Kebijakan Energi Nasional (PP 05/2006) Yang Terasa Jadul – 1

20

Peraturan Pemerintah no 5 tahun 2006 ini memang (relatif) baru saja dibuat. Baru berusia dua tahun. Namun perkembangan energi di dunia ini suangat cepat sehingga Peraturan Pemerintah inipun menjadi perlu dilihat lagi. Benerkah Jadul ?

🙁 “Hallah Pakdhe ini looh. Nganggu Pak SBY saja !”

😀 “Thole penyusunan PP ini dikerjakan sudah sejak sebelum SBY menjadi RI-1, namun sayangnya kalau dilihat kajian ilmiah yang mendasarinya kurang greget. Secara saintifik ilmiah kurang mendukung untuk sebuah kebijakan dengan target masa depan yang lebih dari 25 tahun (tahun 2025)”

Latar belakang

Teknologi sebagai penggerak industri Migas

Grafik disebelah kiri ini menunjukkan peningkatan penemuan (discoveries) migas di Asia. Tentunya mudah saja mengatakan bahwa teknologi merupakan penggerak kemajuan industri migas di Indonesia. Iya lah, dimana-mana juga begitu. Tapi perlu kita tengok bagaimana dengan di Asia Tenggara dan di Indonesia. Gambar disebelah ini jelas menggambarkan loncatan jumlah minyak yang diketemukan di Asia tenggara. Pada saat booming tehnologi tahun 1960-an dimana teknologi pengeboran di laut dimulai, juga mulainya teknologi penginderaan bawah tanah dengan seismik juga berkembang. Dua teknologi inilah yang menjadi motor penggerak diketemukannya minyak-minyak di beberapa daerah di bumi ini. Dari hasil kerja payah ini Indonesia di region Asia Tenggara memiliki jumlah minyak dan gas hampir separonya. Huebatt ndak ? Iya tapi harus diingat juga bahwa jumlah manusia di Indonesia malah lebih dari setengahnya dari keseluruhan Asia Tenggara looh. Artinya jumlah segitu banyak trus dibayangkan kana mampu memberikan kesejahteraan yang sama. Juga Indonesia memiliki luas lebih dari setengahnya asia Tenggara, lebih-lebih jumlah pulaunya.

🙁 “Ah Pakdhe permisif untuk mengatakan Industri perminyakan Indonesia telah gagal dan ngga bisa ngalahin negeri lain kaan ?”

Pemanfaatan Minyak Bumi

Untuk membuat perencanaan kedepan kita memang melihat bagaimana dulu memperolehnya, namun juga harus diketahui bagaimana sejarah pemanfaatannya. Disebelah ini kita lihat bagaimana pemanfaatan minyak dan gas selama ini di Indonesia. Grafik hijau paling atas menunjukkan jumlah produksi minyak di Indonesia. Terlihat produksinya meningkat ditahun 70-an dimana puncaknya tercapai tahun 1975 kemudian flat konstant hingga 25 tahun. Masa produksi antara 20-30 tahun ini memang mirip dengan masa kontrak PSC yang ada saat ini selama 20-30 tahun produksi. Dengan demikian hal ini menunjukkan minyak yang dijumpai dan diproduksi ini adalah dari lapangan-lapangan minyak lama. Yang perlu diperhatikan adalah grafik merah yang menunjukkan cadangan sisa. Terlihat bahwa jumlah cadangan sisa selama ini relatif stabil dalam angka sekitar 5 Milyar Barrel. Artinya jumlah penemuan dibanding jumlah yang diproduksikannya relatif stabil. Hal ini merupakan petunjuk bahwa eksplorasinya setara dengan produksinya.

Namun mulai tahun 1990 terlihat kecenderungan penurunan jumlah cadangan yang ada. Artinya produksinya melebihi julah yang diketemukan. Trend ini terlihat hingga tahun-tahun ini. Disini artinya produksinya yang menurun ini juga diikuti dengan kesuksesan dari aktifitas eksplorasi yang menurun.

Jumlah minyak yang dikonsumsi ternyata meningkat terus. Sehingga di sekitar tahun 2004 Indonesia merupakan net importir. Artinya jumlah minyak yang dipakai di dalam negeri lebih banyak dari produksi. Disinilah artinya kita harus “membeli” minyak ke luar negeri.

Pemanfaatan Gas Bumi

Berbeda dengan gas bumi yang menunjukkan bahwa jumlah cadangan yang dimiliki cenderung meningkat. Juga jumlah yang diproduksikan jauh lebih meningkat tajam dibanding konsumsi. Walaupun konsumsi dalam negeri dari gas bumi ini juga meningkat, Indonesia masih mampu mengeksport gas yang cukup besar. Ini memperlihatkan semakin banyaknya minat pengguna gas di Indonesia. Selain itu juga menunjukkan bahwa kita “untung” dalam masalah jual-beli gas ini. Tentusaja keuntungannya dipakai buat membeli minyak, karena banyak yang “ketagihan” dan “haus” minyak di Indonesia.

🙁 “”Looh Pakdhe, jadi kita masih untung dengan bisnis migas ta Pakdhe ?” 😀 “:Lah memang thole, dan yang lebih penting saat iniadalah harus disadari bahwa bahan yang kita hasilkan minyak dan gas ini saat ini merupakan bahan mahal. JAdi harus diatur sedemikian rupa sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri”

Jadi yang harus dimengerti adalah bahwa :

  • Saat ini kebutuhan minyak melebihi produksi minyak, artinya ada belanja untuk BBM didalam negeri.
  • Gas bumi merupakan energi yang mampu menggantikan minyak.

🙁  “Jadi maksudte Pakdhe, saat ini minyak tanah mesti diganti gas gitu kan Pakdhe”

  • Industri minyak dan gas bumi ini padat teknologi. Jadi pengembangannya tentusaja harus memperhatikan riset dan teknologi yang benar.

🙁 “Jadi maksudte Pakdhe, risetnya bukan hanya sekelas riset Blue Energi gitu ya ?” 😀 “Hust !”

Perkembangan harga minyak

Perkembangan harga minyak selama dua tahun terakhir ini tentusaja sangat berbeda dengan perkembangan harga minyak sebelumnya. Dalam dua tahun ini harga minyak terus meningkat tajam seolah tidak ada yang mampu mengontrol.

Harga minyak mulai merangkak naik sebenernya mulai awal 2000. Sebelumnya harga minyak berkisar sekitar 20-30 US$/barrel. Namun dalam tahun-tahun berikutnya harga minyak ini terus meningkat hingga diatas 140$/bbl.

Dahulu ada yang sudah ketakutan bila harga minyak menyentuh angka tiga digit ditas 100US$/bbl. Namun angka itu tercapai mulus. Bahkan saat ini apabila harga meningkat diatas 150 USD/bbl-pun mungkin sudah bukan hal mengagetkan lagi.

Walaupun banyak yang cuek dengan kenaikan harga ini, tentusaja akan merubah prediksi, rencana serta roadmap yang pernah dibuat. Salah satunya roadmap pengelolaan energi yang tertuang dalam KEN2005.

Dengan demikian kita tahu bahwa sudah banyak perubahan kondisi sewaktu dibuatnya roadmap energi di Indonesia dengan kondisi saat ini.

Nah segini dulu, …  cerita kelanjutan tentang KEN2006 nya disini Kebijakan Energi Nasional (PP 05/2006) Yang Terasa Jadul – 2

Sebelumnya silahkan dibaca dulu disini KEN_PP-05/2006

20 COMMENTS

  1. – Terus kalau tidak pakai minyak sebagai BBM, kita pakai sumber energi apa dong?

    Tiap pagi matahari bersinar… di tahun 2025 juga masih.

    Tapi tahun 2023 kita semua mungkin sudah terlanjur terendam laut akibat es kutub yang mencair ya? Jadi saat itu sudah telat untuk beralih memanfaatkan energi surya secara maksimal.

    Kebijakan Energi yang benar dan tepat harus dibuat dari sekarang, oleh pejabat pemerintahan yang sedang menjabat sekarang …unfortunately!

  2. Katanya Minyak mahal, kok dibakar?

    Sayang kalau sisa cadangan minyak yang masih ada di perut bumi akhirnya habis kita bakar juga.

    Sebaiknya minyak bumi dijadikan barang-barang durable goods yang bisa didaur ulang berkali-kali, seperti recyclable plastic, dsb.

    Kalau habis kita bakar semua, tahun 2025 cucu kita tidak kenal yang namanya minyak lagi (“Minyak bumi itu apa, kek? Yang bikin dunia jadi panas ya? Emang dulu dunia pernah nggak sepanas sekarang ini? Kok kakek biarkan dunia jadi panas?”).

  3. salam
    Soal harga minyak yang naik terus, sepertinya lama-lama jadi terbiasa tuh Pak Dhe, kulo ndak ngertos ttg kebijakan, tapi kok optimis juga ya siapa tahu masih banyak cadangan minyak kita cuma belum ter-explore aja kalie, hiduplah Indonesia 🙂

  4. pakdhe . .kira-kira revisi apa yg perlu dilakukan nih???apa musti dirombak total??

    –> Jangan donk … jangan dirombak total. Kalau dirombak total biaya serta konsekuensinya tidak mudah. Dimodifikasi saja yang sudah ada.
    OK Aku tuliskan selanjutnya ya …..
    😛

  5. Pakdhe harus sms ke SBY loh, #9949… or +62 9949
    Penting Loh…
    Kalo om gwe itu belum pulang kemari,
    di-stop aja di KLIA…, deket toh… (kayak tahu aja)

  6. Halo pak de,calon geoscientist handal made in indonesia musti tanggap bwt masalah kayak gini,kita orng indonesia ndak boleh pesimis bhwa kita bkalan defisit ini itu lah, kurang sumber minyak lah, takut harga minyak naik lah, kita musti tau n punya strategi dan yg penting rasa optimis juga kepercayaan diri yg tinggi. Karena indonesia telah dan akan punya sumber daya ahli ilmu kebumian yg ahli d bidangnya,dan yg pasti harapan indonesia yg cerah telah d hadapan kita,siap melangkah lebih jauh?

    Hidup geoscientist, hidup mahasiswa, hidup indonesia

    🙂

  7. lha sudah tahu minyak mahal hargane,lha adik2 mahasiwa demo terus yaa pakdhe,kalo demo nolak harga bbm.ee ndak konsisten nolak harga mahal masih juga beli, kalau nolak ya jalan kakilah if ke kampus, nuwun pakde

Leave a Reply