Biofuel, tidak sehijau namanya.

0

http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/rha/lowres/rhan834l.jpgMungkin masih ingat tulisan dua tahun lalu tentang keraguanku adanya efek lingkungan terhadap proyek biodiesel. Tulisan dua tahun lalu itu bisa dibaca ulang di Indonesia Produksi Biodiesel Mulai 2007

πŸ™ “Whallah, dua tahun ya sudah lupa Pakdhe, wong banjir tahun lalu saja sudah hampir ngga ingat lagi ” πŸ˜›

πŸ˜€ “Howgh dasar pelupa ! Makanya dicatet, Thole !!”

Indonesia menjadi sorotan dalam pemanfaatan biofuel

Yang cukup mengagetkan adalah adanya penelitian dari The Nature Conservancy and the University of Minnesota yang akan dipublikasikan dalam majalah Science akhir bulan ini. Isi penelitiannya juga cukup memprihatinkan, karena menyinggung dan menyebutkan soal kiprah Indonesia dalam rencana memproduksi biofuel. AFP mengutip negara Indonesia sebagai kunci dalam global warming antara lain dalam beberapa kalimat berikut:

“The conversion of peatlands in Indonesia for palm oil plantations and deforestation in the Amazon for soy production have resulted in carbon losses, according to the new report.

“The conversion of peatlands for palm oil plantations in Indonesia ran up the greatest carbon debt which would require 423 years to pay off. The production of soybeans in the Amazon, which would not “pay for itself” in renewable soy biodiesel for 319 years.

Hmm … Indonesia lagi nantinya akan dituduh penyebab kerusakan lingkungan kalau salah urus begini. Padahal Palm oil di Indonesia kan buat minyak goreng ?

πŸ˜€ “Ya wis lah, pokoke itu palm oil buat minyak goreng saja, jangan dikonversi menjadi minyak bakar. Lagian kalau aku nggoreng tempe pakai apa nanti ? ”
πŸ™ “Hallah tempe juga mahal dhe, ganti krupuk aja ya ?”

Dibawah ini beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan serta produksi dari biofuel diambil dari Majalah Science.


Chart modified from Science

Kerusakan ekosistem tidak hanya emisi.

biofuel-bad_enviro.jpg

Sebenernya kerusakan lingkungan akibat penggunaan biofuel bukan pada emisi “pembakaran” pada mesin, bukan sekedar emisi gas buang pada waktu mesin dinyalakan. Kerusakan lingkungan yang dilihat tentunya tidak hanya itu saja, tetapi selama waktu proses produksi biofuel inilah banyak hal-hal yang sakjannya juga menghasilkan emsisi atau bahkan zat-zat beracun yang membahayakan lingkungan.

Pembakaran hutan pada saat pembukaan lahan, penggunaan bahan penyubur (pupuk) untuk meningkatkan daya subur tanah, juga penggunaan pestisida pada perkebunan jagung (corn), sampai nanti pada waktu proses pembuatan hasil tanaman menjadi minyak. Semua proses itu juga mengeluarkan emisi gas buang.

Yang harus diluruskan adalah pengertian bebas dampak lingkungan dari sebuah energi alternatif. Memang benar ethanol akan memproduksi emisi gas buang lebih sedikit dibanding BBM lainnya. Tetapi memproduksi ethanol juga memproduksi emisi juga menimbulkan dampak ekologi yang lain.

Bagaimana dengan pemanfaatan energi lainnya ?

Tahukah anda bahwa anginpun juga diperlukan dalam sebuah proses penyebaran flora. Banyak tumbuh-tumbuhan yang yang menggunakan angin sebagai media transportasi dari spora-nya untuk berkembang biak.

πŸ˜€ “Ngerti Spora ngga kamu, Thole ?”
πŸ™ “Spora itu kan untuk pengembang biakan tumbuh-tumbuhan jenis paku-pakuan, kan ? Ah Pakdhe ngejek, aku begini juga masih ingat pelajaran wektu SD klas 4 dulu looh”

Mesti diketahui juga bahwa ada banyak ragam jenis energi yang dapat masuk kategori biofuel misalnya , Biomassa, Bioenergy dari sampah,minyak goreng bekas, Biodiesel, Bioalcohols, BioGas (yang menafaatkan kotoran hewan maupun manusia) , Solid Biofuels, Syngas (synthetic gas-gas buatan) dan masih banyak lagi jenisnya.

Yang perlu dimengerti adanya fakta-fakta lain dalam pemanfaatan biofuel antara lain, adanya sebuah studi yang mengatakan bahwa dari 26 jenis biofuel, terdapat 21 jenis biofuel yang memiliki emisi gas buang lebih kecil dari BBM konvensional (fossil fuel). Namun ini akan mengurangi 30% dibanding penggunaan BBM fosil. Harus juga diketahui separoh dari jenis biofuel tadi memiliki dampak lebih buruk dibanding BBM fosil.

Jadi jangan buru-buru mengatakan bahwa segala sesuatu yang berasal dari mahluk hidup pasti aman untuk lingkungan. Lah lantas jenis energi apakah yang bebas terhadap dampak lingkungan ?

πŸ™ “Pakdhe, segala sesuatu yang dilakukan manusia pasti mempengaruhi lingkungan kan ? Tapi sejauhmana dampaknya itu harus dimengerti lebih dulu sebelum melakukannya. Dan nanti kalau sudah melakukan harus bisa mengambil tindakan sesuai dengan yang semestinya. Itulah perlunya AMDAL yang menyeluruh, rak gitu ta Pakdhe ?
πŸ˜€ “Ya wis, pinter kowe, thole ” πŸ˜›

Believe it or not !

Tantangan biofuel saat ini ada pada kawan-kawan Sarjana Pertanian dan Perkebunan !
Gut Lak πŸ˜›

1 COMMENT

  1. saya kurang setuju, karena sebenarnya dampak negatif yg ditimbulkan biofuel bisa diminimalisir, contohnya penggunaan peptisida pada saat memproduksi tumbuhan yg akan dijadikan bahan bakar nabati, menurut sy gunakan sj mikroba insektisida walaupun kerjanya spesifik pada tumbuhan tertentu ini tdk mnimbulkan dampak ngtif pada ekologi, kemudian dgn mkroba insektisida dampak yg dhasilkan tdk seluas jika menggunakan peptisida, biofuel mnurut sy bnar2 harus d kmbngkan d indonesia demi keamanan energi, mengingat bhn bakar dari fosilsemakin menipis dalam dekade trkhir ini , jika ada alasan yg menyatakan adanya persaingan natara bahn pngan dan bhan bakar nabati maka indonesia sbnrnya tdk perlu khwatir krn negara kt ini sangat banyak lahannya yg dpt digunakan sbg tmpt mmproduksi bahan bakar nabati, gunakan sj lahan kritis, atau perkebunan2 yg mmg sdh tdk aktif dan sebaiknya memproduksi biofuel yaitu d tmpt yg akan mmg d distribusikan krna mengingat ukuran bahan bkaar ini lbh besar dan lbh mudah terurai.

  2. Dear, Pak Dhe

    mau ikutan boleh yachhh… kayaknya banyak ang kurang tahu permasalahan biofuel atau di Indonesia khusunya dengan biodiesel, bila pembuatan biodiesel dikarenakan efek dari sumber bahan bakunya (misalkan-kelapa sawit), jadi kayak tidak fair, kenapa? sebab bila dibandingkan dengan biodisel yang dipakai di eropa yang berbahan baku dari minyak soya malah lebih banyak membuka lahan hutan kenapa? ini rahasianya dalam satu hektare kebun kedelai memproduksi sekitar 0,5 ton sementara bila kebun sawit bisa menghasilkan minyak sawit sebesar 4-7 ton. lha dar situ saja ketauhan siaa yang paling besar membuka lahan.
    kalau asalah hutan mah… semua sudah tahu Indonesia memiliki kawasan hutan seluas 70% dari total hutan yang ada lha kalau Eropa cuma 20% itu pun bukan hutan primer hutan produksi, jadi kesimpulannya isu lingkungan hanya mau menghancurkan industri biodiesel di Indonesia sementara industri biodisel Eropa terus tumbuh…jadi sebelum industri biodiesel nasional direbut Eropa kita harus terlebih dahulu membangunnya (jangan sampai dijajah lagi…..kasian Indonesia)…matur nuwun

  3. ikutan nimbrung juga, seru kayaknya.
    Intinya, sbenarnya udah ada perhitungan matang blum sih, untung ruginya antara pake biofuel dengan BBM? kalo emang lebih banyak untung (saya gak bilang hanya dari sisi ekonomisnya loh, tp lebih pada pengurangan emisinya) pake biofuel, kenapa enggak yok rame2 konversi energi, dengan catatan pake biofuel yg pembuatannya tidak mendegradasi daya dukung lingkungan yg lain. Kalo emang alga bisa mantabs bgitu (16 x lipat).. kenapa enggak, tp di Indonesia udah ada yg nyoba blm? Areal perairan yg dibutuhin utk proses pembiakan alga tu yg seperti apa? efek samping terhadap biota lain di perairan tsb apa, pokoknya smua perlu ditimbang2. Ya, konversi ke biofuel ini, klo sy sih stuju untuk digalakkan. tapi yg lebih penting lagi, perubahan lifestyle masyarakat kita, yg kadang lebih suka nggaya-nggaya’an, kemana2 pake kendaraan pribadi (termasuk saya, krn ketergantungan n tuntutan), seharusnya pemerintah menyediakan sarana transport yg memadai, nyaman, murah, sehingga orang2 lebih suka naik kendaraan umum drpada kendaraan pribadi. Klo pemerintah kberatan, yg swasta boleh lah ikut invest, (*tapi ada gak yah yg mo invest penyediaan sarana transport yng MURAH meriah, nyaman, dan cepat n lancar, he2). Untuk transportasi jarak deket, gunakan sepeda. Tapi nih, pejabat2nya kudu ngasih contoh dulu.
    Kampanye gede2an untuk perangi climate change dengan rubah lifestyle, nggak ada salahnya kn alokasikan anggaran untuk ini, krn ke depan untungnya insyaAllah lebih banyak (ex: mengurangi nilai subsidi BBM). trus lagi, bikin regulasi yg membatasi orang biar nggak mudah kredit kendaraan bermotor, krn ini akan menekan laju pembelian kendaraan bermotor. Lah, sekarang gimana nggak makin nambah terus kendaraan bermotor, beli DP 0 rupiah aja udah dapet 1 motor, apa nggak keren tuh! Tapi balik ke jamannya mbah2 uyut n nenek moyang kita yang pake gerobak n dokar juga gak realistis, krn tuntutan mobilitas saat ini lebih tingi. Satu2nya alternatif ya perbaiki sistem dan sarana transportasi umum dan rubah lifestyle. Tentunya sambil melakukan riset n pengembangan energi2 alternatif, siapa tahu 30 tahun ke depan Indonesia bisa kayak Brazil dalam hal penghsil biofuel.
    Tapi lebih inti lagi… siapa yang mau memulai? banyak komentar nggak ada gunanya. mari mulai dari hal yang kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang!!! (ini nasihat untuk saya, terutama)

  4. Kumentar Tha-tha diatas sangat menarik, bener sangat menarik.
    Karena beliau bisa menjelaskan dan menegaskan bahwa perlu “usaha ekstra” dalam setiap kemajuan. Perlu perubahan serta perbaikan dalam setiap sistem.
    Program BioFuel yang dia lakukan merupakan proses usaha lanjut dari BioFuel yang masuk dalam survey diatas yang dibuat duatahun lalu di Science Mag. Dalam waktu dua tahun Thatha bisa melakukan perbaikan proses pembuatan BioFuel yang cukup signifikan.

    Bagaimana dengan nuklir …?
    Haddduh … belum mulai apa-apa sudah harus distop tanpa kita mampu melakukan proses belajar. Bagaimana dengan angin, geothermal … dll ?

    Congrat buat Thatha yang bisa melakukan starting ‘realisasi’ project BioFuel yang lebih ramah pada lingkungan.

  5. Ikut nimbrung,
    aku cuman mau ngomentari pada paragraf yang isine: “Sebenernya kerusakan lingkungan akibat penggunaan biofuel bukan pada emisi β€œpembakaran” pada mesin, bukan sekedar emisi gas buang pada waktu mesin dinyalakan. Kerusakan lingkungan yang dilihat tentunya tidak hanya itu saja, tetapi selama waktu proses produksi biofuel inilah banyak hal-hal yang sakjannya juga menghasilkan emsisi atau bahkan zat-zat beracun yang membahayakan lingkungan”.
    Sudah lama aku terlibat di industri biofuel dan aku sudah mengetahui bagaimana industri memprodukasi ethanol mulai dari penanaman sampai dengan penyulingan tuk hasilin ethanol. Yang ku ketahui industri biofuel selalu berusaha menggunkan sistem zero waste, jadi gak usah khawatir kalo ada emisi yang beracun n dibuang ke lingkungan karena setiap limbah proses produksi ethanol akan bernilai ekonomis jika diolah lebih lanjut. Sedangkan untuk pembukaan lahan untuk menyediakan bahan baku, gak perlu khawatir karena kebanyakan industri biofuel di Indonesia menggunakan molase. Kalaupun ada yang menggunakan bahan baku lain paling-paling singkong/gaplek, kalo jagung masih pikir-pikir. Pada saat pembukaan lahan tentunya industri biofuel selain menggunakan HGU juga menggunakan sistem mitra yang tentunya sangat menguntungkan bagi petani negeri tercinta ini. Satu lagi pada saat penanaman tentunya tidak seratus persen menggunakan bahan kimia. Kebanyakan menggunakan pupuk organik,kompos n lain2 yang gak bau bahan-bahan kimia (he…3X kan mahal). Kalo saja ada pembakaran untuk pembukaan lahan, tenang aja petani kita udah pinter-pinter kok, mereka akan menggunakan hasil pembakaran untuk menambah unsur hara tanah yaitu dengan menimbun hasil pembakaran.So…. intinya gak perlu khawatir tentang emisi yang dihasilkan pada saat produksi n penggunaan biofuel.

  6. Ikutan Dhonk,

    Rame juga ya Pak Dhe diskusi energy. Tapi saya pikir biarin aja deh Amerika, Eropa ngomong apa, habis mau buat ini salah buat itu salah. Mereka sendiri penyumbang Emisi terbesar juga khok. Gimana kita mikirin rakyat kayak Brazil/China kalau serba nggak boleh. Brazil jual Ethanol 3800 Rp /liter atau China sediakan lapangan pekerjaan untuk rakyat.

    Gimana kalau idenya digabung antara menanam energi (harvesting energy) dgn mbikin kebun tebu, kelapa sawit dan membuat lapangan kerja dimana yang kerja teman-teman yang cari kerja ke malaysia, shg kita bisa menyediakan energi dgn murah dlm negeri dan sebagaian diekspor. Entar kalau Amerika dan Eropa nggak mau beli kita jual ke India atau China.

    Ngomong-ngomong kalau ada yang mau membahas renewable energy bagus juga. Kalau saya punya ide adalah menggabunggkan Energi Matahari + air + katalis = Hidrogen (BBH). Kayaknya kalau kita mau fokus kita bisa lho. Ada yang mau supoort nggak ayo.

    Salam Jan (Independent Researcher)

  7. Memang saat booming akan terjadi ketidakseimbangan, tetapi hukum ekonomi akan menyeimbangkannya, kalau over supply tentu harga akan turun dan tidak menguntungkan lagi, akhirnya semua akan ada titik equilibrium.

    Buat Pak DhΓ©, matur nuwun perhatiannya, kami tunggu ulasan algae fuelnya.
    Kayaknya bakalan heboh ya Algae Fuel ini, 1 hektar bisa menghasilkan 1000 galon, dibanding minyak kelapa sawit menghasilan 600an galon saja. Sumber: http://www.algaefuel.org/
    😎

  8. Ada masalah tersembunyi yang akan kita pasti hadapi dikemudian hari. Yaitu apabila biodiesel lebih menguntungkan secara finansial, maka petani akan ramai2 pindah kesana, dan kita akan krisis pangan!!!

    Teori Maltus (tolong koreksi kalau salah) mengatakan pertumbuhan penduduk secara exponensial sementara pertumbuhan bahan pangan secara linier. Ini saja sudah masalah di tahun 2023 ditambah lagi dengan bio diesel. Perlu kita pikirkan sama-sama alternatif yang lebih baik untuk baan bakar, tanpa mengorbankan bahan makanan

  9. Kalau yang ini termasuk biofuel nggak ya?
    Pertamax RON 94 seharga 1500 rupiah per liter B-)
    http://www.motorplus-online.com/articles.asp?id=12003
    Ditunggu next articelnya lho Pak DhΓ© tentang ini πŸ˜‰

    –> Jwb

    “Yang di motorplus itu namanya algae atau “ganggang” … coba googling dengan kata-kata ‘algae fuel’, nanti akan ketemu banyak teori tentang hal ini. Ya wis kapan-kapan dongeng tentang algae fuel”

  10. harga mati! biofuel harus dikembangkan. kan masih bisa diganti dengan ganngang atau algae, produktivitasbya 1 ha sama dengan 20 ha sawit. nggak perlu pupuk hanya butuh lahan berupa perairan. 2/3 negara ini perairan jadi sawit untuk minyak goreng aja.

  11. gini aja pak solusikita untuk masalah energi dan pangan ini apa?? nanti nggak kejebak ama permainan global kita hanya dijadikan kayak pion catur aja

  12. Sebuah dilema yang harus dipecahkan. Satu sisi terjadi peningkatan laju penggunaan energi di sisi lain ada alternatif energi baru tetapi belum cukup siap masuk pasar, udah dipaksa-paksa…ya gitu dech!!!!!

    Mungkin bisa diberikan sebuah contoh artikel bahwa biodiesel dalam proses sebelum digunaakan itu menghasilkan dampak buruk pada lingkungan, beserta sumber dan nominal pengukurannya. terima kasih

  13. baca Kedaulatan rakyat tgl 13 feb 08 Universitas muhamadiah jogja buat bahan bakar dari air namanya dan dberi nama BANYUGENI saya juga baru sekilas karena keburu ke kantor

  14. Trend Biofuel bukan hasil rekayasa US dan UE, bisa dilihat bahwa negara yang menjadi pionir dan berhasil dalam proyek pengembangan biofuel adalah Brasil dengan bioethanol-nya. Brasil memulai proyek bioethanol dari tahun 70-an, dan baru merasakan manfaatnya setelah tahun 2003, saat mereka meluncurkan Flex-Fuel Vehicle. Alasan mereka memproduksi bahan bakar dari tanah mereka sendiri adalah karena: tinggal di negara tropis, ketergantungan impor BBM, dan Melimpahnya produk gula. Jadi driven market untuk proyek biofuel bukan environment, tapi ya ekonomi (alias duit).

    Saya juga salut dengan pemerintah Cina yang secara lantang mengatakan “Lingkungan memang penting, tapi ekonomi rakyat lebih penting”.

  15. betul pak dhe, dari SKB 16 menteri, ternyata yg kedodoran adalah kementrian pertanian, oleh karena itu pada pertengahan tahun kemaren team bappenas, pertanian dan bantuan jadi jerman mengadakan roadshow ke bagian timur indonesia, dan memang pointnya adalah klo dari mentri ESDM sudah ada instruksi bagi PLN tuk membeli “minyak jarak” dari masyarakat, dan juga dari dep perindustrian sudah ready tuk nyetok alat2 produksi…tapi persoalannya… tanamannya blom ada….begitulah..

  16. pak De nunut komentar nggih,
    Kenapa orang pada sibuk konversi, yang hasilnya juga
    hanya mengkonversi kerusakan juga (dari gas buang kendaraan di konversi ke kerusakan paru dunia karena harus buka lahan buat tanaman biofuel). kenapa nggak kendaraan yang menyebabkan emisi gas buang yang di kurangi, misalnya pembatasan kendaraan pribadi dan mensosialisasikan angkutan masal (bus trans jakarta, monorail, kereta) tetapi yang ramah lingkungan. memang tidak gampang, butuh waktu untuk merubah kebiasaan (dari yang biasanya dari depan pintu rumah langsung masuk ke mobil pribadi berubah ke mesti jalan ke halte bus atau kereta).

  17. masalahnya ketegasan yg mengatur bidang perdagangan, pertanian & kehutanan, supaya tidak babat hutan tp optimalkan yg ada… lahan sawit kita kan udah super luas, sedang hanya sekitar 40 % dari total produksi sawit nasional yg dikonsumsi domestik… hmmmm…

  18. Paling CEPAT cari untung itu dari DAGANG, kalau masalah LONG Lasting nggak? EGP, besok dagang A, besok lagi dagang B. Makanya Garam saja, Indonesia impor (trade). Jadi? emang mentalnya: easy money.

    Makanya kalau orientasinya pendek, jual saja tankernya, untung (saat itu)! Sekarang? Ngakk tahu dehh…punya uang buat beli lagi nggak (he…hee..).

    Kalau orientasinya agak panjang, kembali lagi kepada DIVERSIFIKASI. Emang bisa bercocok tanam di gurun.
    Lihat saja betapa susahnya ketika keledai e kedelai naik. Nggak ada subsitusi, nggak ada diversifikasi pangan kah? Siapa tahu keledai (demokrat) benar-benar naik.

    Jangan terlalu terpukau dengan volatilitas jangka pendek ataupun yang sengaja dipanjangkan karena tujuan MEREKA belum tercapai.

  19. hehehhe… sejak mei 2007 pertamina mundur dari bisnis biofuel pak, terutama biosolar, karena harga biodiesel menjadi lebih tinggi dibandingkan solar bersubsidi menyusul naiknya harga CPO dunia. dan yang jelas, pemerintah ga mau bayar subsidi biofuel karena tidak termasuk dalam public service obligation yang ditugaskan pemerintah.

  20. Pak Rovicky,
    Saya nunut komentar.
    Pembukaan lahan sawit di Indonesia tidak semua untuk biofuel, ini karena harga CPO yang sangat meningkat sampai lebih 900 USD/ton (15 tahun lalu saat harga masih 100 USD saja, Pak Sudono Salim sudah kaya sekali lho!!) dan untuk diekspor ke China, India, dan Europe. Perusahaan minyak sawit raksasa yang mengalami overheating (pundi2nya banyak) berusaha memanfaatkan uangnya untuk berinvestasi dan kebanyakan dengan membuka lahan sawit baru, walaupun ada juga yang bikin Perusahaan Telekomunikasi.

    Saya jadi heran dengan orang barat, bagaimana seandainya kita membabat 20% hutan Papua untuk produksi padi, kedelai, dan jagung (tapi untuk makanan), apakah beliau2 ini masih akan menulis di web mereka: “Kerakusan orang Indonesia terhadap makanan, berdampak buruk pada lingkungan”

    Mas Tri dari Pakem,
    tapi lagi waras sekarang.

  21. ya,ya,ya,… biofuel udah jadi kata trendy, seperti juga dengan lingkungan. Indonesia yang ekonominya masih tidur aja terus, juga kerasa dampaknya. Di dunia, GDP kita masih salah satu yang terendah, kesehatan juga gitu, pengeluarannya rendah banget. Bicara hal energi, ya, sama aja, konsumsinya masih rendah. Kasian tuh kalu (eh, kasian ama diri sendiri juga) lagi kena mati listrik (yang ga punya listrik, ya, pake apa seadanya). Menurut pendapat saya, negeri kita ini butuh energi yang cukup. Memang sih ladang minyak ada di sana sini. Tapi kenapa kok kekurangan, sampe mesti import. Biofuel, kalu diliat, di Indonesia yang menjadi pegangan sumbernya dari kelapa sawit. Ya, bo, bukan kita yang mau buat lahan se-banyak2nya, kalu bukan pasaran dunia yang akhir2 ini menggila kehausan bahan bakar! Memang penyalah gunaan lahan gambut atau pembabatan hutan, issue yang menyedihkan bagi negeri tercinta ini. Dunia mulai melirik ke kita, karena kita banyak hutan, yang dengan istilah kerennya, paru2 bumi kita! yang terus mengecil dibabat. Bayangin aja, kalu memang betul tuh paru2 dunia, ditolong kek, supaya ga kena tbc, atau penyakit lainnya. Yang tahu ‘kan orang2 di luar sana. Kembali lagi, masalah hidup se hari2 kita dengan energi masih payah. Biofule ethanol, atau bioethanol, Indonesia, masih pemula. Target memang tinggi, tapi pelaksanaan butuh kapital gede tuh. Seharusnya, bagi kita, semua ini bisa berupa chance, kesempatan. Semua apa yang kita lakukan bisa membawa dampak baik positif ataupun negatif. Sekali lagi, kalu konsumsi energi masih rendah begini, gimana mau membangun ekonomi. Istilahnya, mau kerja aja ga ada tenaga.
    Terima kasih, udah nitip beri komentar.

  22. sebenarnya lingkungan ini semakin lama yang ngrusak tuh manusia manusia sendiri… OK lah…faktor lingkungan memang juga berpengaruh… tapi banjir dan tanah longsoe kok masih juga kita belum sadar sih…
    ada kagak solusi lainnya

  23. -> Mas Fey,
    Kalau soal emisi ini ingin detil ada disini :
    http://gabe.web.psi.ch/pdfs/lca/GHGT4_Interlaken_1998.pdf
    Memang BBM fosil juga menghasilkan emisi cukup besar, yang sering menjadikan besar adalah baja yang dipakai selama produksi. Namun tidak ada efek pestisida dalam memproduksi baja ini. Sedangkan pembukaan lahan (yang biasanya) hutan ini yang selain mempengaruhi emsisi, juga berkurangnya fungsi hutan dalam “menghirup” emsisi CO2.

    Betul, kita mestinya berkonsentrasi pada biofuel tertentu. Misalnya “pemanfaatan sampah !”

    Padi pakai air asin ? menarik !!
    Padi-nya yang direkayasa mungkin sebuah penemuan baru ! Saat ini memang biayanya mahal untuk “menawarkan” air asin. Dan air bukan masalah utama dalam penyediaan padi di Indonesia. Malah justru konvesri lahan sawah menjadikan lahan subur untuk padi telah berkurang.

  24. Ooo,begitu ya ternyata…
    Hmmm,kalo konversi bahan bakar fossil ke bahan bakar bakar bio malah menambah kerusakan lingkungan,mending jenis moda transportasinya saja yang dikonversi.
    Jadi,ke kantor ato kuliah,pake sepeda.Ato,misalnya ada kendaraan umum,pake itu.Jadi,emisi bisa berkurang,cadangan karbon dunia pun aman,
    Wallahu’alam,

  25. Saya ada pertanyaan nih Pak Dhe,

    Pada saat pemrosesan minyak bumi dari sejak disedot sampe siap pake juga mengeluarkan emisi gas buang yang berpengaruh pada lingkungan, betul kan Dhe?
    Lalu, pada saat pemrosesan biofuel dari sejak ditanam sampe siap pake juga mengeluarkan emisi gas buang (juga penebangan hutan, dan efek pupuk/pestisida) yang berpengaruh pada lingkungan, betul juga kan Dhe?

    Nah, intinya kan sebenarnya samaΒ² ada kerusakan lingkungan pada saat pemrosesan. Pertanyaannya adalah, apakah kerusakan lingkungan pada saat pemrosesan biofuel lebih gedhe daripada emisi gas buang pada saat pemrosesan BBM Fosil??? Kalo “sama saja” atau bahkan lebih kecil, bukankah itu seharusnya lebih baik? Karena seperti yang Pak Dhe tulis, ada beberapa biofuel yang lebih ramah lingkungan daripada BBM fosil.

    Request nih Dhe,
    Apakah ada cara termurah untuk menawarkan air asin? Atau mungkin harus diriset padi yang bisa pake air asin? Supaya Indonesia tidak impor beras melulu hehehe… πŸ˜€

    Atau mungkin untuk geologinya seperti ini, mengapa daerah yang jaraknya sangat jauh dari laut tetapi memiliki sumber air yang rasanya asin; dan kenapa juga banyak daerah yang dekat laut tetapi sumber airnya tawar?

  26. jd inget ini
    lita.inirumahku.com/health/lita/alami-tak-selalu-aman/

    di kampusku lg banyak yg riset ttg biofuel dan sejenisnya ….
    hihihihii …. malahan … beberapa proposal riset yg mau diajuin temanya ini

    cuman saya bertanya2 … apakah ini cuman trend sesaat?

Leave a Reply