Jual saja sebagian kecil sahamnya Pertamina di bursa

13

Pertamina-Selalu Hadir MelayaniBeberapa tahun lalu ada seorang kawan yang mengusulkan untuk menjual sebagian saham Pertamina di Bursa Efek Jakarta. Salah satu tujuannya memang jelas, untuk keterbukaan sehingga ada kontrol dari publik.

🙁 “Emangnya Pakdhe mau beli sahamnya juga, ya ?”
😀 “Ya nek duwe duik, Thole”

Apa efeknya kira-kira kalau saham itu dijual ? Berikut saya tampilkan bagaimana perkembangan saham NOC-NOC itu ketika dijual di bursa saham. Dan bagaimana performance perusahaan ketika sahamnya dibuka.

Ketika kawan diatas mengusulkan dalam sebuah diskusi di IAGI-net kalau ngga salah, belum ada studi yang mendasari untuk memperlihatkan sebagai evidence tentang penjualan saham NOC. Saat ini saya sudah bisa melihatnya. Dan anda juga bisa melihat bagaiman perilaku saham dan perusahaan-perusahaan ini.

Efisiensi NOC dan saham terbukanya.

Perbandingan efisiensi antara NOC yang dijual sahamnya dengan NOC yang 100% milik pemerintah dibawah ini tentunya akan menjelaskan sendiri.

noc_rank.jpg

Grafik diatas diambil dari refrensi dibawah. Angka (dalam kurung) dibelakang nama perusahaan itu menunjukkan jumlah saham yang dikuasai negara. Jelas memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan NOC yang 100% dimiliki oleh negara (government) memiliki efisiensi menghasilkan $ yang rendah ($/BOE – jumlah uang yang dapat dihasilkan dari setiap barrel minyak yang diproduksi). Saudi Aramco memang $/employeenya tinggi, artinya jumlah orangnya sedikiiit dibanding jumlah produksinya. Tetapi ini bukan menunjukkan bahwa perusahaan ini efisien dalam menggunakan tenaga kerjanya. Saya lebih cenderung mengatakan “geologinya mudah“, hanya tinggal ngebor saja minyak sudah ngocorrr …. deras

Perkembangan dan pergerakan nilai saham NOC vs IOC

noc_16.jpg🙁 “Wah , Pantesan Pakdhe pingin beli saham NOC ya ?”
😀 “Ya tapi prosesnya tidak bisa sertamerta Thole. Harus ada undang-undangnya”
🙁 “Halllah, bikin UU-nya saja mesti lama Pakdhe, kata bude keburu hujan !”

Kalau anda lihat grafik perkembangan harga saham perusahaan migas nasioolenal disebelah kanan ini, tentunya anda akan dengan serta merta akan membeli saham Pertamina kalau dia dibuka di BEJ, kaan ? Bayangkan saja dalam lima tahun berkembang menjadi 531 %, bandingkan dengan super bajor (BIG five) yang rata-rata hanya menjadi 113%.

Sepertinya menjual saham sebagian dari NOC akan meningkatkan efisiensi perusahaan secara signifikan. Juga akan meningkatkan keyakinan masyarakat (pemilik saham) untuk terus berinvestasi (membeli saham). Apalagi nilai sahamnya yang meningkat jauuh lebih cepat ketimbang saham IOC.

Referensi :

– “THE INTERNATIONAL OIL COMPANIES” by Amy Myer Jaffe, Wallace S Wilson, Rice Univ. NOV 2007.

Bacaan terkait :

Sumber referensi :

The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets, Rice University, April 2007

13 COMMENTS

  1. Saya setujui dijual aja sebagian saham pertamina ke publik 10-15 %. Biar lebih transparan dan di audit akuntan publik…

    Emang bener pak dhe survey dr barat kl employment pertamina masih politically driven… masak aku seleksi administrasi tes masuk fresh graduate aja gak lulus, malah 3 minggu setelahnya keterima di IOC di riau…

    Gimana tuh HRD pertaminanya…denger2 dr teman ada kandidat yg ngga ikut tes dr awal tiba2 di list final interviewnya mereka nongol…

  2. Ayefz, Giwang
    Dahulu ketika Pertamina masih juga menjadi pengawas dengan BPPKA-nya, memang hanya sebagai tuan tanah, dan “tuan tanah” itu sekarang Dirjen MIGAS (yang mbagi kapoling) dan BP-MIGAS (pengawas).
    Sekarang Pertamina EP (Pertahulu) dan Perta hilir) ya semestinya bersikap sama seperti perusahaan IOC saja.

  3. Kalau aku sih setuju aja Pertamina listing di Bursa asal mayoritas tetap ada pemerintah.

    OOT dikit pak dhe….
    katanya bener nggak karyawan pertamina itu gayanya kaya tuan tanah …padahal semua pekerjaan sudah sebagian besar dipegang kontraktor…beda dengan perusahaan bagi hasil yang lain???

  4. buat nambahin aja…buat perta..mengenai “subsidi” bbm…saya pernah baca bukunya kwik kian gie

    “kebijakan ekonomi poilitik dan hilangnya nalar” : by kwik kian gie”

    baca aja…

  5. Setuju pak !…

    Bikin itu Pertamina menjadi PT terbuka dengan listing di BEI. Sebagai salah satu alternatif mendongkrak kinerja mereka, seperti Telkom gitu lho …

  6. Wah tambah pengetahuan ni. Ada minyak ada gas.

    Andaikan saya yang mau ke Pondok Indah boleh nebeng Pak Dhe yang mau ke Pertamina di Jl. Merdeka sono. Dari Cawang ke arah Semanggi. Kira-kira Ongkos Gas ke Semanggi nya berapa Pak Dhe?. Apa mungkin Pak Dhe kasih saya Sangu Lebih biar saja bisa “Irit” ongkos Gas sampai ke PI? Secara Pak Dhe yang jual minyak ‘kan Untungnya lebih Gedhe.

  7. Emane je, wong pakdhe iki pinter banget kok yo ga melu pertamina toh… mbok yo mlebu pertamina ben pertamina tambah siip.

  8. Dasarnya saya dodol, nanya lagi boleh Pak Dhe. Mulai dari mana ya? Dari tengah saja ya, Pak Dhe. Tetangga jual 20 apel @ 500. Pastinya 500 sudah dihitung propitnya ‘kan Pak Dhe:).
    Jadi kebutuhannya 10 ribu, yak?.
    Nah, waktu kita (kita?… Pak Dhe aja kaleee.. yang jual, masalahnya gue nggak punya minyak sih :), maaf Pak Dhe, nggak bisa nahan, terlalu banyak nonton tv :(.
    Jual yang 100 @ 450 atau 100 @ 350 itu untung kagak Pak Dhe? (Betawi mode: ON 🙂 secara nanam apel di Malang sama di Jakarta ‘kan ndak selalu butuh biaya 10000 Pak Dhe (ngeyel dikit:). Nuwun tapi MASIH BINUN.com

    –> Kalau soal bingung aku dewe sering bingung. Tapi bingung menunjukkan bahwa kita ini “berpikir” (positip thinking aja).
    Bagi penjual atau penghasil, tentusaja masih untung kalau menjual dengan harga diatas dari biaya yang dikeluarkan. Itu prinsip untung dan rugi. Nah permasalahannya anda merasa bagian dari negara yg menghasilkan ini, atau anda berpikir menjadi rekanan atau konsumen dari penghasil ini. Saya sih berpikir bahwa saya merupakan bagian dari Indonesia, sehingga apapun yang dihasilkan oleh negara semestinya dihitung secara menyeluruh (netto). Kalau mencoba parsial, maka memang bener bahwa kita untung menghasilkan minyak, tetapi karena kita juga memakai minyak di dalam negeri maka kita kita tidak untung, karena secara netto kita membeli, bukan menjual.
    Dalam dunia migas, kita ini ‘tekor’ dalam menggunakan minyak, tetapi masih sisa kalau menggunakan gas-nya. Sehingga secara netto minyak kita “merugi” (rugi dalam tanda kutip), sedangkan dalam memanfaatkan gas kita “untung”.
    Masih bingung ? … sammma 🙂

  9. Mencoba ngelacak situsnya pakde dari mailist Migas_indonesia…Wah ternyata blog-nya pakde asyik juga ya.

    Pakdhe lha kalo kemudian saham pertamina diborong ama IOC terus gimana kejadiannya??

  10. Pak Dhe, benar tidak Oil Lifting di Indonesia Costnya hanya US$10 per barrel (159Liter) atawa Rp630 per Liter.

    Wah, harga jual BBM di Indonesia mahal sekali. Untung Geudhee dong yang jualan. Tapi ada subsidi lagi. Hitungan jelasnya piyee ni Pak Dhe, nuwun.

    –> “Kalau kita punya pohon apel menghasilkan 100 biji apel yang kalau dijual ke orang lain harganya 500,- perbiji, maka (hitungan secara ekonomis) kita memperoleh pengdapatan 50 000,- rupiah. Nah kalau biaya pupuk dan benih serta lainnya total biayanya 10 000,- rupiah, maka berapa kau akan menjual apelmu perbiji ? Dilain tempat kita perlu membeli beras, gula dan lauk pauk. Dan penjual beras, gula dan lauk ini juga menghitung dengan yang sama dengan kita loo …. Nah, problemnya ‘anak kita’ juga perlu apel (katanya “one apel a day to make a doctor away”, biar sehatt !!). Jadi kita menjual apel ke anak kita berapa ? atau digratiskan saja ? Ah enggak pemerintah menjualnya dengan harga 350,-/biji.
    Hitungan pemerintah adalah menjual harga apel 350,- untuk konsumsi dalam negeri, sehingga pemerintah mengatakannya telah mensubsidi sebesar 150,- perbiji, karena harga jual diluar 150,- rupiah lebih tinggi. Jadi pemerintah merasa telah nomboki 150,- perbiji supaya anak-anaknya sehatt !!
    Masalahnya, ternyata ada ‘anak kita’ yang nakal menyelundupkan atau menjual apel kita yang 350,- ke luar dengan harga 500. Jadi itulah bahayanya kalau kita mensubsidi BBM eh mensubsidi apel 😛 ”
    Lah kok kebetulan anak-anak ini sukaaaa banget sama apel, sehingga kebutuhan apel dalam negeri tidak hanya 100, tetapi butuh 120 (kita harus import apel 20). Lah yang 20 kan belinya dengan harga 500 dari orang lain. Yaaah, akhirnya pemerintah menaikkan harga apel di dalam negeri menjadi 450, supaya nomboknya ngga banyak-banyak. Kalau kita mampu menhasilkan apel 150 mendingan, berarti kita masih mampu menjual apel 30. Lah ini kemampuan cuman 100 tapi dimakan sendiri saja 120 … nombok lah kita ini dalam soal apel. Makanya kita harus memproduksi apel, atau kita mengurangi konsumsi dan ketergantungan dengan apel. Buahnya diganti jambu saja gimana ? 😀

Leave a Reply