Sekolah:Training:Kerja – 2 (Workplace Politics)

7

Melanjutkan tulisan sebelumnya  Sekolah:Training:Kerja = 10:20:70 yang ternyata banyak mengundang diskusi di beberapa mailist, sepertinya diskusinya patut ditulis dan di rekord disini sebagai pembelajaran.

Salah satu diskusi yang menarik adalah Workplace Politics atau diterjemahkan secara bebas menjadi politik di dalam kantor.

🙁 “Pakdhe, ini bukan pebisnis yang berpolitik, kan ?”

😀 “Thole bisa saja seorang bisnisman berpolitik, itu dongengan lain :p ”

Secara umum jenjang karier di perusahaan dapat dibagi dua yang utama yaitu jenjang managerial dan jenjang profesional (teknikal). Keduanya sama-sama masih bisa menunjukkan presentasi pareto 10:20:70 artinya dalam jenjang teknikal managerialpun juga akan memerlukan 70% pengalaman bekerja dan 20% training, termasuk pendidikan formal yang 10% itu.

memang ada satu faktor yang sering menjadi penentu dalam jenjang manajerial. Sifatnya tidak general makanya jarang dimasukkan tetapi hanya sebagai meteoric atau catastrophic. Jangan dirisaukan tetapi dimengerti keberadaannya

Salah satu diskusi di Mailist ada yang konsen soal workplace politics ini :

Sebagai anak pemilik perusahaan besar katakanlah PT.Maju Mundur, anda tidak perlu rumusan 10:20:70…. anda tidak perlu qualifikasi sekolah, kursus, atau kompetensi kerja…DNA anda sudah menjamin kursi puncak perusahaan minimal posisi manajerial, ngga mungkin anak bos selamanya jadi officer biasa.
Sebagai anak pejabat pemerintah …anda tidak perlu belajar mati-matian untuk lulus tes CPNS Depkeu….kartu keluarga menjamin nama anda di papan pengumuman kelulusan.

Tentusaja bikin kesel kalau “bersaing dengan pemilik perusahaan. Iyakan ? Usaha kita jadi ndak berarti. Namun hal ini jangan dipakai sebagai handicap. Karena yang namanya workplace politics itu ada dimana-mana.Karier memang banyak disitir dalam setiap pemikiran dan program HR. Namun memang perlu diakui juga bahwa hampir semua masih melihat yang namanya berkarier dan sukses itu sebagai jenjang manajer. Lebih banyak yang melihat bahwa jenjang manajerial itu saja sebagai jenjang karier. Padahal saat ini sudah banyak perusahaan yang mencoba mengembangkan karir juga dari sisi teknikal atau professional.

“Workplace politics / Office Politics”

Saya membatasi politicking dalam kantor, bukan politisi yang berbisnis dan sebaliknya. Dalam managerial career memang banyak campur tangan “politik“. Dan memang salah satu tugas dan peran seorang manajer itu ya “berpolitik” di kantor untuk mengegoalkan target-target departemennya (perusahaannya). Jadi kalau konsentrasinya mau ke jenjang manajerial pun menurut saya porsi pengalaman masih akan dominan (70%) mempengaruhi kesuksesan kariernya.

Pengalaman managerial meliputi pengalaman leadership atau memimpin serta pengalaman mengegoalkan sebuah proyek yang seringkali merupakan persaingan antar bisnis unit (unit usaha). Pengalaman ini dimulai sebagai seorang supervisor (penyelia) hingga pengalaman memimpin satu team kerja. Tentusaja banyak sekali training mengenai kepemimpinan ini, namun masih hanya kana memegang 20%. Sedangkan sekolah manajemen (misal MBA), mungkin tetap akan berperan 10% saja.

🙁 “Pakdhe, aku dikampus juga jadi ketua himpunan, bisa dipakai sebagai leadership experience kan ?”

😀 “Betul pengalaman itu bisa menjadi ajang pembelajaran dalam kepemimpinan nantinya di kantor. Namun tentusaja asal kan bakat atau potensi leadership itu diteruskan selama bekerja”

Workplace politics memang akan selalu muncul dimana saja, dan akan terlihat menjadi wajar bila si pemilik modal ingin “mempertahankan” eksistensinya di institusi (perusahaan) yang dibuatnya. Itu mirip sebuah organisasi yang memiliki AD/ART. Kalau pingin ngikut ya harus tunduk pada aturan. Dalam hal ini aturan perusahaan. Kalau kita ndak stuju ya bisa saja quit, kalau stuju ya kit aikutin aturannya.

Tempat saya bekerja dulu di Jakarta dan sekarang di KL memiliki kemiripan tapi mungkin bisa dibandingkan.

Dulu saya kerja di Murphy Oil, dimana saat ini CEO-nya sudah bukan dari keluarga “Murphy”, artinya yang menjadi pengontrol utama sudah tidak lagi “Murphy” family. Saat ini saya bekerja di HESS dimana John Hess masih menjadi CEO yang memiliki kontrol penuh pada usaha keluarganya. aku pernah menuliskan keduanya disini :

Ketika anak lain mainan panjat pohon, dia diajak nyari minyak dan satu lagi disini : Ketika anak lain mainan panjat pohon – 2

Kedua tulisanku diatas mencerminkan bagaimana Keluarga HESS mempersiapkan keluarganya untuk tetap menjadi penerus. Di Indonesia juga ada yang mirip HESS yaitu keluarga BAKRIE. dalam gurita bisnisnya, keluarga Bakrie masih memimpin. Mereka (sebagai pemilik/ founding) mempersiapkan rambu dan aturan dalam perusahaannya, namun juga mestinya tidak lepas dari “workplace politics”. Bahkan pengalamanku sebelum ini (fyi, saya pernah bekerja di salah satu usaha bisnis Bakrie (Kondur Petroleum di Jakarta)) memang terlihat sekalai bagaimana politicking dalam perbisnisan di Indonesia itu sungat keras dan menonjol.

Apakah workplace politics itu ‘benar atau salah‘, ‘baik atau buruk‘, aku ngga bisa menyimpulkannya. Karena akan tergatung disisi mana kita berada. Kalau di dalam jajaran manajerial Pertamina isinya hanya orang Indonesia dan ngga ada orang ‘bule‘ itu kan emang sudah semestinya, kan ?. Demikian juga Top Manajer di Petronas juga diisi orang Malaysia, itu wajar.Tetapi bagaimana dengan sebuah perusahaan terbuka yang sahamnya dimiliki oleh orang yang beragam ?

Ada dimana-mana

Harus dimengerti dan disadari bahwa hal itu (workplace politics) memang selalu “terjadi dan ada” itu sudah lebih pasti. Dan mau ngga mau, rela ngga rela … kita akan selalu terlibat didalamnya. Baik kita sebagai karyawan, manajer maupun pemilik, harus menyadari kerberaadanya workplace politics.

Yang jangan dilupakan adalah adanya jenjang professional. Di jalur sini akan terasa “less politics”, namun dalam level executive-pun professional juga akan berpolitik.

🙁 “Pakdhe cerita donk tentang kedua jenjang manajerial dan jenjang profesional !”

Ada kata-kata hasil gugling yang menarik dalam office politics atau workplace politics yang mungkin perlu diketahui :

  • If you don’t know the problem; you are INNOCENT.
  • If you know the problem, but don’t know the solution; you are IGNORANT
  • If you know the problem, you know the solution, but you don’t want to use or implement; you are a CULPRIT.

7 COMMENTS

  1. empat tahun lalu ketika menerima sodoran kertas kontrak dari tempat kerja yang sekarang, niatku bulat: bisa belajar dan jalan-jalan gratis malah dibayar.

    Eh, malah niat itu terus membayangi dan bikin kepenak pewe (posisi wenak) sampai ragu buat keluar kerja dan cari yang lebih baik :p

    –> Mungkin mas Andi berada didalam “confort zone”. Ruang keenakan. Bahaya loo. Katanya, …. katanya nih, kodok yang keenakan masuk didalam air anget tidak merasa kalau dirinya sedang direbus 🙁

  2. Wah pakdhe, saya bener2 merasa tersadarkan dngan tulisan pakdhe ini. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang molor setaun karena kebanyakan mroyek sampingan bareng dosen, karena saya merasa pengalaman di lapangan yang terpenting dibandingkan sekedar nilai2 mata kuliah saja. Namun begitu melihat skema persentase untuk “fresh graduate”, saya jadi khawatir bahwa biar bagaimanapun yang akan dilihat adalah IPK. Jujur saja karena saya bukan termasuk pemilik IPK kinclong neh >_<

  3. inspiring…..
    tulisannya menyadarkan bahwa sekuat apapun kita berusaha terkadang faktor DNA tetap berkuasa…
    trimakasih pak de….diantara kesibukannya…

  4. nah kalo ini saya baru percaya… pak dhe… abisnya negara ini hancur ya karena nepotisme begatif yang begituan dah tau anaknya kagak bisa ngapa-ngapain malah jadi boss mentang-mentang keturunan bangsawan bos perusahaan

  5. Salam
    Oh begitu ya…ya tetep lah namanya klan akan dipertahankan bukan?? klo di swasta berarti pemegang saham tertinggi atau owner yang berkuasa. Jadi kadang2 jor2an segimanapun tetap ada batas atas jenjang karirnya bagi orang luar klan mah..*nyambung ga Pak De*

Leave a Reply