Pergeseran peran NOC (National Oil Corporation) dalam kancah global energi

0

noc_1.jpgKetika menulis (terlalu) banyaknya politik yang “bermain” di Pertamina, langsung banyak yang ngirim email, “Aah, apa iya atau hanya sekedar issue menjelang pemilu 2009“. Wah pemilu masih tahun depan, kan ? Bukan, … aku bukan menghubungkan dengan pemilu tetapi aku hanya ingin mengungkapkan bagaimana strategisnya NOC (National Oil Corporation) dalam sebuah negara saat ini.

Sekali lagi hanya mengingatkan bahwa jumlah cadangan migas di dunia saat ini berjumlah 1,119.615 (World Oil) hingga 1,292.936 (Oil and Gas Journal). Dari jumlah itu lebih dari 77% dikuasai oleh NOC. Dan produksinya saat ini lebih 50% diproduksi oleh NOC. Artinya secara relatif, IOC (International Oil Corporation) lebih banyak memproduksi minyaknya ketimbang NOC yang cenderung “menahan” atau menyimpan untuk persiapan di masa sulit mendatang.

🙁 “Kalau gitu apa artinya ya, Pakdhe ?”
😀 “Banyak yang bisa disimak, Thole. Mungkin NOC lebih berpikir ‘menyimpan’ untuk masa depan, mungkin juga NOC kurang cerdas dalam memproduksi, atau IOC hanya berpikir sepanjang masa kontrak saja, sehingga cenderung menyedotnya cepat-cepat”

Bagaimana kalau NOC vs IOC dihadapkan head to head ?

Pergeseran sumber energi global

worldenergy.jpgNOC atau National Oil Company adalah perusahaan minyak yang dimiliki atau dikuasai oleh negara (state corporate). Perusahaan ini kebanyakan awalnya hanya sebagai regulator (pengatur) namun akhirnya banyak yang berevolusi menjadi sebuah perusahaan minyak yang juga ikut beroperasi. Pergeseran ini sangat mungkin dipicu oleh perubahan geopolitik dunia serta semakin langka atau justru semakin terkuncinya kebutuhan energi minyak dalam mengisi kebutuhan energi primer di dunia. (Bacaan terkait “Kemana “lari”nya minyak bumi ini ?).

Produksi minyak mungkin masih akan bertahan hingga 2020-2030, tetapi setelah itu harus ada sumber energi lain yang mampu menggantikannya. Oleh sebab itu kepastian pasokan energi ini menjadi hal yang penting dan harus dimulai dari saat ini. Dan sepertinya inilah yang menjadi dasar mengapa terjadi pergeseran peranan NOC dari regulator menjadi operator.

Siapa saja sih NOC dan IOC itu ?

    NOC yang terkenal (cadangan dalam milyar barrel) antara lain: Saudi Arabian Oil Company (295); National Iranian Oil Company (287); Qatar Petroleum (165); Abu Dhabi National Oil Company (137); Iraq National Oil Company (137) ; Gazprom Russia (115); Kuwait Petroleum Corporation (107); Petróleos de Venezuela S.A. (102); Nigerian National Petroleum Corporation (62); National Oil Corporation (Libya) (45); Sonatrach Algeria (40); Rosneft Russia (35). Tentunya juga termasuk Pertamina (Indonesia) dan Petronas (Malaysia).

    Sedangkan IOC (International Oil Corporation) adalah perusahaan minyak yang usahanya terutama dalam bidang hulu Explorasi dan Produksi (Upstream) dan juga usaha pengilangan dan pemasaran (Downstream) antara lain yang sering disebut major Exxon-Mobil, Chevron, BP, SHELL, dll. Dan juga perusahaan lebih kecil (independent) seperti HESS, Murphy oil, dll. Kepemilikan perusahaan ini seringkali ada pada personal maupun dijual dalam stock exchange market (pasar modal).

    🙁 “Looh kalau Schlumberger itu apa Pakdhe ?”
    😀 “Mereka itu golongan ‘services company’, ada yg sangat besar assetnya diantaranyaSchlumberger, Halliburton, Baker, dll. Jadi kamu harus tahu ada beberapa kelompok perusahaan di bidang migas”

    Tidak seluruhnya IOC merupakan saham swasta, beberapa merupakan gabungan. Misalnya Shell yg dimiliki kerajaan Belanda, BP, ENI, Total dsb.

    Membandingkan beberapa NOC

    Dibawah ini ada beberapa gambar yang menunjukkan posisi beberapa NOC dan juga perbandingan dengan IOC di dunia. Sumber dari gambar dibawah ini kebanyakan dari studinya Rice University yang dilakukan beberapa tahun ini dan dipublikasikan pada tahun 2007. Jadi bukan berita baru tetapi (mungkin) jarang yang mengamati.

    Kebijakan Socio-economic di NOC

    Karena perusahaan ini merupakan state company atau milik negara tentusaja ada tujuan sosial. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya mengapa Pertamina itu penting, karena fungsi ini akan melekat pada sebuah state company.

    noc_2.jpg

    Masing-masing NOC tidak sama dalam menyikapi perubahan peran NOC dalam global energy market shift. Disini terlihat bahwa untuk Indonesia, Pertamina tidak lagi bertanggung jawab dalam energy security (ketananan energi nasional). Bahkan menurut studinya Rice University ini, kebanyakan kebijakan Pertamina merupakan kebijakan politik. Pertamina seolah menjadi banci (maaf) karena gaya atau policy ekonominyapun juga tidak dominan.

    Tapi jangan buru-buru sewot, ini kan pandangan orang luar terhadap pertamina. Hanya orang dalam yang mungkin lebih pas memberikan keterangan. Dalam sebuah acara BUMN Executive Breakfast Meeting di Pertamina tanggal 10 May 2007 diadakan pembicaraan bertopik : “Menuju Ketahanan Energi Nasional” yang tentusaja dihadiri oleh Menteri ESDM, dll. MESDM sangat konsen dengan peran Pertamina dalam energy security ini. Tapi sebaiknya untuk khususnya Pertamina ditulis terpisah saja ya. Kita bicara NOC di negara-negara lain.

    🙁 “Jangan lupa lo, Pakdhe. Pan aku pingin tahu bagaimana Pertamina dipandang oleh orang lain juga”

    Efisiensi penggunaan tenaga profesi

    noc_3.jpg

    Cirikhas perusahaan negara adalah memiliki jumlah pekerja yang sangat buanyak. Hal ini tentusaja menjadi tolok ukur efisiensi dibanding jumlah minyak yang dihasilkan. Sekali lagi salah satu tujuan dibentuknya NOC adalah menampung tenaga kerja lokal. Petrochina merupakan perusahaan yg memiliki cirikhas ini, memiliki pekerja sangat banyak tetapi output/produksinya sedikit. Tetapi China juga memiliki NOC lain yaitu CNOOC yang lebih efisien dalam menggunakan tenaga profesionalnya.

    Aramco juga terlihat efisien, tetapi harus dimengerti bahwa lapangan-lapangan minyak Aramco sangat buagus, dan “mudah” dioperasikan. Produksinya yang suangat banyak ini akhirnya “menipu” (mis lead) .

    Dari ilustrasi grafis diatas memperlihatkan bahwa IOC besar menggunakan tenaga kerjanya cukup efisien. Hanya dengan memerlukan 19-27 tenaga professional mampu memproduksi setiap juta minyaknya.

    Jumlah produksi di dalam negeri

    noc_5.jpgNOC ini tentusaja juga beroperasi di negerinya, namun juga ada perusahaan lain yang juga beroperasi sebagai produsen. Shingga tidak seluruh produksi sebuah negara itu dapat diklaim sebagai produksi dari NOC-nya. CNOOC kecil produksi dalam negerinya, tetapi Pterochina cukup besar, sehingga total NOC china memiliki produksi cukup besar di dalam negerinya sendiri.

    Petronas memiliki operasi (daerah explorasi dan produksi) di negerinya sendiri, dan cukup kuat karena hampir semua blok selalu ada sahamnya Petronas Carigali sebagai local partner. Bahkan produksinya dapat mencapai 60% dari total produksi negeri itu. Hal ini disebabkan Petronas dapat mengeklaim produksi total negaranya. Untuk Pertamina, tunggu tulisan berikutnya ya 😛

    Produksi dan aktifitas di negara lain

    noc_6.jpgTidak semua perusahaan NOC ini melakukan kegiatan eksplorasi di luar negerinya (go international). Mungkin karena perusahaan NOCnya tidak hanya satu, sehingga ada pembagian tugas bagi NOC ini, atau cadangan serta pekerjaan rumahnya masih banyak yg belum selesai. Petronas merupakan perusahaan NOC yang paling aktif di luar negerinya, hal ini sangat mungkin disebabkan sudah merasa cukup puas dengan pekerjaan rumahnya, dan memiliki kemampuan berkiprah dan bersaing dengan IOC. Selain itu jumlah cekungan di Malaysia hanya 3 yang utama dan tidak sekompleks diversitynya dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki Cekungan sedimen lebih dari 60.

    Malaysia justru tidak memberikan kesempatan perusahaan migas bermodal swastanya untuk bereksplorasi di negerinya sendiri. Misalnya Genting oil, yang justru melakukan kegiatan eksplorasi di Indonesia.

    Perolehan dari minyak yang dihasilkan perbarrel

    noc_7.jpgData tahun 2004 ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan itu mengelola resourcesnya. Terlihat bahwa kebanyakan NOC tidak mampu mengalahkan efisiensi dari perusahaan migas IOC. Ya tentusaja, kalau dilihat diatas jumlah pekerja professionalnya saja sangat banyak di NOC ini. Statoil dari Norwegia ini merupakan contoh paling bagus dari perolehan perbarrel minyaknya. Bahkan mampu mengalahkan perusahaan IOC lainnya.

    Statoil ini saat ini sudah menggandeng Pertamina untuk mengekspolrasi daerah deepwater (laut dalam) di Indonesia. Bahkan Statoil ini sudah membuka kantor di Jakarta. Apakah Statoil akan eksplorasi saja, tentusaja tidak. Stat oil ingin belajar tentang LNG dari Indonesia. Jangan lupa Indonesia merupakan negara pioneer dalam pengembangan LNG di dunia ini, looh 🙂 .

    Resource Replacement Ratio

    cadangan-produksi.jpgDalam studinya Baker Institute-Rice University juga disebutkan bahwa penemuan migas selama ini lebih banyak dilakukan oleh IOC, karena perusahaan ini lebih aggresive dalam melakukan eksplorasi. Namun juga perusahaan ini jugalah yang juga aggresif memproduksi. Sehingga Resource replacement atau penemuan cadangan pengganti di perusahaan IOC sangat buruk. Kalau hal ini berlangsung terus, maka cadangan migas global akan lebih cepat habis sebelum mendapatkan pengganti.

    Disebelah ini grafis cadangan minyak di negara-negara terbesar kandungan minyaknya, dan sisa waktu apabila diproduksi dengan laju konstant. (sumber data : Wikipedia)

    Secara global perilaku ini akan membahayakan ketersediaan minyak dimasa depan.

    Beban sosial NOC

    noc_4.jpg

    Selain memiliki tugas untuk menjaga kontinuitas pasokan energi untuk negaranya, NOC juga sering dibebani dengan tugas sosial, antara lain dengan menyediakan BBM bagi warga negaranya. Disebelah ini grafis yang memperlihatkan bagaimana perbandingan harga BBM di negara-negara di dunia yang memiliki NOC. Memang tidak mudah mengelola NOC tetapi itulah tugas NOC.

    Di China harga BBM cukup mahal, namun kalau dilihat dalam chart socio-economic diatas terlihat bahwa ada pembagian tugas di beberapa NOC yang dimiliki China. Sinopec merupakan NOC China yang bertanggung jawab terhadap welfare rakyatnya, namun pertimbangannya tetap bukan politik tetapi pertimbangan ekonomi. Sedangkan NOC-China lainnya (CNOOC) merupakan perusahaan NOC yang tugasnya mirip IOC, yaitu profit oriented.

    Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia memiliki Pertamina yang memiliki peran strategis dalam menentukan ketahanan energi nasional. Tapi pertamina ini unik dan khusus, sebaiknya didongengkan terpisah, ya ? 🙂

    Apa yang bisa dipelajari ?

    🙁 “Wah ini cirikhas Pakdhe, belum apa-apa udah disuruh dipelajari. Kapan main D-3nya Pakdhe ?” 😛

    Ada beberapa hal yang patut kita pelajari tentang kiprah NOC-NOC selama ini.

    • Peran NOC menjadi strategis untuk negara-negara yang energi primernya masih mengandalkan migas (seperti Indonesia).
    • Peran kebijakan sisio-politics sebuah NOC sangat menentukan kinerja perusahaan yang bersangkutan.
    • Tidak ada kesamaan antar satu NOC dengan NOC yang lain. Masing-masing memiliki cirikhas yang disesuaikan dengan kebutuhan negaranya masing-masing.
    • Satu negara dapat memiliki beberapa NOC untuk memberikan pembagian tugas.
    • Tidak semua NOC berevolusi atau bercita-cita menjadi seperti IOC.
    • Peran NOC yang kuat sangat diperlukan di Indonesia, …. Pertamina …. hmmm (tunggu tulisan selanjutnya)

    Dongengan terkait :

    Sumber referensi :

    The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets, Rice University, April 2007

    1 COMMENT

    1. Pak, saya baca dongengnya.. widihh menarik banget.. coba ahli seperti bapak gabung ke pertamina dan ikut membenahi ya…(mungkin nggak ya…)

    2. Pak Vicky…saya orang awam dalam perminyakan. tapi sangat miris melihat nasib perminyakan kita dimana sama sekali terasa bahwa kita belum menikmati apa-apa selain hanya kerusakan alam dan polusi. apalagi setelah mengatahui bahwa exxon mendapat keuntungan 13 juta setiap detiknya atau 3000 trilyun pertahun. dan buat kita cuma 25 trilyun

      saya mau bertanya pada Bapak…

      1. Apa yang harus dilakukan agar KITA BISA MENDAPATKAN HASIL YANG BESAR DARI tambang kita.?

      2. Mengapa para pemerintah tidak menarik ahli Indonesia dari malaysia (seperti Anda) dan dari manapun agar mengelola sendiri Tambang kita?

      3. Apakah kebijakan minyak, benar seperti sebuah konspirasi negara neokolonialisme saja yang sengaja bersekongkol, sehingga bagaimanapun kita pasti kalah dalam negosiasi?

      4. Apakah Anda setuju jika nasionalisasi dilakukan dengan cara militer ? (negara kita kan sedang terdesak dan rawan dalam ekonomi)

      Maaf saya sangat butuh jawaban Anda ? bahkan jika berkenan (bila jawabannya panjang) saya akan post di surat kabar

      Terimakasih Pak Vicky. Mohon jawabannya…

      Seorang yang sangat gusar dengan keadaan ini
      tapi tidak tahu harus

    3. […] Saat ini sering disebut-sebut the BIG five, yaitu lima perusahaan migas terbesar didunia. Terbesar dalam arti jumlah migas yang dikuasainya. Tentunya masih ingat bahwa jumlah minyak yang dikuasi IOC ini hanya sekitar 20% saja dari reserves dunia. Baca tulisan sebelumnya Pergeseran peran NOC (National Oil Corporation) dalam kancah global energi. http://rovicky.wordpress.com/2008/03/09/pergeseran-peran-noc/ […]

    4. Mo nanya bos : yang ngatur minyak dunia masih The Seven Sisters kan ?

      Terus, masih pantas nggak sih kita bertahan sebagai anggota OPEC, padahal negara kita sudah net imported ?

      Merdeka!

    5. yang kurang SDM-nya, kurang apa …..

      1. kurang pede
      2. kurang berani mengambil resiko
      3. kurang modal hehehehe tapi ini sih ngga seberapa penting
      4. ada SDM yang kekurangan poin 1 & 2 tapi mereka kurang moral hehehehe

    6. Pertamina apa kabarmu?? Kemana saja… lihat adikmu Petronas, ihiks… nasibmu Indonesia. Jangan sampai jadi tikus yang mati di lumbung padi… ihiks…

      Tanah Subur, migas berlimpah, laut kaya, pariwisata mestinya jagoan. Hutan cuma kalah sama Amazon. Belum lagi mineral lain… Yang kurang apa??

    7. Pak dhe…berarti UUD 1945 yg mengatur ttg bumi, air & kekayaan alam dikelola negara untuk se-besar-besar kemakmuran rakyat, jadi ndak relevan lagi no…? Lha..terus kudunya yg perlu menyesuaiken UUDnya apa pengelolanya…? ato cara berfikirnya. Mohon pencerahane pak dhe…?

      –> Jwb : Mas Agus,
      Yang tertera di UUD ya masih saja bisa valid. Hanya saja perannya diambil alih bukan lagi oleh (hanya) Pertamina lagi tetapi dibagi-bagi dengan BPMIGAS, DIRJEN MIGAS, BPHilir dll. Ini aku basa nanti ketika cerita Pertamina deh.

    8. Om, kok kalau mau cerita tentang PERTAMINA tidak dituntaskan sih… jd penasaran nih… tolong dong ceritain tentang PERTAMINA… yang punya moto selalu hadir melayani….

    Leave a Reply