Bambang Istadi: Profesionalisme Kasus LUSI – Lumpur Sidoarjo

0

dari-atas-5.jpgBagaimana seandainya anda kebetulan sedang menjabat sebagai seorang manajer yang tiba-tiba dihadapkan pada kasus pelik multi dimensi menyangkut kehidupan orang banyak ? Bagaimana kalau temasuk mengancam kehidupan perusahaan tempat anda bekerja, anak buah anda, kolega anda, bahkan mungkin anda sendiri. Berikut ini tulisan dari Pak Bambang Istadi yang meluahkan pemikirannya yang patut dijadikan cerminan atau pelajaran.

Sebagai sebuah pembelajaran yang patut dibaca. Ternyata posisi kunci dalam sebuah perusahaan ini tidak menjadikan Pak Bambang Istadi surut dari posisinya. Bahkan beliau dengan kesungguhan hatinya mempertanggung jawabkan, secara profesional yang dianutnya. Ujian ini bukan sekedar ujian S-3, tapi ujian hidup dan kehidupan yang menyangkut orang banyak.

Simaklah tulisan berikut :

Profesionalisme Kasus LUSI – Lumpur Sidoarjo

Oleh: Bambang Istadi

Mungkin saja tidak banyak dari kita yang pernah mengalami pekerjaan pelik, multi dimensi, dengan spektrum yang luas serta berkepanjangan. Saya mungkin salah satu orang yang beruntung dapat terlibat langsung dalam kasus besar Lumpur Sidoarjo.

Dalam menghadapi kasus seperti ini, sebagai perusahaan maupun individu, pilihannya hanya dua. Mundur teratur serta menutup diri seakan kasus tersebut tidak pernah terjadi dan menganggapnya hanya sebuah mimpi buruk serta berharap esok akan selesai dengan sendirinya. Atau pilihan lain adalah menghadapinya. Seorang bijak pernah mengatakan, kalau ada persoalan, maka hadapilah, jangan lari dari persoalan karena akan menghantuimu sepanjang hidup. Pilihan hadapi dan selesaikan inilah yang diambil oleh perusahaan tempat saya berkerja. Tidak lari, apalagi kabur keluar negeri, dan juga tidak menyalahkan pihak lain atau berpolemik saling menyalahkan.

Pilihan terakhir ini tentu penuh dengan konsekuensi dan menjadi sangat berat bagi para karyawan yang menghadapi kasus tersebut karena sudah sangat tersosialisasi di masyarakat bahwa perusahaan bersalah, bencana karena ulah manusia, tidak pakai casing, pemboran dekat lokasi penduduk dll. Resikonya pun sangat besar, beberapa rekan malah sudah menjadi tersangka dalam penyidikan polisi. Apapun yang dilakukan Lapindo selalu dicurigai, niatan dan bertindak yang baikpun selalu dipersalahkan.

Ada satu pelajaran yang sangat berharga yang saya dapatkan pada kasus ini dalam menghadapi public opinion. Yaitu baik media cetak maupun elektronik juga punya kepentingan. Banyak yang tidak melakukan pemberitaan berimbang, yang dimuat tidak selalu benar dan kadang tendensius. Bisa dimengerti karena di negeri kita bad news is good news. Sekali melakukan pemberitaan yang benar dan positif bagi Lapindo
dianggap melakukan pembelaan dan disuap oleh perusahaan. Sehingga banyak pemberitaan dan informasi yang beredar di masyarakat tidak
berdasarkan fakta atau data yang benar.

Tidaklah mudah untuk membuat sanggahan dan menjawab sindiran, tuduhan, dakwaan, trial and convicted by the press, meskipun telah berulang kali memenuhi undangan berbagai media dengan harapan mendapatkan pemberitaan yang berimbang. Data dan fakta yang disajikanpun tidak dimuat. Apalagi menjawab berbagai email di milis tak cukup waktu satu dua jam, sambil menyeruput secangkir kopi di depan komputer, sedangkan waktu sangat berharga untuk mengatasi hal-hal yang lebih penting. Bagaimanapun juga, masalah sosial kemasyarakatan musti kami prioritaskan.

Kesimpang-siuran serta tudingan juga saya temukan pada milis tertentu yang beberapa anggotanya dengan antusias posting simplifikasi proses terjadinya semburan serta menyalahkan perusahaan berdasarkan data dan fakta yang salah. Padahal proses geologi dibawah permukaan yang sedang terjadi begitu kompleks dengan berbagai variable yang sedang berinteraksi. Ada contoh lain yang “progresif” seperti sebuah paper yang ditulis oleh Davies et.al. yang dianut oleh banyak orang sebagai suatu kebenaran, padahal dia belum pernah kelapangan saat paper ditulis dan hanya mengandalkan penelitian secara remote, bersumber data di internet dan sumber2 lain yang tidak jelas. Saat berkomunikasi per email saya uraikan beberapa kelemahan hipotesanya dan beberapa fakta yang bertentangan. Tawaran saya untuk datang kekantor Lapindo pada Davies dan peneliti asing lain seperti Tingay dan juga peneliti lokal lain untuk menguji data serta fakta agar tidak mengambil konklusi secara sembrono sampai saat ini belum ditanggapi.

🙁 “Pakdhe Tulisan Davies ada disini Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006, kan ?”
😀 “Ya tulisannya Mazinni sebagai tandingannya ada disini” Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia

Pentingnya mengkaji data secara menyeluruh tidak sepenggal-pengal dan sumber data yang jelas ter-refleksi pada permintaan peneliti asing
seperti Mazzini et.al. yang meminta saya menjadi co-author untuk menunjukan pada scientific community bahwa mereka telah meng-access data yang dimiliki oleh Lapindo, karena menurut mereka di scientific community paper Davies dianggap tidak credible dan spekulatif karena
mengunakan data dari internet dan sumber2 yang tidak jelas.

Para komentator yang menghakimi Lapindo mendapatkan panggung dan dukungan masyarakat, dilain pihak, para peneliti yang terlibat secara
langsung dalam tim independen IAGI dan juga peneliti asing yang berulang kali datang ke Sidoarjo dan mengatakan LUSI sebagai fenomena alam, dianggap telah terbeli oleh Lapindo. Apa mungkin begitu banyak peneliti dan para professional menggadaikan integritas, reputasi dan
profesionalisme yang sudah lama mereka bangun? Sebagai pegawai, saya bisa dipecat kapan saja, lalu apakah pendapat saya akan berubah
tergantung dari siapa yang menggaji saya?

Sebagai profesional, integritas musti dipegang teguh berdasarkan nilai-nilai ilmiah, tidak boleh bohong atau memutar balikkan fakta, apalagi melacurkan profesionalisme demi uang dan jabatan. Maklum saja, persoalan lumpur Sidoarjo kini sudah merambah ke mana-mana sehingga
sangat multi dimensi dan multi kepentingan. Aspek teknis drilling, geologis, aspek sosial, penutupan semburan bahkan merambah ke aspek
politis untuk mengiring opini publik menyalahkan perusahaan.

Sumber Nature.comMeskipun banyak geologist beranggapan LUSI merupakan mud volcano, namun masih ada yang beranggapan bahwa drilling lah pemicunya. Daripada persoalan ini berlarut-larut, para drilling engineer perlu duduk bersama, melihat data dan fakta yang sama, berdebat lalu tentukan apakah ini merupakan underground blow out. Hal ini sangat penting karena akan menentukan apakah semburan ini berasal dari lumbang bor dan dapat dihentikan. Studi rock mechanics yang telah dilakukan mungkin akan membantu dalam pembuktian apakah batuan akan pecah diterjang semburan pada casing shoe yang merupakan titik terlemah pada lubang bor. Masih bisa dilakukannya sirkulasi lumpur bor pada saat sudah terjadi semburan dan hasil survey sonan log yang menunjukan tidak adanya flow behind casing menunjukan bahwa casing shoe tidak pecah. Seorang rekan saya yang merasa terdzolimi oleh tuduhan kesalahan pada prosedur drilling dan siap dikonfrontir head to head didepan komunitas ilimiah, berdebat dengan pihak-pihak yang selama ini menyalahkan prosedur drilling. Jika terbukti bersalah dia siap masuk penjara, namun sebaliknya pihak-pihak yang selama ini menyalahkan harus berani bertanggung jawab, begitu pintanya.

Jika didekati dari sisi geologi saja, barangkali persoalan lumpur Sidoarjo tidak berkembang seperti sekarang ini. Karena dari kacamata para geologist berkeyakinan lumpur tak dapat disumbat, melalui rekayasa secanggih apapun dan sudah mengatakan game over pada awal-awal semburan. Karena percaya semburan dari bidang sesar bukan lubang, dan kalaupun bisa dihentikan, merupakan bonus. Bahkan bukan tidak mungkin jika berhasil ditutup, akan muncul ditempat lain pada jalur sesar yang tereaktifasi atau pada titik-titik bubble yang sekarang jumlahnya lebih dari 86 titik. Dengan demikian, maka yang mesti dipikirkan dan dijalankan adalah penanganan dan pengelolaan lumpur di permukaan dan memindahkan penduduk ketempat yang lebih aman.

Pendapat dan konklusi ini bukan tanpa dasar, tapi didukung berbagai studi dan survey dilakukan dalam bulan-bulan awal semburan dengan
berkolaborasi dengan ITB, ITS, Lemigas, Bakosurtanal, BPPT dengan support yang sangat baik dari BPMIGAS dan tim independen IAGI serta para geologist yang concern. Survey geofisika yang saat itu masih memungkinkan mengingat kondisi lapangan yang tidak kondusif, dilakukan Lapindo antara lain resistivity, gravity, microgravity , VLF (very-low frequency) electromagnetic, dan microseismic untuk mempelajari sesar-sesar dangkal dan proses-proses geologi yang sedang berlangsung. Studi paleontology, geokimia, komposisi gas, water chemistry untuk memastikan sumber lumpur, sedangkan GPS monitoring dan leveling, penebaran gas bubble serta peta pola patahan dan studi analogi beberapa mud volcano disekitar Lusi seperti Porong collapse structure, Socah (Bangkalan, Madura), Wringin Anom (perbatasan Gresik-Mojokerto), Semolowaru (kampus Unitomo), Gununganyar (kampus UPN), Sedati (Sidoarjo), Bleduk Kuwu sangat membantu dalam membuat simulasi dan prediksi dampak daerah sekitar Lusi ditahun-tahun mendatang.

🙁 “Pakdhe microgravity, trus electromagnetic survey, resitivity, trus lainnya niku apa lagi to Pakdhe”
😀 “Ya udah besok di dongengkan, tapi sekarang dengerin dulu pidatonya Pak Bambang, ya ?”

Disisi lain ada pihak-pihak yang masih menganggap kemungkinan semburan bisa disumbat. Bahkan ada yang pernah menjanjikan dapat menutup lumpur dalam waktu singkat karena merupakan hal biasa dalam operasi pemboran, selesai ditutup sebelum ulang tahun Presiden SBY, begitu ucapnya. Sebelum dilakukan upaya penutupan semburan, terlebih dahulu harus disepakati apakah semburan lumpur Sidoarjo merupakan underground blow out atau bukan. Karena melakukan tindakan tanpa mengetahui penyebab semburan lumpur adalah tindakan yang spekulatif dan berbahaya serta memakan biaya sangat mahal. Dalam paparannya kelompok ini mengajukan anggaran US$ 123 juta untuk biaya 2 relief +1 target well, padahal referensi yang dipakai adalah Champion field blow out yang dimatikan dengan 20 relief well selama 27 tahun. Apakah betul mati karena relief well atau telah terjadi kesetimbangan tekanan dan depletion setelah 27 tahun? Kondisi geologi dan kejadiannya pun berbeda antara Champion field dengan Banjarpanji-1. Sesungguhnya banyak pelajaran yang bisa dipetik dari upaya penghentian dengan snubbling, side tracking, 2 relief well yang sebelumnya telah dilakukan. Data2 subsidence, fault reactivation dan hidrologi dapat menjadi acuan kenapa terjadi loss circulation, casing collapse, buckling, pressure gain dan masalah casing integrity lainnya yang memaksa penghentian usaha relief well. Kelompok ini menuding bahwa banyak kendala non teknis antara lain dana yang menyebabkan usaha relief well sebelumnya tidak efektif. Padahal pembayaran selalu dilakukan didepan sesuai permintaan kontraktor, bahkan uang sisa pembayaran yang diminta dimuka oleh kontraktor sampai saat ini belum dikembalikan ke Lapindo oleh kontraktor asing ini.

Meskipun para ahli terus berdebat, masalah-masalah sosial tidak boleh terlupakan. Dalam hal ini Lapindo tetap berkerja menangani masalah
sosial kemasyarakatan dan tidak pernah berpikir untuk menagihkan biaya yang telah dikeluarkan saat ini sebesar Rp. 2,94 triliun maupun yang akan dikeluarkan dalam memenuhi amanah Perpres No. 14/2007. Ini suatu komitmen meskipun 2 keputusan pengadilan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan telah memenangkan Lapindo dalam kasus semburan lumpur ini.

1 COMMENT

  1. Cukup Dibuang AIR nya saja. Kalau ambles, lumpur yang mengendap di permukaan seharusnya mengisi daerah amblesan.

    Anehnya, selama dua tahun tanggulnya koq belum ambles (formasi cangkangnya kuat juga ya?). Setelah dua tahun, growongnya harusnya cukup besar, terkecuali lumpur mengalir dari daerah lain (sungai purba).

    Disembur keluar seperti geyser. Coba dites, bor lagi di tempat lain yang diperkirakan satu aliran, kira-kira lumpurnya keluar nggak.

  2. Daerah itu tidak layak huni. Banyak gas berbahaya.
    Cabut IMB. Pemerintah/Pelayan Rakyat harus siapkan lokasi baru dari sekarang untuk segera pindahkan penduduk di lokasi berbahaya.

    Mud vulcano terus tumbuh tetapi tidak meninggi karena massanya encer yang melimpah ke laut. Jika lumpur terus mengalir bertahun-tahun ke laut, maka permukaan air laut akan terus meningkat.

    Beda dengan soil/rock vulcano yang tumbuh meninggi. Suatu perpindahan massa dari dalam bumi ke permukaan. Apakah ini menyebabkan adanya kekosongan dalam bumi yang menyebabkan penurunan permukaan di tempat lain. Jika penurunannya terjadi di dasar laut, maka akan muncul palung, sehingga permukaan air laut akan turun.

    Pross keseimbangan masa bumi dan permukaan air laut, mungkin masih ada.

  3. Jadi seandainya meskipun tidak ada kegiatan pengeboran di Banjar Panji ,di Sidoarjo akan tetap ada semburan lumpur…setelah gempa Yogya?? Begitu….???
    Maaf kalau ini pertanyaan ini kembali menjadi bagian dari simplifikasi…

  4. Dengan demikian, maka yang mesti dipikirkan dan dijalankan adalah penanganan dan pengelolaan lumpur di permukaan dan memindahkan penduduk ketempat yang lebih aman.

    Titik. Abandon Ship, Ready to set new civilitation.
    Jadi fokusnya jelas, lokalisir genangan, semburan baru dlll, tentukan peta terdampak, bedol desa. Siapkan dana.

Leave a Reply