BBM Naik … Dongeng angka-angka itu

0

fuel_pump.gif

BBM sudah diputuskan naik sekitar 28-30% dari sebelumnya. Lantas darimana angka-angka itu ? Kebetulan Pak Johanis Mawuntu yang sebelumnya bekerja di Pertamina.

🙁 “Pakdhe, harga BBM di Malesa brapa sih ?”

😀 “Kalau kemarin aku beli seliter 1.92 ringgit, kalau dibanding Indonesia saat ini menjadi 1.98 ringgit perliter. Jadi Malesa lebih murah dikit, tetapi sebentar lagi Malesa juga akan menyesuaikan harganya. Tunggu saja !”

Dongengan tambahan Pak Johanis dibawah ini [UPDATED !!!]

Menghitung subsidi dengan pendekatan grafik, jadi mohon melihat angka-angka yang dipaparkan dan selalu membayangkan kwadran “Indonesia’s Oil Production and Consumtion 1986-2006”, camkan bahwa titik-titik koordinat Production membentuk garis bergerak menurun atau dikenal dengan fenomena “pesimistik” sedangkan Consumption dengan fenomena “optimistic”. Sebaiknya garis grafik jangan sampai bersilangan karena akan merubah dari EXPORTIR menjadi IMPORTIR.

Terjadinya persilangan ini yang saya kategorikan mishandling karena luput dari perhatian para penyelenggara Pemerintah.

Analisis makro terhadap pengaruh penerimaan dari BBM untuk APBN 1986-2006 sbb:

Pada thn 1986 produksi minyak Indonesia 1.400.000 bbl/hari, sedangkan pemakaian D.N. hanya 500.000 bbl/hari jadi ada surplus 900.000 bbl/hari. Surplus ini di export dengan harga pasaran dunia, Jika harga dunia kita umpamakan X , maka jumlah ini adalah salah satu yang dimaksud dengan pendapatan dari sektor Migas dalam APBN 86 sebesar 900.000 x X >> lihat tabel kelompok (A)

🙁 “Hadduh Pakdhe bentar, aku ambil kalkulatorku dulu ya !”

Pada thn 1986 pemakaian D.N. 500.000 bbl/hari Pertamina menghitung harga jualnya sesuai standar export jadi pendapatan dari sektor ini juga adalah 500.000 bbl x X .Tapi kan untuk D.N. harus diolah dulu di Pengolahan (Refenery) kemudian di angkut ke SPBU di seluruh pelosok tanah air. Kalau ongkos sampai dengan jadi premium k.l. 20% maka pendapatan yang didapat dari hasil penjualan di SPBU adalah 500.000 x X (1+ 20%) >>lihat table kelomok (B) , Jumlah inilah yang harus disetor oleh Pertamina ke Pemerintah APBN 86.

Produksi

Pada thn 2000 produksi minyak Indonesia masih tetap1.400.000 bbl/hari dengan kecenderungan pesimistik, tapi pemakaian D.N. sudah meningkat menjadi 1.000.000 bbl/hari dengan kecenderungan optimistic sehingga surplus tinggal 400.000 bbl/hari. Surplus ini di export dengan harga pasaran dunia jadi asumsi sekarang tiap hari kita ada penghasilan 400.000 bbl x X >> lihat table kelompok (A1) , Jumlah inilah salah satu yang dimaksud dengan pendapatan dari sektor Migas dalam APBN 00.

Consumption

Pada thn 2000 pemakaian D.N. 400.000 bbl/hari Pertamina menghitung harga jualnya sesuai standar export jadi pendapatan dari sektor ini juga adalah 1.000.000 bbl x X (B1) Tapi kan untuk D.N. harus diolah dulu di Pengolahan (Refinery) kemudian di angkut ke SPBU di seluruh pelosok tanah air. Kalau ongkos sampai dengan jadi premium k.l. 20% maka pendapatan yang didapat dari hasil penjualan di SPBU adalah 1.000.000 x X >> lihat table kelompok (B1) Jumlah inilah yang harus disetor oleh Pertamina ke Pemerintah.

http://rovicky.files.wordpress.com/2008/05/hargabbm.jpg

Produksi pada thn 2008 produksi minyak Indonesia telah menurun menjadi 1.000.000 bbl/hari dengan kecenderungan pesimistik, tapi pemakaian D.N. sudah meningkat menjadi 1.200.000 bbl/hari dengan kecenderungan optimistic sehingga berarti minus 200.000 bbl/hari. Minus ini di import dengan harga pasaran dunia jadi asumsi sekarang tiap hari kita harus membelanjakan 200.000 bbl x X , >> lihat table kelompok (A2) Jumlah inilah salah satu yang dimaksud dengan bukan lagi pendapatan tetapi pembelanjaan yang harus disubsidi di sektor Migas dalam APBN 08.

Pada thn 2008 pemakaian D.N. sudah meningkat menjadi 1.000.000 bbl/hari Pertamina menghitung harga jualnya sesuai standar export jadi pendapatan dari sektor ini juga adalah 1.000.000 bbl x X (B2). Tapi kan untuk D.N. harus diolah dulu di Pengolahan (Refenery) kemudian di angkut ke SPBU di seluruh pelosok tanah air. Kalau ongkos sampai dengan jadi premium k.l. 20% maka pendapatan yang didapat dari hasil penjualan di SPBU adalah 1.000.000 x X >> lihat table kelompok (B2) Jumlah ini disetor ke APBN 08.

Perhitungan dengan menahan Harga minyak Dunia = X = USD 120 konstan sedangkan jumlah produksi dan consumpion bergerak variable sesuai titik koordinatnya, adalah Harga dipatok = 120 X (1 + 0.2) : 159 x Rp 9.300 = Rp 8.423,-

Maka sbb:

Tahun 1986 sumbangan minyak bumi ke APBN = A + B = C

Tahun 2000 sumbangan minyak bumi ke APBN = A1 + B1 = C1

Tahun 2008 sumbangan minyak bumi ke APBN = A2 + B2 = C2

Asumsi-asumsi: 1bbl = 159ltrs; 1 usd = Rp9300; Harga crude oil export = 120 usd ; Harga premium thn 1986 = Rp2000,- ; 2005 = Rp4500,- ; 2008 = Rp6000,- Harga BBM Rp8.423,- (120X(1+20%):159 X 9.300); biaya produksi 20% dari harga barang.

Analisa APBN 1986

Walaupun pada saat itu Pemerintah menetapkan harga Rp2.000,-/ltr di SBPU, pendapatan Pemerintah masih tinggi >> lihat table kelompok (C).

Analisa APBN 2000

Pada tahun ini karena harga masih tetap Rp.2000,-/ltr di SPBU, pendapatan pemerintah sudah merosot tajam >> lihat table kelompok (C1).

Analisa APBN 2008

Pada tahun 2005 Pemerintah menetapkan harga menjadi Rp.4.500,- pendapatan pemerintah masih tetap lemah >> lihat table kelompok (C2).

Keputusan Pemerintah mencabut lagi subsidi jadi harga menjadi Rp.6.000,- pendapatan pemerintah agak terdongkrak naik >> lihat table kelompok (C3).

Kesimpulan:

1).Harga premium Rp 6000,- sudah lumayan tapi belum mencapai titik impas, sedangkan titik impas ada di Rp8.423,- >> lihat table kelompok (C4)

Mungkin ada yang tanya apakah masih ada kemungkinan harga BBM naik lagi ? jawabannya Ya! Pasti jika tidak ada perbaikan yang signifikan dan harga minyak dunia naik terus dan kita tidak sanggup meningkatkan pruduksi minyak serta menghemat pemakaian energi. Kita harus menaikkan produksi crude oil, menghemat pemakaian energi serta harus menemukan sumber energi lain non minyak.

567073-tn_headache_012.gif

Menjawab komentar-komentar dari kawan-kawan saya awali dengan menjelaskan bahwa ulasan saya mengenai cerita subsidi bbm dari ex peg.Pertamina adalah ringkasan dari suatu cost analisis yang amat komplex, angka yang dipakai adalah asumsi dari rumusan perkiraan semata.

🙁 “Pakdhe, aku didoain masuk geologi saja ya ? Abis ketemu angka pasti perlu panadol nih !”

Contoh: Biaya Produksi

Kalau yang kita hitung adalah minyak (crude oil) yang akan diexport maka biayanya hanya ongkos lifting yaitu mengeluarkan dari kandungan bumi sampai terkumpul dalam suatu penampungan dialirkan ke Pelabuhan kemudian dikapalkan, jika sistimnya FOB (Free On Board) berarti kapalnya disediakan oleh Pembeli jadi biaya produksinya Cuma kira-kira USD 10, jika sistimnya CIF (Cost Insurance and Freight) biayanya lebih besar.

Perkapalan menghitung Biaya Produksi dengan istilah USD/mile/Dwt yang komponen biayanya dari harga kapal, daily operating cost, Fue oil cost serta Crew cost. Merata-ratakan biaya angkut dari 6 kilang ke seluruh Pelabuhan Indonesia lebih baik temui saya, nanti saya jelaskan. Biaya angkut menjadi mahal jika terjadi kelangkaan BBM disuatu tempat, katakanlah Merouke. Kapal yang akan menuju sana dengan ukuran Dwt tertentu mengalami kerusakan sehingga harus disubsitusi oleh kapal lain padahal kapal yang sejenis tidak ada, tapi karena kepentingan rakyat harus diutamakan tidak boleh ada kelangkaan maka terpaksa charter kapal yang lebih mahal sehingga disuatu kondisi bisa menyebabkan harga transportasi lebih mahal dari jarga jual Rp4.500,-

Refinery yang mengolah minyak menentukan biaya dengan caranya sendiri demikian juga Pemasaran yang mengurusi distribuasi dari DEPOT/penampungan ke SPBU dengan menggunakan truck/KA.

2).Menurut UUD 45 minyak tidak dibeli, tetapi hasil produksinya buat mengisi salah satu pos di APBN yang semua mengerti bahwa ini dipakai untuk biaya kesejahteraan rakyat. Kalau APBN sedikit atau atau miskin maka rakyat juga dapat dipastikan akan menuju kemiskinan. Diakui Pemerintah sudah berhasil menggenjot pendapatan dari sektor non migas, namun terasa migas menggerogotinya jika subsidi tidak dicabut alias harga dinaikkan minimun mencapai harga pasar dunia Rp8.423,-/ltr

3). Jika BBM disubsidi hingga jadi murah menyebabkan ada perbedaan dengan harga pasar, ini akan sangat berpotensi menjadi ladang penyeludupan yang sulit dibendung karena garis pantai kita amat panjang dan pulau sebanyak, menurut data maritime pulau sebanyak 18.000 terdiri dari 10.000 berpenduduk sisanya tergantung pasang surut air laut, jika pasang tertinggi maka sebagian pulau tidak kelihatan. Contoh; minyak yang bersubsidi/harga murah dibeli oleh calo di Tg Priok kemudian dikapalkan dan dijual ke L.N. via broker di S’pore atau di tengah laut dijual sebagai bunker kapal ikan dsb. Terutama minyak tanah (kerosene) karena bisa juga dipakai sebagai BBM motor diesel membuatnya sangat laris. Sehingga minyak pemakaian D.N. yang diperkirakan 1juta bbl sebenarnya sebagian dicuri + dibeli dengan harga subsidi kemudian diselundupkan ke L.N.

Selama atau sepanjang harga minyak masih lebih murah dari harga pasaran dunia maka penyeludupan masih marak dan merupakan bisnis tersendiri. Bayangkan untungnya kalau minyak yang diimpor dengan harga pasar dunia USD 120 setelah diolah menjadi minyak masak menjadi USD 120(1+20%) kemudian dijual dengan harga subsidi utamanya minyak tanah (kerosene) Rp.2000,-. Hal ini sangat menggiurkan bagi yang berjiwa penyeludup untuk mengejar keuntungan. Tapi kalau harga D.N sudah mendekati harga international dan hasilnya sudah tidak sebanding dengan resiko maka penyelundupan berakhir. Mereka yang sudah terbiasa menerima uang sogokkan untuk mengeluarkan dokumen aspal dan orang yang menjadi penengah (mediator) akan gigit jari. Mungkin akan bermimpi agar demo berhasil menekan pemerintah untuk menurunkan harga minyak.

Catatan dan pesan:

Kita terutama kaum muda yang Pintar-rajin (bukan malas-bodoh) mari kita coba merenungkan kesulitan anggaran sebagaimana anggaran kita sendiri. Jika kita sebagai individu tidak punya anggaran apa sich yang kita bisa buat?. Saya sangat menghargai para Mahasiswa mengkritisi tindakan Pemerintah tetapi dengan DEMO yang menjurus ke anarhi akan menjadi kontra produktif, jangan hanya berontak tapi berpikirlah jernih dan arif, janganlah saling menyalahkan tapi carilah solusi, janganlah tertipu dengan blue energi saya tidak percaya karena di sekolah sudah disanguhi guru bahwa: “Tidak ada lagi yang baru di kolong langit ini”

Saya sebagai pensiunan dan bukan corong/terompet Pemerintah, dengan menerima uang pensiun yang terbatas menyebabkan anggaran saya juga sangat terganggu, saya sadar kalau BBM naik pasti harga-harga ikutan naik karena BBM merupakan salah satu komponen biaya.

Another story (cerita lain):

Disisi lain kalau pendekatan penjelasan menggunakan factor mencabut subsidi BBM menyebabkan kenaikan harga semua sector akan terimbas karena kenaikan minyak berarti transportasi naik, transportasi naik menyebabkan penggunanya harus ada pembelanjakan extra. Harga barang yang pembuatan nya melibatkan energi kenanya selain production cost juga transport cost dan sector lain-lain. Masyarakat paling bawah yang menyediakan bahan baku dasar dan menggunakan tenaga alami di pedesaan tidak terpengaruh. Mereka miskin jadi tidak menikmati subsidi dan tidak hidup gemerlapan kayak masyarakat dikota, apa ini yang dimaksudkan pemimpin kita bahwa yang mempertahankan subsidi adalah orang yang membela orang mampu???? Apakah dengan program BLT mereka dianggap sebagai orang yang disubsidi dan ini dianggap sebagai Paradigma Baru ????

Terakhir saya mau mengatakan bahwa kalau kita mau saling mengajar, saling bikin pandai, saling tolong menolong, saling sayang sesama kita, dan orang lain kita anggap sebagai saudara kita, perdamaian diwujud nyatakan dalam kehidupan kita, menyadari kekuatan dan kelemahan kita serta saling menjaga lingkungan hidup kita, satukan vector kekuatan menjadi satu resultante untuk membangun negara kita, niscaya Produksi minyak kita akan meningkat dan menemukan energi alternatip dengan demikian tentunya kemiskinan dapat dikurangi.

Salam persahabatan,

Johanis Mawuntu,SE.MM.
Pensiunan Pertamina, tinggal di Jakarta

1 COMMENT

  1. Plis dech para Pakdhe yg idealis, coba sebutin aja parte2 BUSUK yg menggolkan UU Migas yg rese itu… Capek Saya ini yg cuma rakyat biasa dgn adu lambe pakdhe seXan yg ga abis2… Jadi, kalo Saya dikasih kesempatan pidato di dpn adek2 kelas ato tetangga2 dkt rmh, Saya bisa kasih tau ke mereka ya plg tdk pertimbangan dlm memilih parte buat pemilu 09 besok… wadah opini yg sgt bgs…

  2. @karebet,

    Ada banyak versi mengapa pemerintah menaikkan BBM. Kalau saya percaya pemerintah hanya menunggu momen yang tepat untuk menaikkan harga BBM. Pemerintah mempunyai kewajiban meliberalkan sektor ini thus membuat harga BBM di sini = harga dunia. Ada UUnya kan yang mengharuskan pemerintah berbuat begitu. Jadi saya setuju BBM naek karena UUnya bilang harga BBM harus naek supaya = harga BBM dunia.
    .
    Soal alesan 😀 Bisa apa aja. Untuk rakyat yang bodoh-bodoh, alesannya harus tepat.
    .
    Btw, Kalau mas mau pemerintah jujur gampang aja mas. Pilih parte yang TERBUKTI bukan parte busuk di pemilu 2009 taon depan 🙂

  3. @Maiden

    Berarti anda setuju bahwa kebijakan kenaikan BBM ini adalah perbuatan tidak jujur dari pemerintah yang memang terdiri dari orang-orang yang tidak jujur?

    Nah. Satu-satunya jalan supaya orang tidak jujur menjadi jujur adalah dengan dibuktikan ketidak jujurannya/kebohongannya.

    Seorang maling bakal ngaku kalau udah terbukti dia maling.

    Kalau rakyat beramai-ramai membuktikan ketidakjujuran pemerintah. Mau gak mau pemerintah akan ngaku juga (kalau memang dia udah berlaku gak jujur).

    Cuman sayang. Bahkan dikomentar blog ini, yang tidak setuju kenaikan BBM, termasuk saya, rupanya hanya minoritas.

    Saya gak tahu apakah karena saya kelewat goblok untuk ngerti kebijakan pemerintah. Tapi yang jelas saya belum dapet jawaban dari semua pertanyaan saya, termasuk dari Pak Johanis yang empunya tulisan.

  4. @karebet,

    Logikanya tetep sama Mas, mas meminta pemerintah yang dipenuhi orang tidak jujur supaya jujur 😛 Bagaimana bisa 😀

    Lagian, rakyat itu kan bododh-bodoh, lugu, bego, nggak berpendidikan, nggak panjang akalnya mas …

    Makanya dibego-begoin, dibodoh-bodohin kayak apapun mereka “nrimo” aja. Mana mau mikir mereka kalau BBM naek itu ada dasar hukum yang jelas. Nggak asal naek aja. UU liberalisasi sektor ini sudah ada beberapa tahun yang lalu koq. Mana ada rakyat yang demo saat UU tersebut di syah ken?

    Rakyat baru mau demo kalau dikasih uang ceban buat demo 😛 Kalau demo juga asal demo. Demo kenaekan BBM nutup jalan. Lah itukan fasilitas umum, sudah pantes pulisi tangekpin aja itu yang demo hehehe.

    Nulis nya jadi melebar kesana kemari ya 🙂
    Jadi, point saya ke Mas itu, mas karebet sudah mengharap pemerintah yang penuh dengan orang-orang tidak jujur supaya jujur 😀
    Hil yang mustahal 😛

    @pipolondo,
    Ya. Anda benar. Mari kita beajar dari sekarang untuk mencermati semua keputusan yang diambil oleh pemerintah. Ingat, jika anda tidak setuju dengan keputusan kenaikan BBM, berarti anda juga tidak setuju dengan UU liberalisasi sektor ini, berarti juga anda tidak setuju dengan parpol yang sudah memberikan suara setuju terhadap liberalisasi sektor ini.
    Tugas kita adalah menyebarkan informasi, parpol mana aja yang sudah menyetujui UU tersebut. Supaya rakyat tidak memilihnya lagi dipemilu tahun depan.
    Anda sudah mendapatkan maksut saya?

  5. Salut buat Pak @Karebet. Logika yang benar. semua kenaikan ini hanyalah akal2an Pemerintah. logika yang dipake tidak benar. saya memang bukan orang minyak, tapi saya tahu persis bagaimana perlakuan Pemerintah dalah hal bisnis minyak. Pertamina seharusnya juga mendapat margin yang sangat besar dalam hal ini karena dia memiliki margin alpha, ini yang membedakan dengan PLN, yang bener2 kembang kempis tidak punya margin untuk kelangsungan usahanya. meski net importir, tetap saja harga yang diajukan Pemerintah tidak benar karena seolah rakyat Indonesia membeli BBM dengan harga internasional. Inilah sebenarnya alasan Pemerintah, sebagai konsekuensi UU Migas Tahun 2001 yang membolehkan asing masuk dalam bisnis retail. la kalo harganya beda jauh, mana mau mereka jualan disini? Inilah intinya, keberpihakan Pemerintah hanya pada investor saja.

    Buat Pak @Maiden, rasanya diskusi seperti ini sangat bagus, beradu logika tapi sayangnya Anda kok mementahkan semua dengan logika “harus nerimo ing pandum” alias just let it be, dengan dalih semua yang dilakukan untuk rakyat dan konsekuensi karena milih Pemerintah sekarang. Aneh sekali, manusia itu dibekali critical thinking yang harus dipakai. Saya pun tidak segan mengkritisi meski yang saya kritik adalah institusi saya sendiri.

    Maaf, panjang sekali. Diskusi yang sangat bagus. Saya hanya orang yang berusaha terus belajar, bukan orang minyak. bukan PLN juga.

  6. saya mendukung Monopoly yang dilakukan pemerintah (yang jujur) untuk kemakmuran rakyatnya, aku benci pemerintah yang selalu tunduk sama apa maunya orang asing

  7. Waduh, sorry tanggepannya doble. waktu ngirim yang pertama connection internetnya ke-reset dan gak tampil. waktu ngetik yang kedua, yang pertama udah lupa. Sekarang dua-duanya muncul.
    mohon maaf.

  8. Ah Bang Maiden nggak nagkep maksud saya.

    Saya nerima kalau pemerintah minta tambahan duit dari rakyatnya karena udah kepepet karena jatah belanjanya cekak.

    Cuman mintanya harus baek-baek dong, harus jujur, jangan sambil nipu. Jangan bilang selama ini ngasih duit ke rakyat tiap rakyatnya beli minyak. Padahal cuman karna rakyatnya gak bisa kasih untung sebesar orang luar. Padahal itu minyak punya siapa?

    Bilang kesusahannya apa, alasannya apa, butuh duit buat apa?

    Rakyat yang baek emang harus mengerti dan nerima. Cuman caranya itu loh….

    gimana kalo diilustrasikan begini:
    Si A beli barang dai B harganya 1000. Terus C beli barang yang sama dengan harga 1500 (mungkin males nawar). Boleh gak tuh B ngomong ke orang-orang kalo dia udah ngasih uang ke A 500 perak?

    Satu lagi, saya gak milih partainya Sby-Kalla. Dan saya nggak mendewakan Demo-crazy.
    Walau saya akui milih mereka pada putaran pilpres akhir dengan pertimbangan sebagai “the lesser than two evils”

  9. Ah, Bang Maiden. Anda nggak nangkep maksud saya.

    Saya gak masalah kalau pemerintah emang udah kepepet gak ada jalan lain buat nutupin belanjanya selain minta duit ke rakyatnya sendiri.

    Cuman saya harap, mintalah baek-baek, jujur alasannya apa dan duitnya mau dipake buat apa (buat bayar utang?!).

    Sekarang kan alasan pemerintah seolah-olah selama ini ngeluarin duit tiap kali rakyatnya beli minyak dan duit itu sekarang mau dikurangi. Padahal kenyataannya nggak ada sepeserpun duit pemerintah yang keluar. Cuman memang pemerintah bisa dapet duit lebih banyak kalo minyak itu dijual keluar.

    Sekarang pemerintah lagi butuh tambahan duit belanja. Nah mumpung orang luar beli minyak kelewat tinggi, pengennya jatah buat rakyat dijual aja ke orang laen atau rakyatnya disuruh beli lebih mahal.

    Cuman caranya itu loh…..

  10. to Pakde,

    Bisa sharing praktek harga jual beli subsidi kebijakan pokoke soal BBM dari negara lain? Malaysia? Vietnam? Amerika?

    Sebagai perbandingan.

  11. @Karebet, “Pemerintah juga harusnya JUJUR, …”

    Cuma kejadian di repoeblik mimpi.
    Bagaimana kalau Mas karebet aja yang harusnya jujur bertanya ke diri sendiri.

    “Sejak kapan pemerintah bisa jujur jika orang-orang di pemerintahan tidak bisa jujur membuktikan kekayaannya dapet dari mana?”

    PNS itu gajinya kecil mas, gaji menteri itu nggak bisa bikin orang jadi kaya raya. Gaji anggota DPR bisa bikin hidup layak tapi nggak akan bisa buat bikin rumah mewah plus nyekolahin anak keluar negeri dst.

    Makanya UU jujur supaya pns jujur dengan UU pembuktian terbalik tidak pernah bisa ada di repoeblik yang penuh dengan manusia tidak jujur ini 😀

    Btw, berikutnya
    Kalau mas karebet mau jujur bertanya kepada diri sendiri lagi, semua kebijakan yang diambil pemerintah adalah juga kebijakan rakyat.

    Sekian tahun yang lalu rakyat ikut pemilu, milih partai, milih presiden dst.

    Jadi kalau parte yang dipilih, presiden yang dipilih bikin kebijakan, apa pun itu ya diterima ajalah hehehe.

    Salahmu sendiri milih parte apa waktu pemilu kemaren 😛

  12. kok yang ditampilkan Johanis dengan boso-jowo nya yang membingungkan cuma daftar harga ya? ongkos produksi minyak itu sendiri gimana sehingga pertamina memberikan harga segitu tingginya kepada pemerintah sehingga pemerintah harus nomboki?
    padahal minyak yang dibuat juga diambil dari dalam negeri sendiri, yang menurut UU malah tidak ada harganya, alias nol. artinya bahan baku minyak (non-impor) kan kita gak perlu bayar.

    untuk karebet:
    itulah adilnya tuhan. di negeri yang kaya sumber daya alam ini, biar adil, ditaruhlah pemimpin yang bodoh dan konyol.

  13. @Wibowo
    Sesungguhnya saya juga kepingin berbaik sangka terhadap semua kebijakan pemerintah seperti anda. Termasuk ketika pemerintah memutuskan untuk mengucukan dana triliunan rupiah untuk nalangin BLBI. Tentu yang rembukan gak kurang-kurang. Hasilnya?? ditilep beberapa orang yang nyata-nyata sudah hiduo kelewat enak. Seluruh rakyat, termasuk saya dan anda sekarang ikut nanggung utang-utangnya.

    Balik ke masalah minyak, selama ini yang gak setuju harga minyak naik dikonotasikan sebagai orang yang manja-bodoh-malas. Saya termasuk yang keberatan, karena dengan harga BBM yang sekarang aja hidup udah serasa ngos-ngosan, apa lagi kalau dinaikkan. Namun saya menolak dianggap manja-bodoh-malas. Gila aja udah susah dibilang manja, malas, bodoh lagi!!

    Kalau saya boleh usul, biarlah diblog Pakdhenya thole ini, yang setuju maupun yang tidak bisa saling berargumen dengan alasan yang logis dan mendidik. Biarpun hasilnya nggak akan direken pemerintah, paling tidak baik yang setuju maupun yang tidak dengan kenaikan harga BBM bisa sama-sama jadi rakyat Indonesia yang pintar dan rajin.

  14. Pak Johanis, terima kasih anda masih mau meladeni saya. Terus terang saya tidak mengerti ketika Bapak bilang bahwa jika harga minyak per tahunnya berubah akan membingungkan karna harus baca grafik sumbu x-y. Saya hanya melihat tabel disitu, berapapun angkanya, cara bacanya akan tetap sama.

    Saya mengerti bahwa yang Bapak sampaikan bukan kondisi sesungguhnya, melainkan hanya sebagai gambaran agar pembaca blog ini mengerti alasan pemerintah menaikkan harga BBM. Namun mengingat Bapak sebagai mantan orang Pertamina, juga didukung penuh sama Pak Rovicky sebagai tuan rumah dan pakar perminyakan, saya yakin uraian Bapak mendekati kondisi sesungguhnya.

    Namun sekali lagi, tabel yang Bapak buat mempunyai kekurangan. Jika dikoreksi, dari tabel itu akan terlihat bahwa dengan harga minyak dunia seperti sekarang, pendapatan pemerintah dari jualan BBM tidak berkurang, artinya tidak nomboki apapun alias tidak ada tambahan subsidi apapun akibat kenaikan harga minyak.

    Mohon maaf kalau lampiran yang Bapak beri, selain pake boso londo, rada semrawut sehingga rada susah membacanya, juga nggak nyambung dengan pertanyaan saya.

    Namun dari data Bapak itu, saya dapat pengetahuan lebih. Ternyata konsumsi BBM dalam negri tidak semuanya bersubsidi, sehingga membuat tabel Bapak harus dikoreksi ulang. Saya nggak tahu pastinya berapa persen minyak non-subsidi itu, tapi dari internet (http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=103) saya dapat info, konsumsi untuk industri sekitar 25%, transportasi 47%, PLN 11% dan rumah tangga hanya 18%. Dari data ini saya berkesimpulan bahwa nilai BBM non-subsidi persentasenya pasti lebih besar dari persentase BBM yang harus diimpor.

    Dengan demikian, kembali ke tabel walaupun tanpa melihat angka, karena sudah jadi net-importir -dan tidak usah terus mimpi jadi negara pengekspor minyak -, selama pemerintah bisa menjual BBM non-subsidi tidak kurang dari yang dibeli dari luar, berapapun harga minyak dunia, tanpa menaikkan harga, pendapatan pemerintah dari BBM ini (hasil jualan ke rakyatnya) tidak akan berkurang.

    Lalu, KENAPA harga BBM untuk konsumsi rakyat biasa HARUS DINAIKKAN???

    Takut diselundupkan??, kan untuk internasional bunker udah gak disubsidi. Lagian Kalau aparat menjalankan tugasnya dengan baik, walaupun dengan garis pantai yang panjang, cuman beberapa pelabuhan saja di Indonesia yang bisa dilabuhi kapal-kapal besar. Gak perlu petugas harus ngecek ke pelabuhan terpencil, kecuali yang diselundupkan cuma 1-2 jerigen.

    Terus terang, saya jadi rada curiga kalau kebijakan ini sangat diharapkan dan nantinya akan menguntungkan perusahan luar dan antek-anteknya di Indonesia yang sudah boleh jualan minyak di dalam negeri. Katanya sih ongkos produksi minyak diluar jauh lebih murah dari ongkos produksi minyak di Indonesia (tanya kenapa???). Kalau harga minyak dalam negeri sama dengan harga diluaran, tentunya mereka tidak akan takut lagi bersaing dengan Pertamina sebagai tuan rumah yang sudah tidak di back-up sama pemerintah. Nantinya nasib minyak akan sama dengan nasib produk pertanian. Karena mis-management dan harga pupuk (impor) yang tinggi, produk lokal tidak bisa bersaing di negeri sendiri karna harganya lebih mahal dari produk impor.

    Kalau betul demikian, sungguh Indonesia adalah suatu Negara Kaya dengan Para Pemimpin yang Bodoh dan Konyol!!!

  15. ya, kalo menurutku si, pemerintah sudah cukup bijak untuk ambil keputusan, SBY kalla juga ga gampang ambil keputusan ini, banyak yang ikut urun rembuglah dalam mutuskan hal ini, coba anda bayangkan seandainya anda yang menjadi pemerintah, apa yang bisa anda lakukan?

  16. hasilnya lapangan explorasi kan bukan hanya minyak, tetapi juga menghasilkan gas.

    kira kira pada waktu sekarang ini harga gas gimana ya ? apakah pemerintah juga dapat keuntungan dari penjualan gas ? bisakah dibantu itung2annya dengan “subsidi” dari penjualan gas ?

  17. Jawaban untuk: Karebet dan Abadi
    Jawaban anda menunjukkan bahwa anda termasuk yang cerdas. Kalau harga yang dijadikan asumsi tidak ditahan constan pada satu harga maka orang lain yang tidak biasa membaca grafik dalam kwadran sumbu X-Y akan sulit mencernanya karena akan menjadi rumit dan ualasan saya tidak cukup 2 halaman.
    Saya membuat kesalahan lupa memposting harga minyak sehingga banyak yang bingung soal subsidi.
    Semoga daftar harga BBM ini bisa membantu menjawab sinyalemen anda.
    Catatan kaki: Harga yang dijual Pemerintah dibawah harga seperti terlampir ini adalah subsidi pemerintah yang dipotong Pertamina pada saat penyetoran ke kas negara. Terima kasih atas koreksi anda!!

    Fuel Prices for Industry in Mid May 2008
    Jakarta, Wednesday, May 14 2008 (17:43)
    Based on the Decree of PT PERTAMINA (PERSERO)’s Corporate Senior Vice President of Marketing and Trading No. Kpts-068/F00000/2008-S0 on Pertamina’s Economical Selling Fuel Price dated May 13, 2008, effective by May 15, 2008 at 00.00 WIB, PT PERTAMINA (PERSERO) determined new prices of non subsidized fuel for international Bunker and customers excluding household sectors, micro business, transportation and public services; the prices are listed as follows:Fuel Type Fuel Economical Selling Price
    Region 1 Region 2
    (Rp/KL) (US$/KL) (Rp/KL) (US$/KL)
    Gasoline 7.870.090 852,16 8.172.412 884,89
    Kerosene 9.572.482 1.036,49 9.781.201 1.059,09
    High Speed Diesel 9.369.985 1.014,54 9.897.883 1.071,70
    Marine Diesel Fuel 9.231.973 999,58 9.516.016 1.030,33
    Diesel V10 – – – –
    Marine Fuel Oil 5.947.446 644,00 6.076.862 658,01
    Pertamina DEX 9.797.829 1.060,87 – –
    Region 1 : Ex Supply Point (Depot Terminal Transit) excluding Batam, Region 4, Marketing Unit VII Makasar, Marketing Unit VIII Jayapura and NTT Province Region 2 : Ex Supply Point (Depot Terminal Transit) in Marketing Unit VII Makasar Fuel Type Fuel Economical Selling Price
    Region 3 Region 4
    (Rp/KL) (US$/KL) (Rp/KL) (US$/KL)
    Gasoline 8.345.762 903,66 7.870.090 852,16
    Kerosene 9.988.676 1.081,55 9.572.482 1.036,49
    High Speed Diesel 10.107.833 1.094,43 9.313.886 1.008,47
    Marine Diesel Fuel 9.717.866 1.052,19 9.231.973 999,58
    Diesel V10 – – 8.206.333 888,60
    Marine Fuel Oil 6.205.762 671,97 5.947.446 644,00
    Pertamina DEX – – 9.797.829 1.060,87
    Region 3 : Ex Supply Point (Depot Terminal Transit) Marketing Unit VIII Jayapura and NTT Province Region 4 : Ex Medan Group Inst., Panjang Depot, Tanjung Gerem TTerminal Transit, Plumpang Depot, Tanjung Priok Inst., Semarang /Pengapon Inst., Surabaya Group Inst. Compared to prices in May 1, 2008, prices for non subsidized fuel in Mid May 2008 changed as follows: gasoline increased 2.1%, kerosene rose 1.2%, HSD’s price was up 1.2 %; MDF’s price increased 1.4%, MFO’s price in those 4 regions rose 1.4%. The changing of fuel product prices was caused by the increasing of MOPS which ranged 1.2% to 4.3% compared to the previous period. Rupiah exchange to USD was 0.37% weaker. Prices for public transportation are maintained at Rp 4,500 per liter for Gasoline and Rp 4,300 per liter for HSD. Price for subsidized kerosene for household and small industry consumption is maintained at Rp. 2,000 per liter. PRICES FOR PERTAMAX, PERTAMAX PLUS, PERTAMINA DEX and BIO PERTAMAX IN MAY 15, 2008 Effective by May 15, 2008 at 00.00 local time, the prices for Pertamax, Pertamax Plus and Pertamina DEX were changed as stated in the Decree of PT PERTAMINA (PERSERO)’s Corporate Senior Vice President, Marketing and Trading No. Kpts-069/F00000/2008-S0 dated May 13, 2008. The prices are listed as follow: Fuel Type / Location Fuel PriceMei 1, 2008(Rp) Fuel PriceMei 15, 2008(Rp)
    I. PERTAMAX PLUS
    – Batam 8.400 8.600
    – Marketing Unit I 9.250 9.450
    – Marketing Unit III 9.000 9.250
    – Special Gas Station 8.950 9.200
    – Marketing Unit IV & V 9.200 9.400
    – Marketing Unit VI 9.250 9.400
    II. PERTAMAX
    – Marketing Unit I 9.100 9.300
    – Marketing Unit II 9.100 9.300
    – Bangka 10.200 10.400
    – Marketing Unit III 8.750 8.950
    – Special Gas Station 8.700 8.900
    – Marketing Unit IV & V 8.950 9.150
    – Bali 9.000 9.200
    – Marketing Unit VI 8.900 9.100
    – Marketing Unit VII 9.150 9.350
    – Palu 10.150 10.350
    III. PERTAMINA DEX
    – Marketing Unit III 11.000 11.100
    – Marketing Unit V 11.000 11.100
    IV. BIOPERTAMAX
    – Markerting Unit III 8.750 8.950
    – Merketing Unit V 8.950 9.150
    – Bali 9.000 9.200
    The prices above will be reviewed and adjusted to international crude price

  18. Ini bukti nyata pemerintah menggunakan paradigma yang salah.
    1. kenaikan BBM tahun 2005 yang sampai 100 % dengan alasan bahwa minyak ini sumber energi yang tak terbarukan. cadangan minyak Indonesia akan segera habis dan kira-kira tahun 2012 akan habis.
    Fakta menunjukkan bahwa selalu ditemukan sumber minyak yang baru. Dan tahun 2006 Indonesia memberikan ladang minyak terbesarnya di Blok Cepu kepada Exxon mobile setelah kunjungan Condi di Indonesia. Ini bgentuk kebohongan yang nyata dari pemerintah. Dulu yang paling lantang berkomentar bahwa minyak Indonesia akan segera habis dan pelu harga naik Pak Kurtubi, mana sekarang komentarnya. Ditemukan pula ladang minyak di natuna dan ini kabarnya akan diberikan pula kepada Exxon Mobil. Ini kebohongan nyata oleh pemerintah.

    Sekarang tahun 2008 kenaikan harga BBM dengan alasan yang berbeda.
    1. menggunakan harga international. Mengapa harus menggunakan harga internasional untuk “dijual” kepada rakyatnya sendiri ?. Bukankah minyak ini diambil dari bumi indonesia, yang tidak perlu membeli bahan baku, sebagaimana kita mengambil air dari sumur, hanya dibutuhkan ongkos pengambilan.

    2. Untuk menyelamatkan APBN. Ini alasan aneh. Dalam surat kabar nasional wakil presiden Yusul Kalla mengatakan bahwa kita harus berhemat. Kebutuhan pilkada di Indonesia sejak tahun 2004 telah menelan biaya 200 trilyun. Bukankah ini pemborosan ? berarti APBN banyak dipakai untuk “menaikkan beberapa kepala daerah” dan menyengsarakan rakyat. Itu baru dari satu sisi.
    kabar terakhir dari sebuah majalah mengatakan bahwa Abu Rizal Bakri menjadi orang terkaya di Asia tengara. Justru ini diperoleh setelah menjadi menteri. Artinya, dengan kebijakan yang ada di negara ini telah menguntungkan para pengusaha dan mematikan rakyat.

    jadi pemerintah melakukan pemborosan pengeluaran untuk program yang tidak pro rakyat dan mengambil pemasukan sebanyak-banyaknya dari rakyat (banyak) melalui penjualan BBM.

    3. Subsidi BBM. Ini paradigma yang salah. Pemerintah tidak mengeluarkan uang dari APBN untuk nomboki pembelian BBM. Faktanya rakyat memberi dengan harga tinggi, sementara harga produksinya sangat rendah.

    maka alasan yang paling masuk akal dan sekaligus disembunyikan oleh pemerintah adalah, upayanya untuk melaksanakan UU Migas tahun 21. yang memperbolehkan perusahaan minyak untuk melakukan bisnis mulai hulu sampai hilir. Jadi sejak pengeboran kinyak hingga penjualan ti tingkat konsumen. Wajar jika di Jakarta ada POM Bensin denfan nama Shell, Petronas dsb. Jika harga minyak masih 2.400 (dulu) tentu perusahaan kinyak asing tidak untung. tetapi jika harga 6.000 mereka untung besar.
    Begini logikanya. Exxon mengambil minyak dari Indonesia dengan biaya produksi Rp 1.000 dijual RP 6.000. dikalikan jutaan liter. Berapa untungnya ?,
    Wxxon mengambil minyak dari Arap saudi yang dia miliki, untuk dijual di Indonesia. Disana biaya produksinya sangat murah, diangkut ke Indonesia dijual do Indonesia dengan harga Rp. 6.000 berapa keuntungannya. Argumen ini masuk akan, faktanya sejak tahun 2000 indonesia tidak ada penambahan produksi minyak dan bahkan angkanya menurun. Sementara penguunakan pasti naik. Maka upaya menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar minyak sangat rasuinal. Inilah Agenda tersembunyi. dan pemerintah mengikuti kemauan Asing dan menelantarkan rakyatnya sendiri.

  19. Ada yang terlupa (mudah-mudahan gak disengaja) dari perhitungan pendapatan negara dari sektor BBM diatas. Dari tabel diatas seolah-olah dari tahun 1986 – 2008 harga minyak dunia terus tetap diangka US$ 120/bbl sehingga penurunan pendapatan negara semata-mata karena penurunan produksi dan meningkatnya konsumsi BBM sehingga sebagian harus diimport.

    Namun, biarpun saya bukan tukang minyak, tapi karena alasan pemerintah menaikkan BBM dikarenakan kenaikkan harga BBM di pasar dunia, saya yakin harga BBM jaman dulu tentu lebih rendah. Setelah ngubek-ngubek internet saya dapat angka harga minyak tahun 1986 adalah US$18/bbl. Tahun 2000 adalah $60/bbl sementara tahun 2008 (mulai April), sesuai tabel adalah US$120/bbl. Sekali lagi karena bukan tukang minyak, saya hanya berharap angka-angka diatas mendekati kenyataan karena saya akan coba ngitung ulang.

    Kalau harga minyak disesuaikan per tahunnya, akan ketemu pendapatan negara tanpa subsidi tahun 1986 (C-non_sub) adalah Rp 251,100,000,000 sedangkan pendapatan negara dengan subsidi tahun 1986 (C-sub) adalah Rp 174,510,000,000. berturut-turut tahun 2000 C1-non_sub Rp 892,800,000,000 dan C1-sub 382,200,000,000, tahun 2008 akan sesuai dengan perhitungan tabel. Sengaja saya tidak merubah kurs Rp-USD agar seolah olah rupiah mempunyai daya beli yang stabil seperti US$.

    Kalau hitungan saya benar, sesungguhnya pendapatan negara dari sektor BBM dengan harga subsidi Rp 4500/l sudah lebih besar dari tahun 1986. Dan sesungguhnya keinginan pemerintah menaikkan harga BBM semata-mata hanyalah untuk menggenjot pemasukan dari sektor Migas, walaupun harus dijual ke rakyatnya sendiri, sebagai pemilik sah dari BBM asal bumi Indonesia.

    Jika rakyat Indonesia disuruh beli BBM sesuai harga pasar, tentunya pemerintah malah akan bersyukur jika BBM naik terus dan konsumsi BBM semakin meningkat, karena pendapatan negara dari sektor BBM akan semakin tinggi.

    Jika memang begitu tujuannya, harusnya pemerintah bersikap JUJUR. Janganlah rakyat ini terus dibohongi seolah-olah rakyat yang manja, malas dan bodoh ini, terus membebani pemerintah karena harus ditomboki terus tiap beli minyak. Padahal aslinya hanya karena rakyat yang punya barang ini ngasih keuntungan lebih sedikit daripada jika misalnya dijual ke orang luar yang gak ikut memiliki BBM van Indonesia.

    Pemerintah juga harusnya JUJUR, bahwa pemerintah perlu tambahan dana termasuk buat nutupi utang-utangnya. Termasuk nutupi utang beberapa gelintir orang kaya, seperti nombokin dana BLBI.

    Pemerintah juga harusnya JUJUR, bahwa masih banyak aparatnya yang korup sehingga APBN banyak yang bocor dan harus ditambali dengan pengorbanan seluruh rakyat.

    Pemerintah juga harusnya JUJUR bahwa, bahwa ditengah iklim korup seperti sekaranag masih belum mampu menciptakan iklim usaha yang sehat untuk mencari tambahan dana dari sektor non-migas.

    Pemerintah juga harusnya JUJUR, bahwa karena mental korup yang masih belum bisa dibasmi ini, kinerja BUMN-nya (termasuk PERTAMINA) tidak bisa maksimal sehingga kerjanya tidak efisien. Nah, lagi-lagi untuk menutupi hal ini diperlukan pengorbanan seluruh rakyat Indonesia.

    Pemerintah juga harus JUJUR, bahwa pemerintah belum mampu sepenuhnya mengatasi mental aparatnya di lapangan yang mengatur barang keluar masuk Indonesia, sehingga jika ada kesempatan, penyelundupan pasti terjadi. Ini juga memerlukan pengorbanan seluruh rakyat.

    Berhentilah menambah dosa dengan berbohong, apalagi membohongi 200 juta orang lebih. Supaya di akhirat nanti nggak terlalu lama mampir berendam di api pencucian.

    Nah jika pemerintah mau JUJUR dan terbuka seperti ini, saya ikhlas berapapun harga BBM yang ditetapkan pemerintah. Walaupun dengan menurunnya daya beli, saya ikhlas dicatat sebagai salah satu orang miskin di Indonesia.

    Salam dari kota lumpur Sidoarjo.

  20. Wah pakdhe, jadi sebenarnya dengan harga premium Rp. 6000 pun APBN pemerintah dari minyak pun masih ngicrit2???

    Sebenarnya apa seh yg jadi permasalahan produksi minyak bumi kita yg tidak meningkat (dilihat dari tahun 1986 ampe sekarang 2008 – RED) sehingga akhirnya tidak bisa memenuhi konsumsi masyarakat?? Apakah memang stok minyak bumi di Indonesia sudah sangat sedikit???

    Untuk pengeadaan energi alternatif pun sepertinya susah untuk terealisasi dalam waktu dekat di Indonesia, mengingat ketergantungannya Indonesia terhadap konsumsi minyak bumi. Jadi inget pidato Dick Cheney dulu pas tahun 2002, dia mengatakan kalo walaupu pengadaan energi alternatif dilakukan, negara2 di dunia masih akan tergantung pada minyak bumi paling tidak dalam 10-15 tahun ke depan.

    CMIIW, peace always ^_^

  21. kalo jumlah minyak yang diselundupin keluar negeri ada datanya gak pakde?
    saya jadi geregetan sama orang2 bermental penyelundup itu.
    aset & kekayaan yg seharusnya menjadi kesejahteraan bersama tetapi malah cuma di incipi sendiri 🙁

Leave a Reply