Hardi Prasetyo: Melihat ke Depan Untuk Mencari Solusi Lusi yang Integral dan Holistik

16

hardiprasetyo.jpg

🙁 “Pakdhe, dapat kiriman dari Oom Hardi Prasetyo yang saat ini sebagai Waka BPLS. Ditayangkan ya Pakdhe”
😀 “Thole, Oom Hardi sepertinya mengirimkan tulisannya sebagai seorang ahli kebumian yang prihatin akan kondisi Lusi yang masih banyak menyisakan masalah. Jadi beliau sebagai pribadipun juga prihatin dengan Lusi binti Lula ini. Ada satu informasi yang sangat menarik bahwa Pak Hardi Prasetyo mengundang siapa saja untuk mengambil topik penelitian semburan Lusi ini untuk S1, S2, bahkan S3. Ayooo siapa tertarik ? Silahkan hubungi Pak Hardi Prasetyo, Waka BPLS”

MELIHAT KE DEPAN UNTUK MENCARI SOLUSI LUSI YANG INTEGRAL DAN HOLISTIK

oleh : Hardi Prasetyo

Yth Komunitas GeoNet,

Saya pribadi sangat menikmati sajian para Pakar ‘Geoscientists’ dan Ahli Perminyakan (termasuk ahli pemboran) yang telah berkontribusi dengan pemikiran cerdas, inovatif dan arif yang disampikan pada seminar Nasional Lusi, 29 Februari 2008.

AntaraSelain itu Seminar menjadi bernilai tinggi karena telah berhasil mengadirkan ‘Mbahnya Geologiawan Indonesia’ yaitu Prof Sukendar dan Koesoemadiata, Prof Hasanudin, juga hadirnya Mazzini mewakili komunitas Internasional ‘Ahli di bidang mud volcanoes’.

Saya juga menyimak dengan seksama Presentasi Prof. Rudi Rubiandini, yang dengan sangat optimis mengusulkan ‘Relief Well’ untuk membunuh Lusi yang mendekati durasi 2 tahun (29 Mei 2008). Sayang beliau meninggalkan seminar setelah presentasi, sehingga tidak dapat merespon secara langsung pendapat dari Ir Edy (Lapindo) yang dengan tegas dan berani menyatakan ‘asumsi yang dibuat tidak menggunakan data atau fakta yang benar’.

Adanya perbedaan antara fenomena geologi/alam versus underground blow out merupakan suatu realita yang masih berkembang. Untuk itu saran Dr. Adang Bahtiar agar ‘Dilanjutkan Forum Pakar dengan menanggalkan semua baju dan atribut untuk melihat data primer, bila perlu diwasiti oleh pihak independen termasuk dari Internasional, dengan muara untuk mencari solusi’ kiranya perlu diakomodasi dan direspon.
Pada kesempatan pembicaraan informal Dr. Adang menyampaikan harapan ditujukan kepada Bapel BPLS agar mengambil inisiatif sebagai ‘fasilitator’ karena dipandang relevan pasca berakhirnya masa bakti Timnas PSLS (saat itu ada Tim Pakar), untuk itu kami ucapkan terima kasih atas recognization kepada institusi Bapel Bpls.

Karena kebetulan kami dan Soffian Hadi berada di BPLS, maka pada hal yang paling mendasar kami berkomitmen untuk mendukung bila ada para ahli kebumian, perminyakan, pemboran dll yang akan melihat langsung perkembangan Lusi di lapangan. Lebih jauh lagi bila ada pihak yang berminat untuk menggunakan fenomena Semburan Lusi bagi penulisan karya ilmiah S1, S2, dan S3, karena bila kita menyimak secara obyektif makalah-makalah ‘berskala internasioal’ KEBANYAKAN justru ditulis oleh pakar dari luar negeri, dua diantaranya yang kami anggap mencerminkan perbedaan pandangan ’cause and trigger Lusi’ adalah makalah dari Davies dan Mazzini (2007).

Saya kagum dengan judul dan kata kunci utama dari Seminar Nasional Lusi 29 Feb di Surabaya tersebut untuk melihat ke depan dengan MENCARI SOLUSI. Sehingga biarkan para ahli bertempur/berdebat secara ilmiah atau akedemik mengenai penyebab dan pemicu Lusi, yang penting bagaimana Sendi-sendi Kehidupan masyarakat sebagai dampak sosial, ekonomi termasuk infrastruktur dapat secara bertahap dipulihkan.

Satu benang merah yang dapat diambil secara obyektif hampir semua pakar sudah menggunakan terminologi yang universal Lusi sebagai mud volcano, sebagaimana bila kita melakukan ‘browser’ Sidoarjo Mudflow yang muncul akan didominasi ‘Sidoarjo mud volcano’, termasuk SPOT yang mengkontribusikan Time Series Citra Satelit SPOT-5 dan FORMOSAT-2 menggunakan hedading ‘SPOT AND FORMOSAT SATELLITE IMAGE LUSI MUD VOLCANO’. Dalam kontek ini, apapun nama/terminologi yang ditetapkan, yang pling penting adalah bagaimana kita dapat berkontribusi untuk mewujudkan impian bersama ‘memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat di sekitar Lusi’. Sehingga the worst scenario sebagaimana dipresentasikan Prof. Hasanudi, tanpa suatu upaya yang serius Luapan Lusi pada kurun waktu s/d 30 tahun dapat meluas dari Peta Area Terdampat yang ditetapkan tanggal 22 Maret 2007.

Kami yang kebetulan diberi kehormatan dan kepercayaan Pemerintah terlibat dalam Bapel BPLS tidak dalam posisi menjanjikan apapun terkait kill or not to kill atua Kapan Lusi akan berhenti/dihentikan? Kami komit untuk bekerja keras dalam upaya penanggulangan Lusi secara integral dan holistik, dan disertai PerMohonan Doa Restu agar cobaan dan musibah Lusi yang sangat Komplek/Rumit ini dapat diakhiri menyeluruh (total) atau minimal diperkecil dampaknya…Amin

Hormat dan apresiasi kami kepada seluruh pihak yang telah dan akan berkontribusi dan merespon tantangan/misi besama (common challange and missions) tersebut.

Hardi Prasetyo

Masa Lalu Mantan Aktivis pada Organisasi Profesi:
Pengurus/Ketua MAPIN, IAGI, HAGI, ISOI, MKI, dll

16 COMMENTS

  1. QUICK RESPON OF LUSI MUD VOLCANO
    Article Posted in Website:
    Debate Renewed Over Cause of Lusi Mud Volcano
    http://www.earthcurrent.com/2010/10/debate-renewed-over-cause-of-lusi-mud.html

    Wednesday, October 6, 2010

    A group of Russian scientists has renewed the debate over the cause of the Lusi mud volcano in East Java, Indonesia. While the general scientific consensus has been that the volcano was caused by gas drilling in the area, the Russian team is pointing at earthquakes, which were initially considered but then dismissed, as the true cause of the mud volcano’s eruption.
    In May of 2006 the East Javan village of Sidoarjo was the victim of a volcano, a volcano that did not erupt lava, but rather scalding hot mud. The volcano has been erupting ever since, expelling nearly 30,000 cubic meters of mud each day, and it is expected that the volcano is capable of a continuing eruption for the next 30 years. Already the volcano has covered about seven square kilometers and about 11 villages, displacing about 40,000 people. A network of levees was constructed in 2008 to try and contain most of the mud, but there is continuing concern about the potential of the levee system failing.
    Mud volcanoes are created in two different ways. One way is for fractures to develop in rock that lays like a cap over mud deposits. If the mud is under pressure, it can rise to the surface through those fractures. The other method is for an an earthquake to liquefy buried mud, through a process called soil liquefaction, that then travels through pre-existing fractures up to the surface.
    A destructive earthquake and a series of after shocks that struck Java on the 27th of May was thought to have been the initial cause of the eruption, which occurred two days later on the 29th. However, the earthquake was soon downplayed by scientists as not having been powerful enough to have caused the volcano. Instead, evidence seemed to point to a gas drilling operation that was in the area.
    In a press release, Richard Davies, co-author of a journal article in Marine and Petroleum Geology addressing the volcano, stated, “The disaster was caused by pulling the drill string and drill bit out of the hole while the hole was unstable; . . . this triggered a very large ‘kick’ in the well, where there is a large influx of water and gas from surrounding rock formations that could not be controlled.” This kick, Davies argues resulted in fracturing rock in the area, which opened up routes for the pressurized mud to make its way to the surface. These findings, as well as those that supported it by other scientists led the company conducting the drilling, PT Lapindo Brantas, to be held responsible for the volcano, and as such required to compensate the thousands of victims affected by the mud flows. Additionally, thirteen Lapindo Brantas’ executives and engineers face charges of violating Indonesian laws.
    Research as to the causes of the volcano, however, is still ongoing, and the latest study, this time by a team of Russian geologists sanctioned by both the Russian and Indonesian governments, has gone back to the idea that it was earthquakes that caused the volcano eruption. The Russian scientists argue that if drilling had been the cause, an eruption should have taken place up the well, and not several hundred meters away as did happen.
    It is unknown at this time if this study will have any political or legal repercussions regarding the ongoing cases against Lapindo Brantas, but it is certain it will lead to further scientific debate as to whether the volcano was the result of man or mother nature.
    APPENDIC DOC OF SOURCE ARTICLE
    ASIA PACIFIC NEWS
    New study links Java quakes to Indonesia’s mud volcano
    By Sujadi Siswo | Posted: 05 October 2010 2039 hrs

    JAKARTA : It has been more than 4 years since an underground mud volcano in East Java erupted, submerging tens of thousands of houses in sludge. Up till now, experts cannot agree what caused one of the world’s worst environmental disasters.
    The latest study by a team of Russian geologists concluded that the mudflow was caused by two earthquakes in Java.
    Their research – sanctioned by both the Russian and Indonesian governments – is based on seismic data of the disaster area from 2003 till 2006 – when the mud started to flow.
    Their conclusion is that two earthquakes near Sidoarjo were responsible for the mudflow. The 6.3-magnitude earthquake that struck Jogjakarta in 2006 proved to be the decisive one.
    Two days later – some 185 kilometres away – an underground mud volcano erupted while a gas-drilling operation was underway in Sidoarjo.
    Since then, the mud has not stopped flowing, and there’s no indication when it eventually will.
    But environmental groups in Indonesia are sceptical about the Russian findings.
    “There was an international meeting of geologists in Cape Town, South Africa not too long ago. Experts from Lapindo were present. Majority of the experts concluded that the disaster was caused by drilling negligence, not by seismic activities or earthquakes,” said Berry N Forgan, executive director of Walhi Indonesia.
    The Russian experts – who have studied similar phenomena in Europe – argued that the drilling could not have caused the mud flow. “If that drill was the trigger, mud must go directly on that hole and to the top. Now in that place, we can’t see that situation. We know the first eruption was nearly 250 meters on site from well. And after that, during those times, there were some places of eruptions,” said Dr Sergey Kadurin, head of the Russian Research Team.
    The Russian findings also point to the existence of other mud volcanoes in Java, which could pose a danger as they sit on gas fields. “We can give recommendations on places where you can drill but need be careful,” said Dr Kaurin.
    Forgan said: “Indonesia has yet to have accurate data relating to geological conditions in Indonesia – in particular Java Island. Drilling activities should not have been allowed until we have accurate data.”
    Despite the warning, gas drilling activities continue in many parts of Java.
    The Russian experts’ findings have strengthened the Indonesian Supreme Court ruling that relieved the Indonesia government and Lapindo
    Brantas – the drilling company – of any responsibility for the mud volcano eruption.
    But environmental groups in Jakarta are not giving up the fight. They are exploring other avenues to bring to justice those who are responsible for the worse environmental disasters in the world. – CNA /ls

    QUICK RESPON AND COMMENTS OF ABOVE SHORT ARTICLE
    A NEW PARADIGM MUD VOLCANO LUSI: FROM CONTROVERSY TO SOLUTION AND FROM DISASTER TO RECOVERY AND ADVANTAGE
    CONTRIBUTED BY HARDI PRASETYO
    All my friends wherever you are:
    We are from the Indonesia-based view that the scientific controversy about Causing and trigerring Lusi let pass, when new data have been obtained at last the truth can be determined. In scientific terms there is no truth of a hypothesis, theory will be taken by vote, as is appropriate in the political controversy.
    For us in Indonesia, without debate triggered Lusi whether by the earthquake or drilling, but now increasingly understood that Sidorjo Hot Mud is one of the 15 mud volcano is developing in East Java, Central Java and Madura Island.
    The good news that has not been well known, that flow of speed previously Lusi peak 170,000m3/day, commonly used average 100,000m3/day, currently have plummeted around 15,000m3/day, and even this is dominated by warm water and a little mud.
    We think that in the development of mud volcano, Lusi has approached the period of rest (dormand period), this analogy with a mud volcano in Bleduk Kuwu, Purwodadi, Central Java, characterized the pattern of eruptions such as geysers, mud kick but there is no mudflow.
    Posture Lusi mud volcano is currently undergoing reorganization, the field in the rainy season is marked by the dynamics of avalanches and mudslides cold (like lava), even the lower mountain slopes have been colliding with the embankment mudguard.
    As the impact of multiple geological deformation is a very common occurrence of subsidence, and bubble with methane gas eruptions, especially on the west side of the area affected. Please note that the bubble is still in existence has an characteristics and control mechanism that is very calm with a major eruptions.

    Another thing, although the speed of eruption was very small and only water, but still volatile eruption centers totaling 1atau 2. Last 2 bursts occurred October 5, 2010.

    From the description gives the implication in the response Lusi eruption, the reality is still difficult for the disabled.To consider and make a decision whether to / not stopped it is necessary to understanding the anatomy and the controlling power Lusi today.

    All subsurface data and information mostly on the basis of geophysical and geological data before the burst of the year 2003-2006, as used by the Russian team. And in our understanding that the Government of Indonesia / BPLS until now has not yet cooperated to the handling of Lusi. Presentation of the Russian team which concluded Lusi on the trigger by 2 earthquakes, is the result of their investigation, published in 2009, among others, by the Russian Geological Research Board.

    For those who want to directly observe the new paradigm of Controversy to Solution and the switch to Disaster Recovery and headed to the usefulness, please come to Sidoarjo, East Java, we are willing to provide support for related information.
    Please pray his blessing for this disaster can be handled as much as possible, given that faced mud volcano is a natural phenomenon, so we must be realistic in efforts to harmonize with the Power of Human Nature.

    Yours Sincerely from Surabaya, Indonesia

    Hardi Prasetyo
    [email protected]; [email protected]

  2. Pak Hardi Prasetyo saya Don Meyler dari tvOne..skr sy sedang membuat dokumenter ttg kecelakaan transportasi laut. Kasus yg sy ambil kecelakaan teratai Prima O di Sulawesi tanggal 11 Januari 2009. Jika berkenan, kami akan mewawancarai Bapak ttg segitiga Masalembo dan pengaruhnya terhadap kecelakaan transportasi laut. trims…

    Don Meyler – 021 91310902

  3. Pak firman ini nomor Hp saya 08161657778, maaf karena bebrapa hal saya sering di lapangan sehingga baru sempat lagi buka situs ini, lain kali tolong juga disampaikan ke email saya [email protected]. Pada prinsipnya saya berkomitmen untuk mendukung pemikiran atau informasi yang relevan dan terkait bagi teman2 yang akan mengerjakan TA (S!, S2 dan S3). Sebagai catatan minggu terakhir ini saya menyelesaikan kompilasi Album Satelit Ikonos-CRISP Mei 2008, Timer series April-Mei, Kombinasi April 2007-2008, dan lain-lain bulan depan akan sebagai pembicara tunggal pada even yang diselenggarakan oleh Student Chapter AAPG Regional South East Asia di Malang. Pada even tersebut saya akan mensosialisasikan tip dan trik mulai dari akses data di situs CRISP, menghimpun kembali menjadi satu mozaik, registrasi dalam MapInfo, Overlay di Google Earth dan kombinasi dengan ‘ground check’. Hal ini tidak terkait teknologi atau metoda yang rumit tapi easy to use dan easy to learn. Yang penting masyarakat dapat memanfaatkan cyber net mengikuti dinamikan “Sidoarjo Mud Flow’.
    Kemarin sy sebagai pembicara tunggal tapi ditemani Pak Soffian Hadi di ITS judulnya sekitar ‘Lusi Mud Flow’. Saya sangat terkesan karena pada genarasi teman-teman Mahasiswa secara lintas universitas dan lintas disiplin mempunyai inovasi dengan melihat ke depan mencarikan solusi permasalahan Lusi secara holistik. Karana itu saya dan Soffian Hadi telah memberikan perhatian khusus ditemani oleh Dr. Widya Purnama dari ITS, tks Hardi

  4. Mohon bantuannya pak untuk menanggapi kuisener tesis saya,sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

    KUESIONER
    Nama Responden : ……………………..
    Pekerjaan : ……………………..
    Pendidikan terakhir: ……………………..
    Bidang Keahlian : ……………………..
    Bagaimana pendapat anda tentang penelitian ini :
    Judul penelitian : Kajian Pemilihan Lokasi Alternatif Kolam Pembuangan Lumpur Lapindo Menggunakan SIG dan Citra IKONOS di Jawa Timur
    Diteliti oleh : Firman Farid Muhsoni
    NIM : 23995/250/I-6/2006
    E-mail : [email protected] / [email protected]
    Telepon : 081931724270 / 08121692696

    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kolam alternatif pembuangan lumpur Lapindo dengan
    menggunakan Sistem Informasi Geografis dan citra IKONOS dan melakukan evaluasi volume daya
    tampungnya serta analisis biayanya. Penentuan lokasi alternatif pembuangan lumpur lapindo
    ditentukan dengan beberapa variabel penentu, yaitu: zona genangan, penggunaan lahan,
    fasilitas umum dan area dampak, dengan penjelasan sebagai berikut :
    – Zona genangan,didapatkan dari DEM yang merupakan hasil interpolasi dari titik ketinggian dari peta RBI dan data lapang. Kemudian dilakukan pemodelan untuk mendapatkan akumulasi aliran, arah aliran dan daerah aliran, sehingga didapatkan zona genangan.
    – Penggunaan lahan didapatkan dari digitasi visual citra IKONOS (terdiri dari : laut, tambak, sungai, saluran irigasi, sawah, ladang, hutan mangrove, semak belukar, lahan terbuka, pemukiman, industri, jalan).
    – Fasilitas umum didapatkan dari peta RBI dan citra IKONOS (terdiri dari : jalan utama/arteri, jalan kereta api, jalur pipa bahan bakar, pipa gas, pipa air, kawat tegangan tinggi).
    – Peta area dampak didapatkan dari Peraturan Presiden nomer 14 tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo.
    Keempat variabel tersebut mempunyai rangking pengaruh yang berbeda dalam menentukan lokasi
    pembuangan lumpur. Menurut pendapat saudara variabel mana yang mempunyai pengaruh yang paling
    penting dalam menentukan lokasi pembuangan lumpur (nilai pengaruh 1-10, nilai 1 mempunyai
    pengaruh yang kecil dan semakin besar nilainya menunjukkan pengaruh yang semakin besar,
    nilai pada masing-masing variabel bisa sama bila dianggap mempunyai besar pengaruh yang sama).

    No Variabel Nilai pengaruh (1-10)
    1. Zona genangan ……………..
    2. Penggunaan lahan ……………..
    3. Fasilitas umum ……………..
    4. Area dampak (Pepres No. 14 th 2007)………..

    Perlukah variabel tambahan selain variabel di atas : ………. (ya / tidak)
    , kalau ya variabel apa : ………………
    , berapa nilai pengaruhnya :…….. (nilai 1-10)
    Saran : ……………………………….

  5. I have a effective, low cost solution to stop the mud flow from the volcano, Lusi. For this I would like to contact Prof. Dr. Ir. Hardi Prasetyo or anybody who is in charge of the organisation Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Could anybody let me know the email address of Prof. Dr. Ir. Hardi Prasetyo or anybody else in charge?

  6. Buat Oom Hardi Prasetyo Yth di Tempat.
    Saya orang Gorontalo yang ingin tahu alasan mengapa permasalahan Lusi ini tidak pernah berakhir?
    Mengenai persoalan ganti rugi, mengapa pemerintah ikut bertanggung jawab pada korban lula ini? Padahal yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap masalah ini adalah Lapindo Brantas itu sendiri. Apa tanggapan BPLS tentang Pemerintah terhadap andilnya pada masalah tersebut.

  7. Yth. Sdr. Firman
    Saya sudah berkomitmen dengan latarbelakang saya diberi kehormatan sebagai Prof. Riset, APU oleh Negara menjadi kewajiban untuk melakukan pemacuan teknologi dan pembinaan/pencetakan sumber daya manusia.
    Sebagai konsekuensi aktivis MAPIN, saya berupaya dengan kondisi keterbatasan yang ada maka bagaimana kita dapat memanfaatkan keberadaan citra satelit resolusi tinggi bersifat public domain di dunia maya.
    Kami di Bapel BPLS mengembangkan standar procedure pemanfaatan citra satelit tersebut untuk MONEV day by day.
    Tersedia koleksi time series citra dari CRIPS-IKONOS, SPOT-5 dan FORMOSAT-2, yang dapat dimanfaatkan.
    Kita sudah bicarakan dengan teman2 di Bakosurtanal, perlunya high resolution 3 topografi antara lain dengan DTM, namun ketersediaan full image SPOT terbatas.
    Silahkan bila ingin ke lapangan, buat surat permohonan agar dapat diberikan izin yang berkelanjutan.
    Selamat bekerja keras, Sukses.
    Hardi
    Maaf tergesa-gesa ada berita dari Pusat Semburan saya harus segera meluncur.

  8. terimakasih sebelumnya kepada p. hadi atas kesempatan untuk bergabung dalam penelitian tentang limpur sidoarjo. Kebetulan saya mahasiswa s2 (UGM) yang sedang melakukan tesis berkenaan dengan lumpur lapindo. Kajian saya tentang pemodelan dinamik dengan data DEM dari data skala besar, yang kemudian dilanjutkan pencarian lokasi alternatif kolam penampumpungan beserta kajian daya tampungnya dan analisis ekonomisnya. Kami mohon komentarnya pak tentang topik saya. Bapak Hardi prasetyo menginformasikan ada beberapa data citra SPOT dan IKONOS, mohon informasinya webnya atau kemana kami bisa mendapatkan. Dalam waktu dekat kami mau melakukan pengukuran data lapang, mohon informasi tentang perijinannya apa cukup ke BPLS?

  9. Sdr/i Evin UPN,
    Maaf baru dapat merespon komentas 4 Maret 2008.
    Latarbelakang saya Geologi, yang saya pikirkan adalah bagaimana kita melihat fenomena Lusi dari data dan informasi yang tersedia.
    Saya mencoba membandingkan Lusi dengan ‘mud diapirism dan mud volcanism’ baik yang pernah saya kenal saat melakukan survei baik di forarc zona transisi Sumba-Timor, khususnya di busur belakang (Flores Thrust Zone) dan makin mendekati di Bali Lombok basin (pojok tenggara Sunda Shield Margin).
    Saya juga ingin menganalogikan suatu kontroversi pembentukan Gunung Api yang berada 400 km di atas benioff zone, yang sebelumnya banyak ditafsirkan sebagai hasil subduksi Banda Arc. Setelah kita melaksanakan Deep Seismic Reflection Profiles, menembus 25 s two way travel time (menembus Moho), diambil dari Laut Banda Selatan ke Tepian Benua Ausralia di sebelah barat Palung Timor, maka menjadi sangat jelas bahwa Gunung Api terbentuk sebagai ‘leacky transform’. Sesar transfrom dapat diamati dengan teknologi pencitraan dasar laut menyamping GLORIA (Swath 50 km) dan SEA MARC II (swath 10 km), membentuk sutu deretan seamount arah timurlaut-baratdaya. Jadi Data baru dengan konsep baru memecahkan kontroversi.
    Demikian pula dengan kombinasi teknologi multichannel dan high resolution water gun seismic reflection profile, Citra SeaMarc II, percontohan sedimen ‘pison cores’ saya dan kelompok ahli kebumian dari USA mendapatkan Diapirism dan Mud Volcano antara lain: 1) di P Timor dan sekitar Aru 2) bagian depan deformasi sedimen tepian benua Australia di barat komplek Akrasi tumbukan kontinen dan busur di pojok Timur Parit Sunda 3) Savu Backthrust yang merupakan amalgamasi antara terrain Sumba (uplift continental slivers) dengan terrain Savu (komplek akrasi tepian benua Australia, 4) Flores Thrust Belt yan berhasil kita citra dengan rinci menggunakan teknologi SeaMARC II, merupakan tahap awal Arc Reversal Polarity, 5) Bagian deformasi Bali-Lombok sub-basin yang dipengaruhi propagasi pemendekan ke arah barat dari Flores Thrust, dengan evolusi tektotik rezim ekstensi Paleogen, inversi pada Miosen, dan terakhir zona kompresif akibat tumbukan Australia-Busur Banda (Saya presentasikan di konvensi IPA), 6) saat pertama meminpin ekspedisi dengan KR Baruna Jaya III di cekungan Bali-Makassar Selatan, saya menemukan indikasi zona perlipatan dan mud diapirsm yang saya sebut saat itu ‘Bali Forld’ , 7) Semburan Lusi dengan tektonik setting bagian timur Jawa Sea Basin, sangat dipengaruhi evolusi tektoik di ‘southern Sunda Shield Margin’ yang saat ini menempait modern ‘backarc’. Catatan dari Banda ke easteran Jawa Sea Basin’ Cekungan busur belakang modern menunjukkan bukti-bukti didominasi tektonik yang transpresif-kompresif. Namun, keberadaan Lusi (backarc) yang sangat dekat dengan busur guung api (Pananggunangan, Arjuna) sehingga sangat rasional bila beberapa ahli menafsirkan sumber panas yang demikian tinggi menginduksi Lusi baik langsung atau tidak dipengeruhi oleh ‘magma’ baik aktif maupun yang dalam proses pendinginan.
    Saya juga sudah berhasil mendapatkan dokumen Tesis S2 dan S3 yang menggunakan penampang seismik refleksi untuk memecahkan takbir ‘mud diapirsm dan mud volcanism’.
    Saat ini dua paper ilmiah tentang Lusi yang mencerminkan paradok atau kontroversi teradap penyebab (causing) dan pemicu (triggering) Lusi adalah Davies dkk. (Feb. 2007) dan Mazini dkk (Juli 2007). Secara obyektif menjadi tantangan bagi seluruh geoscientist Indonesia untuk secra formal dapat mengkontribusikan suatau karya yang benar-benar berbasis ‘kebenaran akademik’, hal ini sebagaimana diharapkan oleh Adang Bachtiar, yang melihat kok rasaya ada yang digalaukan atau dikhawatirkan dlam mengeluarkan pendapat?
    Catatan terakhir, karena saya kebetulan telah terlibat lama dengan MAPIN (Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia), maka sejak ditugaskan terlibat di LUSI, saya mengembangakan Monev Lusi secara periodik dan bulanan, dengan memanfaatkan dan mendayagunakan citra satelit resolusi tiggi (5m) yang bersifat public domain antara lain: 1) citra bulanan SPOT-5 dan Formosat-2, 2) citra bulanan resolusi 5 m IKONOS_CRISP, 3) kemampuan overlay dan 2,5D di Goggle Earth. Citra satelit tersebut diintegrasikan dengan ‘image coordinate registration’ dng Map Info juga dapat diinsert ‘citra full screen and resolution’ dengan fungsi add image di ‘Google Earth’.
    Hal-hal di atas saya ingin menggambarkan sebenarnya tersedia informasi disamping ‘murah dan meriah juga cukup bernilai’ yang telah tersedia antara lain di dunia maya untuk kita memulai.
    Ke inginan untuk melihat batuan ‘cutting’ pemboran BJP-1 anggap saja sebagai suatu harapan dan impian indah, mudah-mudahan dapat menjadi realitas. Komitmen pak Eddy untuk MULAI MEMBUKA BLACK BOX DATA PEMBORAN telah dikumandangkan secara formal tanggal 28 Februari, bisa anda tagih, saya hanya jadi saksi … Enak Ya.
    Demikian, salam hormat saya kepada Prof. Dr. Ir. Bambang Pratisto, sama-sama alumnus Karang Sambung.
    Saya juga punya harapan pada Tanggal 8 April 2008 bertepatan dengan Ultah BPLS bisa mengkontribusikan sesuatu yang bermakna.
    Mudah-mudahan tugas akademik dapat segera dilaksanakan dan Sukses.
    Hardi Prasetyo
    Catatan: ini tulisan cepat, belum diedit (lebih merupakan quick respons)
    melakukan ‘penelitian’

  10. Pak, apa program BPLS tahun 2008 ini? pembuangan lumpur ke S Porong terus berlanjut dan apa selalu disiapkan dredger seperti tahun lalu? Sampai elevasi berapa lumpur di S Porong akan dikendalikan?

  11. Pak, saya mau ambil topik penelitian skripsi saya ttg LUSI ini…

    Bagaimana kemungkinannya pelaksanaan dalam pengambilan sampel LUSI yang ada di dasar sumur BP-1

  12. Wah…saya sebagai penduduk sidoarjo….ingin tahu nih akhir dari “drama” ini…
    Semoga tawaran dari Pak Hadi ini ada yang merespon…dan diterbitkan dalam Surat Kabar secara bersambung….

  13. Keterangan gambar: Hely fly over Siring memperlihatkan padatnya lalu lintas di sekitar jembatan putul, dan Pembangunan Tanggul Siring Barat untuk melindungi infrastruktur jalan nasioal dan Rel KA. Pada bagian dalam terlihat Tanggul Siring Timur (10-15),dalam perkembangannya karena dahsyatnya pengaliran Lusi ke utara, maka tanggul-tanggul Siring Timur ‘is all over’ alias tenggelam. Sehingga terjadi konglomerasi atau amalgamasi dimana Pond PerumTAS telah menyatu dengan Pond-pond yang ditenggelamkan yaitu Siring, Marsinah dan Ketapang.
    Citra satelit Ikonos, Spot, Formosat, dan CRISP memperlihatkan proses sedimentasi ‘sediment gravity flow’ atau ‘debris flow’ yang intensif membentuk sedimen kipas (sediment fan) di Pond PerumTAS, di utara dari Pusat Semburan. Antara lain di picu oleh berlanjutnya pengaliran Lusi ke utara secara proses alami (natural process) karena adanya gradien topografi yang signifikan antara pusat semburan dan Pond PerumTAS.
    Proses aliran lumpur (sediment gravity flow) telah memicu runtuhnya (jebol) tanggul-tanggul baik di barat (Siring, Ketapang) maupun di timur (Glagaharum, Renokenongo), antara lain dengan mendorong kolom air di bagian depan.
    Secara umum kenampakan bentang alam Lusi merupakan perpaduan dan keseimbangan antara proses geologi (alam) diwujudkan sebagai gunung lumpur dengan proses antropogenik dimana manusia membangun tanggul-tanggul dan kolam penampungan lumpur agar Lusi panas tidak meluap tanpa terkendali.
    Mohon bisa dipadukan foto tersebut yang agak lengkap dengan citra IKONOS_CRISP (resolusi 5) yang memperlihatkan fan shape dipicu proses sediment gravity flow dengan outlet/Apex di overflow sebelah timur pusat semburan, bagian distal dan topographic low terdapat genangan air baik dari sumber dalam maupun air hujan.
    Hardi

Leave a Reply