Jakarta yang “makin” sumpek – 2. Tak se’sexy’ dulu !

17

pindaah.gif

Jakarta berkembang pesat !!

Setelah melihat perkembangan Batavia masa penjajahan dengan nama awal Jacatra (Proto-Jakarta), sekarang kita lihat bersama perkembangan Modern-Jakart.

🙁 “Pakdhe, Jakarta itu berkembang cepat atau berkembang tak terkontrol ?”
😀 “Hust !”

Ya, benar Jakarta berkembang sangat pesat setelah kemerdekaan, suangat cepat !!. Perkembangan Jakarta dapat dilihat dari statistik jumlah penduduknya. Juga perkembangan Jakarta dapat dilihat juga dari perkembangan penggunaan lahan. Berikut ini ada peta perkembangan Jakarta setelah ditangan Indonesia. Maksudte setelah rakyat Indonesia mampu mengembangkan diri secara mandiri, MERDEKA !. Lihat penjelasannya dibawah.

Garis pantainya maju-mundur !

pantai-jakarta-maju.jpgPerkembangan Jakarta tidak hanya manusianya tetapi perlu juga dilihat perkembangan alamnya.

Disebelah ini memperlihatkan bagaimana perkembangan garis pantai di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa. Tentunya masih ingat bagaimana awal dari Batavia, kan ? Kalau lupa silahkan tengok lagi “Dahulu jamanya Jacrata”. Peta ini dibuat oleh Prof. Otto Ongkosongo, beliau bekerja di Lembaga Oceanografi LIPI, yang berkantor di Ancol.

🙁 “Pak Otto ini kawan Pakdhe, ya ?”
😀 “Beliau satu alamamater, tapi dahulu aku pernah bersama beliau naik Phinisi Nusantara, bersama Pak Gita Ardjakoesoema (kapten Kapal) keliling Pulau Seribu. Dahulu itu acara team buildingnya Exploration Dept, Kondur PSA”

Perhatikan castle dibawah itu. Garus pantai pada waktu pembangunan Batavia , pada awal abad 17, berada di tepi pantai. Namun saat ini pantainya berada satu kilometer didepannya (disebelah utara).

Kalau diperhatikan detail lagi, ternyata garis pantai ini pernah menjorok ke tengah laut pada tahun 1912. Kemudian mundur lagi kembali seperti yang kita lihat saat ini (tahun 1977). Proses maju mundurnya garis pantai ini adalah proses yang wajar dan normal dalam melihat dinamika pantai. Yang perlu diperhatikan adalah proses maju mundurnya gar

is pantai ini bisa mendatangkan kerugian apabila tidak diantisipasi dengan benar. Reklamasi lahan (coastal engineering) dapat dilakukan dalam “mengontrol” fungsi, pola dan dinamikanya.

🙁 “Pakdhe selain garis pantainya maju juga Jakarta ambles, kan ?”
😀 “Betul Thole!, tapi itu di dongeng selanjutnya ya ?”

Ledakan jumlah penduduk pasca kemerdekaan

penduduk_jakarta.gifJumlah penduduk jakarta sebelum kemerdekaan (dibawah “asuhan” Belanda sangat-sangat dikontrol. Perkembangan jumlah penduduknya sangat terbatas. Penurunan penduduk juga pernah tercatat tahun 1880 (102,900) dan pada tahun1883 turun menjadi 97,000. Ini mungkin disebabkan oleh bencana meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Penduduk Jakarta yang diambil dari data statistik miliknya Tante Wiki memperlihatkan adanya ledakan jumlah penduduk Jakarta setelah kemerdekaan (1945- ).

Setelah melalui masa-masa gejolak politik tahun 1965, jakarta mulai “dibenahi”. Dibaah ini berturut turut akan dilihat peta Penutupan l

ahan di Jkarta tahun 1972, 1983, 1993, 1998, dan tahun 2002.

Warna merah adalah pemukiman, warna hijau menunjukkan vegetasi, dan biru menunjukkan tubuh air. Tanpa dituliskan keterangan-pun Thole juga bisa melihat sendiri, bahwa perkembangan Jakarta emang “pesat” !. Nah, sekarang silahkan memberi komentar. Atau kalau tanya juga boleh … apalagi menjawab pertanyaan temen lainnnya 😛
jakarta_1972 1972 jakarta_1983.jpg 1982

jakarta_1993.jpg 1993 jakarta_1998.jpg 1998

jakarta_2002.jpg

Peta penutupan lahan Jakarta pada tahun 2002 diatas ini jelas menunjukkan bahwa Jakarta sudah tidak sekseeh. Jakarta menjadi gemuk, tembem,dan lambaaan dalam berjalan. Jelas terlihat sangat mungkin Jakarta tidak akan mampu “melayani” propinsi-proinsi lain sebagai seorang ibu. Apalagi untuk berkembang. Mempertahankan Jakarta sebagai kota pemerintahan menjadi tidak seluruhnya logis ! Kalau perkembangan serta kesulitan menata ini terus berlangsung maka harus ada alasan lain untuk mempertahankan Jakarta sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan !

🙁 “Pakdhe Jakarta itu sudah terlanjur begitu je ?”
😀 “bener thole, tetapi tidak ada sesuatu yang terlambat seandainya kita berwacana mulai dari SEKARANG !”

Sumber :

Bacaan terkait tentang seluk dan beluknya Jakarta:

17 COMMENTS

  1. bukankah sekarang sedang muncul wacana untuk memindahkan ibukota sehingga jakarta hanya menjadi kota pusat ekonomi? kasihan sekali gubenur jakarta, karena harus menyelesaikan pekerjaan yangs angat berat seperti itu. harus membutuhkan bantuan dari semua pihak yang terkait. mungkin tidak akan bisa diselesaikan namun setidaknya di minimalkan dampak kerusakan yang ada. blog pak rovick benar-benar bagus banget. salut

  2. Pada awal tahun 50 an, pernah ada wacana bahwa Kota Pemerintahan sebaiknya ada di Bogor. Pada tahun 60 juga pernah ada wacana Ibu Kota Pemerintahan sebaiknya di Palangkaraya. Jaman tahun 70 sampai sekarang tidak ada wacana apapun tentang pemindahan tempat (mungkin saya yg tidak tahu). Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa semua tenggelam dan diam? Jakarta dibuat sesek, macat dan ditambal sulam. Kepentingan apa dan kepentingan siapa sebenarnya yang ingin mempertahankan ibu kota yang sangat gemuk dan lamban ini terus dipelihara?

  3. Jakarta kota yang kasihan, ibarat mobil jakarta adalah PPD tua yang penuh sesak dengan penumpang, bahkan hingga ke atap dan bergelayutan di pintu hingga mobilnya miring sebelah, dan hampir terguling. Siapapun yang jadi Gubernur, membenahi jakarta akan sangat sulit, tapi minimal Gubenur bisa menekan kerusakan yang terjadi dgn kebijakan2 yang tidak memihak satu pihak. Numpang info, hi3, web mobil
    bekas
    , siapapun bisa jual mobil bekas atau cari mobil bekas

  4. Pemerintahnya tidak tegas. ada demo sedikit saja ketakutan bukan main. Takut kalau tidak menjabat lagi. Semua aparat pada aji mumpung (lagi menjabat korupsi sebanyak-banyaknya). belum yang mengatasnamakan yang punya Jakarta, bukannya membangun Jkaarta, justru membuat kota tercinta semakin terpuruk di segala bidang. Saya usul, mari kita semua sadar…. semua peduli….semua ngerti. Kota kita sangat sakit. Kita bangun bersama selamatkan Jakarta. Kita mati gak bawa uang, gak bawa lemari, gak bawa, dollar, gak bawa gedung…. Kita jangan cuma bisa nasihati orang lain. Kita berbuat. Kita jangan banyak mulut. Diam tapi berbuat. Setuju…kan? nyok….

  5. Uedaaaan tenan nik kui pakdhe,
    Bagaimana seandainya kampung halaman kita tercinta yang terpilih jadi the next capital town, kira² bakalan separh Jakarta nggak ya?

  6. “bener thole, tetapi tidak ada sesuatu yang terlambat seandainya kita berwacana mulai dari SEKARANG !” –> setelah wacana apa nih mas..? class action or sit back and ketawa nyengir dalam hati ..?

Leave a Reply