Peran OPEC dalam “mengendalikan” harga minyak

0
Pengaruh Produksi OPEC dalam harga minyak

Harga Minyak Mentah Dunia Naik hingga diatas 130USD/bbl: Apakah OPEC Penyebabnya?

Pertanyaan yang sering ditanyakan ini kebetulan muncul di mailist Migas yang aku ikuti. Spontan saya ingat grafik produksi OPEC dan harga minyak yang pernah disinggung dalam tulisan dulu Is the oil BOOM over ? (1) ternyata kali ini justru hal ini dipertanyakan khusus tentang pengaruh produksi OPEC.

πŸ™ “Lah hiya wajar ta Pakdhe, yang paling beruntung itu sering dituduh jadi penyebab”

OPEC merupakan organisasi negara-negara pengekspor minyak. Secara statistik pada tahun 2004 negara-negara anggota OPEC ini total produksinya hanya sekitar 40% dari produksi minyak dunia. Sedangkan cadangannya hampir 80% dikuasainya.

Namun karena jumlah produksi yang hanya 30-40% ini menjadi tempat berkumpulnya “produsen” (eksportir), maka tentusaja konsumen dunia lebih mementingkan angka 40% ini ketimbang total termasuk produksi negara-negara lain karena toh yang akan berada dipasaran justru produksi dari negara-negara ini. Bisa jadi produksi yang hanya 40% ini menguasai pasar hingga 60-70% dipasar bebas.

Ketahuilah, Amerika itu termasuk negara penghasil minyak terbesar, namun juga “peminum minyak”. Sedangkan statistik yang sering dikeluarkan itu statistik global secara general supply-demand. Jarang statistik yang menyajikan jumlah minyak yang ada di pasar.

πŸ™ “Pakdhe, Amerika itu itu tuh kayak petani kedelai yang juwal tempe tapi tiap hari makan mendoan gitu ya ? Jadi kedele-nya ga pernah nyampai ke pasar πŸ™‚ “

πŸ˜€ “Hiya thole, terus kalau ada yang ga mau juwalan tempe dimarahin. Lah mereka juga memproduksi wajan buat nggoreng je. Nanti kalau ga ada yang digoreng wajannya ngga laku thole”

Mengontrol = Menguasai.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa menguasai itu tidak harus memiliki. Tetapi menguasai itu adalah kemampuan untuk mengontrol. Kalau penguasa sudah tidak mampu lagi mengontrol ya namanya bukan penguasa lagi lah yaw πŸ˜›

Pengaruh Produksi OPEC dalam harga minyakDahulu (sebelum tahun 2000) OPEC sangat memegang peranan dalam mengontrol harga. Coba tengok gambar sebelah, ketika produksi opec turun harga naik dan sebaliknya ketika produksi dinaikkan harga turun. Namun pasca 2000 harga minyak tidak banyak pengaruhnya dengan produksi Opec. Bahkan sejak tahun 2001, produksi opec meningkatpun harga juga tetep aja masih meningkat, pasar udah kagak mau diatur-atur lagi, beh !.

Ini mungkin artinya Opec sudah tidak lagi memilki kekuatan kontrol harga minyak mentah. Yang menarik selama 5 tahun terakhir dari anggota Opec ini antara lain serangan Amrik ke Iraq, dan juga ulah Venezuella yg mendepak raksasa minyak dunia beroperasi di negaranya. Keduanya jelas akan mempengaruhi harga minyak dunia, tetapi mungkin bukan akibat mereka sebagai anggota OPEC tentunya. Kejadian-kejadian ini sering tumpang tindih sehingga tidak mudah mengetahui mana menyebabkan apa.

Menengok hukum pasar sederhana “supply-demand

Bagimana hal ini terjadi ? secara intuitif saya membuat chart diatas grafik diatas seperti dibawah ini:

Di sebelah ini saya mencoba mengkira-kira bagaimana perilaku OPEC mampu “mengontrol”/ menguasai harga minyak.

Pada periode sebelum terjadi embargo oleh Saudi pada tahun 1973, harga minyaksangat rendah dibawah 20USD/bbl. Setelah terjadi embargo karena pasca perang YomKippur harga melambung menjadi belasan, namun itu merupakan angka yang kira-kira 3 kali periode sebelumnya.

Hingga tahun 1979 harga minyak relatif stabil pada angka sekitar belasan perbarrel ini. Nah ! Ketika terjadi revolusi Iran tahun 1979, supply minyak ke pasaran jatuh dan ini mempengaruhi supply pasar minyak dunia. Pada saat itu harga minyak naik hingga dua kali lipat dari yang sebelumnya dalam periode satu-dua tahun saja. Tentusaja kenaikan harga ini bagi produsen tidak bermasalah, tetapi bagi konsumen jelas berattt !!.

Periode Kejayaan “Kekuasaan” OPEC (1979-2000)

Mulai tahun 1980-an ini produksi OPEC terlihat sangat berkorelasi dengan harga. Ketika OPEC menaikkan produksi maka harga turun begitu juga sebaliknya. DIsini artinya produsen sebagai pengontrol harga minya. Namun periode pengontrolan ini hanya berlaku hingga tahun 2000-an saja.

Periode ini harga dikontrol oleh produsen.

Walaupun ada korelasi antara jumlah produksi OPEC dan harga minyak, namun jumlah minyak yang diproduksi selalu saja naik, tidak pernah turun. Periode ini semua kerongkongan sudah terbiasa “minum” minyak. Energi alternatif tidak pernah disentuh secara serius di dunia ini. PLTN malah mengundang badai protes, energi nonmigas dibilang kemahalan dsb

Periode “haus minyak

Kenaikan kebutuhan minyak dunia semakin menjadi-njadi. Cina menyatakan dirinya mengurangi batubara, dan secara aktif mencari sumber migas diluar negaranya (termasuk Indonesia). Mulai awal bad 21 ini fluktuasi (naik-turunnya) produksi OPEC tidak berkorelasi dengan harga minyak. Bahkan ketika OPEC meningkatkan produksi pada tahun 2000 inipun tetap harga meningkat terus. Saya menduga harga minyak mulai saat itu dikontrol oleh konsumen (demand). Karena kebutuhan sangat jauh diatas supply. Kontrol OPEC menjadi sangat jauh berkurang.

Periode ini harga minyak dipengaruhi ulah konsumen.

What next ?

Perkembangan harga minyak bulan ini Nah saat ini periode minyak psikologis. Rasa “ketakutan” sudah mulai terlihat dimana hampir semua kenaikan harga minyak diberitakan pada penjualan dimasa depan atau “future trading”. Ini artinya ada kekhawatiran atau “ketakutan” tidak terpenuhinya kebutuhan minyak dimasa mendatang. Berita lapangan-lapangan minyak yang menyusut produksinya semakin banyak. Termasuk lapangan-lapangan tua di Indonesia. Juga penemuan-penemuan baru sudah sangat jarang dijumpai.

Akan sampai kapankan ketakutan si konsumen minyak ini mempengaruhi harga ?

πŸ™ “Haddduh …. Ampyun pakdhe …. mumeth aku. Tapi berarti bukan karena OPEC ya Pakdhe”

πŸ˜€ “kalau melihat supply demand diatas, sepertinya kalaupun produksi negara2 OPEC mau dinggenjot sampai pol juga ngga bakalan mampu merubah psikologis kepastian pasokan pembelinya”

Dongeng terkait

1 COMMENT

  1. IMHO, sudah tahu minyak mahal bikin rakyat nggak bisa makan tapi tetep nggak naikin quota alasannya jumlah produksi sudah sama dengan jumlah kebutuhan Global.
    Berarti nyalahin keborosan pemakaian dan spekulan (mungkin). Dan nggak peduli padahal apapun alasannya, minyak MAHAL, barang2 NAIK (transport barang naik), rakyat nggak bisa makan!
    Untung makin geDe aja, buat bikin hotel2 mahal, tempat plesir luks, dan nggedein harem (kalee ajaa.. inget berita harem di Hotel AS..)

    Kalau ada yang punya alasan ‘manusiawi’ untuk kelakuan mereka, silahkan share.
    atau ke [email protected]

  2. komplikasi:

    subprime mortgage + olimpiade = komoditi melonjak
    eg. besi, nikel, aluminium, untuk bahan konstruksi dan penyelenggaraan olimpiade (gelanggang, akomodasi, transportasi) Kabarnya bikin rel terpanjang juga kan..
    Minyak untuk ngangkutin barang2 itu.

    Jelas untuk olimpiade butuh banyak banget, plus kabar kalau RRC mau nyetok besi dan minyak yang banyak untuk jaga2 olimpiade dan manintenance afterward.

    Jadi spekulan buru2 rebutan komoditi, plus Amerika bikin rencana dengan kroni nya di Arab untuk bikin RRC bangkrut (minyak dibikin 90USD). Dengan India dan Inggris untuk naikin besi (mulai 3-4 tahunan yang lalu), dst, etc..

    Ternyata duitnya RRC gak ada nomer serinya, ditantangin minyak sampai 120USD lebih, komoditi nggak ikut gila2an karena duit spekulan ke minyak semua. Plus ternyata RRC punya temen di Afrika dan Eropa timur/ Asia barat.

    Menyambut musim dingin Amerika, perang dingin AS dengan Iran dan Rusia, rentetan Topan ke kilang2 AS, minyaknya jadi nggak turun2.
    Spekulan main short term jadinya pasar saham kayak ayunan, naik-turun-naik-turun-turun-turun..

    Kenapa pasar sepertinya bertahan?
    Karena setelah tahunan profit dan hidup enak, ‘konsumen’ masih punya tabungan, perusahaan masih punya cadangan, pertanian (grain, ternak, ikan) nggak parah2 amat.

    Tapi harga besi dan minyak tetep bikin inflasi, dan nggak tau sampai berapa bulan lagi tabungan&cadangannya bisa nahan perang ekonomi para Titan politik ini..
    (RRC, AS, perusahaan Minyak besar)

  3. Pak Dhe, saya pikir bukan konsumen penyebab utamanya
    ini gara2 future trading komoditi yg dipakai fund2 manager dari raksasa finansial buat nombok kerugian akibat kredit properti busuk, mereka pegang aset sampai ribuan milyar dolar tapi modal realnya kecil, mereka musti balikin duit aset dari nasabah, makanya putar otak pakai pasar komoditi, kalo harga minyak mau dibuat stabil harus dibuat kesepakatan dan aturan main yang jelas antara produsen, konsumen dan broker(ini biang keroknya) untuk perdagangan komoditi.

  4. gara2 subprime mortgage juga. gara2 subprime mortgage, pasar finansial rontok. akibatnya sebagian investor pindah dari pasar finansial ke pasar komoditas.

    dari sudut pandang negara2 OPEC sih rasanya mereka bakalan keberatan dengan harga minyak yang sekarang. alasannya karena mayoritas dari mereka itu importir kelas kakap dan gak punya banyak barang lain untuk diekspor di luar minyak. akibatnya mereka juga susah memenuhi kebutuhan dalam negeri.

  5. Naik-Naik Kepuncak gunung BBM naik setinggi gunung
    Lihat kiri Lihat Kanan Rakyat Tercekik Harga-Harga
    Naik-Naik Kepuncak gunung BBM naik gak tanggung-tanggung
    Lihat kiri Lihat Kanan Rakyat Panik dimana-mana

  6. Jadi, Indonesia keluar dari OPEC justru untung dong Pakde, toh OPEC gak bisa lagi menekan harga minyak dan kita gak perlu bayar iuran. Trus uang yang seharusnya buat iuran itu dikemanain ya?…

  7. cadangan minyak mentah di Alaska masih meluap-luap melebihi minyak seluruh negeri Arab, gudang minyak di Alaska bisa mensuplai USA-Canada hingga 200 tahun kedepan dari sekarang. harga minyak naik bukan karena krisis energi. silahkan mendengarkan pidato:

    h**p://uk.altermedia.info/general/is-peak-oil-a-lie_1891.html

  8. salam, tulisan ini bagus, berisi tapi tidak ruwet. Oh ya, konon pertumbuhan industri di cina dan india sebagai negara2 dgn populasi penduduk hampir 2 milyar kepala menjadi ‘salah satu’ sebab demand minyak makin besar. padahal suplly-nya gitu2 aja…yen tak pikir mungkin juga, soale dunia aman sentausa begini kok hrg minyak melangit,
    nuwun, salam kenal. kapan2 saya mampir lagi…

  9. Mas, ada teori lain tentang harga minyak dunia yang tidak se-ilmiah penjelasan Mas tapi cukup sensasional :
    bisa ditonton disini :

    Dan saya coba googling setelah nonton link diatas dan ketemu link ini:
    http://pubs.usgs.gov/fs/2005/3043/

    Sayangnya saya gak tau apa artinya angka2 tersebut, mungkin Mas bisa cerita lebih banyak…

  10. Konsumen?
    Pak Dhe, saya cenderung melihat bukan KONSUMEN yang mempengaruhi harga, tapi SPEKULAN2 dari HEDGE FUNDS. Mereka2 ini terkena dampak luar binasa dari melelehnya skema investasi derivatif dari subprime mortgage, sehingga harus mencari sumber2 investasi baru dan ekstrim. Salah satunya ya memompa harga komoditas2 dunia yang kebanyakan emang sudah dilepas bebas ke pasar dan terpusat di NYMEX

Leave a Reply