Ketika anak lain mainan panjat pohon, dia diajak nyari minyak

22

Itu adalah gambaran John Hess anaknya Leon Hess yang menjadi CEO pemilik perusahaan HESS Corporation.

Dia jugalah mengatakan di Newsweek bulan Maret 2008, “Even at $100 a barrel, oil is still cheaper than a Starbucks latte” – “Walaupun harga minyak mencapai 100US$/barrel, itu masih lebih murah dari Starbuck ! “

Pandangan tentang energi masa depan ini mengisyaratkan bahwa industri migas masih dan mungkin malah semakin diperlukan karena “ketergantungan” manusia terhadap migas sebagai penyedia energi primer.

πŸ™ “Wah Pakde ngrasani bos besarnya nih ?”
πŸ˜€ “Bukan soal minyak Thole, tetapi soal bagaimana memberikan impian pada anak-anak kita, ini perlu looh”
(kita ? loe aja kali gwe enggak ..
:p upst )

Dirimu adalah impianmu sendiri.

Gambaran yang terekam di otak seseorang semasa kecil seorang CEO perusahaan perminyakan ini mengantarkan dirinya menduduki kursi CEO. Impian ini tentu tidak pernah lepas dari apa yang dilihat dan apa yang dialami semasa kecilnya. Impian itu selalu ada dan selalu tertanam sebagai sebuah “titik tujuan” kemanapun dia akan melangkah. Pada usia senja atau usia matang diatas 40 tahun, tidak jarang seseorang akan menjadi teringat atau justru tersadarkan bahwa apa yang sudah dicapainya atau posisinya pada saat itu adalah impiannya waktu kecil. Atau bahkan cita-citanya sewaktu masih TK-SD dahulu.

Berpikir besar sejak kecil

“If you’re going to be thinking anyway, you might as well think big.” Donal Trump

Mengajak anak menonton pertandingan sepakbola tingkat dunia akan membuat si anak beripikir tingkat dunia. Menemani anak menonton balap Formula-1 akan menanamkan benih impian kejuaraan dunia. Aku jadi ingat dulu di akhir 70-an setiap ada berita hasil balap Formula-1 di koran Kedaulatan Rakyat yang hanya gambar buremnya saja selalu saja bapakku nunjukin ke aku. Juga ketika ada kejuaran dunia di televisi selalu saja ditemani menonton. Sampai-sampai dulu ada pembalap yang selalu terngiang namanya misalnya Emerson Fittipaldi dan juga Niki Lauda. Nah, tahun lalupun aku mencoba mengajak kedua anakku melihat balap Formula-1 di Sepang. Ini termasuk usaha untuk memberikan gambaran bagaimana sebuah kejuaraan tingkat dunia itu diselenggarakan. Bagaimana penyelenggaraan yang sangat professional, dengan segala macam aspeknya. Juga bagaimana juara-juara dunia itu berlaga.

πŸ™ “Tapi kenapa Pakdhe ngga jadi pembalap ?”
πŸ˜€ “Karena lihat lombanya berpindah-pindah negara, dibenakku justru menjadi orang keliling-keliling dunia itu yang kepikiran”

Bahkan aku pernah mengajak anak-anakku menonton sebuah Band Rock tingkat dunia di Singapore silahkan baca ini Rock is my world. Group Band Dream Theater kegemaranku ini bukan group sembarangan, kalau diamati emang musisi rock yang teatrikal bangget. Akhirnya memang kedua anakku menjadi penggemar musik dan pemain musik. Bahkan semua jenis alat musik ada dirumah ini. Mulai dari Drum, Gitar, Bass dan keyboard Fantom-X8 pun tersedia. Tidak hanya disitu saja, setelah dikasi modal Digi002 sudah bisa buat lagu sendiri, main sendiri mulai dari gitar, drum, kibod, sampai nyanyi sendiri. Kalau mau mendengarkan karya pertama anakku 3 tahun lalu ketika abis lulus SMA, coba dengerin silahkan klik this-place-mixdown.mp3

Tidak harus membayar mahal dalam memberikan impian kepada anak-anak ini. Kalau anda memang tidak bisa menonton balapan Formula-1 di Sepang ya sudah ajak saja atau temani saja ketika ada acara balap mobil ini di televisi. Tetapi jangan ajak anak anda untuk menonton balapan moto kebut-kebutan malam hari di jalan raya. Selain membahayakan, akibatnya adalah menanamkan impian si anak juga hanya setingkat itu juga nantinya.

Demikian juga kalau bermain bola, boleh saja anak-anak bermain bola di lapangan depan rumah, walupun becek. Tetapi ajaklah dan temanilah dia untuk juga menonton kejuaraan dunia sepakbola.

Mengapa HESS ?

HESS merupakan salah satu perusahaan migas dunia yang dimiliki oleh seseorang atau paling tidak nama perusahaan adalah nama pemiliknya. Selain HESS tentunya ada yang pernah mendengar nama Murphy-Oil (miliknya keluarga Murphy), dahulu ada juga Huffco (miliknya keluarga Huffington). Nah perusahaan-perusahaan ini dibangun oleh individu yang memiliki jiwa entrepreneur sangat tinggi.

fortune500-2007.jpg

John Hess bukanlah yang mendirikan perusahaan HESS ini tetapi Leon HESS, bapaknya lah yang mendirikan. Namun sang bapak ini mengarahkan impiannya sejak dini, sejak John Hess masih kecil supaya mampu melanjutkan perjalanan usaha bisnis yang diajarkan sang bapak. Pada usianya yang masih 7 tahun, John HESS diajak bapaknya ikutan mengerjakan survey mencari minyak ketempat terpencil.

Dengan ajaran dini inilah maka John HESS mampu membawa perusahaan ini menjadi sebuah perusahaan migas yang masuk golongan yang terbesar yang masih menggunakan nama pemiliknya. Lihat grafik diatas yang menunjukkan bahwa HESS mampu menduduki rangking 24 menurut Fortune 500.

Berbeda dengan Roy Huffington yang mendirikan Huffco karena dia seorang Doktor Geoscientist yang gemar akan eksplorasi, tetapi mungkin tidak mengajarkan seperti Leon HESS. Ketika Roy Huffington sudah mengundurkan diri sebagai CEO dari usaha migasnya maka perusahaan Huffco-pun juga hilang dari usaha migas saat ini.

Perusahaan lain yang menggunakan nama pemilik sebagai nama perusahaannya adalah Murphy Oil. Perusahaan ini juga cukup besar di Malaysia, bahkan mungkin terbesar saat ini, karena produksinya di deep water Sabah yang merupakan lapangan migas pertama di Malaysia yang diproduksi dari laut dalam. Namun Murphy oil ini tidak dipimpin oleh keluarga Murphy. Walaupun salah satu keluarga Murphy masih memegang salah satu pimpinan tertinggi di Murphy oil.

πŸ™ “Looh Pakdhe sebelumnya bekerja di Murphy oil juga kan ?. Memangnya Pakdhe mau membuat perusahaan minyak juga ya ?”
πŸ˜€ “Amien !!” πŸ˜›

Jangan lupa berpikirlah BESAR sewaktu masih kecil.

sumber referensi

22 COMMENTS

  1. Pak de’
    ternyata pak de kerja di hess yaa..
    saya suka baca artikel pak de. tapi baru hari ini kepikiran untuk search artikel mengenai hess. dan ternyata pak de kerja di hess juga.
    waah, bisa di japri ke email kantor nih.
    mau belajar banyak tentang minyak dari pak de..

  2. ya kalo caranya “merancang” anak itu bener dan patut di contoh, g peduli dia itu jews duren, mangga, atopun apple.

    betul pak dhe??hehe

  3. wah.. serem jg yak. ngomong assalamualaikum tapi di belakang ngebinasain.
    saya liat di snoope site. di banyak ngelakukan pelanggaran lingkungan n di myanmar dia kyknya jg bantuin para diktator. emang dasar jewis ngepret!!!

  4. Maksudnya, selain didirikan SPBU (stasiun pengisian bahan bakar) juga perlu didirikan SPMMS(stasiun pengisian makanan dan minuman sopir)diantaranya ada starbuck biar sopir enggak ngantuk. Siapa mau coba?

  5. kalok menurut kata pak Hess, daripada juwalan minyak, mending juwalan kopi githu ya pakdhe πŸ˜€

    secara minyak dah dikompersi ke gas di Jakarta πŸ˜•

  6. “Jangan lupa berpikirlah BESAR sewaktu masih kecil”
    Iya, stuju Pak Rovicky…
    πŸ™‚

    *salam kenal ya Pak..*

  7. Think Big Start Small
    Emang, itu termasuk hal-hal yang saya kagumi dari sifat2 orang barat sana, gigih ,disiplin, profesional, pantang menyerah dan yang jelas diawali dengan berani bermimpi.
    Nice post
    Salam kenal πŸ™‚
    ( http://nenyok.wordpress.com )

  8. Pakdhe sudah pernah bertemu John Hess ini ?
    Bagaimana kesannya Pak ?

    –> “Ya, Aku pernah bertemu dengan John HESS sewaktu meninjau kantornya di Kuala Lumpur. Dia langsung mengucap Assalamualaikum … πŸ™‚ (lah wong Jews). Orangnya kliatan cerdas, persis yang digambarkan di Alkitab.Menguasai 6 bahasa, dan dirumahnya menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Ketika kutanya soal perkembangan minyak, ya jawabnya saat ini yang mengontrol demand/kebutuhan, sebelumnya dikontrol oleh supply.”

  9. Saya pikir di negara dimana “Setiap Individu dijunjung tinggi” berpikir besar jadi relevan.
    Kalo di negara dimana “Hanya pemimpin yang dijunjung tinggi” bagaimana pakdhe ???

  10. Wach bagaiman dengan orang-orang kampung yang kampung nya menjadi tempat ladang minyak Boss..???, mereka tidak perlu didongengin tapi mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri tapi hidupnya masih susah aja.
    Salam kenal

    –> Salam kenal juga.
    Aku pernah bekerja di perusahaan yang beroperasi di daerah P Bengkalis, Riau, pengamatan selintas memperlihatkan mereka yang hidup di Riau berdampingan dengan sumur-sumur minyak ini tidak atau jarang yang “bermimpi” untuk mengelolanya sendiri, dengan bekerja keras. Kalaupun ada seringkali sebelum mimpi itu berlanjut nyata sudah terlanjur ‘bangun’. Dan yang sering lebih menyedihkan mengapa banyak yg menjadi malas ketika mengetahui hidupnya harus mudah karena banyaknya sumberdaya alam. Mungkin ada benernya, sumberdaya alam itu bukan “karunia sumberdaya alam” tapi “kutukan sumberdaya alam” Howgh “

  11. hmmmmmmm…….
    kira-kira mirip jalan hidupku. tapi dalam kasusku mimpi itu ndak aku dapatkan dari orang tua, tapi aku bangun sendiri. di kampung saya yang terpencil dan terisolasi, jelas ndak ada kontak ke dunia luar. apalagi kelas dunia. satu-satunya kontak adalah dari para haji.
    tiap tahun atau beberapa tahun ada saja orang kampungku yang pergi haji dengan berbagai cerita. dari situ aku tahu bahwa untuk pergi haji orang perlu melalui rute kampung-pontianak(ibukota propinsi)-jakarta-mekah.
    nah, waktu itu sudah ada 1-2 abangku yang sekolah di pontianak. maka akupun berikrar: nanti aku mau sekolah tinggi. tamat dari sekolah kampung ini, aku akan nyambung (istilah kampung kami) ke pontianak, lalu ke jakarta, lalu ke mekah.
    rute yang terealisasi: kampung-pontianak-yogya (ugm)-sendai (jepang).

    salam
    hasan

  12. β€œIf you’re going to be thinking anyway, you might as well think big.” Donal Trump

    saya suka dengan istilah ini.
    terima kasih ya…buat artikelnya.
    mantap

  13. waduh…ketika anak lain manjat pohon… saya ngk boleh manjat om bos πŸ˜› maklum takut ketinggian, cerita nya top abis om bos…jadi suka nech baca dongeng om bos
    salam kenal

  14. Habis HESS mau kemana lagi pakdhe ??

    Lek ndang bikin perusahaan migas aja, ato mau bikin outlet starbuck ?? kan harganya lebih mahal dari minyak πŸ˜€

    *anw, kapan ya DT ke Indonesia :((

Leave a Reply