainya voting tsb memenangkan pro Lapindo, tentu wakil IAGI ( resmi gak ya?? ) tsb akan senang dan gak protes tentunya. Gitu kok reffooot.

  7. What a shame….I now become more sceptics to a group of people name themselves ‘geologists’. I believed that the thing in CapeTown should come with conclusion that a qualitative science named geology cannot diagnose the Lumpur Sidoarjo phenomenon….

  8. pakde, bukannya pluto pensiun jadi planet juga karena hasil voting? begitu juga dengan global warming. saya juga ga setuju kalo hasil voting=truth, kecuali untuk yang satu ini, karena menjadi legitimasi saya untuk minum kopi sampe tiga cangkir per hari 😀

  9. pak Dhe,
    setelah diskusi panjang lebar di dalam negeri selama 2 tahun dan tergiring ke arah Gempa sebagai penyebab Mud Volcano, terus bergulir ke luar negeri yang notabene tentunya KENETRALANnya lebih bisa dipercaya, dan ternyata mostly MEYAKINI KESALAHAN PEMBORAN jadi penyebab keluarnya Mud Volcano.

    Bahwa mereka diakhiri dengan polling diantara mereka untuk mengetahui PETA pemikiran parah ahli tersebut (dan bukan anak-anak kemarin atau orang awam di bidangnya), kok rasanya saya lebih percaya mereka dibanding hasil-hasil seminar yang diadakan di indonesia berulang-kali yang tidak jarang disponsori.

    pa Dhe mbo yo ojo dipecahkan cermin-nya kalau wajah kita buruk .. . . terima aja hasil AAPG sebagai akhir dari diskusi yang panjang dan melelahkan ini. . . mari kita cari solusinya.

  10. Mungkin AAPG terinspirasi oleh IAU yang mencoret Planet Pluto dari daftar planet dalam tata surya berdasarkan voting yang diadakan pada hari terakhir dalam sidang majelis IAU di Praha 2006.

  11. Loh Kok pake voting bukankah ini masalah Sains, kok aneh bin ajaib ya AAPG kan anggotanya banyak dari orang2 Sains kok masih pake voting segala, yang seharusnya di diskusikan secara ilmiah meskipun setiap anggota memiliki argumen yang berbeda2 namun tetap dalam pembahasan yg ilmiah,bukan voting, kayak mau pemilihan calon legeslatif aja nih……huhhhhhhh

  12. setuju pakde vicky !
    pendapat yang banyak/sedikit belum tentu yang benar
    yang benar_benar, harus keluar dari akal dan budi.
    Tapi, gaimana pakde mau ajukan keberatan, lha pakde kan orangnya kecil (walau volume otaknya besar), so pasti gak berat he..he..

  13. Sorry I don’t understand Indonesian, so here are my comments in English.

    I was at AAPG Cape Town. The LUSI session was a joke, scientists (real ones) don’t vote. It was promoted as the big debate, but nothing happened. No debate, the Indonesians (I’m sorry to say) whom were blaming the drilling company, were very confident but they presented “new” data from someone we have never heard of…. what rubbish. The English team (Davies etc) should be ashamed of themselves, Davies had this new and unknown person take over his own presentation, that’s how unsure Davies is of his own data. I won’t be sending my kids to Durham University, they should fire him. Cape Town was a waste of time and money. Thank you AAPG, plenty of build up with no substance. Poor effort.

  14. Lho,
    Tapine De, dengan pendukung teori-nya Lapindo hanya 3 orang (yang ketiganya sy yakin adalah delegasi yg dikirim oleh lapindo, termasuk B.Istadi, yg adalah karyawan Lapindo macak geologist, opo tumon), bukannya ini sudah terang bahwa pendapat mereka adalah pendapat yg sarat kepentingan?
    Bahwa sebuah konferensi sampai melakukan voting, bukankah menunjukkan bahwa karena kengototan geolog lapindo, sehingga tidak mau legowo menerima bahwa common sense dari ahli yang lain, menganggap penyebab semburan adalah yang sebaliknya dari yang mereka simpulkan selama ini?
    Lak gitu tho, De?
    Lha PakDe sendiri termasuk yang mana?

    –> Sudah sejak dulu saya berpendapat kelahirannya Lusi seperti ini :
    http://rovicky.wordpress.com/2007/04/03/detak-detak/
    Tapi yang perlu diketahui, bahwa ini pendapat pribadiku sechara pengetahuanku tentang geologi dan proses operasi pengeboran.

Leave a Reply