Posisi Kontroversi Patahan Watukosek

13

Perspektif dari selatanMenjelang HUT Kemerdekaan ke 63 ini Pak Hardi Prasetyo mengirimkan artikel ilmiahnya tentang Patahan Watukosek di sekitar Lusi (Lumpur Sidoarjo)

🙁 “Wah Pakdhe, beliau ini memang saintis bangget ya ?

😀 “Iya Thole, mestinya memang pemikiran dan tindakan itu didasarkan atas kajian ilmiah yang tidak terbiaskan oleh kepentingan apapun”

Berikut dongengan Pak Hardi Prasetyo dari BPLS:

CATATAN PRIBADI POSISI KONTROVERSI PATAHAN WATUKOSEK:
Pengendali mekanisme atau Dampak Ikutan (multiplier impact)
Oleh : Hardi Prasetyo

hardiprasetyo.jpg

Seperti halnya KONTROVERSI yang masih diperdebatkan sampai di forum Internasional tentng PENYEBAB DAN PEMICU LUSI ANTARA GEMPABUMI DAN PEMBORAN (Lihat Forum Diskusi/Debat Lusi di Pertemuan AAPG Cape Town – Afrika Selatan).Maka pendapat TENTANG asal usuL (origin) dan perkembangan (developmentI dari PATAHAN WATUKOSEK (Watukosek Fault) sendiri masih seru DIPERDEBATKAN.

Kristalisasi Knowledge Patahan Watukosek Saat Ini:

1) Sudah ada kesamaan pandangan bahwa keberadaan Patahan Watukosek merupakan salah satu subsistem atau komponen dari Sistem Semburan Lumpur Panas Sidoarjo (Sidoarjo hot mud eruption system).
Yang harus dieksplorasi lebih jauh ke depan apakah sesar ini benar-benar aktif, semi aktif, pasca awal semburan Lusi 29 Mei 2006 yang lalu. Salah satu metoda yang umum dapat dilakukan antara lain dengan memasang dan merekam secara berlanjut seismometer, seperti halnya para ahli seismotektonik (seinmotectonic experts) mengamati Patahan Sumatra (Sumatra Fault Zone) atau Sand Andreas Falut Zone yang lebih berdimensi makro sebagai implikasi batas lempeng transform (transform plate boundaries). Disamping itu perlu dicitra bawah permukaan dangkal (shallow subsurface) maksimum 25 m dengan tekonologi High Resolution Ground Penetration Radar (GPR) untuk mendeteksi keberadaan komponen WF yang ditutupi endapan alluvium (Kuarter).

Pembuktian Keberadaan Patahan Watukosek Selama Ini:

1) Metoda konvensional Geologi struktur (structural geology texbook) citra satelit antara lain dari (Quickbird, CRISP, dan Goggle Earth) telah dapat mengindikasi adanya pasangan (pair) pembelokan kelurusah pola aliran Kali Porong (Porong River Drainage Pattern);
2) Adanya gawir sesar (fault escarpment) pada kelanjutan ke selatan pembelokan sungai tersebut, kenampakan ini berada di utara G. Pananggungan secara jelas dapat dilihat dari Puat Semburan Lusi;
3) Adanya pelengkungan rel kereta api, yang ditafsirkan adanya pergerakan lateral (lateral slip).
4) Adanya fenomena deformasi geologi yaitu subsidence (di sekitar pusat semburan dan di baratnya) dan uplift (di timurlaut pusat semburan) sebagaimana rekaman InSAR yang telah banyak dipublikasikan akhir-akhir ini di cybernet, antara lain dari Prof. Abidin H. dkk., (2008).

Kontroversi yang masih mengemuka:

Perspektif dari selatan1) Kapan Terjadinya Atau Aktifivas Patahan Watukosek dalam Sistem Lumpur Sidoarjo?

@ Mazzini dkk., (2007 dan 2008 ) yang mengintroduksi pemikiran bahwa pasca gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2008 telah memicu mengaktifkan kembali (reactivation) Patahan Watukosek, sehingga membentuk ‘rapture’ baru atau rekahan baru (new fracture) yang merupakan salah satu sarana keluarnya lusi dari bawah permukaan ke permukaan, dimana awalnya ada 5 sumber, sekarang tinggal Big Hole Lusi.
Abidin dkk., 2008 pada makalah yang dipublikasi bertepatan dengan memperingati 2 Tahun ‘Mbak LuSi’, judul ‘Subsidence and uplift of Sidoarjo (Eart Java) due to the eruption of the Lusi mud volcano (2006-present) berkesimpulan bahwa rekaman berkelanjutan dari GPS menunjukkan bahwa reaktivasi Patahan Watukosek terjadi sekitar 3-4 bulan dari saat semburan Lusi pertama terdeteksi (29 Mei 2008 ). Sekaligus menyanggah bahwa pandangan terutama dari Mazzini dkk/. (2007) bahwa pasca gempabumi Yogyakat selanjutnya terjadi reaktivasi P Watukosek, pembentukan rekahan sebagai driving force mechanism Semburan Lusi.

Citra InSAR sebagai bagian dari kesatuan pengamatan jangka panjang/menengah GPS mengilustrasikan adanya tiga zona deformasi yaitu (1) Zona Subsidence di Daerah Terdampak Lusi, dengan sebagai elip simetri dengan sumbu panjang utara selatan, berbeda dengan penafsiran selama ini yang selalu menggambarkan sumbupanjang elip berarah baratdaya-timur laur mengikuti asumsi arah jurus Patahan Watukosek

(2) Zona Subsidence di barat Pusat Sembuan (Siring Barat) dengan elip memanjang timur-barat, ralatif tegak dengan arah di pusat semburan

(3) Zona Uplift (pengangkatan) di timurlaut Zona Pusat Semburan dengan sumbu panjang relatif condong utara baratlaut-selatan tenggara.

Dalam kaitan ini Abidin Dkk., (2008) menyimpulkan Zona Uplift tersebut sebagai hasil pergerakan dari Patahan Watukosek.

cincin_ambles.jpgFenomena Sudden Collapse (Lusi : Ambles 4-7 meter, dalam semalam !!) sebagai implikasi langsung dari pembebanan sedimen (sediment loading).

Dalam makalahnya Abidin Dkk., 2008 telah mengulas secara apik bahwa telah terjadi sudden collapse di pusat semburan dengan intensitas yang dahsyat 3 m dalam satu malam (Lex specialist) dibandingkan dengan rate subsidence dengan kecencerungan umum (lex generalist) yang berkisar antara 0,01-4 cm/hari. Dalam skematik diagram (gambar 3) yang menjelaskan hubungan pergerakan tegak (vertical) dan mendatar (horizontal) diperlihatkan pengendali pergerakan mendatar oleh small throw normal faults sedangkan gerakan tegak oleh ‘flexure’. Walaupun tergampar posisi P Watukosek di sebelah kiri, lebih ditonjolkan yang memberikan dampak uplift 0,09 cm/hari dan pergerakan horisontal 0,6 cm/hari.

Skenario tersebut diperjelas dengan kartun Kondisi saat ini dan perkiraan penurunan dan pangangkatan tanah di sekitar Lusi, dimana yang patut mendapat perhatian adalah kondisi (C) terjadinya penurunan seketika (sporadic) 1-3m/hari digambarkan secara gamblang sebagai implikasi berkembangnya patahan kaldera (caldera fault).

Catatan tanggal 2 Juni 2008 telah terjadi recurrent interval suddence collapse ke 2 dengan intensitas lebih dahsyat 4-6m (telah diinformasikan pada forum ini). Dalam kaitan ini penulis telah dapat mengamati di lapangan dibarengi dengan citra satelit CRISP diambil 26 Juni 2008, dimana telah terjadi suatu perubahan yang dahsyat (significance change) dari suatu model creater mud volcano menjadi caldera mud vulcano. Untuk itu memberikan implikasi yang luas perlunya suatu paradigma baru untuk mengendalikan semburan dan luapan Lusi ke depan, dimana Pusat semburan telah beruah menjadi daerah depresi (deprresi area), pengaliran Lusi ke Selatan menjadi iddle sehinnga saat ini berubah menganalkan jalur utara-timur, terjadi amalgamasi (amalgamation) dari sistem pusat semburan dibatasi Tanggul Cincin dengan Basin 44 di sebelah timurnya.

@Kenapa Rel Keretaapi bengkok atau melengkung?

Dalam buku SEMBURAN LUMPUR PANAS SIDOARJO, Basuki (2008 ), dalam Prasetyo (2008) menelaah dan membedah buku tersebut, dalam foto yang memperlihatkan bengkoknya rel diberi penjelasan telah terjadi karena dampak dari panasnya Lusi dan tidak tersurat dikendalikan oleh deformasi geologi. Sedangkan beberapa pihak lainnya melihat dari sudut pandang yang berbeda bahwa pembelokan rel kereta api, putusnya pipa PDAM, dan harus dibongkarnya Jembatan Putul merupakan suatu indikasi adanya deformasi, lebih lanjut sebagai ‘left lateral slip’?

🙁 “Wah mirip pendapat Pakdhe bahwa rel ini ngga ada hubungan dengan geodinamika ya ?”

Sinyal dari hal di atas dari REL BENGKOK saja sudah Kontroversi apalagi mencari jawabn sumber panas, sumber air, overpressure, apakah semburan bisa dihentikan? Atau akan berhenti dengan sendirinya bila tekanan overpressure menjadi harmoni dengan tekanan hidrostatik!

Note : Tulisan ini menguatkan dugaan Ma’rufin disini :Lusi Lagi : Gempa dan patahan Watukosek ?

Kesimpulan LUMPUR SIDOARJO sampai pada umurnya yang lebih dari 27 bulan masih menjadi MISTERI tentang asal usul dan perkembangannya sebagai suatu mud volcano yang tumbuh paling tercepat di seluruh Jagad ini (Planet Bumi); KOMPLEK permasalahan yang ditimbulkannya karena pengendali mekanismenya (semburan) masih berlangsung dengan dahsyat, sekaligus secara simultan menimbulkan masalah sosial kemasyarakatan dan dampak infrastruktur, yang pada akhirnya berdampak pada sendi-sendi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun demikian kita harus OPTIMIS dan penuh HARAPAN, ke depan MASALAH dan TANTANGAN tersebut dapat hadapi dengan tegar dan memberikan hasil yang OPTIMAL. Dalam kontek ini mari kita bahu-membahu untuk mencari SOLUSI YANG ELEGAN DAN TERBAIK.
Kami tetap mohon doa restu dari semuanya agar impian di atas dapat kita wujudkan.

Salam Hormat

Hardi Prasetyo

13 COMMENTS

  1. Koreksi untuk saudara Ma’rufin

    Kalau dilihat dari anda mempermasalahkan offset sesar saya tahu anda pernah belajar buku geologi, tetapi ketika anda berpikir bahwa delta Porong ? Surabaya sedimennnya berumur 700 tahun , menunjukkan anda belajar secara sepotong sepotong. Yang perlu saya jelaskan :

    1. Memang pelabuhan di jaman masa lalu (tahun1293 M pasukan tar tar ke daha) pernah berada di Canggu (depan Ciwi Kimia sekarang) , tetapi bukan berarti dari Canggu ke Timur adalah laut lepas, daerah itu adalah sistem Delta dimana banyak anak sungai besar kecil, nah sungai utama yang besar digunakan sebagai alur pelayaran dan pelabuhannya bisa saja agak ke dalam dari ujung Delta, karena ujung Delta jika tanahnya masih lunak tidak bisa digunakan untuk dermaga.

    2. Bukti bahwa Canggu ke Timur adalah sudah daratan kita bisa buka sejarah, Prasasti Kudadu (1294) menceritakan bahwa R,Wijaya ketika dipukul balik Tentara Daha pimpinan Jayakatwang tahun 1292 M, R.Wijaya dkk lari dari Lawang ke Pandaan kemudian di Gempol (dulu Kapulungan) di situ diserang Ardharaja dari bukit-bukit Watukosek, akibatnya habis pasukan R.Wijaya hancur, tinggal 12 orang lari melewati Porong, Sidoarjo sampai Gedangan kemudian ke timur, di tepi pantai itu (desanya bernama Kudadu) Kepala Desanya yang kenal dengan Arya Wiraraja membantu menyediakan Perahu untuk pelarian R.Wijaya dkk ke Madura. Dari keterangan tersebut jelas bahwa Porong – Sidoarjo pada tahun .1292 M (bahkan 300 tahun sebelum 1292 M) sudah daratan. Karena pelarian 12 orang baru pakai perahu di Desa Kudadu, Timur Gedangan, Timur laut Kota Sidoarjo sekarang. Jadi garis pantai waktu itu sudah di Timur Sidoarjo.

    3. Anda belum memahami poses pengendapan sebuah delta, pengendapan delta bukan hanya 700 tahun tapi puluhan ribu tahun sampai ratusan ribu tahun. Ketika kita melihat tahun 1292 M , Porong sudah daratan, itu sedimentasinya sudah ratusan meter, karena dulunya laut, apalagi dasar dari delta yang lunak ketika terkena beban sedimen yang berat akan ambles sambil maju (Prograding) tapi di atasnya akan terisi endapan lagi, dengan mekanisme begini delta Mahakam ketebalan sedimennya mencapai 7000 m, padahal bukit yang ada di tarakan, Balikpapan maksimal hanya ketinggian 250 meter. Sebelum Nabi Adam ada, delta Brantas sudah memulai sedimentasinya.

    4. Ilmu Geologi tidak bisa anda pelajari hanya dari buku, harus ada “gurunya” yang akan menerangkan rentang waktu proses geologi dalam jutaan tahun, 700 tahun tidak ada artinya bagi geokronologi. Kita membicarakan batuan dan alam ketika Nabi Adam belum Ada, jadi jangan bandingkan sedimentasi delta Brantas yang ratusan ribu tahun dengan manusia sudah ada, OK.

  2. @Kenapa Rel Keretaapi bengkok atau melengkung?

    Memang akibat panas rel bisa melar/melengkung. tapi kan sudah diberikan celah. kalo pun berdeformasi akibat panas maka gaya akibat temperatur tidak untuk menggeser rel tersebut yang telah terkunci dengan balast beton. Jadi menurut saya, pasti terjadi deformasi yang cukup besar.

    Apakah sudah ada yang mengukur k0 pakai pressuremeter/dilatometer?

  3. Misteri Patahan Watukosek dan Debat Lupsi di Afrika Selatan

    Yth. Pak Rovicky yang saya hormati,

    Maaf sudah lama, tidak masuk kedalam forum wordpress.com yang dikelola sangat dinamis ini. Juga baru baca komentar dari Mas Agus Tiro, yang menurut Mas Rovicky baru turun gunung, sehingga penuh dengan inspirasi, inovasi dan penuh dengan pikiran-pikiran bijak.

    Saya telah menuntaskan membaca dan mengkaji puluhan artikel ilmiah/profesional baik dari ke lima nara sumber (full paper) yang ditunjuk AAPG sebagai panelis pada Debat Lupsi: dipicu gempabumi atau pemboran. Selanjutnya membuat simulasi War-game dengan 3 Episode, 1) Kubu Gempa (B. Istadi&Mazzini), 2) Kubu Pemboran (Davies dan Tingay), dan 3) Kubu Deformasi (Abidin). Disamping itu juga mencermati dan menyimak makalah-makalah lainnya yang terkait dengan mudah di dapatkan dari cybernet.

    Disamping hal-hal teknis terkait langsung Kontroversi juga ditangkap pandangan para pakar kebumian dan ahli eksplorasi perminyakan terhadap Lupsi ke depan. Dengan pertanyaan apakah Lupsi bisa dihentikan? bila bisa pake teknologi apa; bila tidak bisa berapa lama lagi durasi semburan Lupsi, dan pandangan Lupsi ke depan sebagaimana model yang dibuat oleh Abidin dkk., (2008).

    Sebagai informasi pada hari Kamis, 13 Oktober 2008, yang lalu sejak saya mendapat tugas di Bapel BPLS, baru pertama kali saya menyaksikan semburan disertai kick yang demikian dahsyat, Pasca masa tenang yang agak lama, pasca perubahan (change) menjadi suatu daeah kaldera yang luas.

    Pada quick respon dari penulis sebelumnya saya menyampaikan pandangan tentang Misteri yang masih terdapat bahkan kontroversi tentang P Watukosek. Hal ini sebagaimana yang dapat disimak dari pendapat Abidin dkk., (2008) dan Mazzini dkk., (2007). Jadi dalam tulisan tersebut saya masih melakukan penelaahan yang di dalam ilmu kebumian, bila membahas sesuatu yang komplek, maka kita mencarikan analogi-analogi yang dapat memberikan gambaran yang mendekati.

    1) Perlunya lebih kejelasan keberadaan Patahan Watukosek bagi non-geologists. Karena saya berada di sekitar teman-teman dengan disiplin keteknikan sipil, perminyakan, maka dituntut harus menterjemahkan fenomena geologi dengan suatu fakta yang lebih nyata. Contoh ahli kebumian menarik Patahan Watukosek dengan garis putus-putus yang panjang dari G. Pananggungan sampai ke Pantai Utara, ahli sipil bertanya mena sebenarnya Patahan Tersebut?

    Salah satu contoh cara untuk menyakinkan teman-teman teknis sipil terhadap adanya deformasi (patahan atau rekahan), maka tahun lalu kita datangkan teknologi Ground Penetration Radar (GPR). Selanjutnya kita mulai mencitra adanya patahan atau (fracture) di permukaan dengan slip sehingga kenampakannya terlihat jelas (kita ambil retakan-retakan di Jalan Tol dekar Renokenongo). Dari penampang GPR tersebut dan fakata defomasi di permukaan ersebut, maka kita bisa meyakinkan adanya deformasi pada lokasi yang lainnya.

    2) Perlu penelitian labih lanjut Patahan Watukosek. Demikian pula saya terus mendorong upaya penelitian-penelitian lanjutan untuk mendeteksi pergerakan sesar aktif termasuk kemungkinan Sistem Patahan Watukosek. Salah satu metoda yang diusulkan adalah memasang beberapa seismometer secara berlanjut di beberapa lokasi, sambil mendeteksi creater Lupsi yang saat ini terus mengalami dinamika pada lingkungan collapse membentuk Kaldera. Disamping itu telah dilakukan pencitraan GPR dengan grid yang lebih baik, dan metoda geofisika lainnya.

    3) Apa kata para ahli terhadap Posisi Patahan Watukosek dalam sistem Mudvolcano Lupsi? Dari para ahli yang membahas Lupsi saat ini antara lain Abidin dkk., 2008 & dan Mazzini dkk., (2007) telah memasukkan keberadaan Sistem Patahan Watukosek dalam lahir (birth) dan berkembangnya (development) sistem mud vulcano Lupsi.
    4) Kontroversi mengenati waktu kelahiran (time frame) dan implikasinya? Namun yang masih menjadi kontroversi adalah time frame (waktu kejadiannya). Abidin dkk., (2008) percaya bahwa P Watukosek bertanggungjawab terhadap deformasi Uplift di timur laut Pusat Semburan Lupsi (merupakan daerah subsidence), yang waktunya sekitar 4 bulan setelah awal semburan Lupsi pada 29 Mei 2006. Sementara itu Mazzini dkk., (2007) menyebutkan reaktivasi P Watukosek terjadi pasca gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, diikuti pembentukan rekahan-rekahan (fracture).

    5) Bukti-bukti geologi keberadaan Patahan Watukosek saat ini? Mengenai pembuktian keberadaan P. Watukosek yang digunakan oleh Mazzini dkk., 2007 dan Abidin.,dkk., (2008) adalah sebagaimana saat kita mengambil kuliah geologi struktur atau geologi umum yaitu: a) adanya pembelokan tiba-tiba kelurusan, dan b) adanya Gawir Sesar (escarpment), c) tambahan adanya pembengkokan rel kereta. Hal menarik bila dicermati benar-benar umumnya para ahli menarik garis tegas di selatan, dan ke utara-timurlaut garis putus-putus sampai memotong dekat lokasi Lupsi.

    6) Masih perlu studi lanjutan status keberadaan Patahan Watukosek? Patahan Watukosek yang masih misteri disertai dengan kontroversi, perlu pembuktian aktivitasnya apakah ia merupakan suatu bidang sesar yang aktif, istirahat, atau tidak aktif, seperti halnya para ahli seismotektonik menggunakan seismometer untuk mendeteksi pergerakan dari suatu fenomena patahan aktif. Dalam kaitan ini saya bukan menyamakan apple to apple Patahan Watukosek dengan Sumatra Fault Zone dipicu oblique subduction sistem Busur Sunda, apa lagi dengan San Andreas Fault (transform margin antara Lempeng Pasifik dan Amerika Utara).

    7) Hal-hal yang masih membuat saya bertanya dan penasaran terkait P Watukosek.

    Arah Pasangan (pair) P Watukosek yaitu baratdaya-timurlaut.

    1) Fakta struktur kontur mengikuti arah utama P Watukosek. Saat saya pertama mendapat kesempatan melihat data-data geofisika (magnetik, gayaberat, dll) hampir semua kontur struktur mengikuti pola tersebut. Termasuk adanya dua deposenter yang diasumsikan arah pergerakan ‘fluida”, dengan sumbu panjang searah P.Watukosek.

    2) Citra penafsiran Insar arah sumbu panjang elip subsidence utara-selatan bukan arah utama Watukosek. Pada Paper Abidin (2008) diperlihatkan Citra satelit InSAR yang ditafsirkan terdapatnya dua elip (fenomena subsidence) dan satu elip (fenomena uplift). Yang menarik perlu dicermati bahwa arah sumbu panjang elip subsidence di sekitar pusat semburan relatif utara-selatan, dan tidak mengarah ke baratdaya-timurlaut sebagaimana yang digunakan oleh para ahli kebumian terdahulu. Jadi di sini juga masih ada pertanyaan.

    Langkah Ke depan

    1) Bahwa hal-hal mengenai Patahan Watukosek yang saya kemukakan di atas adalah berdasarkan penelaahan atau tinjauan terhadap pemikian-pemikiran para ahli dibidangnya dengan dilandasi oleh bervariasinya data dan argumen. Jadi saya tidak melakukan penelitian primer sendiri, atau lebih ke kompilasi.

    2) Bapel BPLS bukan super body, sehingga memposisikan untuk memberdayakan kajian-kajian substansi yang telah dihasilkan oleh parea pemikir dari beberapa instansi yang kopeten dan Perguruan Tinggi (seperti ITB, ITS, UGM,UPN, Usaki, Unpad), maupun kerjasama dengan berbagai instansi dari luar negeri sep USGS, Arisona UN, dll.

    3) Bapel BPLS sangat berterima kasih terhadap kontribusi pemikiran2 konstruktif terkait langsung atau tidak pada upaya penanggulangan semburan dan penanganan luapan Lupsi, dengan semangat melihat ke depan untuk mencari solusi. Untuk itu secara khusus dapat disampaikan kepada Deputi Operasi BPLS (Pak Soffian Hadi), atau diskusi dengan Pak Handoko yang sedang getol-getolnya melakukan studi deformasi geologi terutama di Watukosek dan Siring Barat.

    Penutup Apresiasi pada Pak Rovickty
    Akhirnya pntuk Pak Rovicky saya pribadi menghaturkan apresiasi yang sebesar-besarnya, karena saya sudah pernah mengalami bagaimana menyita waktu, tenaga dan fikiran untuk berperan sebagai ‘chief editor’ suatu publikasi public domain seperti WordPress.Com. Kenangan masa Lalu saya pernah jadi ce untuk 2 majalah sekaligus SINYAL dan GEOFISIKA (Hagi), akhirnya juga sekalian ditunjuk jadi Ketua PIT Internasional HAGI bersamaan dengan VISIT INDONESIAN YEARS.
    Mudah-mudahan situs WordPress.com dapat penghargaan dari AAPG berdasarkan dedikasi dan profesionalitas, serta bervariasinya dinamika dalam mengangkat isu-isu aktual dan kritis yang tidak lepas dari prinsip Pembangunan Berkelanjutan sektor Energi dan Sumber Daya Mineral dengan memperhatikan prinsip 3E Energy Security, Economic Development dan Environmental Protection.
    Saya masih berharap dapat menghadiri Debat Lupsi di Cape Town, karena sudah 2,5 bulan konsentrasi menyiapkan Simulasi War-Game. Bila toh tidak bisa kesana, mudah-mudahan Pak Rovicky dan Pak Awang dapat membagi pengalaman dengan teman2 lainnya. Saya bersedia jadi fasilitator bila akan ngobrol-ngobrol di Sidoarjo.

    Mohon maaf Lahir dan Batin, bila selama ini ‘quick response’ ada yang mengganggu perasaan dan ketenangan.

    Salam Hormat untuk Semuanya

    Hardi Prasetyo

    Catatan: Untuk Redaksi bagaimana caranya bila ingin memasukkan gambar/foto.

  4. Hi ya, this information just came in from America…..

    I’ve just finished a 18 month research and investigation project on the mud volcano, LUSI. The project was commissioned by a government agency (non-Indonesian), with a team made up of scientists, drilling experts and some shady government types.

    The conclusion was that drilling did NOT cause the mud eruption, and the cause is yet-to-be determined.

    What I and the team were shocked to uncover was the lack of interest from the exploration company in making any of this public. (which they have been sitting on for some time).

    Background.

    The earthquake wasn’t particularly large (6.3-6.4), history has seen 100’s of earthquakes between (5.0 – 7.0) hitting Java without incident- No mud volcanoes the size of LUSI erupting.

    However, this earthquake was the most destructive (damage & death) in modern times. Killing 6,000, leaving 1,500,000 homeless.

    The eruption caused 2 volcanoes to reactivate including Mt Semeru 280KMS away from the earthquakes epicenter.

    So the earthquake was not normal, and more research needs to be done, which a German University has undertaken.

    DRILLING.

    Drilling team felt the earthquake, minutes later a circulation “loss” occurred.

    4 and 5 hours later 2 after shocked were felt. The well then experienced another circulation “loss”.

    These were both handled to normal industry standards.

    Large cracks appeared (noticed) between first and second “loss”, these cracks within drilling staging area, and within the surrounding areas. A large highway (toll road) bridge was later dismantled due to damage (cracks).

    The following morning 3 (10-15m apart) eruptions were noticed 200m from the drilling platform, they were coming from a large crack that had appeared on vacant land. Over the next 2 days sizable eruptions were coming from 3 locations within 1KM from the first location. All of these eruptions line up, (straight line), indicating a fault had been reactivated- Maybe.

    Over the next 12 months over 90 eruptions occurred, spewing up to 150,000m3 of muddy salty water.

    No mud came from the bore hole. Pressure was normal, and the shoe wasn’t damaged.

    MUD.

    What is also interesting is the fact the area is prone to mud volcanoes. Many villages live on top of them (crazy), they are small but never the less they are “live”. There are 6 large mud volcanoes all of these, including the smaller ones reacted around the time of the earthquake (within 2-4 days), many eyewitness accounts, and physical evidence was collected. We even saw a house that was positioned on-top-of an eruption…. poor buggers.

    POLITICAL.

    Many say politics and in fighting between the partners, (the Indonesians partners are political rivals, but it seems in this case were happy to do business together).

    Our research/investigation team uncovered interesting “political” facts which once understood kinda unravel what happened or more to the point what went wrong.

    Our report points to a “leaked” letter from one of the partners (MEDCO) whom blame the drilling company. They indicate that steel casing wasn’t used when, they (MEDCO) reminded them to do this days before the incident.

    (We have evidence that ALL partners agreed to the drilling plan, and that they all saw daily reports, as did the government management agency BP MIGAS).

    So the letter is BS.

    But the media ran it, and it seems most Indonesian’s believe everything they read in the morning paper.

    Our report points to liability issues, and the fact (MEDCO) claimed or use the words “Gross Negligence”. Looking further we uncovered that if the partners could claim “Gross Negligence” then they would be off the hook it terms of liability. Further investigation found that the founders of MEDCO were securing funding to buy back shares in the company. They had lost control of MEDCO during the Asian Economic Crisis a few year earlier, and so we believe they couldn’t afford another financial disaster.

    It starts to get even more interesting when media reported the leaked letter and the name of the “other” Indonesian partner, Bakrie. Bakrie family are well known in Indonesia with the eldest member holding a senior position in the current administration.

    So, the media start accusing the government of a cover-up and are protecting the so called powerful Bakrie family.

    They are Rupert Murdoch’s partner in Indonesia, so they must be pretty connected.

    It gets even more interesting when weeks after the eruption a UK based University professor Richard Davies starts blaming the drilling company. We uncovered that this professor has never visited Indonesia, or seen any drilling data. (at this time).

    This professor then steps up his finger pointing campaign, releasing a very damaging paper again blaming the drilling company. We find that at this time he still hasn’t visited the mud eruption, has never contacted the drilling company (so they say) and has never seen any data.

    We found that all data relating to exploration, drilling, energy is owned by the government, and they must approve any transfer of information/data to 3rd parties. The agency BP Migas confirmed that no requests have been received to pass on data to this person.

    In fact he claimed sources “confidential sources” had provided him with data. Strange that a university professor behaves in such a manner.

    What Davies did do during his only visit to Indonesia in 2007 was meet executives from MEDCO. The plot thickens.

    What gets this entire thing even more interesting is Davies comments and papers are released via a commercially funded public relations campaign. Strange isn’t it.

    In addition, Davies is reported to have said that he admitted making mistakes in his first paper, as he was rushing to get it published…. why the rush? Other interests involved?

    Two years on Davies continues to attack the drilling company, behind a well financed public relations/media campaign.

    So, it not what it seems to be.

    Scary stuff.

  5. Sekedar menambahkan catatan…

    Beberapa hari ini ngulik sejarah Delta Brantas dalam kurun waktu 1 milenia terakhir. Sejarahnya lebih ke kemunculan kerajaan2 di sini yang mencapai puncaknya pada masa Mojopait itu.

    Ada satu yang menarik, delta Brantas itu belum ada pada 700 tahun silam, karena muara Sungai Brantas masih berada di Mojokerto sekarang (dan disinilah letak pelabuhan utama Majapahit, yakni Canggu). Sementara di kawasan yang sekarang menjadi Surabaya, saat itu masih rawa2 dan dikitari laut dangkal, dimana di sini terdapat pelabuhan Hujung Galuh, pintu masuk kedua Majapahit (terutama jika Canggu tidak bisa dimasuki karena air surut).

    Nah, dengan umur sedimen paling banter 700 tahun, dengan demikian usia Sungai Porong pun maksimal ya 700 tahun lah. Lupakan dulu sejarah berikutnya bahwa Sungai Porong itu kanal buatan yang dibangun Belanda pada tahun 1800 sebagai saluran banjirkanal untuk mengurangi debit Sungai Mas yang bermuara di Surabaya, karena jika dilihat meandering-nya, sepertinya Belanda saat itu hanya memperlebar alur sungai yang sudah ada untuk kemudian dijadikan kanal berkapasitas besar.

    Dalam banyak tulisan disebutkan adanya pembelokan kelurusan Sungai Porong yang diklaim sebagai bukti aktivitas masa silam Patahan Watukosek. Maaf saja, argumen ini tak berdasar. Dengan umur maksimum Sungai Porong yang 700 tahun, sama sekali tidak masuk akal jika dalam kurun waktu 700 tahun itu terjadi pergerakan patahan hingga menghasilkan offset sepanjang 2 km (!). Sebab dengan demikian maka kecepatan pergerakan Patahan Watukosek rata-rata adalah 2.900 mm/tahun, angka yang luar biasa besar dibandingkan dengan nilai 0,5 – 1 mm /tahun (kecepatan tipikal patahan-patahan di Jawa) ataupun 10 mm/tahun (kecepatan rata-rata Patahan Besar Sumatra).

    Sebagai pembanding, Patahan Besar Sumatra memiliki total offset 20 km (Natawidjaja, 2000) dan telah aktif sejak 2 juta tahun silam. Namun beberapa segmen didalamnya hanya menghasilkan offset sebesar 2 km saja.

    Sehingga, tidak masuk akal menyebut pembelokan kelurusan Sungai Porong ini sebagai hasil aktivitas patahan Watukosek. Baik dihitung secara aseismic slip, ataupun seismic slip (jika elastic dislocation model itu benar), maka dalam tempo 700 tahun itu (dengan asumsi kecepatanh patahan 10 mm/tahun saja), baru menghasilkan offset 7 m saja.

    Dari sini muncul pertanyaan, sampai kapan patahan watukosek ini aktif, apakah hingga masa Holosen atau sebelumnya ?

  6. Salam jumpa lagi Pak Hardi
    saya sudah banyak dengar alibi anda di simposium LUSI tagl 19 November 2007 di ITS

    Janganlah anda mencari alasan pembenar kasus Lapindo dengan sebuah interpretasi reaktivasi patahan Watukosek oleh gempa Yogya, karena terasa mengada-ada bagi geologist sejati.

    Apalagi menyamakan patahan Watukosek dengan San Andreas Fault, Sesar Semangko, sangat lemah argumentasi tersebut !!!

    Kalau anda bisa mematahkan argumentasi saya sbb:

    1. Meskipun arah sesar Opak mirip dengan sesar Watukosek, dua sesar tersebut tidak berhubungan secara langsung. Jarak yang 300 km dan diantara keduanya banyak batuan yang masif, tidak mungkin getaran pada skala 5,9 SR akan mengaktivasi sesar Watukosek,apalagi sumber gempa Yogya dangkal.

    2. Menganalogikan sesar lokal Watukosek dengan sesar super makro San Andreas dan Semangko adalah menyesatkan orang yang tidak tahu tektonik. Sesar ribuan kilometer tersebut berhubungan langsung dengan lempeng tektonik yang menekannya, San Andreas dari lempeng Pasifik, sesar Semangko ditekan oleh lempeng Indo-Australia. Berapa panjangnya sesar Watukosek ? Apakah garis patahan dari sesar Watukosek memanjang sampai laut Selatan di Blitar sana ? tidak kan !!!, jadi anda tidak bisa menyamakan sesar Watukosek dengan Sesar Semangko dan sesar Opak yang memang berhubungan langsung dengan lempeng Indo-Australia.

    3. Mekanisme gerak dari sesar super makro adalah regional, efek bencananya juga regional, beberapa titik secara simultan, jika jalur sesar semangko bergerak maka bencana akibat gempa maupun longsornya tidak hanya dirasakan di Lampung tapi pasti banyak daerah lain juga kena. Pada jalur Semangko dari Lampung sampai Aceh maka patahan kecil yang teraktivasi juga terjadi di banyak tempat sepanjang kiri-kanan garis Semangko. Jika fakta tersebut dijadikan acuan, garis sesar Watukosek jika diperpanjang ke Selatan akan sampai Pantai Selatan Blitar. Kalau memang ada hubungan antara lempeng tektonik di selatan Blitar dengan gempa Yogya dan sesar Watukosek, mengapa bencana hanya tunggal di LUSI ???

    4. Sebagai sesama Senior Geologist saya mengingatkan anda, hentikan interpretasi yang tidak berdasarkan fakta yang logis, karena akhirnya hanya ” Gothak gathik gathuk, waton mathuk ” sama saja dengan guyonan Goro-goro Wayang kulit. Sudah jelas Lapindo melanggar SOP (Standar Operating Procedure) pemboran dan mengakibatkan bencana, tidak usah dicarikan alibi, kita geologist Pak bukan pengacara yang bisa membolak-balikkan KUHP. Saya ngeman reputasi anda sebagai geologist, jangan sampai jadi antek-antek atau tangan panjang Lapindo group.

    5. Sejak bulan Juni 2006 saya sudah bicara di koran-koran lokal Jawa Timur dan radio El Shinta dan radio lainnya. Solusinya adalah membuat open channel khusus lumpur disamping tanggul kali Porong sampai ke laut. Bukan membuang lumpur ke kali Porong, open channel tersebut khusus lumpur, tiap jarak tertentu diberi pompa yang mengambil air dari kali Porong untuk pengenceran lumpur. Jadi viskositas lumpur tetap dijaga agar terus mengalir sampai ke laut. Memang akan terjadi pendangkalan di pantai, tapi itu resiko terkecil yang harus diterima, daripada seperti sekarang 7 desa terendam lumpur. Dinas Lingkungan Hidup Sidoarjo juga sok alim dengan menolak ide saya, waktu itu saya katakan ; lebih baik mengorbankan ikan daripada korbannya manusia, lebih baik mengorbankan laut daripada desa tengelam. karena lumpur LUSI asalnya laut dan laut setelah beberapa tahu mampu merehabilitasi sendiri terhadap lumpur.

    BPLS Selamat bekerja dengan benar, jangan hanya jadi backing bisnis Sirtu, OK.

    To Rovicky, aku angkat topi dengan kiprahmu dan kreativitasmu, memang sejak kau jadi Praktikan di Laboratorium pimpinanku, bakat cerdasmu sudah kelihatan, sebagai kakak seperguruan aku bangga turut mendidik dirimu. Aku memang baru turun gunung, membuyarkan LAKU TAPAKU setelah gempa Yogya, LSM-an dengan ADB sosialisasi ke masyarakat, baru sekarang merambah dunia maya.

  7. LHA. IYA. WONG YNG SUDAH JELAS SAJA DIBUAT POLEMIK BIAR BINGUNG DAN RAKYAT DIANGGAP BODOH. COBA BACA INDOPOS,26/8/2008. ADA SURAT DARI KPS BESAR AMERIKA YANG MINTA PENGURANGAN PAJAK, DIKIRIM KE ESDM, DAN ESDM SETUJU.PAK PORNOMO TTD. JADI YG MEMANG DIJUAL KEKEPENTINGAN PENGUSAHA BESAR. WONG ANAKNYA POERNOMO, TINGGAL DAN LULUS DI AMRIK, KERJA DI JP MORGAN, GAJI USD 110 RIBU. MIKIR DONG ADA APA SAMA DIA DAN PEMERINTAH SBY DAN JK. ROSIHAN ANWAR NGOMONG DI DELTA FM: SAYA MASIH BERSYKUR INDONESIA MASIH BERDIRI. CUMA HARAPAN SAYA KALAU MILIH PEMIMPIN PILIH YANG BENAR. NEGARA INI SEDANG KACAU. TANYA DIRI SENDIRI. UANG APA NEGARA.

  8. Saya sih bukan ahli geologi atau permigasan. Tapi namanya analisis geologi itu beda dengan analisis teknik pemboran. Prof. Prayitno, ahli geofisika dari UI pernah mengatakan kepada saya bahwa yang diketahui oleh ahli geologi itu ya fenomena geologi. Sedangkan ahli atau praktisi permigasan (teknisi)pasti lebih paham soal prosedur dan pelaksanaan pemboran serta apa yang sedang terjadi.

    Profesor itu mengatakan bahwa penyebab semburan lumpur Lapindo jika dikaitkan dengan pelaksanaan pemboran dan akibatnya lebih tepat jika dinilai oleh engineer, bukan geologist. kalau dilihat dari perspektif geologis, Prof. Prayitno mengatakan bahwa lapisan bumi di sumur banjar Panji 1 Porong itu bisa jadi (geologist selalu dengan hipotesis) sudah terjadi rekahan akibat gempa-gempa sebelumnya (sebelum gempa Jogja). Maka membornya akan memperparah tingkat kerusakannya jika tidak berhati-hati.

    Kalau dilihat dari keterangan pelaksana pemboran yang dimuat dalam penjelasan tertulis BP Migas dan Lapindo Brantas Inc tanggal 12 Juni 2006 sudah jelas adanya ‘masalah’ dalam pemboran di Sumur Banjar Panji 1 itu, terjadi kick well sampai rangkaian bor gagal ditarik, matabor terjepit lalu dipotong dan seterusnya.

    Okelah dalam dunia akademik bisa saja diperdebatkan, wong seorang koruptor yang sudah divonis bebas atau dihukum pun masih bisa diperdebatkan. Tapi dokumen negara berupa hasil audit BPK sudah jelas menyimpulkan bahwa itu kesalahan bornya Lapindo (bukan salah Inul membor hehehe….)

    Salam goyang ngebor!

  9. Ada yg udah bikin komik tentang lusi ngga ya di indonesia? kalo di jepang ada yg bikin komik mirip lusi judulnya ‘Jepang Tenggelam’. Kayaknya yg bikin komik terinspirasi atas kasus lusi ini deh, ehmm tp pengarangnya lupa siapa..

  10. mari kita tunggu dongeng di negeri dongeng yang gemah ripah loh jinawi, yang merdeka untuk bangsanya sendiri, yang menghargai manusia sebagai manusia seutuhnya, yang bermartabat dan berkeadilan dan…

Leave a Reply