Kebijakan Energi Nasional (PP 05/2006) Yang Terasa Jadul – 2

18
Konsumsi dan cadangan minyak mendatang

Dari tulisan sebelumnya disini dasekarang kita lanjutin dengan Kebijakan Energi Nasional atau yang dikenal dengan KEN 2006 itu sendiri.

Bagaimana dengan KEN 2006 ?

Nah sekarang kita tahu bahwa saat ini kebijakan KEN sudah berjalan selama dua tahun. Mungkin bisa kita lihat perkembangannya. Walaupun saya tahu akan sangat sulit mendapatkan data-data asli dari Indonesia, tetapi kebetulan banyak kawan yang membantu memberikan data-data yg memang bukan data rahasia, tetapi memang tidak mudah mendapatkan akses hasil-hasil penelitian di Indonesia ini.

Atau barangkali memang penelitian dari Indonesia tidak ada ? wupst !! 🙁
Bahkan konon lampiran-lampiran yang ada pada KEN atau sering disebut juga PEN terkesan asal-asalan. Wis ah, kok cuman ngrasani doank.

Tulisan ini didasarkan pada diskusi di IATMI-KL dengan KBRI. Dalam seminar itu akhirnya tercetus pembentukan IBCN (Indonesian Brain Circulation Network)  Yaitu wadah untuk menyalurkan pemikiran para expatriate Indonesia di LN untuk memberikan sumbangan pemikirannya.

🙁 “Pakdhe denger-denger katanya saat ini akan dibentuk jaringan Indonesian expat, untuk Brain Gain ya ?”

😀 “Lah dongengan ini kan sudah jalan sejak dulu ta, le. Baguslah Kalau Pak SBY sudah mau membantu”

KEN memiliki target khusus tertentu terutama dalam pemanfaatan berbagai jenis energi primer.

Yang dimaksud energi primer dalam KEN (Peraturan Presiden 05/2006) ini disebut sebagai sumber energi. Definisinya dijelaskan dalam PP05/2005 “Sumber energi adalah sebagian sumber daya alam antara lain berupa minyak dan gas bumi, batubara, air, panas bumi, gambut, biomassa dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dimanfaatkan sebagai energi“.

Kebijakan Energi yg tertuang dalam KEN mentargetkan “energy mix” atau sasaran KEN. Sasaran Kebijakan Energi Nasional itu adalah:

a. Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025

Target Kebijakan Energi Nasional (Energy Mix)

b. Terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional:

1) minyak bumi menjadi kurang dari 20% (dua puluh persen).
2) Gas bumi menjadi lebih dari 30% (tiga puluh persen).
3) Batubara menjadi lebih dari 33% (tiga puluh tiga persen).
4) Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5% (lima persen).
5) Panas bumi menjadi lebih dari 5% (lima persen).
6) Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir,
tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5% (lima
persen).
7) Batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2% (dua persen).

Tentunya kita tahu bahwa “liquified coal” atau batubara cair bukanlah disebut sebagai sumber energi. Demikian juga hidrogen (H2). Untuk lebih detail silahkan baca lagi uraian Pak Koesoemadinata di tulisan “Sumber Energi Dan Sistim Penyimpanan Energi”

Awalnya ditahun 2000 Indonesia memanfaatkan atau membutuhkan kira-kira 60% minyak bumi, 30% gasbumi, dan sekitar 12% batubara. Data dasar (dari awal) KEN tahun 2003 menunjukkan sedikit berbeda. Ntah, mana yang benar tetapi paling tidak kita memiliki data dari dua tahun terakhir menurut BP statistik ternyata kebutuhan minyakbumi justru meningkat, juga gas bumi. Ini memperlihatkan bahwa adanya “ketagihan” pada minyak bumi yang sulit diobati.Yang perlu diperhatikan satu saja dulu. Tahun 2025, target kebutuhan minyak adalah hanya 20% dari total energi yang dibutuhkan.

Dengan adanya sasaran diatas mungkin kita bisa tinjau bagaimana pelaksanaannya hingga kini.Tentunya dengan menyadari adanya peningkatan kebutuhan minyak, gas bumi batubara serta jumlah energi total yang dipergunakan di Indonesia.

Cukupkah minyak yang ada saat ini ?

Konsumsi dan cadangan minyak mendatang
Konsumsi dan cadangan minyak mendatang

Dengan melihat grafik di atas ini mungkin bisa membantu melihat perkembangan cadangan sisa serta penemuan minyak di dalam negeri, sejak tahun 1965 hingga kini (2008). Sisa cadangan minyak di Indonesia terlihat mulai menurun sejak tahun 1990. Seperti dijelaskan di artikel sebelumnya, penurunan ini relatif landai, artinya jumlah yang diketemukan lebih sedikit dari yang diproduksi.

Perhatikan angka pointer-pointer yang ada di grafik ini.

1. Titik ini merupakan titik dimana minyak akan habis seandainya tidak ada penemuan baru. Titik ini mustahil. Looh kan kita masih melakukan eksplorasi dan kitapun masih memiliki BPMIGAS, kita juga masih ngebor minyak. Artinya memang bener minyak kita habis kalau kita “tidak melakukan pencarian baru“. Abaikan saja titik 1. Wong kita masih punya usaha mencari kok. Tetapi kalau kita melakukan “bisnis as usual“, maka minyak akan habis jauuh setelah tahun 2040-an. Jadi jangan takut kalau ada yang bilang minyak kita habis ditahun 2015. Ini berarti yang ngomong ngga ngerti kalau kita sedang melakukan eksplorasi (pencarian) juga kan ?. Dan “trend” yang ada selama ini menunjukkan bahwa kita masih menemukannya juga kan ?

2. Proyeksi garis 2 ini adalah peningkatan konsumsi. Bayangkan kalau konsumsi tidak ditekan. Dan seandainya tidak ada upaya diversifikasi sama sekali dari peningkatan konsumsi minyak, maka kebutuhan minyak kita akan semakin tak terkendali. Garis peningkatan sejak tahun 1995.

3. Proyeksi dari trend penggunaan minyak pada lima tahun terakhir merupakan hasil dari pengurangan laju pertumbuhan kebutuhan minyak di dalam negeri. Artinya lima tahun terakhir memiliki dampak khusus dalam “mengerem” kenaikan kebutuhan minyak. Tentunya usaha-usaha yang sudah dilakukan dalam 5 tahun terakhir ini harus terus dilakukan supaya kebutuhan minyak tidak merangkak naik tak terkendali.

🙁 “Wah rada rumit Pakdhe, maksudte gimana”

😀 “Itu Maksudnya karena lima tahun terakhir ini ada kenaikan harga BBM dan diversifikasi yang mengurangi laju kebutuhan minyak di dalam negeri”

🙁 “Halllah, Pakdhe mau bilang kalau pemerintah sekarang sukses gitu ya ? … emang Pakdhe dapat apa sih ?”

😀 “Hust !! kalau sukses ya dibilang sukses, kalau amburadul ya di kritik, kan gitu”

4. Titik 4 adalah tahun 2025. Ditahun 2025 itulah KEN ditargetkan. Kalau kita lihat di grafik diatas terlihat bahwa pada tahun 2025 masih ada produksi sekitar 500 ribu barrel sehar. Lumayan kan ?

Tunggu dulu ! Berapa kebutuhan energi pada tahun 2025 ?

KEN PP05/2006 perlu dire-visit

Gambar disebelah memperlihatkan proyeksi kebutuhan minyak dan energi lain di Indonesia pada tahun 2025.

Dari pengalaman selama ini, dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup “lumayan” (mboh lumayan kecil atau lumayan besar), Indonesia memerlukan jumlah energi primer yang juga meningkat.

Selama 20 tahun kebutuhan energi total di Indonesia ini meningkat 300% (3kali lipat). Artinya kalau sekarang kebutuhan minyaknya 1.2 juta barrel sehari itu hanyalah 45%. Maka kebutuhan energi minyak kita nanti ditahun 2025 sekitar setengahnya (20%) adalah sekitar 1.5 hingga 2 juta (dibulatkan), tergantung dari kesuksesan mengurangan lajunya.

🙁 “Wah, walaupun minyak dibilang hanya 20%nya saja, ternyata kebutuhan ditahun 2025 juga meningkat ya Pakdhe ?. Trus siapa yang mengisi kekurangannya ?”

Ini yang mengkhawatirkan !

Kalau kebutuhan ditahun 2025 itu 1.5 juta sedangkan produksinya hanya 0.5 juta, lantas yang 1 juta barrel sehari diambil dari mana ?  Ingat meningkatkan produksi justru akan semakin mempercepat berkurangnya cadangan, atau mempercepat pengurasan cadangan.Kecuali penemuannya juga meningkat.

Dengan “bisnis as usual“, jelas kita tidak mungkin memenuhi kebutuhan energi minyak didalam negeri ! Artinya KEN 2006 harus direvisit dan direvisi.

Dari dua tulisan yang ini dan sebelumnya dapat diambil pelajaran. Dan yang mungkin dilakukan saat ini antara lain :

  • Revisi dulu pedomannya (KEN PP 05/2006) karena sudah mustahil tercapai.
  • Mengurangi laju kebutuhan minyak, mengurangi ketergantungan pada BBM.
  • Meningkatkan eksplorasi, supaya penambahan cadangan dapat mengkompensasi laju produksi yang akhir-akhir ini terkesan dicoba di genjot habis-habisan.
  • Perlu (harus) menggunakan pendekatan “teknologi” sebagai sebuah alat (tool) dalam rekayasa energi. Salah satunya perlu melakukan riset yang “benar”.
  • HEMAT ENERGI, baik secara keseluruhan khususnya BBM.

🙁 “Looh Pakdhe, kita kan ada energi primer lain termasuk geothermal yang selalu pakdhe bilang 40% dari cadangan dunia, Juga ada Batubara, energi angin, air dsb ta ?”

😀 “Betul thole, itu bisa saja dipakai tetapi yang jelas KEN PP 05/2005 harus direvisi atau direvisit dulu. Karena saat ini KEN ini merupakan salah satu pedoman praktis dan operasional. Dan menjadi pegangan. Buktinya Geothermal hanya ditargetkan kurang dari 10% walaupun cadangannya 9 Milyar Barrel ekivalent ! Tetapi geothermal tidak menjadi target utama dalam KEN yang ada thole. Makanya terseok-seok jalannya”

  • yang lain ditulis terpisah saja ya …. soalnya dasar berpikirnya juga beda sih …. tunggu  😛

18 COMMENTS

  1. alternatif energi nuklir mestinya saat ini sudah dalam tahapan teknologi yang tidak lagi menakutkan. hampir sebagian besar negara sudah mulai melirik energi ini

  2. Teknologi semakin maju. Sumber energi adalah hajat hidup orang banyak. Maka penyediaan sumber energi adalah bagian dari pelayanan publik. Meminjam istilah Pak Kurtubi- minyak bukanlah tempat bisnis pemerintah-. negara kita dilimpahi kekayaan yg luar biasa sebagai sumber energi. Mulai dari geothermal, LNG, sel surya, arus laut, sungai, dll. Kebijakan pemerintah yg ngawur bin tolol adalah melakukan kebijakan konsesi terhadap korporat Asing untuk mengeruk minyak dan gas kita. Akibatnya disaat harga minyak dan gas naik, rakyat pemilik asli dari kekayaan tersebut justru menderita.

  3. CATATAN DINAMIKA KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL (KEN): Ditengah Ditengah Perubahan Lingkungan Strategis

    Wah benar-benar asyik dapat mengikuti secara aktif Situs Rovicky.Word.Press.Com ini, karena beberapa isu aktual dan kritis terus mengalir dengan deras, silih berganti dengan demikian cepat.

    Ketika harga minyak meroket mencapai di atas angka yang tidak masuk akal (memperhatikan faktor fundamental) dan tumbuh dengan demikian cepat (dari levil 65-135 ditempuh dalam waktu pendek) oleh faktor-faktor nonfundamental (di atas $135/brl) maka pada forum ini telah bergulir isu-isu Subsidi BBM, BLT, ‘Blue Energy”, dan sampai yang terakhir ini tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN 2006).
    Kebetulan dulu (tahun 2003) saya pernah ditunjuk oleh Dirjen LPE DESDM untuk mengkoordinasikan Tim Kecil (lintas sektor) untuk penyusunan draft awal KEN (output ke Ditjen LPE), namun belum tuntas menyelesaikan tugas tersebut mendadak harus sekolah lagi di Lemhannas, tugas tersebut dilanjutkan oleh Dr. Yugo Pratomo, yang selanjutnya memegang jabatan Dirjen LPE.
    Dalam kaitan dengan KEN tersebut agar respon serta pemikiran-pemikiran cerdas melihat ke depan dari forum Word.Press.Com ini dapat diterima oleh pihak terkait, maka saya akan dokumenkan dan menyerahkannya pada kolega saya di DESDM (termasuk Pak Purnomo, Dirjen LPE, Migas, Staf Ahli Menteri, Kabalitbang).
    Ke depan saya akan mengeluarkan catatan-catatan pribadi terkait kilas balik energi-BBM guna terus memberi darah segar di situs yang sangat Dinamis dan Kredibel ini, beberapa yang sudah terpikir (quick ideas) diringkas:
    1) Bagaimana Pemerintah Inggris sudah menyusun Road Map ke Low Carbon Economy 2050 (pada forum itu saya presentasi ttg tantangan Energi Indonesia: sambil mempromosikan dahsyatnya Bencana Tsunami Aceh);

    2) Bersama Menteri Energi Spanyol, Jerman, Brazil mendiskusikan Kontroversi mengapa Jerman memutuskan akan menghentikan PLTNuklir tahun 2015? Yang menarik bukan hanya terkait aspek teknis tapi non-teknis yaitu keamanan menghadapi terorisme! Pada diskusi kelompok kecil Menteri2 Energi tersebut bagaimana Menteri Energi Brasil (yang paling cantik, karena satu-satunya wanita) dengan elegan menyampaikan bagaimana Brazil berhasil mengembangkan Biogasoline, mungkin yang paling berhasil di dunia!

    3) Pulang mengikuti konpererensi Menteri2 Energi di Inggris saat mampir di Bandara Thailand, Bangkok mendapatkan buku yang sangat vision terkait energi ke depan THE END OF OIL: Developmen New Energy Economic;

    4) Bagaimana saya bahu membahu dengan para aktivis mahasiswa (ITB, Trisakti, UI, BBMWATCH, dll) ketika menghadapi kenaikan BBM Oktober 2005 membandingkan harga bensin dan solar di 152 negara, termasuk menggunakan harga telor sebagai indeks kemampuan daya beli (purchasing power)?

    5) Momen-momen yang mendebarkan saat saya mendampingi Sekjen DESDM mendengarkan keputusan Mahkamah Konstitusi tentang UU Migas/2002 dimana sebelumnya UU Ketenagalistrikan oleh MK dinyatakan batal demi hukum!

    6) Bagaimana saya bersama aktivis mahasiswa terutama dari ITB membangun suatu media BBMWATCH, saat itu untuk mengawal agar harga BBM yang pada tahun 2002 telah menggunakan Harga Bulanan Berfluktuatif berbasis Mid Oil Platt (MOP) Singapore, yang ditentukan setiap awal bulan terkait oleh Pertamina benar-benar akuntabel dan akurat. Saat ini BBMWATCH yang dikelola mantan aktivis dan concern di bidang Energi-BBM masih eksis.

    7) Saat-saat yang menegangkan namun harus diambil ketika saya memutuskan meluncurkan buku PARADIGMA BARU SUBSIDI BBM: Tepat Sasaran dan Berkeadilan, di UIM Makassar dengan penyenggah dan pembedah Profesor dari Unhas, pilihan di UIM di Ujung Pandang justru karena di kampus itulah yang secara konsisten mengkritisi ‘Kebijakan Subsidi Harga BBM’. Syukur semuanya berjalan sesuai harapan;

    8) Ketika Pemerintah Baru 1 Mei 2005 harus menaikkan harga BBM, minyak tanah yang mencerminkan Rakyat Kecil tidak naik, mengakibatkan disparitas dengan harga Solar bersubsidi maupun Minah dan Solar Industri. Untuk mengawalnya saya bahu-membahu dengan para aktivis (> 1000 orang) yang saat itu mengkritisi kenaikan harga BBM untuk turun langsung selama 2 bulan mengawal di seluruh Pangkalan Minah di Jakarta dan Jabotabek dan dilanjutkan di Kota Medan (Sumut). Sebagai output lainnya para aktivis benar-benar menyelami bagaimana tata niaga minyak Minah ketika itu yang saat itu komplek dengan rantai panjang dari Distributor-Pangkalan-Pengecer (grobak dorong, pikulan, warung).

    10) Sebagai Ketua Tim sosialisasi Kebijakan Subsidi Harga BBM di DESDM sejak tahun 1999-2005, tanpa disadari kebijakan harga BBM yang dituangkan dalam Keppres dan Perpres terus mengalir mengikuti dinamika dan Lingstra. Di dalamnya termasuk ketika tahun 2000 mulai mengimplementasikan Subsidi Harga BBM dibarengi Subsidi Langsung yang terus bergulir sampai tahun 2005 (dimana saya telibat langsung). Hal mendasar bahwa masa dari tahun 2000 merupakan suatu learning process atau suatu evolusi menuju suatu arah yang lebih mapan. Pola pikir dikaitkan KEN adalah bahwa kebijakan harga dan subsidi BBM pada hakekatnya merupakan road map serta implementasi terhadap Blue Print Energi Nasional. Mudah-mudahan ke depan dapat tercipta suatu kondisi harmonisasi antara pencapaian sasaran KEN yang didalamnya memang terkandung aspek ‘harga energi’ dengan perkembangan Lingstra di dalam dan luar negeri. Karena keputusan harga energi bukan semata-mata ditentukan oleh faktor ekonomi namun oleh faktor2 lainnya. Karena itu pendekatannya selalu integral, komprehensif dan holistik.

    Mudah-mudahan ada teman-teman yang concern dan mempunyai waktu, kiranya dapat memilih terhadap ’drama Energi-BBM di atas’, untuk saya tampilkan sebagai suatu rekaman pelaku sejarah terhadap dinamika dan paradigma baru (merupakan Kilas Balik)

    Saat ini saya sedang konsentrasi mencermati Road Map to Cape Town suatu Debat Lusi (Lumpur Sidoarjo) antara Mud Volcano (Gempabumi) atau Pemboran (man made) dengan membuat simulasi ‘War Game’. War game ini telah disampaikan ke Pak Rovicky, semuanya dengan basis ’looking foreward’ berkontribusi untuk mengkerucutkan dalam mencari solusi terhadap upaya penanggulangan semburan Lusi. Suatu saat akan disampaikan pada forum ini.

    Terimakasih atas perhatiannya dan Salam Hormat

    Hardi Prasetyo

  4. menyedihkan. Kebijakan sektoral yg tidak sinkron dg realita & Kebijakan sektor lain: transportasi, industry & kependudukan.
    jaman dulu masih ada “repelita” sbg acuan sinkronisasi. Sekarang?


    –> Ya sepertinya kita memerlukan sebuah kebijakan besar untuk jangka panjang. Kita memang perlu REPELITA-REPELITA lagi. Itu sebuah langkah untuk mengatakan “Bersama kita bisa” yang bukan sekedar slogan kampanye.

  5. sebagai wong cilik aku gak eruh
    apa kebijakan energi kuwi,
    sing tak ruhi lan sing tak rasakno,
    regane’ bbm terus munggah…

    pemerintah emang hebat Kang,
    pokoke salut deh kagem pemerintah.

  6. salam
    waduh klo begitu apa kira2 ada kemungkinan cadangan minyak kita bisa2 bener2 habis Pak Dhe??, serba salah ya, kebutuhan pasti meningkat jor2an ngeksplor nguras cadangan, jadi gimana atuh solusinya..*bingung*

    –> Kalau ngga ada penemuan hasil eksplorasi yang memenuhi kebutuhan setahun ya tentusaja habis. Mudahnya gini, kalau kita menggunakan minyak setahun 300juta barel, maka setiap tahun kita perlu menemukan sejumlah yang sama supaya cadangan yang ada tetap ada.

  7. waduh Pak dhe tampaknya KEN 2006 itu hanya isapan jempol bagaimana kita ingin meningkatkan sumber daya yang ada kalau saja urusan perizinannya bertahun-tahun kalau tak salah ingat lapangan tangguh itu sudah lama di temukan tapi kalo soal operasi kok baru-baru ini !!! TANYA KENAPA… apakah ini namanya sebuah kebijakan……

    –> Sakjane bukan sekedar “Isapan Jempol”. Hanya perlu dievaluasi ulang atau re-visit dan revisi. Ditinjau ulang untuk diperbaharui, karena kondisinya sudah tidak sama.

  8. Kalo mustahil tercapai ya nggak lah pakde, kan bisa impor.

    Tapi kalo supaya sumber energi lain lebih ditingkatkan biar gak ‘terseok-seok’, kulo setuju.

    –> Impor pakai duwik dari mana ? Wong income negara masih banyak (kedua) dari Minyak dan Gas setelah PAJAK !. Artinya kita hanya beli minyak dari pajak …. mau dipajakin terus ?

  9. Rencana pemerintah yang akan menerbitkan SKB tentang penghematan energi diharapkan jangan sampai menurunkan produktivitas industri. Seharusnya pemerintah segera melakukan pemetaan terhadap konsumsi energi khususnya listrik di perusahaan dan daerah-daerah.
    Bukan itu saja, pemberian sanksi khusus kepada industri yang dianggap boros, tentunya akan mempersulit kalangan industri dalam memanfaatkan listrik. Padahal, konsumsi listrik bisa dihemat tanpa harus mengurangi produktivitas dan tanpa harus melakukan kontrol ketat. [Yohan Putera Soemarna]

    -> Mungkin yang perlu kita soroti bersama adalah peranan instansi pemerintah dan DPR dalam program HEMAT ENERGI. Bagaimana logikanya ketika masuk ruang sidang atau ruang rapat dengan jas atau jaket kulit karena ruangannya terlalu dingin ?

  10. Sam Rovicky, apakah mungkin negara kita bisa seperti Thailand ? di bandara Swarnabumi Bangkok tertulis besar sekali : 70 % energi di Thailand dicukupi oleh gas alam, bukankah gas alam lebih murah dari BB atau minyak bumi ? kalau begitu selamanya kita akan kalah terus…lebih celaka lagi kalau Thailand gas-nya import dari Indonesia…

    –> Kalau anda sekedar tanya bisa atau tidak, jawabnya bersama kita bisa !. Namun sayangnya Indonesia ini kebersamaannya amburadul, sehingga kebijakan energi tidak dijalankan secara selaras. Kebutuhan pemanfaatan gas hanya memerlukan investasi infrastruktur gas tertutama PIPA. Pipa gas di Indoensia ini sangat minim !

  11. Pakdhe,
    Bagaimana dengan Blue Energy ? Kalau ada bisa nutup kebutuhan minyak kan ?

    –> Blue energy ini apus-apusan !
    Walaupun aku bilang secara teoritis bisa tetapi secara ekonomis saat ini masih belum meyakinkan mampu di produksi di Indonesia. Harga energi sumber awalnya masih mahal. Joko spekulasi (ngapusi/ngawur) dengan pembangkit listrik yang dibongkar di UMY.
    Jadi faktor (sepkulasi) seperti ini ngga bisa dimasukkan dalam planning/perencanaan kebijakan energi.

Leave a Reply