Dongeng Subsidi versi Malaysia

9

fuel_pump.gifKalau membaca penggalan berita dari International Herald Tribune dibawah ini, tentunya kita tahu bahwa Malaysia yang masih belum net-importir saja sudah “tersedak” dengan naiknya harga minyak ini.

KUALA LUMPUR, Malaysia: Malaysian government subsidies for gasoline, food and other essential goods are expected to hit 50 billion ringgit (US$15.6 billion; €10 billion) this year as global prices soar, Prime Minister Abdullah Ahmad Badawi said Sunday.

🙁 “Looh Kalau gitu Pakdhe dapet subsidi dari Malaysia donk !”

😀 “Tapi aku kan bayar pajak juga thole !”

Ketergantungan

Ketergantungan Malaysia dengan minyak juga cukup tinggi seperti Indonesia. Memang tidak separah Indonesia. Namun perlu diketahui bahwa itung-itungan subsidi BBM (Fuel) merupakan cara wajar. Bukan penipuan atau sengaja korupsi berjamaan (sesekali menghindari suudzon lah). Cara penyajian anggaran negara dengan metode “Balance Sheet” itu cara yang banyak di “adopt” oleh negara-negara lain. Tetapi mungkin perlu cara lain yang lebih “rapi” dan mudah di “track” atau dirunut kemana larinya “kebocoran“. Walaupun begitu masih harus disadari bahwa penggunaan energi di Indonesia ini sudah keterlaluan borosnya. Coba baca sini : Pola konsumsi Listrik di Jawa. Jumlah energi yang ada di Indonesia ini masih bukan untuk hal yang produktif. Masih banyak energi (BBM) yang terbuang dan tersia-sia karena kemacetan jalan, hura-hura serta banyak yang bocor, eh dicolong 🙁

Nah kalau anda pingin tahu penjelasan pemerintah Malaysia berkaitan dengan subsidi BBM dan bahan pangan silahkan diunduh disini :

Terimaksih ke Mas Nindityo yang mengirimkan dokumen-dokumen diatas. Jadi jangan heran kalau istilah subsidi BBM (Fuel Subsidy) ini dipakai dibanyak negara. Walaupun mungkin istilah tepatnya “subsidi pembangunan“. Dan yang mensubsidi adalah rakyat sendiri.

Bacaan terkait :
Hemat-listrik-siapa-targetnya

9 COMMENTS

  1. Koreksi tulisan ‘quick respon’ tertulis .. Memang bayangan indah tahun 2000 harusnya …bayangan indah tahun 1980-AN, tks Hp

  2. Pak Rovicky dan keluarga besar ‘WordPress.Com’ yang saya hormati dan Banggakan.

    Saya sangat senang karena isu BBM dan Energi secara keseluruhan menjadi salah satu topik hangat dari dua perspektif: Pertama Realita Harga Minyak Dunia menembus Angka ‘Bahaya” > $130/br, Kedua Akhirnya Pemerintah telah mengambil keputusan sulit, komplek, pahit, dari pilihan yang tidak banyak yaitu Menaikan Harga BBM dalam kerangka Mengurangi Subsidi BBM khususnya pada APBN-P 2008, dan sebenarnya dari suatu kebijakan nasional mengkatualisasikan Subsidi BBM yang oleh beberapa pihak dinilai sudah tidak tepat Sasaran.

    Saya kebetulan tahun 2002 menulis publikasi yang diluncurkan di Universitas Makassar, Ujung Pandang dengan mengundang pakar dari Unhas untuk membedahnya berjudul PARADIGMA BARU SUBSIDI HARGA BBM YANG BERKEADILAN DAN TEPAT SASARAN. Intinya adalah bagaimana merubah Subsidi BBM yang selama puluhan tahun diberikan kepada Komoditasnya BBM, yang dinilai kurang tepat sasaran dan kurang berkeadilan, di rubah menjadi subsidi langsung kepada Warga yang secara ekonomi dan sosial kurang mampu.

    Dalam kaitan ini saya kebetulan mejadi salah satu satu Saksi Sejarah dimana sejak tahun 1999-2006 secara berkelanjutan ditunjuk sebagai Ketua Tim Sosialisasi Kebijakan Subsidi BBM di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

    Kegiatan Sosialisasi Subsidi Harga BBM memupunyai kaitan dengan proses pendidikan, karena menuju ke depan menuju paradigma baru subsidi BBM yang Tepat Sasaran dan Berkeadilan. BAnyak diantara masyarakat kita yang tidak bisa membanyangkan bahwa Indonesia sebagai salah satu anggoa OPEC sudah harus mengimpor minyak mentah, maupun BBM. Kilang BBM nasional yang ada dengan total produksi sekitar ~800.000 barrel/hari tidak dapat mengimbangi permintaan/Konsumsi BBM yang terus tumbur di atas 1 juta berrel per hari. Memang bayangan indah tahun 2000 an dikenal dengan Oil Boom, ketika itu produksi crude sekitar 1,5 juta barrel, kita sebagai net export, dan konsumsi BBM dalam negeri masih rendah/menengah. Taun selanjutnya, Subsidi BBM bila ada toh bisa ditutupi dari hutang luar negeri. Semua gambaran indah tersebut, merupakan suatu realita telah mengalami perubahan yang cukup drastis.

    Bila saat ini digulirkan subsidi langsung dalam wujud Bantuan Langsung Tunai (BLT) ini bukan hal baru, karena pada tahun 2000 bersamaan dengan kenaikan Harga BBM Oktober 2000, telah digulirkan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM (PKPS BB) melalui tiga sekema: 1) Dana Tunai ‘Cash Transfer’, 2) Dana Bergulir (Revolving Fund) untuk UKM dan Koperasi, dan 3) Infrastruktur di perdesaan khususnya di KTI dimana pembangunan fisiknya dilaksanakan dengan pemberdayaan masyarakat setempat. Sejak kelahiran PKPS BBM tersebut berlanjut sampai tahun 2005 dengan skema yang berbeda-beda.

    Sebagai saksi sejarah pada isu Subsidi BBM tersebut, saya berkesampatan sebagai nara sumber tandem (berdua) besama Dr. Kwik Kian Gie untuk membedah konsep di Kampus Universitas Indonesia (UI), saat itu sebagai pusat kegiatan Mahasiswa Menentang Kenaikan harga BBM. Pada forum di kampus UI tersebut saya memahami kegalauan Pak Kwik, sehingga pola pikir yang menjadi satu perbedaan adalah bahwa nilai sumber daya minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi yang sebelumnya melalui proses panjang Penyelidikan Umum, Ekplorasi dan Eksploitasi dinilai Rp 0 (nol), sehingga harga BBM yang diusulkan adalah terbatas pada biaya produksi meliputi pengilangan, pengangkutan dan distribusi. Dalam kontek ini sebagai referensi adalah pemasukan Sektor Migas pada APBN kira-kira 30% dari total APBN, dengan asumsi harga minyak (Indonesian Crude Price) yang disepakati antara Pemerintah dan DPR RI misalnya APBN-P $95/barel. Dengan demikian pemikiran Bapak Kwik yang sangat inovasi tersebut kiranya dapat disampaikan ke DPR-RI baik di Komisi VII maupun Panitia Anggaran.

    Demikian pula agar tergambar kondisi harga BBM Indonesia versus luar negeri, maka saya bekerjasama dengan lima kelompok aktivis mahasiswa termasuk kampur ITB, UI, USAKTI, lainnya BBMWATCH untuk secara bersama namun dilaksanakan secara independen melihat posisi harga BBM (Premium dan Solar) dari 150 negara di dunia dengan satu baseline data yang sama yang dipilih yang dikeluarkan secara berkala oleh Lembaga di Jerman (saya lupa). Agar tidak sekedar menggambarkan daya beli, maka digunakan baseline harga telor, artinya dengan harga BBM tertentu setara dengan berapa butir telur! Pada baseline tersebut juga terapat angka kuantitatif negara-negara produsen minyak dan yang menarik adalah berapa besar dana dihasilkan dari komoditi minyak. Fakta mengemuka negara-negara maju, tanpa menghasilkan minyak mentah, tapi penghasilannya sangat tinggi, karena mengenakan Pajak Minyak yang demikian besar. Pada kondisi tersebut tergambar Indonesia masuk golongan yang tidak/sangat sedikit mendapatkan kontribusi dari minyak. semua angka-angka di rangking 1-152.

    Bagi yang berminat dengan senang hati bersedia mendistribusikan dokumen saat saya terakhir terlibat langsung yaitu SISTEM HARGA BBM OKTOBER 2005 BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN NO 55 2005 TENTANG HARGA BBM DALAM NEGERI.

    Catatan sejarah dalam kebijakan Subsidi BBM lainnya adalah 1) tahun 2001 mulai menerapkan acuan harga BBM bulanan berfluktuatif untuk Industri, 2) tahun 2002 mulai diterapkan harga BBM bulanan dikaitkan dengan harga Mid Oil Plat, harga BBM bisa tetap, TURUN, dan naik, 3) pada kenaikan harga BBM Maret 2005, bersama aktivis mahasiswa selama dua bulan dilakukan pengawasan Pangkalan Minyak Tanah di seluruh Jakarta, sebagian di Medan, karena saat itu harga Minyak Tanah tidak dinaikkan telah terjadi disparitas harga yang sengat besar baik antara harga minyak tanah bersubsidi dengan harga industri (harga keekonomian) maupun dengan solar sehingga marak pengoplosan diantaranya BBM Irek (Irit dan Ekonomis) di Jalur Pantura, kendaraan Truk mencampur solar dengan minyak tanah.

    Bagi yang berminat mendalami Subsidi BBM secara kilas balik 1999-2006, kami sebagai salah satu Saksi Sejarah sangat berkenan untuk menyampaikan dalam kontek Pemahaman berbasis knowledge.

    Sekali lagi salut pada Bung Rovicky yang mengangkat Isu Subsidi BBM sebagai Tantangan dan masalah Kita Bersama (common challenge) dan juga secara umum tantangan ‘Crisis Energi’ Bangsa ini sekarang dan Ke Depan.
    Wasallam Hardi Prasetyo

  3. Memang sudah waktunya subsidi BBM dikurangi bahkan dihapuskan.
    dengan asumsi harga rata2 pertamax per mei 2008 adalah Rp. 8500,- dan premium sebelum naik Rp4500,- sumber pertamina) jadi Hitung2an subsidi adalah 8500-4500 = Rp.4000,-
    Seandainya anda hanya punya 1 motor yang mengkonsumsi 2 liter/hari = 60 liter/bulan jadi total subsidi yang anda terima adalah 60 x 4000= Rp 240.000,-/bulan
    Sedangkan orang kaya yang mobil mewahnya mengkonsumsi 20 liter/hari = 600 liter/hari menerima subsidi Rp. 2,4juta/bulan
    itu kalo mobilnya cuma 1, kalo lebih?mobil buat istri,buat anak,dll
    Bayangkan berapa devisa-yang habis untuk mensubsidi orang kaya?anggap saja 10% dari penduduk Inddonesia punya mobil 2 buah,:
    10% x 220.000.000 x 2 mobil x 2.400.000 = Rp. 105.600.000.000.000,-
    Rp.105,6 trilyun adalah angka yg fantastis,tinggal kalikan 12 utk tahu pertahunnya
    Belum lagi mereka membangun rumah mewah,brp truk bahan bangunan yg dibuthkan?berapa liter BBM yg dipake truk2tersebut?
    Sedangkan kita yang punya rumah tipe 45,apakah sebanyak mereka jumlah bahan bangunan yg kita butuhkan?
    Dari hitungan diatas sudah keliatan siapa yang terbanyak konsumsi BBMnya?
    Alangkah bermanfaatnya jika uang sebanyak itu dimanfaatkan untuk pendidikan dan peningkatan modal kerja UKM?
    Sudah saatnya masyarakat dididik untuk menghargai BBM,jgn dipake minyak tanah untuk bakar sampah.
    Yang harus kita lakukan adalah hemat energi dan awasi penggunaan dana yang tidak jadi subsidi tersebut.
    HEMAT ENERGI HEMAT BIAYA!!!!

  4. Jawaban untuk NDONO.NDONI
    Data yang anda kemukakan dibawah ini saya copy lagi dengan urutan sbb:USD -Rupiah -Tanggal
    Saudi rabia0.12 1,10 4 /16/2007 
    Venezuela0.05  460 1/12/2008
    Iran 0.09  828 5/5/2007 CNN Money/[6]
    Nigeria 0.1  920 3/3/2005 CNN Money/[13]
    Egypt 0.25  2,300 7/25/2007 [8]
    Malaysia 0.53  4,876 2/3/2006 Google exchange calculator

    Data ini sudah kadaluwarsa, coba lihat Malaysia tanggalnya 2/3/2006 bahkan Nigeria tahun 2005.
    Mohon hati-hati karena kan masalah baru timbul akhir-akhir ini, sewaktu crude oil dunia harganya melambung > USD 100. Saya mohon maaf.
    Salam pershabatan.

  5. “kalo bener,trus yg mempengaruhio harga minyak suatu negara itu apa ya?”

    Jawab saya :”subsidi”
    Seberapa berani pemerintah negeri itu mensubsidi harga dalam negeri dibanding pasar luar negeri. Negara “kuat serta mandiri” cenderung lebih berani mengurangi subsidi, Dari negara miskin. Negara kuat seringkali daya beli rakyat cukup tinggi. Tidak harus penghasil atau pengekspor minyak

  6. pak dhe, saya dapat milis isinya di bawah ini.
    saya buka linknya, tapi males nyarinya (hehehehe).
    ini bener gak ya?
    kalo bener,trus yg mempengaruhio harga minyak suatu negara itu apa ya?

    Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia. Di Venezuela harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.
    Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar Rp 8.700/liter.
    Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan negara Neoliberalis/Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga minyak Internasional.
    AS dan Cina adalah importer minyak terbesar dan ketiga di dunia *1. Tapi harga minyak di AS cuma Rp 8.464/liter sementara Cina Rp 5.888/liter.. Padahal penduduk kedua negara lebih besar dari Indonesia (Cina penduduknya 1,3 milyar) .
    Indonesia meski premium cuma Rp 4.500 (yang akan dinaikkan jadi Rp 6.000/liter) namun harga Pertamax mencapai Rp 8.700/liter. Lebih tinggi dari harga di AS. Padahal UMR di Indonesia cuma US$ 95/bulan sementara di AS US$ 980/bulan. Jadi Indonesia ini benar-benar mengikuti kemauan spekulan pasar/kaum Neoliberalis.
    Dengan memakai patokan harga Internasional US$ 125/barrel maka rakyat AS yang UMRnya US$ 980/bulan masih bisa menabung US$ 955/bulan sementara rakyat Indonesia yang UMRnya hanya US$ 95/bulan harus ngutang sebanyak US$ 30/bulan. Memang rakyat miskin tidak punya mobil mewah, tapi mereka kan tetap harus pakai angkot atau sepeda motor. Dan itu pakai BBM!
    Referensi:
    1. http://worldnews.about.com/od/oilnaturalgas/tp/oil_imports.htm

  7. terimakasih opini2nya, mas Vick. Bole gak saya kutip buat skripsi (dan mungkin buku ) yg lagi saya rampungin ?

    –> Silahkan Aditya. Semoga memberi manfaat buat bangsaku 🙂

  8. seharusnya memang kenaikan bbm gak jadi masalah sepanjang penjelasannya clear, smart, dan gak dadakan… sampai saat ini aja suara pemerintah masih mendua….

Leave a Reply