“Blue Energi”, itu Create value ?

31

Ntah kenapa beberapa mailist yang aku ikuti tiba-tiba membicarakan masalah energi biru ini. Dan hampir semua dengan kepenasarannya sambil ngucek-ngucek mata kagak percaya.Shocked.gifhaha.gif

Ada satu kalimat kunci yang harus dimengerti adalah bahwa yang namanya create value” atau “create money” itu tidak selalu berarti “create energy. Hampir semua yang mangatakan Blue Energy itu kemungkinan hoax adalah karena menggunakan ilmu fisika tetapi bukan ilmu ekonomi. Jelas berpikir riset ilmiah akan berbeda dengan berpikir bisnis.

Dibawah sana saya coba menjelaskan bagaimana bisnis blue energi ini tidak harus mengikuti hukum “fisika ansich” dalam arti menciptakan energi.

🙁 “Lah hiya mbok ya Pakdhe itu jadi bisnisman saja. Kalau nyetak duik itu termasuk bisnis ngga, Pakdhe ?” : LMAO.gif

Bisnis produksi itu tergantung dari harga dasar dari bahan yang akan menjadi hasil produksinya.

Bisnis Blue energy

Gambaran dibawah ini memperlihatkan bagaimana proses pembuatan blue energy. Aku sendiri belum menyaksikan dengan kepala sendiri. Tetapi dari hasil ngobrol dengan pelakunya, secara mudah dapat digambarkan seperti dibawah ini. Kalau ingin detail teoritisnya silahkan tengok dongengan awal tentang Blue Energi ini sebelumnya.

Intinya hanya mereaksikan Hidrogen dengan Carbon.

Sepintas silahkan lihat grafik disebelah ini. Hidrogen diperoleh dengan pemecahan air atau dikenal dengan water-splitting atau bisa juga dengan cara electrolysis. Ini dapat dilihat di tulisan tentang blue energi sebelumnya klik disini. Prosesnya sederhana tetapi memang masih merupakan proses endoterm atau sebuah proses yang memerlukan energi. Tentusaja ada ongkos untuk melakukan water splitting/ electrolysis ini. Tetapi berapa ongkos bahannya (harga air) ?. Saya anggap zero jika anda mengambil air sungai. Atau paling tidak hanya proses menimba air saja. Tentusaja akan memerlukan truk tangki kalau saja air ini diambil dari tempat yang jauh. Untuk sementara harga air ini ditiadakan.

Demikian juga dengan karbon (C). Kalau C-nya dapat diperoleh dengan mudah dan murah (misalnya dari asap) tentusaja harganya zero. Bahkan selama ini Carbon emisi dianggap sampah. Dalam hal ini justru C-nya ditampung. Lah kalau mau menampung sampah mestinya yang punya sampah yang membayar, kaaan ? Seperti juga kalau misalnya menggunakan air formasi dari sisa produksi sumur minyak. Mestinya perusahaan minyak berterimakasih dan membayar handling cost 🙂

Nah proses pemasakan Hydrogen + Carbon ini juga proses endoterm. Tetapi jelas angkanya akan ada (tidak nol) dan mungkin signifikan. Tetapi kalau anda bayangkan harga minyak saat ini yang sudah menyundul angka 120US$/barrel ? Maka tentusaja dari sisi bisnis masih mungkin akan menguntungkan bukaan ?

🙁 “Pakdhe, emang energinya darimana dulu, apakah energinya juga gratis ?”

Disitulah kuncinya. Kalau saja mampu mendapatkan energi yang murah dalam menyediakan energi listriuk untuk proses water splitting dan pemasakan ini. Tentusaja nilai keekonomian keseluruhan proyek ini ada disitu. Jadi tidak ada hukum fisika yang dilanggar, bahkan semuanya mudah. Dengan pemikiran inilah bisa terjadi “create value“, bukan create energy” dalam fisika ! 😀

Konon dengan mesin diesel pembangkit yang hemat solarnya (“mungkin” dicampur air), maka ongkos penyelenggaraan listrik menjadi lebih murah. Mesti mau buru-buru bilang mesinnya jadi cepet rusak … ya, kaan ? Nah asalkan segalanya sudah dihitung tentusaja ini bukan masalah utama. Boleh saja usia mesin menjadi setengahnya, tetapi kalau jangka operasi mesin 10 tahun tentusaja biaya bahan bakar yang mahal akan menutup biaya (harga) mesin.

pssst aku bisikin ya gini katanya “Team Blue Energy sudah berhasil membuat (merekayasa atau ngulik, red) generator 50 KVA yang kalau dipakai max capasity cuma butuh 4 liter perjam. Jadi 1 kwh = 4/50 = 0.08 liter. Sekarang generator tersebut kami pakai untuk aktivitas membangun di CFEWS (ngelas tanki, gelas kilang dll)”

Pssst Note : sakjane ya efisiensi sumber energi ini yang “kalau emang beneran” terlaksana, mka sudah menjadi penghematan yang ruarr biasa.

Bisnis eksplorasi-produksi migas

Sebagai pembanding saya membuat sederhana bagaimana create value dalam bisnis migas seperti dibawah ini. Tentusaja ini penyederhanaan supaya bisa diperbandingkan dengan diatas.

Dalam bisnis migas, semua ongkos yang dihitung hanyalah ongkos untuk menemukan (exploration/finding) dan ongkos memproduksi (lifting/production) . Tentusaja disini perlu energi. NAmun sering terjadi juga menggunakan gas yang diproduksi untuk menggerakkan turbin genset. Dengan demikian listriknya jadi murah kan ?

Sedangkan bahan dasarnya atau minyaknya sendiri dihargai NOL dibawah sana. Dalam sistem PSC minyak itu dihargai NOL ! Negara tuan rumah tidak mengutip harga khusus untuk setiap tetes minyak yang diproduksi.

Mengapa ?

Dalam sistem keuangan atau financial di E&P migas serta perjanian kontrak eksplorasi (PSC) harga dasar minyak yang masih dibawah sana itu tidak ada atau tidak dikenal. Sehingga dalam menentukan biaya minyak tidak pernah dimasukkan dengan harga dasarnya.

Itulah sebabnya maka dalam bisnis minyak ongkos eksplorasi dan produksi itu suangat penting. Dan dari sini mungkin mudah memahami mengapa sistem PSC di Indonesia dengan cost recovery ini sering mengundang protes. Lah wong (seolah-olah) ongkose gratis, jadi prinsipnya kontraktor hanya menyediakan modal (starter). Jadi semestinya mudah dimengerti mengapa sistem PSC sangat populer di negara-negara yang kekurangan pemodal.

BIOFUEL yang termehek-mehek

Dengan pemahaman yang mirip, maka tentunya kita akan mudah memahami, mengapa BIOFuel atau BIOdielsel menjadi mahal ? Ya tentusaja karena harga dasar-nya sudah mahal. Dan proyek BIOdieselnya Pertamina-pun akhirnya memilih mending mundur, karena harga CPO-nya (di)naik(kan). Karena unuk membeli bahan dasar CPO-nya harus bersaing dengan penjual martabak untuk menggoreng. Duh !

Lantas mengapa Minyak Jarak juga tidak berkembang ? Ya, karena petani enggan menanam jarak wong pembelian harga biji jaraknya terlalu rendah. Mereka memilih untuk menanam tanaman lain yang lebih menguntungkan baginya, tentusaja. Silahkan ikuti diskusi di mailing list Indonergy. http://groups.yahoo.com/group/IndoEnergy/messages

🙁 “Pakdhe, kalau gitu semestinya harga bahan dasar yang nentuin syapa ?”

😀 “Itulah sulitnya thole, Harga jual biofuel sudah terlanjur didengungkan akan lebih murah dari Diesel. Ya tentusaja kalau dihitung mundur dengan skematis diatas, maka harga beli biji jarak pagar menjadi sangat keciil. Kasihan petaninya kaaan”

31 COMMENTS

  1. Hallo Mas Mbambang,

    Saya bisa mengerti sikon kalian, sebab saya juga pernah mengalaminya sendiri…

    Tapi ngomong2, sebenarnya kalian ini kessian banget. Sebab hidupnya jadi kurang bahagia.
    Pertanyaannya :
    – Apakah kebahagiaan itu tadi cuma karena duit ?
    – Apakah si boss polytron (jika bener penemunya ga dapet apapa) hidupnya bahagia ?

    Memang sama2 bernama Joko. Tapi Joko Yogya kelihatan lebih sumringah dibanding Joko Nganjuk….

    Semoga semua mahluk berbahagia…

  2. saya sangat setuju dengan create vaule yang dit ulis kali ini, sama dengabn penciptaan trafo pembangkit, dari genset yang hemat bahan bakar, gini loh pakde, saya ama mas djoko pernah buat genset untuk kelampung, saya lupa daerahnya, nanggap wayang segala peresmiannya, genset 300 Kilovolt bisa kita up dengan trafonya Djoko sedemikian rupa sehingga menghasikan daya 1,3 MegaWatt.
    Darisi sisi hitungan ekonomis sangat menguntukkan sebab, dengan mengkonsumsi bahan bakar solar untuk genset 300Kva biosa menghasilkan daya setara dengan 1,3 Megawatt. untuk yang lebih enaknya itunganyaa gini pakdee, rumahku daya listriknya hanya 900 watt, kemudian habis meter saya pasang trafo pembangkitnya mas Djoko, maka saya bisa gunakan daya sampe 2200 watt, input alat tersebut apa bila digunakan maksimal adalah sekitar 750 watt saja, jadi meter tidak turun, dan bayr sewa dan tarif hanya golongan I, dari segi pencurian PLN tidak dirugikan karena tidak ada daya PLN yang dicuri, PLN hanya dirugikan dari sewa meter saja soale harga sewa 900 tapi bisa pake jadi 2200.
    lain halnya dengan beberapa alat penghemat listrik yang di jual di Roxy nas atau Glodok, setelah diadakan pengukurun denganalat tangamphere arus yang keluar dari alat tersebut semakin kecil, dikatakan hemat, padahan kita tetep tidak bisa pake daya lebih dari 900 watt. Sedangkan trafonya mas Djoko kebalikannya, arus sebesar 4 amphre dengan voltage tetep bisa keluar menjadi 12 Amphere denganvoltage rata 240, tidak 220 lagi, aneh tapi nyata, bisa dibuktikan tetapi tidak bisa diilmiahkan, karena saya sendiri samoe skr gak nemu ahli yang menulis ttg iku, teapi seorang Djoko Soeprapto bisa buktikan, cuma sayangnya Mas Djoko ketakutan diri sendiri, akan penculikan, dan pengkhianatan apa bila berbagi Ilmu, ingat kasus kulkas panas dinginnya Polytron, penemunya dapet apaaaaaaaaaaa, bener kan pakdeeeeeee, heheh mbuh pakde mumet aku ngrasakne mas Djoko, soale nek petung terus oleh duite angel golekane

  3. Hahaha…para komentatornya kompak menganggapnya hoax.

    Yang menarik buat aku pakde, kenapa presiden kita melangkah terlalu dalam ke proyek blue energy ini. Seandainya bukan hoax, apakah dalam skala bisnis ini feasible ?

  4. pakde yo’opo carane supoyo bluenergi murah meriah gak gawe rusuhe jagat royo, opo listrike nggawe dinamo engkol sepeda

  5. Easy Fuel

    DETAILED DESCRIPTION
    Electrolysis of water to produce hydrogen and oxygen has been applied for a number of years on industrial scale and electrolytic hydrogen production systems are commercially available from a number of sources. Where water and electricity are available hydrogen production may, therefore, easily be installed. Hydrogen has been suggested as a future energy carrier replacing gasoline and diesel for fueling vehicles and ships, at least in locations where renewable energy is abundant in order to produce hydrogen by electrolysis or, as is more commonly used today, by steam reforming of natural gas (as a component of syngas, as mentioned above).

    Electricity is an energy form that may be produced from alternative and renewable energy sources such as geothermal sources, solar power, wind energy, hydro-power, and ocean thermal- or kinematic-power. It is also produced in large quantities from nuclear power and may be produced through combustion of waste products (which would simultaneously produce CO 2 ). Electricity may also be made available through efficient utilization of off-peak power.

    🙂

  6. Process for producing liquid fuel from carbon dioxide and water : ===========

    INFO Synth Fuel

    A process for producing high octane fuel from carbon dioxide and water is disclosed. The feedstock for the production line is industrial carbon dioxide and water, which may be of lower quality. The end product can be high octane gasoline, high cetane diesel or other liquid hydrocarbon mixtures suitable for driving conventional combustion engines or hydrocarbons suitable for further industrial processing or commercial use. Products, such as dimethyl ether or methanol may also be withdrawn from the production line. The process is emission free and reprocesses all hydrocarbons not suitable for liquid fuel to form high octane products. The heat generated by exothermic reactions in the process is fully utilizes as is the heat produced in the reprocessing of hydrocarbons not suitable for liquid fuel.

    salam
    Pakde Hari

  7. he he …. vick,
    kelak kalau iya, kencing di terminal bis gak bayar serebu perak, malahan dibayar kalee …. dan bakalan kumuh nih, sayang kan kalau cuma buat nggelontor.
    Hak Guna Air gak usah dipakai nanam padi, di jual aja airnya, kelak air kan jadi mahal (“crate value”).
    Gross storage kondisi baru sebelum sedimentasi Kedung Ombo punya air 723 juta m kubik, Jatiluhur 2,5 M m kubik, Cirata 1,9 M m kubik, mau pilih yang mana

    lik_dir

  8. Mungkin liquid synth fuel blue energy
    itu agak dipaksakan supaya menjadi pembuat bbm
    karbitan pertama di indon. yang paling murah ya airnya itu ….
    pingin coba proses semacam FT tanpa catalyst tapi diluar tabung
    sudah saya coba , gini cerita:
    saya punya waste oil saya rebus pake panci kecil terus setelah menguap (temp kira2 250*C) saya bakar dan mau nyala merah
    … pada waktu nyala saya semprot ke panci tersebut pake air distilasi pake semprotan tanaman yang alus dan hasilnya nyala api kuning membesar dengan letupan suara tekanan keatas ( kaya kembang api nyembur )
    menurut buku pinter itu adalah hydrokarbon pyrolysis , menurut saya entah bener atao tidak
    teus saya coba : panci itu tertutup dengan pipa ke atas dan disalurkan ke cooling coil ( pake ember plastik besar saya kasi air )lha itu bisa netes2 fuel 1 cangkir selama 10 menit warnanya agak hitam kotor ( tapi minyak bukan air/ kaya minyak encer ), nyatanya saya coba bakar bisa terbakar … tapi kualitas bakarnya kurang dan bisa terbakar.!.. ini percobaan ngawur aja kira2 jadi C16H8
    hahahaa ….Awas jangan coba2 dirumah / niru saya kalo ada salah2 saya nggak jamin ini resiko saya sendiri ( karena sempat terbakar pancinya gak bisa dipadamkan olinya ,kalo disiram malah nyebar apinya )

    ini percobaan saya lho nekat. pikiran saya jika keluaran pipa sebelum di distillasi di pasangi catalyst ( mahal dan nggak bisa bikin )yang ada di us patent (buanyak) dan umpama di gelontor h2 …mungkin (lagi2) octan nya bisa meningkat …wah saya kurang paham sekali ttg fuel itu… mungkin endotherm kerjanya di catalyst (ngawur lagi ini )
    coba mungkin ada yang bisa bantu

    trims

    Pakde Hari
    Jogja

  9. pakde, apa ada kemungkinan energi endoterm yang dipakai itu menghasilkan blue energy yang energi bakarnya lebih besar? mengingat ikatan karbon sudah ada, tinggal dirangkai dengan hidrogen. tapi proses untuk “merangkai”nya itu sebesar apa?

    –> Yang namanya proses endoterm itu artinya membutuhkan energi, tentusaja energi yang dihasilkan ketika mengurainya (dibakar) lebih kecil dari energi yang dibutuhkan ketika “merangkainya”. Dalam artian energi itu disebut proses endoterm. Nah sekarang tinggal menghitung saja seberapa “ongkos” memperoleh energi itu bisa murah apa tidak. Konon katanya mereka menggunakan “generator khusus” yang suangat hemat, sehingga listrik yg dihasilkan generator utk “merangkainya” katanya murah.
    Nah katanya-katanya inilah membuatku “penasaran” alias skeptis. Pertanyaan dasarnya ” loooh apa iya sih ?”. Pak Koeseoema sih langsung bilang “no way !”

  10. Wah
    Embuh ah…. wong ditunggu tunngu
    kok lama banget , mending coba2 sendiri aja
    siapa tau bisa , walau dengan harga tinggi
    bisa dipake sendi dan mantep…
    coba aja FT proses pake sembarang hydrocarbon
    mesti jadi kok.. nggak usah pake high pressure2an
    pokoknya keluaran coil di cooling trus netes2 bensin

    Salam dari Jogja

  11. percaya gak percaya, tapi jika energi yang diperlukan untuk proses endoterm menggabungkan C dan H itu lebih kecil daripada energinya yang dihasilkan si blue energi tadi, ya berarti ada kemungkinan jenis energi ini feasible terhadap nilai bisnis. Tinggal dicompare dengan harga minyak yang harganya berdasarkan biaya produksi.

    Pertanyaan saya, pak dhe, emang mungkin yah energi endotermnya itu lebih kecil daripada energi yang bisa dihasilkan nanti??

  12. mas, emang air yang dipake air apa? air laut bisa ga? ato mesti air tawar. trus ada standar kualitas air yang bisa dipake? na, tar kalo cara ini benar2 rame, jadi rebutan air dong. lha wong kalo musim kemarau aja pada kesulitan air……

  13. PAK Rov..

    Gimana caranya gitu biar Pemerintah punya solusi dalam menghadapi gonjang ganjing harga minyak dunia yang terus naik. Pemerintah katanya mau menaikkan harga minya dengan mengurangi subsidi, ya biasalah pasti jadi efect domino dalam kehidupan masyarakat. kasihan rakyat kecil yang makin tambah sengsara…apa apa jadi melambung harganya….

    Mungkin ada daya creativ Pak Rov gimana caranya kita nggak terlalu tergantung gantung amat sama yang namanya emas hitam ini …?

    thanks

    Novembri
    http://www.hazwelding.wordpress.com

  14. Pak Rovicky,
    Mamang benar Biofuel sudah termehek-mehek, notabene negara Jerman sebagai pionir Biodiesel-pun kini menghentikan program “Biofuel berbasis sumber pangan”, karena ada bangsa lain yang ‘hunger’ akibat naiknya harga pangan. Sekarang mereka fokus ke Biofuel berbasis non pangan seperti: Biodiesel from Used Frying Oil/UFO/Jelantah, BioEthanol&BioButhanol from Lignoselulosic/Kayu, Biogas dari limbah organik pabrik/kotoran ternak. Untuk power plant, mereka sedang giat-giatnya membangun Sel Surya, Angin dan Hydrogen.

    Mas Tri dari pakem

  15. Mau tanya Pak Dhé,
    Kayaknya ini yang bisa kita lakukan di rumah.
    Pada kendaraan kita tersedia tegangan 12 volt, lantas kita celupkan lempengan atau kawat logam(?) dengan lebar dan jarak tertentu ke dalam suatu tabung berisi aquadestilata mungkin juga dibubuhi soda kue untuk memaksa elektrolisa lebih banyak menghasilkan H2 dan O2, lantas hasil elektrolisa adalah H2 yang bisa terbakar dan O2 yang tentu membantu menyempurnakan pembakaran, lantas diikutkan ke ruang bakar melalui sedotan di intake kendaraan kita.
    Sumber: http://water4gas.com/2books.htm
    Yang di atas ini memang tidak menggantikan BBM tetapi membantu menghemat BBM.
    Bagaimana menurut pendapat Pak Dhé, atau rekans lain mempunyai pendapat?
    Matur nuwun 🙂

  16. barangkali kalo minyak bumi sudah bener2 musnah dari dunia ini; baru kita serius nyari gantinya ya…. biofuel; blue energy ato apapun itu; hiks, kalo udah begitu nasib indonesia yang pembangkit listriknya masih banyak yang makan BBM gimana jadinya ya

  17. Serba repot yo pakdhe….
    Satu sisi, konsumsi BBM fosil harus segera di diversifikasi, tapi untuk mendevelop energi alternatif dari tanaman jarak atau kelapa sawit dibutuhkan kebijakan terpadu dari berbagai industri terkait.

    Kayak meluruskan bolah ruwet yang sudah mbulet mati…

  18. kenapa biofuel kita nglokro … 🙁
    kalo dijadiin home industri bisa nggak pak dhe?
    jadi para petani tidak akan mengeluh rendahnya harga biji jarak lagi.
    Di jogja juga katanya ada yang berhasil mendestilasi biota laut menjadi minyak mentah dengan biaya 400 rupiah perliter

  19. Hmm… memang kayaknya sulit ya mensinergikan sains dan penemuan dengan bisnis yang nyata 🙁

    Yach… udah terlanjur senemg sama penemuan Blue Energy , tapi ternyata kendalanya gak sederhana juga ya ?

    Hoax atau bukan… tinggal dilihat nanti. Waktu itu di umumkan ke Internasional kan bahan bakar itu ? Malu banget kalo itu hoax 😕

  20. saya juga tidak percaya………, jangan – jangan yang didengungkan dengan blue energi, seperti cerita batutulis atau yang investasi di daerah bogor yang kena juga pejabat negara…

  21. ========
    ========

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ========
    ========
    rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren

  22. Aku masih TIDAK PERCAYA !!!
    Jangan-jangan mereka diam-diam mensubsidi biaya yang dibilang genset super hemat itu. Dengan modal 100 milyar mengangkat pamor didepan SBY. Setelah 5 tahun kedepan SBY bukan presiden lagi … Keuntungan dapet proyek lain 200 milyar …
    Itu baru namanya CREATE VALUE … cih !!!
    Pakde jangan percaya dengan pembisik yg bohong, tuh.

    –> Ga papa kok ga percaya. Saya sendiri skeptis, ya nunggu aja kalau bisa ya bagus lah.
    RDP

  23. Saya badhe nyuwun pirsa!

    Seorang Bapak dari sulawesi tengah, yang pernah muncul di tivi, mengatakan bahwa, beliau mempunyai formula campuran bensin+air untuk bahan bakar motor bensin.

    Menurut beliau, hasilnya bisa menghemat bensin. kira-kira bensin murni 10 liter sebanding besin 1 liter + air.

    Pertanyaan saya, apakah itu masuk akal, bukan sekedar hoax. Kalo masuk akal, kapan akan dibuka pabrik pencampuran besin + air tersebut.

  24. Usul…

    Kalo nanti Pak Vicky jadi menteri, atau jadi anggota DPR, tolong itu minyak diberi harga, agar kita rakyat kecil bisa ikut menikmati hasilnya.

Leave a Reply