Selamat Bertugas Pak Priyono (BPMIGAS)

8

Hari selasa lalu aku mendapat berita dari sorang kawan tentang pengangkatan (persetujuan DPR) Pak Priyono sebagai Kepala BPMIGAS menggantikan Pak Kardaya Warnika. Setelah sebelumnya issue itu berhembus sejak sebulan lalu ketika Ngobrol Memilih Pemimpin

🙁 “Wah Pakdhe mesti nyelametin dulu doonk !”.

😀 “wis akeh sing memberi selamat, aku malah mau membekali saja, Thole”

🙁 “Haiyak, Pakdhe nggaya !”

Ya tentunya ucapan selamat saja tidak cukup untuk memberikan semangat kepada Pak Priyono. Perlu mulai dibukakan lembaran-lembaran Pe-eR yang belum sempa diseleseikan pejabat sebelumnya, juga masih banyak tantangan-tantangan baru didepan mata, di atas meja, di jalan didepan kantor. Bahkan sangat banyak tantangan di nuun jauh disana dimana antrian mitan menjadi issue politik paling hangat saat ini.

Pak Priyono tentunya sadar bahwa jabatan beliau adalah jabatan politis, karena ketika dipilih, ditest diangkat dan disumpah selalu dihadapan pejabat-pejbat politik. Namun saya yakin beliau juga sadar bahwa beliau adalah pengemban amanah rakyat, bukan pengemban amanah pejabat 🙂 . Jadi takperlu lah saya berbicara soal yang satu ini. Yang perlu saya sampaikan lebih baik soal migas-nya saja.

Yang sudah tercapai BPMIGAS hingga kini.

Kebetulan saya masih menyimpan laporan BPMIGAS tahun 2007 kemarin yang disampikan oleh Pak Abdul Muin dalam acara IPA Luncheon Talk pada bulan Maret 2008 lalu. Pencapaian ini yang harus diteruskan ditingkatkan dan ditmbahkan di tahun-tahun mendatang.

Disebelah ini grafik wilayak kerja sejak tahun 2005-2007. Ini menunjukkan peningkatan yang dicapai oleh Pak Kardaya yang harus diteruskan. Tantangannya adalah menjadikan daerah yang saat ini masih sebagai exploration working area menjadi producing area.

Tentunya perlu ada kerja keras dari jajaran BPMIGAS dalam “membujuk” investor melakukan kegiatan eksplorasi. Terutama untuk daerah-daerah yang selama ini masih dalam tahap eksplorasi.

Tantangan di BPMIGAS tidak hanya produksi migas saja. Tantangan utama saat ini BPMIGAS justru ada pada “kesinambungan” pasokan (sustainable supply) energi migas dimasa mendatang. Perlu diketahui bahwa, menggenjot produksi disatu sisi akan meningkatkan pendapatan, namun kalau saja pemanfaatannya masih saja boros energi (elastisitas energi yg rendah) masih menjadi masalah klasik di negeri ini, maka menggenjot produksi saja justru akan mempercepat datangnya problem besar kelangkaan sumber energi.

Penurunan produksi migas setelah masa plateu merupakan proses yang wajar dalam industri pertambangan khususnya migas. Namun masa plateu ini sebenarnya dapat diperpanjang seandainya ada penemuan-penemuan baru. Penemuan baru inilah yang jauh lebih penting dan strategis dalam menjaga kelangsungan perjalanan pembangunan negara.

Perkembangan dari tahun ketahun soal cadangan migas, seberapa besar sisa cadangan minyak yang ada di Indonesia ini di Indonesia dapat dilihat dalam gambar disebelah kanan ini. Gambar ini memperlihatkan bahwa migas kita sudah mulai menurun sejak tahun 1999. Artinya tidak banyak penemuan minyak sejak tahun itu.

worldenergy.jpgHarga minyak memang perlu diantisipasi, namun kalau melihat sejarah harga minyak atau perkembangannya, sepertinya harga minyak saat ini tidak dikontrol oleh supply. Tetapi saat ini lebih dikontrol oleh demand (kebutuhan).

Artinya harga (lebih pasti) akan cenderung naik, karena proyeksi kebutuhan itu selalu akan naik. Hal ini disebabkan usaha untuk penggunaan sumber energi alternatif selain BBM sangat tersendat di Indonesia dan di dunia. Dengan demikian ketergantungan dunia terhadap energi minyak bakalan akan menjadi problem utama. Kita sudah tahu bahwa discovery (penemuan lapangan baru) cukup langka, namun kita juga tahu kebutuhan energi dalam negeri (dan dunia) akan meningkat dari tahun ketahun.

Harga minyak dan biaya

Untuk negara yang sudah menjadi net importer tentunya harga tinggi menjadi beban tinggi juga. Harga tentusaja akan berpengaruh kepada biaya produksi dan eksplorasi. Di sebelah ini harga minyak dan biaya eksplorasi yang dikeluarkan pada tahun-tahun itu. Dapat terlihat dengan jelas bagaimana biaya eksplorasi selaras dengan harga minyak. Artinya, kalau di Indonesia masih menganut cost recovery (CR), tentusaja CR masih akan menjadi sasaran empuk dalam mengkritisi kinerja usaha migas. Namun harus hati-hati BPMIGAS tidak boleh hanya konsentrasi CR saja, kan. Kelangsungan pasokan, ya sustainable supply migas lebih strategis ketimbang sekedar biaya CR yang akan menjadi “peluru-peluru” politisi dalam menghantam performace/kinerja.

Kalau membaca bahwa tugas yang bakalan dipakai sebagai tolok ukur adalah menekan cost recovery, hmmm sepertinya akan menjalankan Mission Impossible ! Sesuatu yang sulit tetapi masihkah mungkin dijalankan ?.

Migas adalah energi

Mengkoordinir hal-hal yang berhubungan dengan energi di Indonesia saat ini bukan hal yang mudah. Hampir semua institusi yang mengurus permasalahan energi berada dibawah satu atap, presiden. Walaupun kita memiliki MESDM tetapi BPMIGAS, BHMIGAS dan juga Pertamina semua menjadi bawahannya Presiden. Namun kalau melihat fakta kemarin, bukan hanya salahnya presiden, kalau soal energi ini menjadi amburadul. Kenapa ? Karena Kepala BPMIGAS saja ditentukan oleh DPR .. mboh iki masalah politik yang pelik yang ruwet bin rumit 🙁 . Airlangga di Komisi VII saja yang lebih tahu … “Hay Pak Langga !! “:P

🙁 “Looh Pakdhe tahu Pak Airlangga, sok deket ya ?”

😀 “Wektu dia ketua senat mahasiswa FT UGM dulu, aku jadi bendaharanya thole !”

🙁 “Kaya banyak duik donk Pakdhe jadi bendahara ?”

😀 “Hust !!”

Tantangan pasokan sumber daya energi memang bukan tanggung jawab BPMIGAS, namun BPMIGAS akan menjadi badan strategis untuk menentukan kapan saat paling pas untuk memulai (kick off) atau lebih tepatnya kick buthehehe nendang bokong, iya nendang bokongnya pengembangan sumber energi alternatif. 😛

Setelah menulis tentang NOC dan IOC beberpa waktu lalu kebetulan saya membaca bukunya Renald Kasali (Powerhouse) yang isinya perkembangan tentang Pertamina, tetapi sebenernya perkembangan industri migas secara umum di Indonesia. Yang cukup mengagetkan adalah buku ini justru memberikan impresi dabngambaran bahwa banyak keputusan yang terlambat yang diambil dalam soal kebijakan energi di negeri ini. Bukan kebijakan yang salah, tetapi tidak adanya keputusan itulah problem utamanya. Ngobrol dengan kawan-kawan di BPMIGAS dan Pertamina sering mendapatkan jawaban yang sama tentang lambannya pengambilan keputusan (decision making) ini. Hal ini bisa disebabkan karena panjangnya birokrasi, atau “keengganan” bertanggung jawab karena sebuah keputusan berisiko ?

Challenge ! Tantangan !

Tantangan migas dimasa mendatang adalah bagian dari tantangan pasokan sumber energi secara umum. Pengelolaan Migas di Indonesia mau tidak mau harus selalu dikoordinasikan dengan perkembangan kebutuhan energi secara menyeluruh. Persiapan alih energi atau konversi sumber energi dari migas ke energi alternatif lainnya (Nuklir, Geothermal, Batubara dll) harus menyambung secara aman dan smooth. Peranan koordinasi dari ESDM akan menentukan dalam hal ini.

Kalau boleh menuliskan daftar tantangan migas dimasa mendatang 5-10 tahun lagi antara lain :

  • Ketergantungan akan sumber energi migas untuk memenuhi kebutuhan energi total di Indonesia. Ketergantungan akan berujung pada kelangkaan seandainya supply sumber energi tidak mencukupi. Explorasi dan penambahan cadangan mestinya jauh lebih penting ketimbang peningkatan produksi.
  • Kelemahan koordinasi diantara departemen dan institusi energi. Tentusaja ini bukan hanya BPMIGAS saja. Termasuk BHMIGAS dan Pertamina dan juga pengguna migas misal industri, PLN dan termasuk rakyat (DPR).
  • Pengambilan keputusan. Making descision merupakan handicap terbesar di industri migas. Problem utamanya bukan sebuah keputusan yang salah tetapi justru tidak mengambil keputusan dalam waktu yang tepat. Keberanian diperlukan, tetapi bukan kenekatan, tentusaja.
  • Yang lain nanti saja sambil jalan 🙂

Selamat bertugas Pak Pri !

Bacaan terkait :

8 COMMENTS

  1. pak Dhe RDP ini kok bisa punya waktu begitu banyak untuk nulis di beberapa blog ya, padahal isinya sangat mantab dan layoutnya perlu waktu untuk nyusunnya.
    Salut deh pak Dhe, ajari akau kalau sempat ya…
    Salam
    eshape

    –> Lah wong anda sendiri sudah pinter Membagi Waktu

  2. Salah satu tugas BPMigas adalah mempermudah/mempercepat birokrasi proses perstujuan/approval. Bagaimana kalau PSC dan BPMigas habis-2 an diskusi di Annual Work Program and Budget; untuk AFE biar PSC yg ngatur.
    Cost recovery supaya lebih efisien ya nggak usah rapat di hotel atau nggak usah keluar kota. Masing-2 KPS kan punya ruang rapat di jakarta yang bagus-2.

    –> Sakjane bukan mempercepat saja, lebih tepatnya adalah mengontrol. Kalau lambat dipercepat, kalau salah dibenerin, kalau ngga pas di-setel dll.
    Kalau soal rapat di hotel-hotel … mmmm ok deh ntar dibahas lagi
    🙂

Leave a Reply