Jangan salahkan pabrik kalau ‘panci’nya ngga bisa nyetel MP3

19
Mulanya biasa saja
Mulanya biasa saja
Mulanya biasa saja

Dongeng “kertas tahayul” !

Seringkali kita sebel karena ternyata kok akhirnya begini atau begitu. Kita mestinya tahu segala sesuatu itu dibuat dan didesign sesuai dengan tujuan awalnya. Kalau ternyata sekarang diselewengkan dan membuat salah kaprah, ya jangan trus ngamuk marah-marah yang ngga tepat.
Banyak diantara kita yang saat ini kesel dan mungkin pingin protest terhadap perdagangan saham yang sekarang remuk, hancur, rontok, berantakan dan mengotori “lantai“.

Mulanya biasa saja

Awalnya niatan menjual saham di bursa itu untuk mencari modal lain dan berbagi risiko dengan orang lain. Saham yang dijual ini awalnya merupakan manifestasi sebagian kepemilikan dari perusahaan. Tentunya dengan segala risiko keberhasilan dan kerugian. Sekali lagi sangat mungkin maksudnya supaya kita (pemilik modal cekak) bisa untung bareng-bareng. Diharapkan pemilik modal kecilpun bisa ikut-ikutan menikmati hasil … kalau berhasil tentusaja.

Jadi keuntungan memiliki saham ini akan mendapatkan deviden atau keuntungan yang dibagi saat tutup buku di akhir tahun, juga nilai perusahaan yang meningkat karena sukses. Skalai lagi, ini kalau sukses.

Wupst !

Akhirnya kok begini ?
Akhirnya kok begini ?

Tetapi ternyata kepesertaan modal ini hanya terjadi pada saat IPO saja, pada saat IPO ini saham dijualnya sesuai dengan prosentase (proporsi) kepemilikan modal. Besarnya sesuai yang ‘diklaim‘ oleh pengusaha. Ini mungkin masih bisa dianggap sebagai saham kepesertaan modal.

Setelah itu pergerakan naik turunnya harga saham bisa dipakai sebagai arena jual beli kertas yang menjadi “barang tahayul“. Barang abstrak atau “kertas tahayul” inilah yang akhirnya cukup banyak berkeliaran di “kaki lima“. Nah, seperti biasanya tentusaja ada orang ‘pinter‘ yang mencoba mengumpulkan pedagang “kertas tahayul” ini dari trotoar kaki lima. Dibuatlah “Pasar Bursa” eh “Pasar Kertas Tahayul !”  di Indonesia namanya BEJ, di Wall street namanya NYSE, juga banyak dikota-kota lain dibuat PASAR KERTAS TAHAYUL !:)

Pergerakan naik turunnya harga“kertas tahayul” ternyata bisa dipakai buat “tebak-tebakan buah manggis“. Pergerakan naik turunnya harga kertas tahayul sudah bukan lagi mencerminkan untung ruginya perusahaan. Tetapi seperti sebuah komoditi. Ketika semua orang mau menjual … Blaik ! kertas tahayul ini menjadi seharga kertas koran bekas … SLOMPRET TENAN !!

🙁 “Maksudnya dipakai buat judi, Pakdhe?”
😀 “Hust, kalau dibilang judi pasti dilarang atuh!”

Bahkan kerontokannya pasar jual beli “kertas tahayul” ini akhirnya dituding sebagai biang keladi kenapa terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin …. Gandrik !!

Jadi syapa yang salah kalau sekarang “panci”nya ngga bisa buat nyetel MP3 ?

19 COMMENTS

  1. Bener Pakdhe.. analogi lain kaya si Bejo, Bowo, Budi, sepakat urunan buat beli sapi, sebagai bukti urunan masing2 pegang ‘kertas tuyul’.
    Nah karena pengin nambah sapi, maka si 3B tadi menerbitkan kertas tuyul lagi dan orang yang gabung nambah modal makin banyak.
    Makin lama , kertas tuyul tadi diperjual belikan..dengan harga yang berdasarkan rumor.
    Pada suatu ketika ketika ada rumor yang gak ada hubungan ama kondisi sapi2 tadi .. harga kertas tuyul jatuh..
    Padahal kondisi sapi2nya masih lemu ginuk2 .. susunya masih produksi banyak…
    tapi secara valuasi kertas tuyul harganya hancur…

  2. kawit mbiyen aku iku ra ngerti pekoro saham…
    nek menurut pelajaran ekonomi SMP tahun 1988 mbiyen saham iku yo kaya keterangane pak dhe rovicky “mulanya biasa saja” tapi sakwise ndelok nang koran-koran… saham kok munggah mudhun kaya pompa air.. padahal perusahaane fine-fine saja.. iku aku mulai ra mudheng… onok istilah IHSG, index point walah opo maneh iku…, nek aku ngarani bursa saham saiki iki wis dadi judi tenan, sing didol cumak kertas digowo ngalor ngidul, sing kerjo nang kono bengok-bengok tuku! tuku! tak dol! tak dol! halah embuh goro-goro spekulan ekonomi morat-marit…

  3. Pelaku yang merusak pasar saham itu adalah para spekulan yang istilah lainnya realnya adalah penjudi. Sebetulnya di awal tujuan IPO adalah bagus untuk memberi kesempatan investor untuk memiliki perusahaan, dan mempermudah emiten mendapatan modal murah untuk mengembangkan usahanya, namun sayangnya setelah itu yang banyak bermain adalah para spekulan atau penjudi dengan dasar asumsi-asumsi yang mereka ciptakan sendiri (selalu mengunakan asumsi yang baik-baik untuk menarik calon investor masuk ke pasar saham). Akhirnya pasar yang terbentuk adalah pasar asumsi/khayal atau takhayul. Jadi pelaku pasar saham yang rontok saat ini adalah bisa disebut juga korban asumsi, khayal atau takhayul yang mereka ciptakan dan mereka percayai sendiri. Untuk itu mari kita kembangkan sektor riil melalui investasi langsung, bukan melalui saham.

  4. Pelaku yang merusak pasar saham itu adalah para spekulan yang istilah lainnya realnya adalah penjudi. Sebetulnya di awal tujuan IPO adalah bagus untuk memberi kesempatan investor untuk memiliki perusahaan, dan mempermudah emiten mendapatan modal murah untuk mengembangkan usahanya, namun sayangnya setelah itu yang banyak bermain adalah para spekulan atau penjudi dengan dasar asumsi-asumsi yang mereka ciptakan sendiri (selalu mengunakan asumsi yang baik-baik untuk menarik calon investor masuk ke pasar saham). Akhirnya pasar yang terbentuk adalah pasar asumsi/khayal atau takhayul. Jadi pelaku pasar saham yang rontok saat ini adalah bisa disebut juga korban asumsi, khayal atau takhayul.

  5. Dari diskusiku di rumah sebelah :

    Yang perlu dikritisi bukan basic system “bursa saham” tapi super-liberalnya market termasuk Kapitalismenya US yang harus dikritisi, dikoreksi dengan aturan-aturan lebih ketat oleh badan keuangan dunia, diregulasi sedemikian

    Nyuwun duko menawi lepat Pakde Rus.
    Mnurut saya justru problem utama dari sistem bagi-bagi kepemilikan bersama ada pada perdagangan “kertas saham” yang dikoordinir didalam bursa. Bahwa kapitalis itu menganut sistem berbagi rejeki dengan berbagi saham itu bagus, diawalnya. Itulah sebabnya saya menyebutnya “mulanya biasa saja”. Karena pada saat IPO nilai saham itu akan “sangat deket” dengan nilai kepertaan modal. Pada waktu awal inilah justru terlihat bagaimana kita yang bermodal cekak bisa diajak untuk “berkongsi” untuk memajukan sebuah usaha. Ya sudah semestinya sebagai pemegang saham pesertanya akan mengikuti perkembangan perusahaan yang dimodalinya.

    Namun kenyataannya harga saham pada saat IPO langsung melejit ketika masuk bursa. Kenapa sering melejit ? karena pada saat IPO itu semua mimpi-mimpi dari kemajuan perusahaan ikut dimasukkan didalam nilai jual-beli saham. (cmiiw). Dan mimpi-mimpi ini terus berkelanjutan sedemikian sehingga pergerakan sahampun sudah sama sekali tidak mengikuti perkembangan usaha awalnya. Namun justru perkembangan saham ini menjadi sebuah komoditi abstrak. Naik turunnya sudah sekedar supply demand dari kertas yang karena sangking banyaknya mimpi-mimpi yang mengikuti diplesetkan menjadi “kertas tahayul”. Lah wong pergerakan nilainya sudah lepas dari performance usahanya.

    Tapi saya ngga tahu kenapa bisa terjadi hal aneh juga. Ketika saham meningkat, maka perusahaan dianggap kredibel untuk meminjam uang ke bank. Bagusnya saham “dianggap” sebagai tolok ukur bagus tidaknya perusahaan. Nah seringkali ini dimanfaatkan oleh usaha yang “nakal” untuk meminjam bank dengan cara “mark-up” cadangan. Juga ngapusi besarnya cadangan supaya dapat duik dari pasar ‘kertas tahayul’ seperti yang terjadi di BreX dulu.

    Nah yang diatas itu sakjane masih saham asli, bukan yang derivatif atau bukan turunannya. Kalau perkembangan saham derivatif konon kabarnya emang bener-bener menjual belikan “kerta tahayul” yang tdk lagi berhubungan dengan sektor riil. Dan justru ini berkembang karena “si kertas tahayul” mulai
    diperjual-belikan di pasar bursa.

    Kalau saya kok malah berpendapat kapitalismenya sendiri pada awalnya ya baik-baik saja. Tapi kelanjutannya yang justru menyeleweng ketika menjadi sebuah jual beli kertas tahayul … eh maksudtnya menjadi komoditi di bursa saham,

    Nyuwun ngapunten nek istilah-istilah guyon tahayulan menjadi bumbu …. Kados tempe bosok. Nek didamel sambel nggih eco sanget, namung menawi tempe bosok kagem damel tempe mendoan …. Seperti Tempe busuk, akan enak kalau dimasak untuk sambel, tapi menjadi ngga sedap kalau dibuat tempe goreng. whaddduh !!

  6. Dulu di ekonomi diajarkan money system / creation. Rumusnya klo nggak salah first deposit * (1/reserve rasio).

    Sekarang ditambah margin, future, option, cds dan entah istilah apalagi.

    Kalau kini mengalami spiral downward, ya sampai yang mpu-nya puas saja.

  7. maka itu uang kudu dipakai untuk memberikan manfaat ke banyak orang. makin banyak orang yang menikmati manfaatnya makin tumbuh perekonomian indonesia. membangun jalan bisa jadi alternatif pilihan yang berefek menakjubkan karena dapat memacu pembangunan pembangunan lainnya. lihat di http://aluwi.wordpress.com/

  8. Koreksi: Sekarang namanya: BEI=Bursa Efek Indonesia, jadi bukan lagi BEJ=Bursa Efek Jakarta.

    –> trims koreksinya Pak Joohanis

  9. kalau nilai sahamnya ada persentase yang signifikan mungkin ada gunanya beli saham.

    kalau persentasenya gak signifikan, ya memang sedang main tebak-tebak buah manggis. siapa tau dapet mangga arumanis 😀

  10. Kadang Perusahaan yang IPO tak membagi keuntungannya, klo bagi mungkin pas untung perusahaan baru IPO, klo sdh lapa lupa sama pemilik saham, apa mesti ditagih dgn menunjukkan bukti kepilikannya.
    juga pasar saham adalah tempat pengusaha untuk mendapatkan dana murah yang tanpa bunga.

Leave a Reply