Ngobrol Memilih Pemimpin

7

Diskusi seru soal memilih pemimpin di mailist cukup seru. Awalnya karena adanya tulisan Indonesia looks to replace BP Migas chairman tentang perlu tidaknya mengganti kepala BPMIGAS. Tentusaja ini hanya sebagai pemicu saja, sedangkan apakah benar harus diganti itu bukan kompetensi saya. Tetapi berdikusi itu lebih bagus ketimbang berantem kan ? Dibawah ini komentar dalam diskusi-diskusi itu:

  • Ada yang mengatakan sebaiknya : “100% pure panggilan Ibu Pertiwi nothing else…he..he…”
  • Ada juga yang memberikan syarat lain : “Amanah, nggak? Bukan tempat mencari penggasilan lho….”
  • Pendapat lain menyatakan: “Sebaiknya orang dalam yang sudah berpengalaman”
  • Bahkan ada yang bersemangat: “Harus seorang pemberani !”

panggilan.gifSayangnya Bu Amanah dan Bu Pertiwi ini agak pendiem, anteng-anteng saja ngga mau manggil-manggil. Dengan demikian pemimpin yang diperlukan bukan karena panggilan Bu Pertiwi maupun Bu Amanah. Juga seringkali ada orang luar yang justru lebih berani, mboh berani mati apa berani hidup ya ? Jadi kitalah yang harus memilihkan buat “mereka” atau memilih sendiri buat kita ๐Ÿ™‚

Dalam memilih pemimpin ini ada satu filosofi yang jarang terpikirkan adalah tujuan dari penempatan si pemimpin baru, situasi apa yang bakal dihadapi si pemimpin itu dimasa kepemimpinannya dan juga lingkungan seperti apa yang bakal dia atur nantinya. Pemimpin baru biasanya diperlukan karena keputusan penanggung jawab perusahaan atau juga visi-misi institusinya disesuaikan dengan tigal hal diatas.

Melanjutkan program

ini sih raja, beda atuuh !Ada kalanya seorang pemimpin itu harus turun digantikan yang baru entah karena sudah pensiun, meninggal, atau bahkan untuk regenerasi. Kalau organisasi atau institusi ini akan “melanjutkan program-program” yang sudah ada dan berjalan serta dinilai bagus, maka pemimpin penerus yang diperlukan adalah dari mereka-mereka yang sudah memiliki pengalaman bagus dalam menjalankan roda organisasi. Pengalaman memimpin kelompok, dan pengalaman “membaca” program-program yang sudah ada serta mengerti potensi didalam untuk melanjutkan atau bahkan menyeleseikan program yang sudah disusun. pemimpin ini harus yang sudah dikenal, harus yang sudah dimengerti oleh anggotanya. Dan juga si calon ini mesti memiliki kharisma dalam membuat jalannya roda kegiatan lebih lancaarr … ๐Ÿ˜›

Melakukan Perubahan

source googleKalau perusahaan atau organisasi ini akan melakukan “perubahan” (reformasi, restrukturisasi dll) maka pemimpin yang dipilih dapat diambil dari luar lingkungan organisasi ini. Tentusaja restriksi akan muncul dan akan muncul “perlawanan” dari dalam. Lah wong karet yang katanya lentur saja kalau ditarik masih memberikan gaya untuk kembali ke bentuk asalnya, iya kaan ?. Ini menandakan selentur apapun, pasti daya tolak itu selalu saja muncul. Pemimpin perubahan biasanya memang tidak bertahan lama, tetapi memang tujuannya adalah “merubah arah” dari jalannya sebuah roda organisasi. Keberanian akan sangat diperlukan, termasuk berani ditentang, diejek, bahkan “dipisuh-pisuhi“.

Pengambil kebijakan dan pemilihan

Kalau untuk pemimpin politik dilakukan dengan pemilihan rakyat. Misal memilih gubernur atau memilih presiden. Di negara lain seperti Malaysia tidak dipilih langsung tetapi melalui parlemen, seperti Indonesia jaman dahulu.

Hmm Lantas siapa yang menentukan arah organisasi ? Kalau perusahaan bisnis, ya tentusaja “Board of director“. Merekalah yang bertangung jawab menentukan arah pergerakan perusahaan dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan sesuai dengan tuntutan Stake Holder. Kalau BPMIGAS, ya tentusaja atasannya BPMIGAS- lah yang punya kuncinya ๐Ÿ™‚

Jadi siapa saja yang mau dijadikan pemimpin ya tentusaja tergantung arah yang akan diambil oleh pemerintah dalam mengembangkan pengelolaan migas di dalam negeri ini.

๐Ÿ™ “Lah lantas pakdhe ngapain?”
๐Ÿ˜€ ” lah aku kan komentator dan pengamat saja, Thole”
๐Ÿ™ “Kalau dijadikan konsultannya mau ngga, Pakde ?
๐Ÿ˜€ “emm … anu … mck …”

7 COMMENTS

  1. Karena menghadapi kesibukan dengan ‘LUSI”saya tidak terlalu banyak tau tentang proses pemilihan Kepala BP Migas.
    Sehubungan dengan terpilihnya Pak Priyono menjadi Ka BP Migas, saya ucapkan selamat atas kepercayaan dan kehormatan baik dari Pemerintah maupun DPR, mudah-mudahan dapat menjalankan misi nasional yang sangat strategis terkait kegiatan Hulu Migas dengan efisien dan profesional.
    Demikian pula saya sebagai kolega lama dari Bpk Kardaya, selamat atas segala pikiran dan upaya yang telah dicurahkan pada BP Migas.
    pada kondisi harga minyak mentah di atas $100 per barrel maka ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap produksi minyak mentah Indonesia. Mereka umumnya masih dibayang-bayangi pada tahun delapanpuluhan ketika terjadi รณil boom’, produksi minyak Indonesia pernah mencapai di atas 1,5 juta barrel.
    Sehingga tantangan yang dihadapi oleh Pak Priyono adalah bagaimana bisa mengatrol selangkah demi selangkah namun pasti bahwa produksi minyak bisa kita katrol dari sekitar 1 juta menjadi 1,3 juta barel sebagaimana yang telah lama diharapkan dan diimpikan.
    Karena secara obyektif bahwa Migas di bawah pengelola sektor DESDM masih merupakan kontributor yang signifikan bagi APBN (>25%?), karena itu terobosan-terobosan termasuk didalamnya efisieansi dalam sistem industri migas secara langsung akan terkait pemasukan pada APBN.
    Isu ‘peak oil'(Hubert), Energy Security, dan perlindungan Lingkungan menjadi concern dalam melihat tantangan dan solusi penyediaan energi tak terbarukan berbasis fosil ke depan.
    Dengan tantangan makro dan mikro (internal terkait pembangunan kelembagaan BP Migas) sekali lagi Selamat Bertugas kepada Pak Priyona. Dan selamat Jalan kepada Pak Kardaya, untuk tugas-tugas selanjutnya.

    Catatan: saat BP Migas dibentuk berdasarkan UU Migas yang baru, maka pemilihan Ka BP Migas yang pertama dengan kandidat tunggal yang diajukan Pemerintah saat itu Dr. Rahmat Sudibyo, dilakukan Uji Kelayakan di Komisi VIII DPR RI. Saya kebetulan yang diminta Pak Rahmat saat itu duduk di belakang (seperti secondant), saat dilakukannya FPT. Sebelumnya Ketua Sidang mempersilahkan seluruh jajaran DESDM untuk meninggalkan ruangan, dan meninggalkan ‘kandidat Ka BPLS. Saya mengenang bagaimana Pak Rahmat mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi baik aspek teknis dan non-teknis, dan saya memberikan support dari belakang sambil memberikan sinyal ‘tenang-tenang jangan terpancing’. Akhirnya dengan suara bulat Dr. Rahmat S terpilih sebagai ketua BP Migas, sehingga Paradigma Baru UU Migas di Indonesia sekaligus melahirkan bayi BP Migas dan BPH Migas saat itu menjadi suatu realita.
    Demikian ekspresi cepat terkait terjadinya estafet kepemimpinan di BP Migas, sekedar melakukan kilas balik dimana saya terlibat pada perubahan paradigma tersebut, semuanya dengan harapan ke depan akan dan harus lebih baik.
    Salam Hormat
    Hardi Prasetyo

  2. Priyono Pimpin BP Migas
    Alih Istik Wahyuni – detikFinance
    Selasa 08/04/2008 16:01

    Jakarta

    Komisi VII DPR akhirnya memilih R Priyono sebagai Kepala BP Migas menggantikan Kardaya Warnika untuk masa jabatan 2008-2013.
    R Priyono dipilih setelah menjalani fit and proper test seperti dua kandidat lainnya Senin 7 April kemarin. Priyono menang dalam voting
    yang digelar Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/4/2008).
    Sebanyak 45 suara untuk Priyono dan 7 suara untuk Hadi Purnomo. Sementara Evita tidak memperoleh suara satu pun.
    Kardaya sendiri sebenarnya belum selesai menjalani masa jabatan yang diembannyasejak 2005 dan seharunya selesai 2010. Namun desakan dari
    Komisi VII sejak tahunlalu membuat pemerintah terpaksa melengserkan Kardaya dan mengajukan calon-calonbaru.

    Calon Kepala BP Migas ‘Diusir’ DPR

    Insiden menarik sempat mewarnai proses voting Kepala BP Migas. Setelah menunggu lama, ketiga kandidat Kepala BP Migas malah diminta kembali ke kantor masing-masing begitu pengambilan keputusan Komisi VII dimulai.
    “Katanya nanti dihubungi ke kantor,” kata salah satu kandidat R Priyono ketikameninggalkan gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (8/4/2008).
    Padahal, ketiga kandidat datang atas permintaan DPR. Bahkan Evita Legowo yang kini menjabat sebagai Sekretaris Timnas Bahan Bakar Nabati sudah menunggu sejak pagi.
    Sementara Priyono dan Hadi Purnomo jauh-jauh datang ke dari Purwakarta. “Saya tadi sedang rapat di Purwakarta, bareng pak Hadi,” katanya. ( lih / ddn )

  3. Yang Jelas Kepala BP MIGAS sekarang harus kerja keras mengejar target 1.3 barel/day nya pemerintah iya…nggak pak dhe….???
    (maaf klo commentnya salah…)

  4. masing masing dari kamu adalah pemimpin paling tdak memimpin dirinya sendiri,hahaha sebaiknya kalau ambil pimpinanan bumn diambil orang bermental bisnis bukan bermental birokrat,orang birokrat ndak bisa memajukan usahan,100% birokrat bisanya korup

Leave a Reply